Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Mami dan Sari


__ADS_3

"Tante Sari, Deli sudah tau semuanya" ujar Deli sambil melirik ke arah Sari yang sekarang posisi duduknya berada di depan Deli. Deli mengatakan hal itu dengan gaya santai saja tanpa terlihat ada beban dalam ucapannya.


Sari yang sedang menyeruput teh panas miliknya menatap ke arah Deli. Sari sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya.


Sari menatap lama ke arah Deli. Sari menuntut penjelasan dari apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya.


"Apa maksud dari pernyataan kamu tadi Deli?" tanya Sari menatap ke wajah anak kecil yang bisa mengatakan kalau dia sudah tau semuanya.


Kata tau semuanya itu yang membuat Sari bertanya tanya ada apa sebenarnya yang diketahui oleh Deli.


Deli melihat ke arah Vina yang masih terlihat sangat sibuk bekerja di dapur. Sari mengikuti arah pandangan dari Deli.


"Hem, Vina akan lama berada di sana. Kamu jangan cemas" ujar Sari berkata kepada Deli kalau Vina akan lama berada di dapur karena harus membantu Rina dan koki lainnya untuk menyiapkan makanan yang sama sekali tidak bisa diolah oleh Rina dan rekan rekan koki lainnya.


"Jadi sayang, tante Sari minta kamu menjelaskan apa maksud dari pernyataan kamu tadi. Tante beneran tidak mengerti sayang" ujar Sari meminta dengan sangat kepada Deli untuk menjelaskan apa maksud dari pernyataan Deli yang tadi.


"Tante ikut aku yuk" ujar Deli langsung berdiri dari kursi tempat duduknya.


"Kemana?" ujar Sari bertanya dengan heran kepada Deli. Deli mengajak Sari untuk ke suatu tempat. Sari tidak tahu kemana Deli akan membawa dirinya.


Apalagi Deli sudah langsung berdiri dari tempat duduknya untuk pergi berjalan menuju tempat yang akan ditunjukkannya kepada Tante Sarinya itu.


"Kalian berdua mau kemana?" tanya Vina saat melihat Sari berjalan berdua dengan Deli beranjak dari kursi tempat mereka duduk tadi.


"Pergi sebentar Bunda. Kami mau ke tempat Atuk dan Nenek" Deli menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vina, saat Vina melihat mereka berdua berjalan menjauh dari tempat mereka bertiga duduk tadi.


"Oh Oke. Hati hati. Nanti Bunda susul ke sana" ujar Vina mengizinkan Deli untuk pergi pindah duduk ke tempat Atuk dan Nenek yang sedang duduk di tepi kolam ikan koi.


Deli berjalan bergandengan tangan dengan Sari menuju tempat Atuk dan Neneknya sedang duduk. Atuk dan Nenek serta Paman Manager melihat lihat keadaan sekeliling kafe yang memang sangat bagus dan menjadi tempat nongkrong paling nyaman dengan semua interiornya yang bernuansa negara I. Tidak hanya interior saja yang bernuansa negara I sampai sampai makanan juga bernuansa negara I.


"Atuk, Nenek, coba lihat siapa yang sekarang bersama dengan Deli?" ujar Deli berkata dengan riang kepada Papi dan Mami yang sedang memberi makan ikan koi dengan pur yang ada di dekat mereka.


Papi dan Mami melihat ke arah Deli. Deli sekarang sedang bersama seorang wanita cantik. Mami dan Papi menatap wanita itu dengan sangat dalam. Mereka mengamati wajah wanita tinggi, cantik tersebut.


Sari juga menatap Papi dan Mami. Air mata Sari jatuh di sudut matanya. Sari tidak menyangka akan bertemu dengan dua orang yang sangat dirindukan nya sejak dari dulu.


"Sayang, kamu itu nak?" ujar Mami sambil memeluk Sari dengan sangat kuat. Mami langsung bisa mengenali Sari saat melihat warna mata Sari yang mengingatkan Mami kepada adik iparnya yang sudah meninggal itu.

__ADS_1


Mami menangis haru karena bertemu dengan Sari. Anak dari adik iparnya yang selama ini dirindukan oleh Mami.


"Nenek, nangisnya jangan di sini. Nanti saja di mansion. Nanti Bunda lihat nenek menangis memeluk Tante Sari, apa yang mau nenek katakan ke Bunda kalau Bunda bertanya" ujar Deli menjelaskan dengan panjang lebar kepada Mami untuk tidak menangis saat ini. Deli tidak mau Vina nanti curiga dengan kedekatan Mami dan Sari.


Deli paham betapa rindunya Mami kepada Sari. Tetapi kalau Vina melihatnya maka akan menjadi suatu permasalahan yang harus dijelaskan langsung kepada Vina. Pertanyaannya apakah Mami sanggup mengatakan hal itu kepada Vina.


"Mami, benar yang dikatakan oleh Deli itu. Mami jangan menangis memeluk Sari. Nanti Vina bisa curiga kepada kita" ujar Papi meminta Mami untuk tidak menangis dan membuat Vina curiga dengan apa yang mereka tangisi saat ini.


"Tapi kalau Mami rasa udah sanggup untuk menjelaskan kepada Vina tidak masalah. Silahkan aja Mami. Tapi kalau Papi, belum siap menjelaskan kepada Vina. Papi akan menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada Vina semuanya" ujar Papi sambil menatap memohon kepada Mami untuk tidak rerus menangis dengan Sari.


Mami mengusap air matanya, hal yang sama juga dilakukan oleh Sari. Kedua wanita dari keluarga Sanjaya itu sama sama menangis karena satu hal yaitu saling merindu antara satu dengan yang lainnya.


Mami melepaskan pelukannya dari Sari. Sari menatap Mami dengan tatapan kerinduan seorang anak kepada seorang Ibu.


"Aku rindu Mami" ujar Sari berkata kepada Mami.


"Mami juga sayang" jawab Mami sambil menggenggam tangan Sari.


Mami dan Sari kemudian saling mengobrol ringan. Deli sangat bahagia melihat Mami dan Sari saling mengobrol antara satu dengan yang lainnya.


Mami ingin melepaskan kerinduannya kepada Sari. Mereka sudah sangat lama tidak bertemu dengan Mami dan Papi. Begitu banyak cerita yang akan mereka ceritakan masing masing nya.


"Iya Mami, Sari akan datang ke sana hari ini. Sari juga akan bawa Ivan untuk datang ke mansion" ujar Sari yang setuju untuk datang ke mansion dan membawa serta Ivan ke mansion tersebut.


"Emang Ivan di sini sekarang sayang?" tanya Mami sambil menatap ke arah Sari yang sekarang duduk di depan Mami dan memangku Deli, keponakan cantiknya itu.


"Ya Ivan sedang di sini Mami. Maya lagi sakit, makanya Ivan menemani maya di rumah sakit. Vina sibuk di kafe, sedangkan aku tentu harus sibuk di perusahaan" ujar Sari menjawab pertanyaan dari Mami memastikan keberadaan Ivan memang sedang berada di negara U.


"Nanti malam kalian berdua harus ke rumah Mami. Mami akan buatkan makanan favorit kalian berdua" ujar Mami menatap ke arah Sari dan meminta Sari untuk datang malam nanti dengan Ivan ke mansion utama keluarga mereka.


Papi yang kebetulan melihat ke arah kafe, mendapati Vina yang sedang berjalan menuju tempat mereka semua sedang duduk.


"Mami, Vina datang" ujar Papi menegur Mami supaya mengubah arah pembicaraan dirinya dengan Sari.


Mami dan Sari kemudian melanjutkan obrolan seputar negara U. Tempat tempat yang cocok untuk mereka datangi selama mereka di sana.


"Mami dan Sari kelihatannya akrab banget" ujar Vina sambil duduk di dekat Mami.

__ADS_1


Deli yang tadi di pangku oleh Sari sekarang sudah kembali duduk sendirian di sebelah Sari. Sedangkan Papi dan Paman Manager duduk duduk di tepi kolam ikan koi.


"Sari enak di bawa ngobrol sayang" ujar Mami menjawab pertanyaan dari Vina tentang Mami yang terlihat sangat akrab dengan Sari.


"Oh ya Vin. Ada beberapa dokumen yang harus kamu tanda tangan di perusahaan" ujar Sari memberitahukan kepada Vina kalau ada begitu banyak dokumen dokumen yang harus dibaca dan dianalisis oleh Vina di perusahaan sekarang ini.


"Tapi, Papi dan Mami. Belum Deli, aku utang janji ke Deli untuk menginap di mansion" ujar Vina dengan raut wajah yang terlihat susah memilih antara mau ke perusahaan atau menepati janjinya kepada Deli.


Deli paham dengan posisi sulit Bundanya itu. Deli tidak mau Vina menelantarka pekerjaannya hanya karena ingin memenuhi janjinya kepada Deli.


"Bunda pergi aja ke perusahaan. Biar malam ini Deli bobok sama Nenek. Tapi lusanya bunda harus ke mansion ya main sama Deli" ujar Deli sambil menatap ke arah Vina.


Deli melepaskan Vina dari keputusan berat yang harus diambil oleh Vina saat ini.


"Makasi sayang, kamu sudah paham dengan keadaan Bunda. Bunda janji lusa akan datang ke mansion dan kita akan main bersama" ujar Vina sambil tersenyum kepada Deli.


"Sama sama Bunda cantik Deli yang keren dan pinter" ujar Deli memuji Vina dengan sepenuh hatinya.


"Mami, kalau begitu Vina pamit ke perusahaan dulu ya. Maaf karena nggak jadi tidur mansion hari ini. Tapi lusa Vina janji akan datang ke mansion" ujar Vina mengucapkan permintaan maaf kepada Mami karena tidak bisa memenuhi janjinya kepada Mami untuk menginap di mansion keluarga Sanjaya.


"tidak apa apa sayang. Kamu lanjut kerja aja. Mami dan Deli akan menunggu kamu di mansion lusa" jawab Mami yang tidak mau memberikan beban tambahan kepada Vina.


Vina sudah banyak menanggung beban di pundaknya itu. Vina termasuk wanita yang kuat. Wanita yang bisa diandalkan untuk berjuang bersama sama membangun apa yang diimpikan.


"Bunda pergi dulu ya sayang. Kamu jangan nakal dan jangan banyak ulah waktu bersama nenek. Bunda akan datang lusa ke mansion" ujar Vina berpamitan kepada Deli.


Vina sebenarnya tidak ingin pergi ke perusahaan. Apalagi dia akan di sana sampai besok. Vina tidak ingin berpisah dengan Deli. Tetapi apa mau dikata Vina harus melaksanakan tanggung jawabnya terhadap perusahaan.


Vina juga berpamitan kepada Papi dan Pak Manager. Setelah itu Vina terlihat berdialog dengan Rina sang koki yang dijadikan orang kepercayaan langsung saat Maya dan Vina tifak ada di kafe.


Setelah mengurus semua urusan kafe. Vina kemudian masuk ke dalam mobil. Pak Hans sudah siap mengantarkan Vina ke perusahaan tempat dia bekerja selama ini.


"Perusahaan Pak Hans" ujar Vina menyebutkan kemana tujuan mereka hari ini.


"siap Nona" jawab Pak Hans.


Mobil yang dikemudikan oleh Pak Hans bergerak menuju perusahaan tempat Vina bekerja. Vina hari ini akan lembur untuk membaca dokumen dokumen yang sudah banyak di atas meja kerjanya itu. Vina sudah satu minggu tidak masuk kantor, sehingga dia sudah bisa membayangkan berapa banyak dokumen yang harus dibacanya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2