Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pingsan


__ADS_3

Vina yang sedang asik memasak semua pesanan dari para konsumen. Mendadak merasakan pusing di kepalanya. Vina yang sedang berdiri langsung jatuh pingsan. Maya yang sedang pergi ke pasar tidak mengetahui Vina yang sudah pingsan di rumah. Untung saja Vina belum menghidupkan kompor. Kalau tidak ntah apa yang akan terjadi terhadap Vina saat itu.


Maya yang baru pulang dari pasar langsung masuk ke dalam rumah. Pintu depan yang tidak terkunci membuat Maya dengan gampang bisa masuk. Maya langsung menuju dapur, dia sangat yakin kalau Vina sedang menunggunya di dapur saat ini. Tapi betapa terkejutnya Maya saat melihat Vina sudah tergeletak pingsan di lantai dapur.


"Vina" teriak Maya dengan begitu kuat.


Maya mengambil ponsel Vina. Dia langsung melekatkan sidik jari Vina ke layar pinselnya. Maya mencari kontak Iwan. Saat Maya melihat nama Iwan, Maya langsung menghubungi nomor itu. Maya menghubungi Iwan sampai dua kali tapi sama sekali tidak di angkat. Barulah pada panggilan ketiga Iwan mengangkat panggilan dari Maya.


[[ Hallo Vina, ada apa? Tapi loe sibuk banyak pesanan, kenapa masih menghuvungi gue. ]] kata Iwan langsung main sembur saat dia mengangkat telpon dari Vina.


[[ Hallo bang Iwan, ini bukan Vina tapi Maya, gini bang, anu bang ]] kata Maya yang nggak tau apalagi yang harus dikatakannya kepada Iwan.


[[ Ayolah May, ada apa? Kenapa kebanyakan anu anu. ]] kata Iwan yang mulai pusing dengan perkataan Maya.


[[ Vina pingsan bang. ]] kata Maya dengan cepat.


[[ Apa Vina pingsan? Kamu serius May?]] kata Iwan yang tidak percaya dengan omongan Maya.


[[ Ngapain boong bang. Aku serius. Aku mau mintak tolong antarkan Vina ke rumah sakit bang. ]] kata Maya kepada Iwan


[[ Loe tunggu di rumah. Persiapkan semua barang Vina. Gue dan yang lain langsung meluncur ke sana.]] kata Iwan.


Iwan langsung mematikan ponselnya. Dia berlari masuk ke dalam ruangan Danu. Danu yang sedang berbicara dengan Ifan langsung kaget melihat Iwan yang masuk dengan terburu buru tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ada apa Wan?" tanya Danu.


"Vina pingsan di rumahnya. Tadi Maya nelpon gue. Kita harus ke sana sekarang." ucap Iwan kepada Danu.


Danu langsung menyambar kunci mobilnya. Dia berjalan cepat ke luar ruangan.


"Iwan loe ikut gue. Ifan loe tunggu ruangan. Nanti dikabari bagaimana keadaan Vina." kata Danu memberi perintah kepada Ifan.


"Siap bos" jawab Ifan.


Danu dan Iwan berlari masuk ke dalam lift. Mereka langsung berlari menuju parkiran saat pintu lift terbuka. Semua karyawan yang melihat mereka berlarian merasa heran dengan yang terjadi. Tetapi mereka juga tidak ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Danu dan Iwan langsung masuk ke dalam mobil. Saat semua pintu sudah tertutup Danu langsung menekan pedal gasnya. Dia melaju dengan kencang menuju kontrakan Vina yang tidak terlalu jauh dari kantor.


Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka sampai di kontrakan Vina. Danu memarkir mobilnya tepat di pintu pagar rumah Vina. Mereka berdua berlari ke dalam rumah Vina.


"May, Maya" teriak Danu.


"Kamar bang." jawab Maya dari dalam.kamar Vina.


Danu dan Iwan masuk ke dalam kamar. Danu langsung menggendong Vina. Sedangkan Iwan mengangkat tas baju milik Vina. Mereka berjalan cepat menuju mobil. Vina sudah terlalu lama pingsan, sehingga harus di bawa cepat ke rumah sakit.


"Wan loe bawa mobil." kata Danu.

__ADS_1


Iwan mengambil kunci yang berada tergantung di saku Danu. Iwan duduk di kursi pengemudi. Sedangkan Maya duduk di sebelah Iwan. Danu menjadi bantalan pahanya untuk Vina


"Vin, Vin, Vina bangun Vin" kata Danu memanggil manggil nama Vina.


Danu terua menepuk nepuk pipi Vina dan memanggil manggil nama Vina terus. Tapi Vina tidak ada reaksi sama sekali.


"Kamu jangan bikin cemas kayak gini Vina." kata Danu dengan nada paniknya.


Mereka sampai di rumah sakit ibu kota. Iwan turun dan berlari masuk ke dalam IGD. Suster jaga dan dokter jaga IGD berlarian menuju mobil Danu. Suster membawa brangkar rumah sakit, mereka memindahkan Vina ke atas brangkar dan mendorong Vina dengan cepat untuk masuk ke dalam IGD. Semua dokter dan suster sibuk memberikan pertolongan kepada Vina.


Danu, Iwan dan Maya tidak bisa mendekat ke tempat Vina. Mereka menunggu dengan sabar di kursi tunggu IGD.


"Keluarga pasien Vina." panggil seorang Suster.


"Kami Suster." jawab Danu.


"Bapak siapanya pasien?" tanya Suster kepda Danu.


"Saya calon suaminya Sus." jawab Danu dengan yakin.


"Mari ikut saya pak. Dokter mau bicara dengan Bapak tentang keadaan pasien." kata Suster.


Danu mengikuti langkah suster. Suster menuju ruangan dokter yang memeriksa Vina


"Dokter ini keluarga pasien." kata Suster kepada Dokter yang memeriksa Vina.


Danu menarik kursi yang ada di depan meja dokter. Dia kemudian duduk di kursi tersebut.


"Maaf sebelumnya saya berbicara dengan siapanya pasien Tuan?" tanya dokter kembali.


"Saya calon suami pasien dokter. Orang tua pasien berada di kampungnya." jawab Danu dengan jujur tentang orang tua, sedangkan untuk calon suami juga jujur tapi hanya Danu yang tau, sedangkan Vina belum tau akan hal itu.


"Oh baiklah kalau begitu. Begini Tuan, pasien menderita penyakit usus buntu. Penyakitnya ini sudah gawat, makanya saat serangan radang itu datang dan pasien tidak bisa menahannya, makanya tadi pasien menjadi pingsan." kata Dokter.


"Jadi berdasarkan hasil rontgen yang sudah dilakukan. Tuan silahkan lihat monitor saya." lanjut dokter.


Dokter menayangkan hasil rontgen Vina.


"Nah ini adalah usus buntu yang membuat radang tadi. Kondisinya sudah sangat buruk. Saya menyarankan kepada anda dan Vina untuk melakukan pengangkatan usus ini. Efek dilemudian hari tidak ada, karena bukan merupakan bagian terpenting dari tubuh." dokter menerangkan semuanya kepada Danu.


"Baiklah dokter saya akan diskusikan dengan Vina nanti." kata Danu kepada dokter.


"Kalau bisa Tuan saya berharap mendapat keputusan hari ini juga Tuan." kata dokter.


"Saya akan memberitahukan kepada dokter hari ini juga keputusannya." jawab Danu.


"Saya permisi keluar dulu dokter." Lanjut Danu.

__ADS_1


"Suster tolong antarkan Tuan ini menuju ruang rawat Vina." kata dokter kepada suster.


Suster mengantarkan Danu ke ruang rawat Vina. Ternyata saat Danu berbicara dengan dokter, Vina sudah dipindahkan ke ruang rawat inapnya. Danu sampai di ruang rawat Vina, dia membuka pintu ruangan, Danu melihat Vina yang terbaring lemah dengan selang infus tertancap ditangan dan oksigen untuk membantu pernapasannya. Danu mendekati Vina, ternyata Vina tidak tidur.


"Apa yang dikatakan dokter?" tanya Vina kepada Danu.


"Kamu menderita usus buntu. Kata dokter tadi, lebih baik untuk diangkat usus buntunya. Pengangkatan usus buntu tidak akan mempengaruhi keadaan kamu." kata Danu menerangkan kepada Vina.


"Apakah memang harus dioperasi?" tanya balik Vina.


"Ya. Dokter meminta keputusannya sore ini juga. Apakah kamu bersedia untuk dioperasi?" tanya Danu kepada Vina.


"Menurut kamu?" tanya balik Vina kepada Danu.


Danu meremas dengan sayang tangan Vina. Danu mengangguk tanda setuju untuk Vina melakukan operasi itu.


"Baiklah aku setuju." kata Vina sambil tersenyum.


"Aku kasih tau dokter dulu atas keputuaan ini. Biar nanti dokter menjadwalkan waktu operasi untuk kamu." kata Danu.


Danu kembali menemui dokter. Dia akan mengabarkan hasil keputusannya dengan Vina tadi.


"Permisi dokter." kata Danu.


"Masuk Tuan Danu. Silahkan duduk." kata dokter.


"Langsung aja dokter, nggak usah pake duduk. Kami setuju dokter melakukan pengangkatan usus buntu itu. hanya itu yang akan saya katakan dokter. Saya permisi." kata Danu dengan sangat cepat.


"Baiklah Tuan Danu. Saya akan menjadwalkan kapan operasi Nona Vina dengan petugas bagian OK. Nanti akan dikabari oleh suster." jawab Dokter.


"Terimakasih" kata Danu.


Danu kemudian kembali menuju ruang rawat Vina. Ternyata Vina sudah tertidur, begitu pula dengan Maya yang juga sudah tertidur di ranjang pasien yang kosong di sebelah ranjang Vina. Sedangkan Iwan sibuk menonton televisi.


"Gimana Dan? Kapan jadwal operasinya?" tanya Iwan.


"Kalau sudah ada keputuaan dari bagian OK maka suster akan memberitahukan kepada kita." jawab Danu.


"Loe laper nggak?" tanya Danu kepada Iwan.


"Laper" jawab Iwan pendek saja.


Mereka tidak sempat makan siang tadi. Mereka sudah terlalu panik dengan keadaan Vina.


"Minta Ifan ngatarin makanan. Katakan ke dia untuk menutup ruangan. Tempel di kaca sedang dinas luar." perintah Danu kepada Iwan.


Iwan kemudian menghubungi Ifan. Dia meminta Ifan untuk datang serta membeli empat bungkus nasi lengkap dengan air minum kemasan. Iwan juga memberikan nama kamar rawat inap Vina.

__ADS_1


__ADS_2