
Keesokan harinya Ivan dan Iwan yang sudah sampai kembali di negara I langsung masuk kantor. Mereka akan menyelesaikan pekerjaan mereka terlebih dahulu setelah itu barulah mereka akan membantu Danu mengumpulkan bukti bukti yang tersebar. Bukti bukti perselingkuhan yang telah dilakukan oleh Ranti.
Danu yang baru datang karena ban mobilnya yang pecah masuk ke dalam ruang kerja dengan keadaan yang luar biasa kucel dan sesak nafas. Dia melihat Iwan dan Ivan sudah berada di dalam ruang kerja. Danu menatap mereka dengan tatapan heran.
"Wuis tumben nggak nambah libur" ujar Danu saat melihat kedua staffnya sudah duduk dan menghidupkan komputer masing masing.
"Ee ee ngeng, nanti kami nambah libur, loe nya marah pula" ujar Iwan sambil menatap Danu.
Ivan melakukan hal yang sama. Dia juga menatap Danu.
"kalau tau bisa ngapain kita datang tadi ya Bang. Kalau gitu, mari kita pulang Bang" ujar Ivan mengajak Iwan kembali pulang.
"Kalian emang lah ya" ujar Danu sambil geleng geleng kepala.
"Aye marah" ujar Iwan meledek Danu.
"Marah sih nggak. Tapi aneh aja nengok loe berdua, bisa hadir di sini. Biasanya siap liburan kalian nambah libur pula sehari dulu untuk melepaskan rasa penat" ujar Danu sambil duduk di sofa.
Danu menghembuskan nafasnya dengan perlahan perlahan. Danu benar benar membutuhkan oksigen yang lebih saat ini. Danu benar benar lelah karena selesai membuka dan memasang ban mobilnya yang bocor.
"Loe kenapa Bang? Kayak Ayam habis diadu aja" ujar Ivan yang melihat Danu seperti ayam yang habis keselek karet. Serta seperti ayam yang habis jadi ayam aduan.
"Huf pagi hari gue udah sial banget. Ban mobil gue bocor. Loe bayangin aja, ban gue bocor pas di tempat ramai. Nah terpaksa gue dorong kan ya ke tepi jalan. Mana nggak ada yang bantuin lagi. Gue dorong sendirian." ujar Danu memulai cerita penderitaannya di pagi hari.
"Udahlah dorong mobil, gue juga harus ganti ban bocor lagi. Bener bener sial gue. Mana hari masih pagi lagi" ujar Danu sambil meneguk jus jeruk yang tadi di belinya di jalan sehabis menukar ban yang bocor itu.
"Makanya Bang, banyak banyak sedekah. Jangan dimakan sendiri aja" ujar Ivan sambil mencomot kue yang dibawa oleh Danu.
"Enak aja loe ngomong. Ini gue udah sedekah sepotong kue ke elo, belom lagi dua gelas jus jeruk. Kurang sedekah apa lagi coba guenya"ujar Danu sambil menunjuk kue yang dimakan oleh Ivan.
"Yah ini namanya bukan sedekah Bang. Loe sembarang aja" ujar Ivan yang kaget mendengar Danu mengatakan kalau kue yang dimakan oleh Ivan adalah kue sedekah dari Danu.
__ADS_1
"Serah lah apa namanya. Terpenting gue udah ngasih elo" ujar Danu melirik ke arah Ivan sekilas.
Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan yang lumayan banyak. Hari ini Ivan dan Iwan akan membuat sebuah maket tiga dimensi yang diminta oleh salah satu calon rekanan. Mereka harus memindahkan gambar yang sudah di desain di aplikasi menjadi gambar bentuk nyata dengan memakai potongan streofom.
"Bang, jam berapa ketemu sama Frans?" tanya Ivan yang sudah tidak sabar lagi mau membantu Danu dalam proses perceraiannya.
"Sekitar jam satu katanya maren ke gue.Gue harus beli makan siang dulu. Kalau nggak bisa dipastikan tu makhluk akan emosi ke gue" ujar Danu kepada Iwan dan Ivan.
"Loe berdua mau nitip makan siang apa?" tanya Danu kepada kedua staffnya yang juga belum makan siang.
"Terserah loe aja Bang. Satu yang penting harus nasi dan pakai es" jawab Ivan yang memang akan selalu makan nasi dan minum es.
"Loe Wan?" tanya Danu ke Iwan.
"Sama aja sama Ivan. Gue juga pakai es untuk minumannya" kata Iwan sambil tetap memasang rumput plastik di maket mall tersebut.
"Oke. Gue jalan dulu ya. Nanti kalau Frans datang suruh masuk aja. Loe masih kenal Frans kan Wan?" ujar Danu bertanya kepada sahabatnya itu.
"Gila aja loe gue nggak kenal sama Frans. Bisa di tabok pakai ijazah gue kalau nggak kenal sama dia" kata Iwan yang memang juga bersahabat baik dengan Frans.
Selepas Danu pergi membeli makan siang ke luar. Ivan dan Iwan duduk di sofa ruangan.
"Bang, loe yakin ne, Bang Danu beneran mau pisah dengan Ranti?" tanya Ivan yang sama seki tidak ada bahan apa yang mau di bicara kmnya dengan Iwan.
"Kali ini gue yakin banget kalau Danu beneran mau pisah dengan Ranti. Tengok aja tuh, dia sangat semangat untuk bertemu dengan Frans" ujar Iwan menanggapi pertanyaan dari Ivan tentang keinginan Danu untuk bercerai dengan Ranti.
"Kalau Danu bertele tele, dia nggak akan minta bantuan ke Frans. Frans itu pengacara yang iya beneran iya yang nggak beneran nggak" lanjut Iwan menjelaskan bagaimana sikap seorang Frans sebagai seorang pengacara.
"Emang loe kenal dengan pengacaranya Bang Danu, Bang?" tanya Ivan yang penasaran kenapa Iwan bisa menilai seorang Frans seperti itu.
"Kenal lah. Dia sahabat baik kami berdua. Tapi ya itu tadi, kami beda aliran. Gue di arsitektur, Danu di bisnis, sedangkan Frans hukum." ujar Iwan mengingat keunikan persahabatan mereka bertiga.
__ADS_1
"Hah, kok bisa sahabatan tiga jurusan berbeda. Dimana ketemunya Bang?" ujar Ivan penasaran dengan kapan waktu bertemu Danu, Iwan dan Frans.
"Itulah hebatnya kami. Kami bisa mengatur pertemuan kami. Jadwal kuliah aja bisa menyesuaikan. Haha haha haha." kata Iwan menceritakan bagaimana mereka bisa saling bertemu walaupun beda jurusan.
"Frans sudah berumah tangga Bang?" tanya Ivan selanjutnya.
"Sudah, malahan dia sudah punya anak satu" jawab Iwan dengan nada biasa aja.
"Oo oo oo. Jadi, pantesan lah ya" ujar Ivan sengaja menggantung ucapannya.
Ivan menatap Iwan dengan tatapan mengejeknya. Dia sangat puas mendengar jawaban dari Iwan tadi.
"Breng breng loe ye Van. Pandai banget mancing gue" ujar Iwan yang baru tersadar dengan pertanyaan yang diberikan oleh Ivan sebentar ini.
"Haha haha haha. Sekali sekali Bang, loe masuk perangkap gue kan nggak masalah juga" ujar Ivan yang senang Iwan masuk dalam perangkap pertanyaan yang dibuatnya.
"Kutu kupret loe" ujar Iwan sambil melempar Ivan dengan kertas yang di gulung gulung nya menjadi seperti sebuah bola.
Tok tok tok. Bunyi pintu yang diketuk dari luar. Ivan berjalan membukakan pintu ruangan mereka. Ivan melihat sesosok pria tampan memakai pakaian kerja profesional dengan sebuah jas dan menenteng tas kerja.
"Saya Frans, pengacara Danu" ujar Frans memperkenalkan dirinya.
"Ooh, saya Ivan, staffnya Danu" ujar Ivan memperkenalkan dirinya.
"Masuk dulu Tuan Frans. Tadi, kata Tuan Danu kalau Tuan Frans datang suruh masuk aja. Tuan Danu sedang pergi membeli makan siang ke luar" ujar Ivan mempersilahkan Frans untuk masuk ke dalam ruangan mereka.
Frans kemudian masuk ke dalam, dia melihat Iwan yang sedang duduk.
"Woy bro. Udah lama banget gue nggak nengok elu. Apa kabar Bro" ujar Frans menyapa Iwan.
"Baik. Loe terlihat makin sukses Frans" ujar Iwan.
__ADS_1
"Biasa aja Wan" jawab Frans
Mereka bertiga kemudian mengombrol. Ivan langsung bisa menyambung dengan obrolan antara Iwan dan Frans. Mereka mengobrol sambil menunggu kedatangan Danu dari membeli makan siang.