
"Adik, apa menurut kamu Danu akan kembali seperti semula?" tanya Papi yang sangat terluka dan sedih melihat kondisi Danu yang sekarang luar biasa mengejutkan semua orang.
Danu benar benar terkapar di ruang ICU itu. Danu terbujur lemah di atas ranjang. Semua alat bantu hidup terpasang di tubuhnya yang baru akan beranjak dewasa itu.
Mami yang sudah sadar dari pingsannya, berjalan mendekat ke arah Papi dan Paman yang berada di depan ruang rawat Danu. Mereka tidak satupun yang diperbolehkan untuk masuk ke dalam sana.
"Papi, gimanaa kondisi Danu, papi?" tanya Mami saat Mami sudah berada di dekat Papi dan Paman.
Papi berdiri dari duduknya. Dia tidak ingin nanti Mami histeris melihat keadaan anaknya di dalam ruangan itu. Papi memegang pundak Mami. Mereka kemudian menuju kaca besar yang dijadikan sebagai dinding ruangan ICU.
Mami memeluk Papi saat melihat keadaan Danu yang seperti itu. Mami tidak menyangka kecelakaan di pabrik akan membuat Danu menjadi seperti ini.
"Kenapa anak kita Papi?" ujar Mami dengan manangis terisak isak kepada Papi.
Papi memeluk Mami dengan sangat kuat. Papi tahu bagaimana hancurnya perasaan seorang ibu saat melihat keadaan anak mereka seperti ini.
"Ini salah Mami, Papi. Harusnya Mami tidak mengizinkan Danu untuk masuk ke dalam pabrik. Ini salah Mami, Papi" ujar Mami dengan terus menangis dan menyesali karena telah memberikan izin kepada Danu untuk masuk ke dalam pabrik.
"Mami, tidak ada yang salah di sini. ini adalah kehendak yang di atas. Apa Mami mau menanyakan dan meragukan apa yang dikehendaki oleh yang di atas Mami?" tanya Papi sambil mengusap usap kepala istrinya itu.
Papi tidak mau mami larut dalam rasa bersalahnya kepada Danu. Papi tidak ingin mami terus terusan menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Danu di pabrik tadi.
"Apa kata dokter tadi Papi?" tanya Mami kepada Papi saat Mami sudah bisa menenangkan dirinya kembali saat ini.
__ADS_1
"Kita duduk di situ dulu ya Mami. Papi nanti akan terangkan apa yang dikatakan oleh Dokter ke kami bersua tadi" ujar Papi kepada Mami.
Mami setuju dengan Papi untuk duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang rawat inap Danu. Mereka bertiga kembali duduk di kursi tunggu itu.
Papi kemudian menceritakan semua yang dikatakan oleh dokter tadi kepada Mami. Mami menjadi kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Papi. Mami tidak menyangka anaknya akan semenderita itu sekarang ini.
"sayang, apa kata dokter Danu bisa sembuh seperti semula kembali?" tanya Mami yang hatinya seperti di remas remas saat mendengar penderitaan yang harus di tanggung oleh Danu saat ini.
"Kata dokter bisa Mami. Tapi Danu harus operasi dulu" jawab Papi sambil merebahkan kepala Mami ke pundahnya.
Air mata Mami tidak berhenti menetes di pipi mulusnya itu.
"Papi, anak kita" ujar Mami sambil menggenggam tangan suaminya itu.
"Sabar sayang. Kita doakan dan berikan yang terbaik untuk dirinya. Kamu jangan cemas ya. Kita kaan berusaha untuk kesembuhan Danu." jawab Papi memberikan kekuatan dan ketenganangan untuk istrinya itu.
"sayang, apapun itu, kita akan berikan untuk Danu. kamu tidak perlu meminta hal seperti itu kepada aku sayang. Kita akan buat Danu kembali menjadi seperti semula. Aku janji sama kamu sayang. Aku tidak akan mengecewakan kamu" kata Papi sambil mengusap usap tangan Mami.
Paman yang melihat kemesraan kakak dan kakak iparnya itu, teringat dengan mendiang istrinya yang terlalu cepat pergi meninggalkan dirinya dan kedua anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang seorang Bunda. Untung saja kakak ipar dalam memberikan kasih sayang kepada Danu, Ivan dan Sari tidak berbeda sama sekali.
"Kakak, aku cari makan malam dulu ya. Kakak dan kakak ipar mau apa?" tanya Paman sambil melihat kepada kakak dan kakak iparnya itu.
"Terserah kamu saja dik. Terpenting nasi, kalu bisa kamun pulang ke mansion adik, ambilkan pakaian untuk kami berdua" ujar Papi kepada Paman.
__ADS_1
Paman melihat kondisi kakak iparnya yang tidak dalam kondisi baik baik saja.
"kakak ipar, lebih baik kakak malam ini menginap di mansion saja. besok pagi kakak baru ke sini lagi ya." ujar Paman mengutarakan ide yang dipikirkannya barusan.
Mami melihat ke arah Papi. Papi mengangguk setuju dengan pendapat yang diberikan oleh Paman.
"Benar yang diucapkan oleh adik itu sayang. Kita berdua harus gantian. Biar aku jaga malam di sini. Sedangkan kamu siang. kita tidak mungkin berdua berdua di sini" ujar Papi yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Paman tadi.
"Baiklah Sayang, kalau menurut kamu itu yang terbaik. Aku akan istirahat di rumah. Besok pagi aku datang ke sini sambil membawa sarapan untuk kamu dan adik" ujar Mami yang sama sekali tidak akan membantah apa yang sudah dikatakan oleh Papi.
"Adik kamu antarkan kakak ipar ke mansion. Setelah itu kamu balik ke sini lagi. Bawa pakaian untuk kita berdua" ujar Papi meminta Paman untuk mengantarkan Mami dan kembali ke sini dengan membawa pakaian dan makan malam untuk mereka berdua.
"Siap kakak. Aku jalan dulu. Nanti aku akan bawakan makan malam untuk kita berdua." ujar Paman.
Mami berjalan menuju kaca pembatas ruangan tempat Danu di istirahatkan dengan ruang tunggu untuk keluarga yang berada di depannya.
"Sayang, mami pulang dulu ya. Besok Mami akan kembali ke sini lagi. Malam ini kamu dengan Papi dan Paman dulu ya" ujar Mami berpamitan dengan Danu yang sama sekali tidak mendengar apa yang akan dikatakan oleh Mami tadi.
Paman dan Mami kemudian berjalan keluar dari ruang tunggu ruangan ICU itu. Mereka berdua akan pulang ke mansion yang terletak di pinggiran kota. Berhubung hari telah malam, Paman bisa menginkak pedal gas lebih dalam lagi. Jadi, dia bisa cepat sampai di mansion, dan juga bisa cepat kembali menuju rumah sakit.
"Adik, menurut kamu, apakah Danu bisa kembali sehat Adik?" tanya Mami kepada Paman yang sedang berkonsentrasi membawa mobil dengan kecepatan tinggi itu.
"Kakak ipar, sesuai dengan yang dikatakan oleh Kakak tadi. Kita akan berusaha keras mengembalikan Danu ke posisi seperti semula. Kemanapun kata orang ada dokter yang hebat, kita akan ke sana. Kakak ipar jangan cemaskan hal itu" ujar Paman memberikan pengertian kepada kakak iparnya tersebut
__ADS_1
Tak terasa mereka telah sampai di depan pintu gerbang masuk mansion. Paman memarkir mobil tepat di tangga masuk mansion. Paman dan Mami kemudian turu dari dalam mobil.
Semua maid dan dikomandoi oleh Ivan dan Sari sudah berdiri di ruang tamu saat Ivan melihat mobil Ayahnya sudah masuk ke dalam gerbang utama mansion.