Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kampung


__ADS_3

Kereta api yang mereka tumpangi telah berhenti di stasiun kota J. Vina dan kedua sahabatnya turun dari atas kereta api, mereka menyeret keluar barang bawaan menuju keluar stasiun. Mereka kali ini akan melanjutkan berkendara dengan menggunakan taksi online, perjalanan akan di tempuh selama lebih kurang tiga puluh menit.


"Maya, loe pesan taksi online gih," ujar Vina meminta Maya melakukan pemesanan taksi.


"Emang loe nggak beli oleh oleh dulu untuk Ibuk dan Bapak di rumah, mau pulang lenggang kangkung aja gitu?" tanya Maya sambil menatap ke arah Vina.


"Hello Nona cantik cerewet, gue udah beli oleh oleh untuk orang di rumah. Ini." ujar Vina sambil mengangkat oleh oleh yang tadi di belinya di stasiun kota S.


"Kapan loe beli, kok gue nggak tau dan nggak loe ajak?" tanya Maya penasaran dengan oleh oleh yang telah dibeli Vina.


" Pas berhenti di stasiun kota S. Kalian tadi tidur nikmat banget makanya gue nggak bangunin, gue turun sendiri aja, tempat jual oleh olehnya juga deket kok. Makanya berani turun sendirian. Lagian kalau beli oleh oleh di sini untuk apa, mending langsung bawa Ibuk dan Bapak pergi belinya." ujar Vina menjawab pertanyaan Maya dengan sepanjang panjangnya.


"Huft, kalau tau loe turun di sana kan gue ikut." ujar Maya dengan nada sedikit kesal.


"Ayuk naik kereta api lagi, kita ke Stasiun S siap itu balik lagi sini." kata Sari yang sedikir kesal dengan Maya yang terlalu berlebihan dalam bersikap hari ini.


"Yey kerja gila kali Sar" jawab Maya


"Ya elo lagian, pake acara kesal nggak diajak turun sama Vina, jelas jelas kita ketiduran, masak iya Vina harus gotong loe turun ke stasiun S." jawab Sari yang gara gara kelelahan agak sedikit sensi.


"Udah nggak usah pada sensian gitu, Maya loe pesan taksi, kita pulang, gue pengen mandi." ujar Vina meredakan suasana yang sedikit agak panas itu.


Maya kemudian memesan taksi untuk mereka pulang, tak berapa lama, taksi pesanan Maya datang, Pak Sopir menaikkan semua barang barang milik ketiga wanita cantik itu. Maya duduk paling depan, sedangkan Vina dan Sari di bangku penumpang belakang sopir.


"Vin, rumah loe di pusat kota?" tanya Sari yang malas kalau rumah Vina berada di pusat kota.


"Nggak Sar, kenapa, loe nyesel ikut?" tanya Vina.


"Nyesel kalau di pusat kota, tapi kalau dipinggiran gue seneng banget." jawab Sari.


"Pas kalau gitu, kampung gue dipinggiran kok, suasana masih asri dan damai." jawab Vina membanggakan kampung halamannya.


"Wah keren untuk relaksasi." ujar Sari dengan semangat. Dia sangat suka berada di daerah pinggiran, Sari sebenarnya sudah bosan dengan kehidupan kota yang tiap hari dijalaninya itu.


"Sar, tau nggak loe, saking pinggirannya, toilet nggak ada di kampung Vina, kita harus buang air besar ke sungai kalau nggak di empang." ujar Maya menggoda Sari.


"Seriusan Vin?" tanya Sari yang penasaran dengan cerita Maya.


"Bener itu apa yang dikatakan Maya, tapi loe tenang aja di rumah gue udah ada kok jambannya, jadi loe kalau pengen pup malam hari udah bisa di rumah, nggak perlu ke empang atau sungai lagi." ujar Vina yang membuat Sari menjadi lebih rilex sekarang.


Sari tidak bisa membayangkan dirinya yang punya hobby pup malam harus pergi ke sungai atau empang hanya untuk membuang hajatnya itu. Bisa bisa dia nahan pup sampai matahari kembali muncul.


Setelha berkendara selama empat puluh lima menit, Vina dan kedua sahabatnya telah sampai di depan rumah Vina. Vina, Maya dan Sari kemudian turun dari mobil, Pak Sopir menurunkan semua barang milik mereka.

__ADS_1


Vina melihat pintu rumahnya tertutup rapat, sedangkan beberapa jendela masih terbuka. Vina melihat jam di pergelangan tangannya, jarum jam sudah menujukkan pukul lima sore.


"May, apa Bapak dan Ibuk belum pulang dari ladang ya? Tuh jendela masih pada kebuka." ujar Vina.


"Kayaknya Vin, kita tunggu di luar aja." kata Maya memberikan usul.


Mereka kemudian berjalan menuju teras rumah, Vina dan yang lain duduk di kursi yang ada di teras, barang barang mereka letakkan di pojokkan. Mereka duduk sambil menunggu Ibuk dan Bapak pulang dari ladang.


"Eeee ada Nak Vina, kapan datang nduk?" kata seorang ibu ibu yang seumuran dengan Ibu Vina.


"Baru nyampe bukde. Bukde nampak ibuk dan bapak?" ujar Vina saat sudah berada di depan Bukde itu dan menyalami Bukde.


"ibuk dan Bapak masih di ladang tadi, tapi kayaknya mereka udah mau jalan pulang. Emang pintu di kunci?" tanya Bukde.


"Nggak kayaknya Bukde, Vina nunggu ibuk dulu baru masuk rumah." jawab Vina dengan sopan.


"Kalau gitu Bukde pulang dulu, atau kamu mau ke rumah Bukde dulu?" tanya Bukde menawarkan Vina untuk kerumahnya.


"Besok ya Bukde, Vina besok pasti kesana, sekarang masih capek, maklum jauh." ujar Vina dengan sopan.


" Yo wes kalau gitu, Bukde tinggal yo nduk." ujar Bukde.


Bukde kemudian kembali berjalan menuju rumahnya, sedangkan Vina kembali duduk di teras rumah menunggu Ibuk dan Bapak yang pulang dari ladang.


"Kenallah, ibuk ibuk tukang gosip itu." ujar Maya menjawab pertanyaan Sari.


"Bener? Udah tua juga" kata Sari tidak percaya dengan jawaban Maya.


"Bener Sar, Maya bener, dia memang tukang gosip. Loe tengok deh bentar lagi rame orang yang datang, minimal lepas maghrib" ujar Vina


"Wow keren tu emak emak bigos. hahahahaha" Sari tertawa sambil geleng geleng kepala mendengar kelakukan ibuk ibu yang sudah tua tadi.


Saat mereka asik mengobrol, tiba tiba pintu pagar kayu terbuka, terlihat Bapak dan Ibu yang baru pulang dari ladang. Vina langsung berlari menuju Ibu dan Bapak yang sudah lama tidak bertemu dengan dirinya itu.


"Loh nduk, pulang kok ndak ngomong ngomong ya." ujar Bapak sambil meletakkan cangkul yang dibawanya.


"Sengaja Pak, ini namanya ngasih kejutan." jawab Vina sambil bersalaman dengan Bapak.


Maya dan Sari kemudian bersalaman dengan Ibuk dan Bapak.


"Ibuk perkenalkan ini teman Vina, namanya Sari." ujar Vina memperkenalkan Sari kepada Ibu dan Bapak


"Sari juga teman Maya kok buk, bukan hanya teman Vina" ujar Maya tidak mau kalah dengan Vina.

__ADS_1


"Iyo nduk. Kamu dari dulu nggak mau kalah sikitpun." ujar Ibu yang paham dengan sifat Maya.


"Kalian udah lama sampe?" tanya Ibuk


"Nggak kok Buk" jawab Vina sedikit bohong.


"Kenapa nggak langsung masuk aja nduk, kenapa harus duduk di teras rumah, banyak nyamuk" ujar Ibu sambil membuka pintu rumah, Bapak lewat pintu belakang.


"Lagi pengen nikmati waktu sore ibuk." jawab Vina.


Mereka semua kemudian masuk ke dalam rumah, Vina menaruh kopernya di kamar, sedangkan Maya dan Sari meletakkan kopernya di kamar Maya. Sari akan sekamar dengan Maya selama mereka di sini.


"Kalian bersih bersih dulu sana, Ibuk mau manasin makanan." ujar Ibuk yang langsung menuju dapur.


Vina mengikuti Ibuknya ke dapur.


"Biar Vina aja Buk" kata Vina


"Untuk kali ini biar ibuk saja nduk, kamu mandi sana. Nanti siap maghrib kita makan bersama, ibuk tadi masak gudeg sama goreng mendoan plus sambal terasi dan goreng ikan peda." ujar Ibuk memberitahukan apa yang dimasaknya tadi siang sebelum pergi ke ladang mengantarkan nasi Bapak.


Vina kembali menuju kamar, dia mengambil peralatan mandi miliknya. Kamar mandi di rumah hanya ada satu, jadi dia harus bergantian dengan yang lain. Vina mandi dengan sangat cepat, setelah dia selesai mandi giliran Sari dan Maya membersihkan diri mereka masing masing.


Waktu maghrib pun tiba, mereka melakukan kewajiban dengan cara berjamaah. Bapak menjadi imam karena dia laki laki satu satunya di rumah. Selesai melakukan kewajiban, mereka melanjutkan dengan makan malam bersama. Mereka makan sambil mengobrol, Sari yang diragukan oleh Vina dan Maya tidak menyukai makanan yang ada ternyata sebaliknya Sari sangat menikmati makan malam itu.


Saat mereka baru selesai makan malam, terdengar bunyi pintu rumah di ketuk dari luar. Maya pergi membukakan pintu. Ternyata di depan pintu sudah ramai tetangga Vina yang datang.


"Loh bukde sekalian mau ngapain?" tanya Maya yang memang kurang suka dengan penduduk sekitar.


"Mau mencari ibuk Vina. Apa ibuk ada di dalam?" tanya seorang wanita mewakili teman temannya.


"Ada tunggu bentar." ujar Maya sambil menutup pintu rumah kembali.


"Siapa nduk?" tanya Ibuk.


"Biasa buk e wanita wanita rempong. Katanya cari ibuk padahal cari Vina." jawab Maya sambil menatap Vina.


"Bener ternyata ya Vin. Mereka langsung datang." ujar Sari.


"Hahahahaha. Mau gimana lagi kan ya" jawab Vina sambil tertawa.


"Sudah sana nduk.temui dulu mereka, mereka mau ketemu kamu itu bukan mau ketemu ibuk." ujar Bapak sambil menonton televisi.


"Iya Pak." jawab Vina.

__ADS_1


Vina dan Maya serta Sari berjalan ke teras depan. Mereka sangat tau ibuk ibuk kampung pasti kepo dengan mereka. Vina membawakan oleh oleh untuk mereka. Oleh oleh sebagai ucapan untuk cepat pergi dari rumah. Ntah apa yang ada dalam pikiran orang orang itu yang selalu kepo dengan Vina dan Maya.


__ADS_2