
Danu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia benar benar terlihat menyesal karena tidak memberitahukan kepada Vina apa yang terjadi sebenarnya.
"Sekarang gue harus gimana?" tanya Danu pasrah kepada kedua sahabatnya itu.
"Gue juga nggak tau Dan. Kita bertiga nggak ada satupun yang tau apa yang dikatakan pastinya oleh Ranti kepada Vina." ujar Iwan menjawab pertanyaan Danu.
"Kalau menurut cerita Nyonya sekretaris ya seperti yang gue ceritakan ke kalian." lanjut Danu sambil menatap kedua sahabatnya.
"Gue nggak yakin kalau Ranti hanya ngomong hal itu aja ke Vina. Pasti ada hal lainnya yang dikatakan Ranti sehingga membuat Vina masuk rumah sakit." kata Iwan menganalisa semua kejadian.
"Gue sependapat dengan Bang Iwan bang. Menurut gue pasti ada kata kata yang lebih menyakitkan lagi." Ivan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Iwan sebelumnya.
Danu terlihat berpikir. Dia membayangkan bagaimana pedihnya kata kata yang bisa diucapkan oleh seorang Ranti. Sedangkan ke Danu saja yang suaminya Ranti bisa mengeluarkan kata kata yang luar biasa. Apalagi ini dengan Vina yang akan dijadikan Ranti sebagai kambing hitam dalam permasalahan keluarganya.
"Gue harus gimana?" ujar Aris sambil menarik rambutnya.
Iwan memandang Ivan cukup lama. Mereka juga tidak tau harus berbuat apalagi sekarang. Danu sudah mereka peringatkan jauh jauh hari untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Vina. Tetapi Danu tidak mengindahkan kata kata mereka berdua.
"Kita cari aja ke kampungnya Bang." ujar Ivan memberikan ide.
"Gimana Dan? Kita ke kampung Vina sekarang?" ujar Iwan mengagetkan Danu yang termenung cukup lama.
Danu terdiam, dia sangat yakin Vina tidak ada di sana. Vina tidak akan mungkin menyusahkan ke dua orang tuanya.
"Gue nggak yakin kalau Vina balik ke rumah orang tuanya." ujar Danu dengan suara pelan dan putus asa.
"Kita belum lihat ke sana Danu. Mana tau dia ke kampungnya." ujar Iwan.
"Wan, loe tau kan kalau Vina anak yang mandiri. Dia tidak akan mungkin membuat orang tuanya susah dengan kepulangannya ke kampung." ujar Danu dengan suara tinggi.
Iwan yang mendapat hardikan perei dari Danu berdiri dari kursi yang ditempatinya.
"Serah loe. Sekarang loe baru nyesel. Dari kemaren orang meminta loe untuk jujur loe undur undur. Sekarang pikir sendiri." ujar Iwan dengan emosi.
__ADS_1
Danu yang lagi panik dan stress terpancing emosinya oleh Iwan. Dia juga berdiri dari tempat duduknya. Dia menatap Iwan. Untung saja di saat Danu akan emosi, jiwa rasionalnya muncul.
"Maaf karena gue udah meninggikan nada gue ke elo. Gue nggak bermaksud." ujar Danu sambil memegang pundak Iwan.
Iwan yang sebenarnya tidak marah kembali duduk di kursinya. Dia tau kalau Danu sedsnh kalut dan tidak stabil.
"Maafin gue juga. Nggak seharusnya gue kepancing omongan elo." ujar Iwan dengan nada menyesal.
Mereka bertiga kembali duduk bersama. Mereka harus cepat menentukan kemana mereka harus bergerak mencari Vina. Mereka terdiam cukup lama saling menatap satu sama lainnya.
"Gimana Bang?" tanya Ivan yang sudah tidak dabar lagi menunggu keputusan Danu.
"Kita ke kampungnya saja. Kalau tidak bertemu maka gue akan hubungi Maya. Kalau perlu gue akan bermohon kepada dia untuk menanyakam dimana keberadaan Vina." ujar Danu sambil menatap lurus ke depan.
Dia sudah membulatkan tekadnya untuk mencari Vina ke kampung halaman. Bertemu atau tidak itu lain perihal yang jelas Danu harus berusaha terlebih dahulu.
"Ayuk sekarang aja Bang. Jadi nggak kemaleman sampe kampung Vina. Loe tau lah ya kampungnya lumayan jauh." ujar Ivan yang bersemangat.
Ivan bersemangat bukan karena mau mencari Vina. Tetapi bersemangat karena sudah membayangkan akan menikmati perjalanan itu. Ivan sudah bosan dengan kerja marathon yang dilakukannya beberapa tahun ini. Dia kangen dengan suasana meeting di luar perusahaan. Dia juga kangen dengan keadaan perusahaannya yang di luar negeri. Tetapi perintah pulang belum turun dari ayahnya.
"Gue antar aja. Sekalian dari sana baru ke rumah Iwan terakhir ke rumah gue." kata Danu.
"Lama lah. Loe ikutin Ivan ke rumahnya. Gue ke rumah duluan narok mobil sekalian ngepak pakaian." ujar Iwan.
"Ide bagus tu bang. Jadi kita nggak banyak makan waktunya. Hemat di waktu." ujar Ivan setuju dengan apa yang dikatakan Iwan.
Akhirnya ketiga orang bagian perencanaan pergi keluar dari gedung. Direktur melihat semua itu. Dia sudah menyiapkan satu orang pengganti untuk Ivan. Sudah saatnya anaknya itu kembali kenegara U untuk memimpin perusahaan di sana.
"Selesai pencarian nggak bermanfaat ini, kamu akan ayah izinkan untuk kembali ke negara U. Ayah sangat tau bagaimana rasanya merindu itu." ujar Direktur sambil menatap melihat Ivan yang pergi dengan motor kesayangannya.
Direktur memanggil sekretarisnya untuk masuk.
"Siang direktur." ujar sekretaris.
__ADS_1
"Siang. Sekarang buat pemanggilan untuk arsitek yang anda rekomendasikan kemaren. Saya tidak tau kapan akan pulangnya tiga serangkai itu. Sekalian kamu buatkan surat pemberhentian untuk Ivan." ujar Aris memberikan instruksi yang harus dikerjakan oleh sekretarisnya.
"Maaf Tuan. Tuan muda akan diminta kembali ke negara U?" tanya Sekretaris sambil menatap Direkturnya.
"Iya. Saya minta dia untuk kembali ke sana. Sepertinya Danu sudah bisa sendirian. Saya yakin dia akan berjuang untuk mencari Vina. Jadi Ivan akan saya minta kembali ke CT Grub. Sari dan Vina membutuhkan dia di sana." ujar Direktur yang tau bagaimana keadaan di perusahaannya.
"Baik Tuan. Ada lagi Tuan?" tanya sekretaris.
"Tidak. Terimakasih banyak." ujar direktur.
Direktur kembali duduk di kursinya. Dia mengeluarkan ponsel miliknya dan langsung menekan tombol melakukan panggilan kepada anak gadisnya.
Sari yang sedang berada di ruangannya melihat panggilan video dari ayahnya langsung bersorak dan mengangkat panggilan itu.
"Hallo Daddy ku sayang. Apa ada berita penting?" tanya Sari nyerocos seperti mercon.
"Hay anak gadis Daddy yang ditanya itu apa kabar Daddy bukan nanyak ada berita penting. Kamu memang lah ya." ujar Direktur sambil pura pura merajuk.
"Hay Daddy udah nggak cocok lagi masang muka kayak gitu. Ketelen umur Dad." jawab Sari.
"Hahahahaha. Jawaban kamu memang lah ya nak." ujar Direktur yang sangat senang bercanda dengan anaknya itu.
"Daddy jadi ada kabar apa?" ujar Sari yang penasaran.
"Dasar manusia nggak sabaran. Sebentar lagi akan ada kejutan untuk kamu." ujar Direktur kepada Sari.
"Untuk aku atau untuk Maya Daddy?" tanya Sari.
"Untuk Maya." ucap Daddynya yang gagal ngasih kejutan kepada Sari.
"Hahahahahaha. Daddy Daddy ngasih kejutan tu nggak gitu Daddy." ujar Sari lagi.
"Nah kan Daddy bermaksud baik. Sayang udah dulu ya. Kamu hati hati di sana. Jagain dua calon kakak ipar kamu." ujar Direktur.
__ADS_1
"Tenang Daddy. Mereka berdua itu keren." ucap Sari memuji kedua calon kakak iparnya.
Ayah dan anak itu mengakhiri panggilan video mereka. Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan masing masing.