Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Dia dulu selangkah dari gue


__ADS_3

Danu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia sangat ingin cepat sampai di rumahnya. Danu sudah menahan amarahnya dengan begitu kuat. Danu sengaja membawa Iwan dan Ifan agar saat dia tidak bisa menahan emosinya, mereka berdua bisa menahan Danu dari amarah yang sudah di puncak kepalanya.


"Ada apa Dan?" kata Iwan yang sudah sangat takut melihat cara Danu berkendara.


"Loe akan tau saat sampai. Gue minta loe berdua nahan gue sangat emosi gue udah nggak terkontrol lagi" ucap Danu.


"Tapi pelankan laju mobil sedikit Pak. Saya takut" jawab Ifan dari belakang


"Hahahahahahaha, Dan pelankan sedikit Dan. Ifan udah kayak anak monyet begelantungan di pohon" kata Iwan saat melihat pose Ifan yang bergantung di pegangan pintu mobil.


Untung saja kendaraan mulai ramai di jalanan. Danu terpaksa harus memelankan laju mobilnya. Dia tidak ingin ada terjadi apa apa dengan dia dan kedua karyawannya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup menegangkan bagi Ifan, akhirnya mobil Danu berbelok ke dalam komplek perumahannya. Danu kemudian melaju dengan kencang ke rumahnya yang terletak agak di ujung jalan utama. Danu membuka pagar dengan kunci otomatis yang ada di remot mobilnya. Danu memarkirkan mobilnya di sembarangan tempat tanpa memperhatikan tamannya yang tergiling roda mobil.


Danu, Iwan dan Ifan turun dengan bergegas dari atas mobil, mereka langsung menuju lantai atas rumah. Danu membuka dengan kasar pintu kamarnya, ternyata kamar tersebut dalam keadaan kosong.


Danu kembali turun dengan cepat ke bawah. Iwan dan Ifan langsung mengikuti Danu yang sudah berlari ke bawah. Danu membuka semua pintu ruangan yang ada. Dia tidak melihat siapa yang dicarinya.


Danu kemudian duduk di kursi tamunya dengan wajah kesal. Iwan dan Ifan juga duduk di sana.


"Dan, ada apa sebenarnya? Loe buat kami pusing aja Dan." ucap Iwan yang melihat Danu dari tadi tidak jelas bersikap.


"Jadi ini rumah kan gue pasang cctv gue coneckan ke ponsel, ternyata tadi pria tersebut datang ke rumah gue." ucap Danu dengan emosi.


"Terus pembantu loe kemana?" tanya Iwan.


"Sebelum mereka datang, pembantu gue nerima telpon. Tak lama setelah itu pembantu gue langsung pergi." ucap Danu.


"Kemana dia?" tanya Iwan.


"Bentar lagi datang. Kita tunggu aja dulu" jawab Danu.


"Bang kalau loe mau kita lacak lagi aja gimana?" tawar Ifan.


"Boleh juga usul Ifan tu Dan. Kita lacak aja. Jadi kita nggak menunggu kayak gini tanpa kejelasan"


Danu berpikir apakah dia sanggup melihat yang menyakitkan itu secara langsung. Disatu sisi Danu ingun menyelesaikan masalahnya, disisi lain ada anaknya yang masih butuh sosok ibu.


"Arg" teriak Danu yang frustasi dengan keadaannya.


"Gimana Dan, keputusan ada sama loe. Kalau loe setuju kita lacak mereka, maka Ifan tinggal melakukannya. Kalu tidak pun juga tidak masalah"


"Bang makin cepat selesai maka makin cepat juga loe bebas dari hal seperti ini bang" Ifan menambah pendapat Iwan.

__ADS_1


"Gue cuma mikir gimana dengan anak gue nanti. Dia masih butuh sosok ibu disisinya" ucap Danu.


"Jadi sekarang bagaimana? Semuanya kembali ke elo aja. Kami berdua siap mendukung elu."


Danu kembali berpikir.


"Baiklah kita lacak mereka, gue harus ngumpulin semua bukti yang kuat kalau dia sudah berselingkuh. Loe tau sendirikan Wan gimana mama gue begitu sayang sama Ranti." ucap Danu melihat ke arah Iwan.


Danu tidak ingin tiba tiba menuduh Ranti berselingkuh tanpa adanya bukti bukti yang kuat. Danu tidak ingin dikatakan sebagai suami yang tidak becus dalam mengurus rumah tangganya.


Ifan kemudian mengambil laptop dari dalam tasnya Ifan mulai kembali melacak keberadaan Ranti istri dari bosnya. Tidak butuh waktu lama Ifan sudah mendapatkan lokasi Ranti dimana sekarang.


"Udah bang. Istri abang sedang berada di perusahaannya sekarang" ucap Ifan sambil memperlihatkan titik lokasi Ranti dimananya.


"Syukurlah kalau dia masih di perusahaan. Tidak yang seperti malam itu" kata Iwan.


Saat mereka mengobrol tentang pekerjaan, tiba tiba pelayan rumah Danu datang sambil membawa belanjaan yang banyak. Pelayan itu heran kenapa pintu rumah tuannya terbuka dengan lebar. Sedangkan mobil tuannya terparkir tidak beraturan di halaman depan rumah. Pelayan itu langsung bergegas masuk ke dalam rumah.


"Tuan, maaf saya terlambat. Tadi saat saya mau pulang Nyonya menelpon untuk membeli beberapa tambahan kebutuhan rumah." kata Pelayan sambil menundukkan kepalanya.


"Bik duduk dulu, ada yang mau saya tanyakan ke bibik." ucap Danu dengan nada serius.


"Ada apa tuan?"


Bibik terlihat gugup untuk menjawab pertanyaan dari Danu. Bibik takut akan menjawab seperti apa pertanyaan itu.


"Bik, Nyonya pulang atau tidak tadi?" ulang Danu bertanya kepada bibik.


"Eeeeee" pelayan terlihat sangat gugup dan takut untuk menjawab pertanyaan dari Danu.


"Bik"


"Sebenarnya, tadi" bibik kembali diam.


"Sebenarnya tadi, apa bik?" kejar Danu.


"Bik saya hanya minta bibik berbicara jujur kepada saya. Nyonya pulang atau tidak tadi. Bibik jangan takut Bik" lanjut Danu.


"Nyonya tadi pulang Tuan sebentar. Nyonya ke atas mengambil beberapa barang. Saya tidak tau barang apa Tuan." ucap Bibik sambil menundukkan kepalanya.


"Nyonya datang dengan siapa bik?"


"Nyonya datang dengan seorang laki laki Tuan. Saya tidak kenal siapa laki laki itu." jawab bibik dengan rasa takutnya.

__ADS_1


"Makasi bik, atas infonya."


"Ke atas Wan Fan" lanjut Danu.


Danu pergi ke kamarnya kembali mengecek barang apa yang diambil Ranti tadi. Danu membongkar semua lemarinya. Sedangkan Iwan dan Ifan membongkar beberapa laci laci meja.


"Mantap tu cewek" ucap Danu.


Iwan dan Ifan kemudian melangkah menuju Danu.


"Kenapa Dan? Apa yang ilang?"


"Wah pinter tu cewek, dia ngambil surat surat nikah sama surat berharga lainnya" ucap Danu yang melihat brangkas sudah tidak ada surat surat berharga lainnya. Sedangkan uang dan emas masih utuh.


"Bang sepertinya dia tidak mau abang ceraikan makanya semua surat berharga diambilnya" kata Ifan.


"Mau kita turut ke perusahaannya Dan?"


"Nggak usah Wan. Biarkan aja dia mau ngambil, gue nggak butuh." jawab Danu.


"Sekarang kita keluar yuk, males gue di sini." lanjut Danu.


Mereka kemudian turun kembali ke lantai satu rumah Danu. Bibik yang sedang memasak makanan langsung mematikan kompornya. Bibik menuju Danu yang berada di meja makan.


"Maaf Tuan, kalau Tuan mau makan sekarang bibik akan masak makanan yang cepat saja Tuan."


"Nggak usah Bik. Saya akan keluar dulu, kalau saya tidak pulang malam ini, bibik tutup rapat semua pintu ya." lanjut Danu.


Mereka bertiga langsung keluar dari rumah Danu. Mereka akan keliling keliling ibu kota tanpa arah dan tujuan.


"Wan, menurut loe berdua kalau gue dekatin Vani bagaimana?"


"Maksud loe?"


"Ya, gue akan dekati dia secara perlahan lahan. Nanti saat gue udah yakin dia bener bener cinta sama gue baru gue bilang status gue seperti apa"


"Semua terserah elo. Tapi perlu loe ingat Vani anak yang baik." ucap Iwan.


"Tenang aja loe. Gue akan perjuangkan Vani. Apapun dan bagaimanapun caranya." ucap Danu dengan yakin dan tekad bulatnya


...----------------...


**Apa yang akan dilakukan oleh Danu kepada Vani???

__ADS_1


Apakah keputusan Danu mendekati Vani akan membawa efek kebaikan atau sebaliknya**


__ADS_2