Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Cemburu


__ADS_3

Danu pagi pagi sekali sudah terlihat sangat rapi, dia berencana untuk menjemput Vina berangkat ke kantor. Danu mulai hari ini bertekad akan membuat Vina kembali nyaman dengan dirinya. Danu ingin Vina seperti dulu lagi, Vina yang tidak menjaga jarak lagi. Sekarang hubungan mereka sudah mulai mencair. Tetapi belum seperti dulu lagi. Tekad Danu sudah bulat akan mendekati Vina. Danu dengan penuh semangat menuju mobilnya. Dia hanya menyambar sepotong sandwich yang dibuatkan pelayanan dan membawa sebotol air mineral. Danu kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia sangat menikmati perjalanan sambil bersenandung kecil, Danu seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Danu terus saja bersenandung, tak terasa Danu sampai di depan rumah Vina.


Danu melihat motor yang biasa dipakai Vina ke kantor masih ada di teras rumah Vina. Tin tin tin, bunyi kalkson mobil Danu. Maya yang berada di dalam rumah langsung saja melihat di sela jendela, saat mendengar suara klakson mobil. Maya melihat ada sebuah mobil yang di kenalnya parkir di depan pagar rumah.


"Bukannya itu mobil Pak Danu" ucap Maya sambil membuka pintu rumahnya.


Danu yang melihat pintu terbuka langsung turun dari mobil sebelum memastikan siapa yang membuka pintu.


"Eh Maya" ucap Danu dengan nada terkejut.


Maya yang mendengar nada terkejut dari Danu langsung tersenyum kecil, Maya tau yang diharapkan oleh Danu yang membuka pintu adalah Vina.


"Vina udah berangkat ke kantor Pak."


"Motornha?" ucap Danu yang melihat motor Vina terparkir rapi di teras rumah.


"Vina hari ini di jemput seorang laki laki Pak."


"Laki laki?" Danu terlihat sangat terkejut mendengar Vina dijemput seorang laki laki. Setau Danu, Vina di kantor hanya memiliki teman laki laki hanya Iwan dan Ifan.


"Kamu kenal May?"


"Nggak pak, baru sekali tadi lihat" jawab Maya. Maya melihat Danu menjadi tidak senang saat mendengar Vina dijemput laki laki.


"Mampus loe gue kerjain." ucap Maya dalam hatinya.


"Kenapa ya pak? Anda terlihat tidak suka kalau Vina dijemput seorang laki laki saat ke kantor." ucap Maya.


"Oh tidak biasa aja. Saya permisi dulu" kata Danu yang berjalan dengan gontai menuju mobilnya. Danu yang sangat semangat tadi pagi berubah seratus sdelapan puluh darjat, sekarang Danu seperti kehilangan gairah hidupnya.


"Hahahahahahahahahaha. Siapa suruh pehapein sahabat gue" ucap Maya dengan senangnya. Maya menari nari melapaskan rasa bahagianya yang berhasil mengerjai Danu.


Danu kemudian masuk kedalam mobil dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Syukur syukur kalau masih sempat nengok tu cowok" ucap Danu. Semakin Danu ngomel semakin naik gas mobil Danu. Danu sampai di kantor dalam waktu tiga puluh menit. Danu memperhatikan setiap sudut parkiran kantor, Danu tidak ada melihat motor atau Vina.


"Gue tunggu lima belas menit lagi" ucap Danu dalam hati.

__ADS_1


Danu berdiam diri di dalam mobil sambil memegang ponselnya. Setiap kendaraan baik mobil atau motor yabg berhenti Dani selalu memerhatikan, Danu berharap Vina yang turun. Ternyata setelah tiga puluh menit dan jam kantor sudah datang, Danu memutuskan untuk masuk ke dalam kantor.


"Huft. Kemana tu orang membawa Vina ya?" kata Danu dalam hati. Danu kemudian turun dari mobilnya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kantor.


Setiap karyawan wanita pasti selalu memperhatikan Danu setiap Danu lewat di depan mereka. Mereka berharap Danu tersenyum dan menyapa mereka. Tapi yang namanya Danu tetap sombong dan berlalu tanpa ekspresi di depan para karyawan.


Betapa terkejutnya Danu saat sampai di kantor Vina sudah duduk sambil menatap laptopnya. Danu berlalu dari hadapan Vina. Vina yang tau Danu marah membiarkannya saja.


"Kenapa lagi tuh bos?" tanya Ifan yang melihat muka cemberut Danu.


Iwan mengangkat bahunya, dia kemudian melihat ke arah Vina yang tersenyum simpul.


"Loe pasti tau kan?" kata Iwan sambil berjalan ke arah Vina.


"Jadi gini, tadi pagi gue kan ke kantor nebeng sama adik sepupu gue yang baru pindah ke kantor pusat. Eeee Pak Danu datang ke kontrakan pengen jemput sama kantor. Maya ngomong Vina dijemput seorang laki laki naik motor." ucap Vina sambil menahan senyumnya.


"Terus?"


"Terus, Maya ngomong lagi, kalau Maya nggak tau laki laki itu siapa. Gitu. Eeeeeee kiranya dia marah pagi pagi" lanjut Vina tanpa ekspresi.


"Keren loe. Biar dirasainnya bagaimana sakitnya" ucap Iwan.


"Vin makan yok" panggil Ifan


"Ayuk. Makan kafe depan aja ya. Kerjaan gue banyak bang"


"Siap"


"Bang" kata Vina memberi kode ke Iwan agar memanggil Danu.


"Anggak usah. Kami ada perlu sama loe tapi Danu tidak boleh ada." jawan Iwan sambil melangkah keluar.


Vina menatap ke arah Ifan. "Tenang aja loe. Nanti juga akan tau ada apanya."


Mereka bertiga melangkahkan kakinya berjalan keluar kantor. Mereka bertiga akan makan di kafe seberang kantor. Kafe yang jadi idola karyawan beberapa perusahaan di daerah itu. Kafe makanan enak dan ramah di kantong karyawan.


"Mau apa Vin, Bang?"

__ADS_1


"Gue nasi sambal rendang dan jus jerus peras."


"Gue nasi ayam bakar sama teh es"


Ifan pergi memesan makanan untuk mereka.


"Sambil nunggu pesanan gue terangin sedikit apa maksud dari pernyataan gue tadi" kata Iwan sambil meminum air mineral.


"Jadi gini, kita kan dari kemaren kemaren berpikir kalau Danu pasti suka sama loe." ucap Iwan.


Iwan memerhatikan ekspresi dari Vina.


"Terus kak" kata Vina yang menerima baik atau buruk apa yang akan dikatakan Iwan setelahnya.


"Tapi dia kan sampai sekarang belum mengakui perasaannya sama loe. Ditambah hari itu kalian berdua sempat renggang." Iwan terdiam.


Pelayan kafe datang mengantarkan pesanan makan siang mereka.


"Nanti kita sambung. Makan dulu." ucap Vina.


Mereka bertiga makan tanpa ada yang dibicarakan. Bagaimanapun kondisinya atau waktunya, mereka bertiga tidak pernah makan sambil ngobrol. Mereka akan memilih untuk makan terlebih dahulu setelah itu baru ngobrol tentang apapaun itu.


"Jadi?" tanya Vina kepada kedua pria di depannya.


"Gini Vin. Kita selama ini kan tau ya, sebenarnya Danu mencintai kamu. Tapi Danu tidak berani mengungkapkannya" kata Iwan.


"Terus bang?"


"Jadi maksudnya, kamu terus saja pergi pulang kalau bisa makan siang dengan sepupu kamu itu. Kita akan lihat bagaimana reaksi Danu setelah ini." kata Iwan.


"Jadi menurut abang, gue harus memanas manasi Pak Danu dengan cara gue terus jalan dengan sepupu gue?"


"Yup. Setelah itu kami akan ngomporin Danu agar mengungkapkan perasaannya ke kamu" kata Iwan.


"Terus, gimana caranya agar Danu tau gue jalan sama sepupu gue?"


"Elo kirim aja kabar ke kami berdua. Nanti kami yang akan bawa Danu ke tempat loe berdua berada." ucap Ifan.

__ADS_1


"Oke lah bang. Semoga suses ya. Hahahahahaa"


Mereka bertiga kembali ke kantor untuk bekerja kembali. Mereka hari ini akan lembur karena pekerjaan yang sangat banyak.


__ADS_2