
Maya, Bik Ina dan seorang koki baru sibuk mengolah semua pesanan para pengunjung. untuk sesaat rasa rindu dan kangen dengan Vina dan Deli terobati dan terlupakan karena pekerjaan yang sedang mereka kerjakan itu. tetapi nanti setelah semua selesai Maya dan Bik Ina serta pak hans dan tak lupa sari pasti akan mengingat Deli dan Vina dengan segala tingkah polah nya. perpisahan itu memang sangat berat karena tidak akan ada pertemuan kalau tidak ada perpisahan. sehingga mau tidak mau perpisahan wajib adanya.
Sedangkan Vina dan Deli yang berada di dalam pesawat berbadan besar yang penumpangnya sangat banyak dan penuh itu sedang menikmati perjalanan mereka. Vina dan Deli mengambil penerbangan dengan tiket kelas bisnis. Vina ingin Deli merasa nyaman selama penerbangan yang dilakukan sekitar lima belas jam itu, kalau di tambah transit di negara AS, maka akumulasi waktu penerbangan itu menjadi lebih kurang delapan belas jam. Penerbangan yang sangat lama sekali yang harus dilalui oleh Vina dan Deli. Makanya Vina dan Deli berusaha membuat mereka nyaman dan supaya tidak merasa bosan berada di dalam pesawat besar itu.
"Bun, apa Ayah sudah tahu kalau kita pulang ke negara kita hari ini?" ujar Deli dengan suara berbisik takut orang orang yang berada di sekitar mereka mendengar apa yang dikatakan oleh Deli kepada Vina.
"Nggak sama sekali sayang. Bunda nggak ada ngasih tahu saudara saudara Bunda di negara I termasuk dengan Ayah" jawab Vina sambil melihat ke arah anak perempuannya itu.
"Emang kamu sayang, ngomong sama Ayah kalau kamu akan kembali ke negara I hari ini?" tanya Vina yang merasa kalau Deli sudah memberitahukan informasi itu kepada Danu.
"Juga sama sekali belum Bunda" ujar Deli dengan menggeleng dan menatap ke arah luar jendela pesawat.
Deli menatap jauh ke luar sana. Penglihatan dan pemikiran Deli seperti menembus badan pesawat dan langit yang sedang cerah tersebut. Pesawat seperti tahu kalau ada seorang anak kecil sedang berpikir keras di dalamnya, sehingga laju pesawat tidak mengalami banyak gangguan, sama sekali tidak terasa goncangan yang berarti saat Deli dan Vina melakukan penerbangan kali ini.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" ujar Vina sambil membetulkan posisi duduknya kembali.
Vina melihat Deli sedang memikirkan sesuatu yang seakan akan menguras energi Deli untuk melakukannya. Deli yang mendengar suara Vina menanyakan kepada dirinya apa yang sedang dipikirkan oleh dirinya, menatap ke arah Vina dan memberikan senyuman terbaiknya kepada Vina.
"Lagi mikir siapa yang akan jemput kita ke bandara Bun, kan kita sampainya sekitar jam delapan malam nanti di bandara negara I." jawab Deli menerangkan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini kepada Vina yang dari tadi menatap dirinya.
"Bener juga ya sayang. Siapa yang akan jemput kita ya" seru Vina dengan kaget kenapa dia sampai tidak berpikir ke arah sana. "Waduh ini bisa gawat sayang" lanjut Vina.
__ADS_1
Deli yang melihat kepanikan di wajah Vina hanya bisa menepuk jidatnya saja dengan sebelah tangannya. "Bunda ternyata bisa panik juga" ujar Deli dengan suara pelan dan hanya bisa di dengar oleh pemikirannya saja.
Deli terlihat berpikir lagi, dia harus bisa menemukan siapa orang yang akan menjemput dirinya dan Vina ke bandara. Kali ini Deli hanya bisa mengandalkan dirinya saja untuk berpikir siapa yang akan menjemput dirinya dan Vina ke bandara.
tiba tiba Deli tersenyum, dia ingat satu orang yang bisa diandalkan nya untuk menjemput dirinya dan Vina ke bandara.
"Ya benar, atuk kakek saja. siapa lagi yang bisa diandalkan saat seperti ini kalau bukan atuk kakek" ujar Deli dengan tersenyum dan menatap ke arah Vina.
"Kenapa kamu senyam senyum seperti itu sayang. apa ada sesuatu yang lucu yang kamu pikirkan?" ujar Vina saat melihat Deli yang tersenyum seperti itu.
"Apa yang ada di otak cantik kamu itu sayang?" ujar Vina penasaran dengan apa yang ada di dalam pikiran Deli pada saat ini.
"siapa?" ujar Vina.
Vina sangat penasaran dengan siapa orang yang akan diminta oleh Deli untuk menjemput mereka berdua ke bandara.
"Bukan Om ivan atau om iwan kan?" tanya Vina sambil menatap ke arah anaknya itu.
"Bukanlah Bun. kalau mereka berdua bisa bisa nanti mereka kasih tau ayah karena syok mendengar kedatangan kita berdua ke sini" jawab Deli yang ternyata sudah menganalisis semua kejadian kejadian yang bisa mungkin terjadi karena Deli meminta bantuan kepada Ivan dan Iwan untuk menjemput dirinya ke bandara.
"Boleh bunda tahu siapa orangnya?" ujar Vina mencoba kembali peruntungannya agar Deli memberitahukan kepada dirinya siapa orang yang diminta oleh Deli untuk menjemput dirinya ke bandara.
__ADS_1
"Maaf Bunda nggak bisa. bunda akan tahu nanti saja ya. aku juga lagi berusaha supaya orang itu mau menjemput kita ke bandara" ujar Deli yang ternyata sama sekali belum menghubungi orang itu agar bisa menjemput mereka berdua ke bandara.
"Jadi, kamu belum menghubungi orang itu sayang?" ujar Vina bertanya kepada Deli sambil menatap Deli dengan tatapan tidak percaya kalau Deli ternyata belum menghubungi orang itu tetapi dia dengan percaya dirinya mengatakan kalau orang itu pasti akan mau menjemput dirinya ke bandara.
"Belum Bun" jawab Deli sambil menggeleng dan tertawa kecil.
"Ais. sayang sayang, kamu belum menghubungi orangnya tetapi sudah percaya diri aja kalau orang itu pasti akan mau membantu kita." ucap Vina sambil mengusap usap dengan sayang puncak kepala Deli dengan usapan sayang.
"Hehehe hehehe, mau gimana lagi Bun. Aku memang belum nelpon." jawab Deli masih dengan tersenyum.
"terus kamu yakin aja gitu kalau orang itu mau?" lanjut Vina bertanya kepada Deli.
"Ya yakin aja Bun. Orang itu pasti tidak akan menolak apa yang aku mau Bun." lanjut Deli dengan wajah yang sangat yakin kalau orang yang diminta tolong oleh Deli tidak akan menolak keinginan dari Deli.
"Okelah sayang kalau kamu memang sudah sangat yakin. Bunda menyerahkan pekerjaan itu kepada kamu" lanjut Vina sahil tersenyum kepada Deli.
Tugas pertama yang diberikan oleh Vina kepada Deli. Deli yakin dan bertekad akan menjalankan tugas yang diberikan oleh Maya kepada dirinya dengan sebaik baiknya.
Deli tidak ingin mengecewakan Vina. Karena ini adalah tugas pertamanya.
"siap Bunda. serahkan sama aku. aku akan pastikan tidak akan mengecewakan Bunda" uajr Deli dengan nada sangat meyakinkan Vina kalau dia tidak akan mengecewakan Bunda tersayangnya itu.
__ADS_1