
"Gue harus menemui Paman. Gue harus minta masukan dari Paman. Gue tidak bisa memutuskannya sendiri" ujar Danu. Danu kemudian membereskan semua barang barangnya yang berserakan. Danu kemudian mengambil ponsel miliknya dan memasukkan ke dalam saku jasnya.
Danu yang telah menyelesaikan semua pekerjaannya, memilih untuk menemui Paman yang berada di ruang direktur. Danu akan membahas beberapa hal kepada Pamannya itu.
"Wan, gue keruangan Paman dulu ya. Gue ada perlu dengan Paman" ujar Danu memberitahukan kepada Iwan, kalau dirinya akan menemui Paman.
"Sip. Gue langsung pulang ya" ujar Iwan.
Pekerjaan mereka berdua memang sudah selesai. Iwan selama tidak ada Ivan selalu pulang lebih awal Dia sama sekali tida berminat untuk lembur.
Tok tok tok. Danu mengetuk pintu ruangan presiden direktur. Paman yang berada dalam ruangan membukakan pintu ruangan secara digital dari dalam, karena sudah tau siapa yang mengetuk pintu ruangannya.
Danu kemudian masuk ke dalam ruangan Paman. Dia duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Paman yang melihat keponakannya sedang berwajah kusut, berjalan menyusul Danu. Paman kemudian duduk di salah satu sofa.
"Ada apa lagi?" tanya Paman kepada Danu.
Danu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dia menatap jauh ke depan. Pandangannya menembus berlantai lantai gedung itu. Paman hanya bisa melihat saja tingkah absurd Danu tersebut.
"Hay Danu, ada apa? Kenapa menung seperti itu?" tanya Paman sekali lagi kepada Danu.
"Ranti datang tadi ke ruangan, Paman" ujar Danu menjawab pertanyaan Pamannya itu.
"Hah? Terus? Apa dia ngamuk ngamuk?" tanya Paman yang kaget atas kedatangan Ranti ke perusahaannya yang tidak diketahui oleh Paman sebagai pimpinan perusahaan.
"Dia sepertinya tidak mau menandatangani surat gugatan cerai itu Paman. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Danu kepada Pamannya.
Danu terlihat sangat frustasi atas kedatangannya Ranti tadi. Dia benar benar tidak tau sekarang harus melakukan apa.
"Ranti pasti sudah menyusun rencana paman" ujar Danu pelan
"Apa kamu sudah mengatakan kepada Frans, kalau Ranti datang dan ngamuk ngamuk kepada kamu?" tanya Paman sambil menatap kewajah Danu.
"Belum Paman. Aku ke sini dulu, baru rencananya kepada Frans." jawab Danu.
"Terus kenapa kamu pusing dan terlihat panik?" tanya Paman selanjutnya.
"Aku takutnya kalau dia menggunakan Vina sebagai alasan. Maka hakim bisa jadi membatalkan gugatan perceraian saya Paman" ujar Danu takut kalau hakim membatalkan gugatan perceraian dari Danu.
__ADS_1
"Bener juga ya Dan. Apa kamu sudah mengatakan kepada Frans tentang Vina?" tanya Paman yang akhirnya juga kepikiran hal itu.
"Belum sama sekali. Aku belum sempat membicarakan hal ini kepada Frans." ujar Danu menjawab pertanyaan dari Paman.
"Lebih baik kita berdua ke tempat Frans sekarang. Coba kamu hubungi Frans. Dimana dia sekarang" ujar Paman memberikan instruksi kepada Danu.
Danu meraih ponsel miliknya. Dia kemudian mencoba menghubungi Frans. Frans yang sedang duduk duduk melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo Danu. Ada apa?" tanya Frans saat baru mengangkat panggilan dari Danu.
"Loe dimana sekarang Frans?" tanya Danu kepada Frans.
"Di kantor. Kenapa?" tanya Frans kepada Danu.
Frans terlihat sedikit bingung kenapa Danu ingin bertemu dengan dirinya.
"Gue kesana sekarang ya bersama Paman. Ada yang mau gue bicarakan sama loe" ujar Danu memberitahukan tujuannya menghubungi Frans.
"Oke. Gue tunggu di kantor gue" ujar Frans menjawab perkataan dari Danu.
"Sip. Gue ke sana sekarang sama Paman" jawab Danu.
"Paman, Frans ada di kantornya" ujar Danu memberitahukan kepada Paman kalau Frans ada di perusahaan.
"Oke, mari kita berangkat menuju kantor Frans" ujar Paman semangat membawa Danu ke kantor Frans.
Paman dan Danu kemudian berjalan menuju mobil mereka yang diparkir di bestman perusahaan.
"Kita pakai mobil siapa?" tanya Paman kepada Danu.
"Paman kan tidak balik lagi ke perusahaan?" tanya Danu kepada Paman.
"Rencana tidak. Jadi, kita bawa mobil sendiri sendiri aja, sekalian pulang ke rumah masing masing" ujar Paman kepada Danu.
"Oke Paman" jawab Danu.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil masing masing. Danu dan Paman kemudian mengemudikan mobil mereka menuju kantor Frans.
__ADS_1
Danu dan Paman beriringan mengemudikan mobilnya. Mereka berdua melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Jalanan ibu kota cukup ramai hari ini, sehingga Danu dan Paman harus memelankan laju mobilnya.
Danu membelokkan mobilnya masuk ke dalam kantor Frans. Danu dan Paman memarkir mobil di tempat parkir khusus tamu. Setelah itu mereka masuk ke dalam kantor Advocate yang terkenal itu.
"Permisi Nona Resepsionis, kami sudah ada janji dengan Tuan Frans" ujar Danu mengatakan maksud dan tujuannya datang kepada resepsionis.
"Anda Tuan Danu dan Tuan Sanjaya?" tanya Resepsionis sambil menatap ke arah Danu dan Paman.
"Benar, kami adalah Tuan Danu dan Tuan Sanjaya" jawab Danu yang memang sudah tau bagaimana protokol untuk masuk ke kantor Frans.
Resepsionis kemudian menghubungi telpon yang terhubung dengan ruangan Frans. Resepsionis terlihat berbincang sebentar.
"Baik Tuan" jawab resepsionis.
Resepsionis kemudian memutuskan panggilan telpon tersebut. Dia kemudian kembali ke dekat Danu dan Paman.
"Tuan Danu, Tuan Sanjaya, silahkan langsung saja ke ruangan Tuan Frans. Tuan Frans sudah menunggu di ruangannya" ujar Resepsionis mempersilahkan Danu dan Paman untuk langsung menuju ruangan Frans.
Danu dan Paman kemudian berjalan menuju ruangan Frans yang terletak di lantai paling atas gedung Advocate tersebut.
Tok tok tok. Danu mengetuk pintu ruangan Frans. Frans yang sedang duduk di kursi kerjanya, langsung berdiri saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar. Frans berjalan dan membukakan pintu ruangannya. Danu dan Paman kemudian masuk saat sudah dipersilahkan oleh Frans untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Silahkan duduk Paman, Danu" ujar Frans mempersilahkan Paman dan Danu untuk duduk di sofa ruangannya.
Paman dan Danu kemudian duduk di sana. Frans kembali dengan membawa tiga gelas air mineral. Frans meletakkan minuman itu di atas meja makan.
"Silahkan diminum Paman, Danu" ujar Frans mempersilahkan Paman dan Danu untuk meminum air yang dihidangkan oleh Frans.
"Terimakasih Frans. Kebetulan Paman juga sedang haus" ujar Paman sambil meraih gelas yang ada di atas meja ruang tamu.
"Ada apa Dan?" tanya Frans yang kaget dengan keinginan Danu untuk bertemu.
Padahal semalam mereka sempat berbincang lewat sambungan telepon, Danu sama sekali tidak ada membicarakan mau bertemu dengan Frans. Tapi, tiba tiba saja sore hari Danu minta bertemu dengan Frans. Makanya Danu menjadi heran dan bertanya tanya, ada apa Danu minta bertemu dengan dirinya sekarang.
"Ada yang mau gue bicarakan dengan loe Frans" ujar Danu dengan nada serius.
"Oh oke" ujar Frans.
__ADS_1
'Sepertinya ini serius' ujar Frans dalam hatinya dan melihat ke arah Danu.