Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Penerbangan


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh masih saudara dekat Vina meluncur melewati jalan tol dengan kecepatan sedang. Juan yang duduk di depan meminta sopir untuk tidak melaju kencang. Cuaca sedang tidak bersahabat untuk melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Hujan dengan volume kecil membasahi jalan tol, sehingga membuat jalan sedikit agak licin. Jadi, sempat selip saja maka pengemudi akan kehilangan kontrol terhadap mobil yang dikendarainya itu.


Tepat pukul setengah dua mobil sudah parkir di bandara. Barang barang yang berupa rempah rempah di cek terlebih dahulu oleh pihak bandara sebelum masuk ke dalam pesawat. Vina, Maya dan Sari sudah berada di ruang tunggu keberangkatan memakai pesawat pribadi. Mereka menunggu pesawat masuk ke runway. Juan sudah berada di cokpit bersama copilot yang juga sahabat Juan. Mereka berdua siap mengantarkan Vina dan kedua sahabatnya menuju ibu kota.


"Nona Nona pesawat sudah siap. Silahkan untuk menuju pesawat." ujar pramugari yang bekerja di bagian penumpang pesawat pribadi.


Vina, Maya dan Sari menuju pesawat mereka. Mereka kemudian melewati gerbata untuk menuju landasan pesawat. Mereka sudah ditunggu oleh dua orang pramugari yang akan melayani mereka selama penerbangan dari kota J menuju Ibu kota dan juga penerbengan dua hari lagi menuju Negara U.


Vina dan kedua sahabatnya sudah berada di dalam pesawat. Mereka sudah duduk dengan tenang dan memakai seltbelt. Mereka akan melakukan penerbangan yang cukup lama.


"Selamat siang menjelang sore Nona Nona cantik. Perkenalkan nama saya Juan sebagai pilot dan rekan saya Jeri sebagai copilot. Kami akan mengantarkan Nona sekalian ke ibu kota negara. Kita akan melakukan penerbangan selama satu setengah jam ke depan. Cuaca di perkirakan aman dan sedikit akan mengalami goncangan. Jadi, kami berharap kepada Nona nona untuk menikmati perjalanan kali ini." ujar Juan membuka percakapan melalui ntercom yang ada di dalam pesawat.


Juan dan Jeri mulai melajukan pesawat. Mereka mulai menjalankan pesawat di landasan pacu. Pesawat mulai bergerak dengan perlahan. Akhirnya Juan dan Jeri menerbangkan pesawat dengan stabil.


Juan kemudian mengaktifkan pilot automatis pesawatnya. Dia kemudian membuka pintu penghubung ke bagian cokpit. Juan menghampiri Sari yang masih terbangun. Sedangkan Vina dan Maya sudah terlelap tidur.


"Hay kenapa nggak tidur?" tanya Sari kepada Juan.


"Nggak ngantuk. Sayang kamu siap ketemu Ayah?" tanya Sari dengan menatap memohon kepada Juan.


"Sekarang aku siap bertemu dengan Ayah. Karena aku sudab menjadi seseorang yang siap menjaga anak Ayah." jawab Juan dengan pasti sambil memegang tangan Sari.


"Benarkah?" tanya Sari sekali lagi.


"Benar" jawab Juan.


"Jangan pernah ragukan aku" lanjut Juan meyakinkan Sari kalau dia akan datang ke apartemen Ayah bersama dengan Sari.


Sari memeluk Juan dengan kuat. Dia sangat bahagia dengan keputusan yang diambil Juan. Sudah lama sekali Sari ingin membawa Juan kehadapan Ayahnya. Tetapi Juan selalu menolak dengan berbagai alasan yang memang benar adanya. Serta bisa di terima oleh Sari.


"Seandainya Ayah menerima kamu, kapan kamu akan melamar aku?" tanya Sari selanjutnya.

__ADS_1


"Setelah Ivan melamar Maya." jawab Juan dengan pasti.


"Satu hal yang pasti sayang. Aku akan tetap selalu ada untuk kamu. Jadi, kepala cantik kamu ini jangan berpikiran yang aneh aneh lagi. Ada dengar sayangku?" ujar Juan mengacak rambut Sari dengan sayang.


"Denger sayang. Denger kamu mau datang ke rumah menemui Ayah aja aku udah seneng. Apalagi besok di lamar. Bahagianya aku." ujar Sari meluapkan kebahagiaannya.


"Dasar anak kecil." ujar Juan.


Mereka berdua melanjutkan obrolan ringan. Sebelum nanti dapat panggilan darurat dari pramugari. Karena menurut perhitungan Juan sebentar lagi mereka akan masuk daerah yang memiliki awan tebal dan sedikit mengalami gunjangan dalam penerbangan.


"Pilot Juan tolong kembali ke cokpit" ujar Pramugari mendatangi Juan yang sedang ngobrol dengan Sari.


"Ada apa sayang?" tanya Sari mulai takut ada masalah dengan penerbangan mereka. Sari takut hal buruk akan terjadi kepada mereka semua.


"Sebentar lagi akan masuk guncangan sayang. Kamu kuatkan seltbelt ya. Bangunkan juga Vina dan Maya. Jangan cemas. Serahkan ke kekasih kamu yang berjanji akan selalu menjaga kamu." ujar Juan kepada Sari.


Pramugari membangunkan Vina dan Maya. Pramugari meminta Vina dan Maya duduk dengan benar dan menguatkan selt belt mereka masing masing.


Vina menatap Sari. Sari mengangguk.


"Tenang." ujar Sari dengan pelan.


Vina dan Maya mengangguk. Mereka tidak mau terlihat tegang karena sesuatu yang mendadak itu. Tadi Juan juga sudah mengatakan akan ada sedikit turbelensi yang tidak akan berakhir lama.


Pesawat mulai sedikit bergoncang, tetapi tidak terlalu parah. Vina dan yang lainnya berdoa menurut kepercayaan mereka masing masing untuk keselamatan mereka selama penerbangan itu.


Gonjangan yang dialami oleh pasawat tidak memakan waktu lama hanya selama lima menit. Tetapi waktu yang lima menit itu cukup membuat Vina dan yang lainnya menjadi tegang dan menahan nafas mereka.


"Nona nona silahkan melepaskan kembali selt belt anda semua. Kita sudah melewati daerah goncangan. Silahkan menikmati kembali penerbangan ini. Untuk empat puluh lima menit ke depan." ujar Juan memberitahukan sisa lamanya perjalanan.


Pramugari kemudian berdiri, mereka menuju dapur untuk menyiapkan makanan sedang untuk Vina dan kedua sahabaynya. Pramugari juga menyiapkan tiga gelas softdrink.

__ADS_1


"Mau makan apa Nona? Kami ada chesscake rasa strowbery, rasa coklat dan avocado." ujar Pramugari kepada Sari.


Sari memilih yang rasa coklat, sedangkan Vina rasa avocado dan Maya rasa coklat. Mereka bertiga menikmati hidangan chesscake tersebut sambil melihat melalui kaca jendela pesawat. Mereka hanya dapat melihat awan yang terhampar luas.


Pramugari kemudian meletakkan minuman sesuai dengan pesanan Vina dan kedua sahabatnya. Mereka benar benar menikmati pelayanan dari dua pramugari yang sangat ramah dan kompenten itu.


Vina melihat email yang masuk ke dalam ponselnya. Vina melihat kalau perusahaan CT Grub yang dipimpinnya berjalan dengan normal tidak ada masalah berat yang terjadi selama dia dan Sari pergi ke negara asalnya.


"Perusahaan aman aman saja kelihatannya Sar. Tadi aku siap baca dokumen yang dikirim manager" ujar Vina memberitahukan kepada Sari tentang keadaan perusahaan selama mereka tinggal.


"Mereka semua handal dan terpercaya di bidangnya Vin. Jadi, berapa lama pun kita pergi nggak akan ada masalah." ujar Sari yang memang sangat menyeleksi setiap karyawannya.


"Perusahaan memberikan gaji yang luar biasa besar kepada mereka. Belum lagi tunjangan. Makanya mereka tidak mau lalai dalam bekerja. Sempat lalai maka pemecatan akan menghampiri mereka." ujar Sari mengatakan sesuatu yang belum diketahui oleh Vina.


"Oh. Pantesan." ujar Vina yang tidak menyangka kalau gaji karyawan CT Grub begitu tinggi.


"Kepada para penumpang, diharapkan untuk memasang selt belt anda masing masing. Kita akan melakukan pendaratan sebentar lagi." ujar Juan memberitahukan sebentar lagi mereka akan mendarat.


Vina dan yang lainnya memasabg kembali selt belt yang tadi sempat mereka lepaskan. Juan dan Jeri melakukan pendaratan dengan mulus. Tidak terasa goncangan yang begitu berarti saat ban pesawat menyentuh landasan.


Juan dan Jeri kemudian keluar dari cokpit. Mereka berdiri menyapa ketiga penumpang mereka. Begitu juga dengan pramugari.


Vina dan kedua sahabatnya turun dari dalam pesawat. Mereka akan menunggu Juan memarkirkan pesawatnya.


Setelah Juan dan Jeri datang. Vina memesan taksi online untuk membawa mereka ke HS hotel. Hotel tempat dimana Vina sering menginap.


Taksi online pesanan Vina sudah datang. Mereka beremoat masuk ke dalam taksi online. Taksi online mengantarkan mereka menuju hotel HS.


Taksi berkendara lebih kurang satu jam perjalanan melalui tol tengah kota. Setelah menempuh perjalanan selama itu, taksi berhenti di depan lobby hotel. Vina turun dan memesan dua kamar suit hotel untuk mereka berlima. Sedangkan yang lain menurunkan barang barang mereka berlima.


Setelah chekin kamar, Vina dan keempat sahabatnya masuk ke dalam lift. Vina menscan kartu kamar. Kali ini Vina menginap di lantai lima belas hotel HS. Vina sengaja mengambil lantai tinggi supaya bisa menikmati pemandangan.

__ADS_1


Mereka kemudian masuk ke dalam kamar hotel masing masing. Kamar yang letaknya bersebelahan. Mereka kemudian beristirahat dan akan kembali bertemu saat makan malam nanti di skylounge hotel yang letaknya di lantai enam belas hotel HS.


__ADS_2