
Ivan yang berdiri di belakang Danu langsung kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Maya kepada Danu. Kekasih hatinya yang paling dipuja dan dicintainya sedang sakit di negara U. Malahan sedang di rawat di ruang IGD.
Ivan langsung berbalik, dia harus pergi ke negara U sekarang juga. Ivan tidak ambil pusing dengan pekerjaannya, sekarang bagi Ivan yang terpenting adalah Maya, Maya dan Maya. Siapapun yang melarangnya untuk pergi menemui Maya akan menerima akibat dari larangannya itu.
"Sayang ada Ivan di belakang kamu" ujar Vina memberitahukan kepada Danu kalau Ivan sudah mendengar semua nya.
Danu dan Sari serta Juan menjadi kaget mendengar kalau Ivan sudah mengetahui semuanya. Ivan sudah mengetahui Maya sedang di rawat di rumah sakit, sedangkan Sari dan Juan sama sekali tidak memberitahukan ke dia satu orang pun.
"Vina, gue ke luar sebentar ya. Kamu tunggu di sini aja ya. Kamu mau aku belikan roti?" tanya Sari yang tahu kalau Maya sama sekali belum makan apapun dari pagi.
"Boleh Sar. Satu roti dan sebotol air mineral" jawab Vina memberitahukan kepada Sari apa pesanannya.
Sari diikuti oleh Juan berjalan menjauh dari pendengaran Vina. Sari harus menghubungi Ivan. Sari tidak mau Ivan salah sangka kepada dirinya dan membuat Ivan marah marah tidak jelas pada akhirnya.
"Sayang, kamu tolong pergi belikan roti dan juga air mineral untuk Vina dan kita berdua ya. Aku akan tunggu di sini sambung menghubungi Bang Ivan" ujar Sari memberitahukan kepada Juan apa yang akan mereka dua lakukan saat ini.
"Oke sayang. Aku pergi cari sarapan untuk kita bertiga dulu. Kamu hubungi Ivan" ujar Juan.
Mereka berdua kemudian berpisah. Ivan berjalan menuju swalayan yang ada di bagian depan rumah sakit. Sedangkan Sari akan menunggu Ivan di dekat pintu masuk IGD.
Sari kemudian menghubungi Ivan. Dia sangat penasaran apa yang akan dilakukan oleh Ivan saat mengetahui kalau Maya masuk rumah sakit.
"Kenapa loe nggak beritahu gue kalau Maya masuk rumah sakit. Apa harus meninggal dulu baru loe kasih tau ke gue" ujar Ivan langsung memaki maki Sari, saat dia menerima telpon dari Sari.
"Seneng loe tengok gue tau dari Vina yang mengatakan kepada Danu dan gue tanpa sengaja mendengar obrolan mereka" ujar Danu semakin emosi dengan Sari.
__ADS_1
Sari hanya bisa diam saja. Dia sama sekali tidak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Ivan. Ivan memang benar, dia salah karena tidak memberitahukan kepada Ivan kalau Maya masuk rumah sakit.
"Kenapa loe diam Sari. Gue tanya kenapa nggak ngasih tau. Lagian dari kapan Maya sakit kayk gitu. Bisa loe jelasin ke gue?" tanya Ivan masih dengan nada kesal kepada Sari.
"Maaf Bang, aku salah karena tidak memberitahukan kepada kamu kalau Maya masuk rumah sakit." kata Sari mulai menjelaskan kepada Ivan.
"Kejadiannya berjalan dengan sangat cepat. Kami bertiga panik saat mengetahui Maya yang demam tinggi itu. Satupun dari kami tidak ada yang ingat untuk mengabari siapapun" ujar Sari mulai menceritakan kronologis kejadian yang terjadi tadi pagi di rumah Vina.
"Saat itu tujuan utama kami adalah membawa Maya secepat mungkin ke rumah sakit" ujar Sari melanjutkan ceritanya.
"Saat sampai rumah sakit, Danu menghubungi Vina. Saat itu Vina sangat panik karena Maya yang harus di tangani sejumlah dokter di ruangan IGD." lanjut Sari.
"Nah saat Vina bercerita ke Danu, abang datang. Saat itulah kami baru ingat kesalahan kami yang tidak bercerita ke abang tentang Maya yang sakit" ujar Sari yang tidak berusaha membela dirinya.
Sari menceritakan semuanya dengan gamblang. Sari sama sekali tidak ada menyembunyikan hal apapun kepada Ivan.
"Masih di tangani oleh dokter IGD. Aku keluar sebentar karena ingin menghubungi abang" jawab Sari memberitahukan posisi dirinya dimana sekarang ini.
"Oo oo baiklah. Abang sekarang sedang chek in, palingan besok pagi sampai di negara U" ujar Ivan memberitahukan tentang penerbangannya kepada Sari.
"Oke. Kasih tahu aja saat sampai. Aku akan minta pengawal menjemput di Bandara. Hati hati di jalan" ujar Sari yang tidak berusaha mencegah Ivan untuk ke negara U.
"Oke sip. Makasi" ujar Ivan dengan suara terlihat seperti orang bergegas sedang di kejar sesuatu yang penting.
Sari memang tidak berusaha membujuk Ivan. Ivan tidak akan mendengar apa yang akan dikatakan oleh Sari. Jadi, Sari lebih memilih untuk mengalah dan tidak berusaha mencegah Ivan untuk datang ke negara U.
__ADS_1
"kalau begitu, aku tutup dulu panggilan kita ya Bang. Gue akan kembali ke Vina dan Maya" ujar Sari yang akhirnya merasa lega kalau Ivan tidak berbuat aneh aneh, melainkan memilih untuk datang ke negara U.
"Kamu harus memberitahukan ke abang bagaimana perkembangan Maya. Minimal dua kali dalam satu jam. Abang tidak mau tahu Sari. Abang tidak menerima penolakan" ujar Ivan yang memberikan perintah dan tida bisa ditawar tawar oleh Sari lagi.
"Tapi abang kan di pesawat. Bagaimana caranya" ujar Sari masih mencoba peruntungannya kepada Ivan untuk tidak memberitahukan bagaimana kondisi Maya dua kali dalam satu jam.
"Sari, nggak ada alasan apapun. Abang mengambil penerbangan paling tercepat yang bisa abang lakukan. Ini aja abang berangkat tanpa memberitahukan kepada Ayah kalau abang ke negara U" ujar Ivan yang memang tidak mengatakan hal apapun kepada Ayahnya sampai saat ini.
"Terus siapa yang ngomong ke Ayah kalau Abang berangkat ke negara U?" tanya Sari yang nggak mau nanti Ayah marah ke dirinya, karena tidak menceritakan keadaan Maya dan juga memberi kabar kalau Ivan pergi ke negara U dengan mendadak.
"Kamu aja. Abang akan masuk ke dalam pesawat. Nggak mungkin abang nelpon Ayah lagi. Nggak akan sempat, jadi lebih baik kamu aja yang menghubungi Ayah" ujar Ivan meminta Sari menghubungi Ayah mereka dan menyampaikan semua kabar dan kejadian yang terjadi hari ini.
"lah gue lagi. Apes banget nasip gue Bang" ujar Sari yang mendapat titah untuk menghubungi Ayahnya.
"nggak ada yang namanya menghubungi Ayah sendiri apes Sar. Loe mau jadi anak durhaka?" ujar Ivan memakai kata kata yang paling ditakuti oleh Sari.
"Itu lagi" ujar Sari dengan nada lemah.
"Mau atau nggak?" tanya Ivan memastikan kepada Sari, apakah Sari mau menghubungi Ayah mereka atau tidak, untuk memberitahukan semua kejadian itu.
"Iya iya. Aku telpon Ayah. Sekarang aku matikan telpon sama abang dulu ya" ujar Sari yang tidak menunggu persetujuan dari Ivan langsung mematikan panggilan video itu.
Sari kemudian menghubungi Ayah. Sari menceritakan dari awal sampai akhir.
"Oke. Nanti Ayah akan telpon abang" ujar Ayah kepada Sari
__ADS_1
"Oke Ayah. Cepat balik negara U" ujar Sari sambil memutuskan panggilan telponnya dengan Ayah