Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Naik Motor


__ADS_3

Danu, Vina dan Deli menikmati setiap lagu yang dimainkan oleh pemusik jalanan. Mereka bertiga melihat orang orang yang ikut berjoget mengikuti irama musik yang dimainkan oleh pemudik jalanan.


"Bener kamu nggak mau ikutan menari bareng mereka?" tanya Vina kepada Deli calon anak angkatnya yang terlihat sedang sibuk menikmati para turis yang dengan santainya menari mengikuti irama musik.


"Nggak Bunda. Kita tengok tengok aja. Bentar lagi kita pergi naik motor lagi ya raun raun malam. Kapan lagi bisa naik motor kalau nggak di negara ini" ujar Deli yang tadi sangat menikmati waktu waktu mereka naik motor saat dari kafe menuju tempat pengamen mentas.


"Tanya Ayah sana. Kalau Bunda oke oke aja. Ayah yang kasihan kita, Ayah besok harus terbang, kapan Ayah mau istirahatnya" ujar Vina yang meminta Deli untuk meminta izin kepada Danu.


"Bener juga ya Bun." ujar Deli yang terlihat berpikir dan raut wajahnya berubah menjadi sedih.


"Kalau raun pakai motor nggak sama Ayah, apa Bunda bisa?" tanya Deli yang berharap kalau Vina mau membawa dirinya raun memakai motor.


"Emang kenapa?" tanya Vina menatap calon anaknya itu.


"Kalau bisa tu kita pergi raun berdua naik motor" ujar Vina sambil menatap ke arah Deli yang sedang terdiam berharap Vina bisa membawa motor.


"Bisa" jawab Vina sambil melihat ke arah Deli.


"Yes." ujar Deli dengan bahagianya.


Danu yang sudah kembali dengan membawa tiga gelas es teh, menatap heran ke arah Deli dan Vina yang terlihat sangat kompak sekali.


"Apa yang kalian berdua obrolin? Kelihatannya kompak sekali" ujar Danu melihat ke arah Vina dan Deli yang terlihat luar biasa kompak bercerita.


"Nggak ada cerita apa apa. Cerita cerita biasa biasa aja" ujar Vina sambil tersenyum ke arah Danu.


"Oh baiklah, kalian berdua kira aku percaya dengan apa yang kalian omongin. Nggak kali" ujar Danu sambil menatap ke arah Deli dan Vina bergantian.


Mereka melihat kembali aksi para pengamen itu. Danu kemudian melihat jam tangan miliknya.


"Sayang, jadi raun pakai motor?" tanya Danu kepada Deli yang mulai sedikit menggoyang goyangkan kakinya.


"Boleh. Tapi bentar ajalah ya sayang, Ayah besok harus pulang ke negara I. Nggak mungkin kita pergi raun lama lama" ujar Danu memberikan pengertian kepada Deli.

__ADS_1


"Aman itu Ayah. Kita jalan ke kafe aja. Siap itu kita pulang" ujar Deli yang langsung mengokekan keinginan Danu.


Danu menatap heran ke arah Deli. Tidak biasanya Deli akan mempermudah semua keinginan dari Danu. Apalagi tadi Deli sudah sangat ingin untuk raun pakai motor.


"Ayah kenapa natap Deli kayak gitu?" ujar Deli yang canggung dengan cara Ayahnya menatap dirinya.


"Kamu ada Kongkalikong apa dengan Bunda kue?" tanya Danu kepada Deli.


"Nggak ada kongkalikong dengan Bunda kue. Aku memang malas aja pergi raun naik motor sekarang" ujar Deli kepada Danu.


Deli nggak mau Danu curiga kepada dia dan Vina. Kalau sampai Danu curiga, bisa batal dia pergi dengan Vina naik motor keliling negara U.


"Yakin nggak ada yang kamu sumpetin?" ujar Danu kepada Deli.


"Yakin. Ayah kalau nggak percaya ke aku boleh tanya ke Bunda kue" ujar Deli yang nggak mau dikatakan bohong oleh Danu.


"Ya ya ya ya, aku percaya sama kamu sayang." ujar Danu yang nggak mau ribut dengan anaknya itu.


"Tapi awas aja kalau kamu bohong. Ayah nggak akan kasih toleransi apapun lagi sama kamu" ujar Danu mengeluarkan ancamannya kepada Deli.


"Ayah sebenarnya ada yang mau Deli katakan sama Ayah" ujar Deli sambil menatap ke arah Danu.


"Nah kan bener. Deli Deli ayah kamu ini udah makan asam garam kehidupan sayang. Jadi, nggak usah dibohongin lagi" ujar Danu kepada Deli.


Deli menatap dengan penuh keputusasaan kepada Danu. Setelah menatap ke arah Danu, Deli memindahkan pandangannya kepada Vina. Vina membalas tatapan Deli sambil tersenyum. Vina tidak ingin Danu semakin menatap tajam ke arah Deli.


"Jadi, apa yang kamu sumpetin ke Ayah?" ujar Danu kepada Deli.


"Kami berencana untuk jalan jalan pake motor saat Ayah nggak ada. Itu aja" ujar Deli yang akhirnya mengatakan apa yang diimpikan oleh dirinya.


"Oh. Boleh tapi siang tidak malam" ujar Danu kepada Deli.


"Nggak malam sayang" ujar Danu kepada Vina.

__ADS_1


"Nggak akan malam Ayah. Siang waktu sini dan siang waktu sana" ujar Deli mengatakan kepada Danu kapan mereka akan pergi jalan jalan memakai motor dengan Vina.


"Jangan macam macam Deli. Kamu mau bikin Ayah pingsan mendadak?" ujar Danu kepada Deli sambil menatap ke arah Vina.


"Aku nggak ikut ikut sayang. Aku cuma menuruti apa keinginan Deli saja. Jadi kamu jangan marah ke aku ya" ujar Vina yang nggak mau disalahin oleh Danu nanti saat dia membawa Deli pergi naik motor.


"Pokoknya aku nggak mau, kamu dan Deli nggak ada yang boleh pergi raun malam. Hanya boleh siang" ujar Danu yang telah memberikan keputusan final kepada Vina dan Deli.


"Asiap Pak bro, kami nggak akan pergi malam. Kami akan pergi siang sampai sore aja" ujar Vina yang nggak mau membuat Danu dan Deli ribut lagi.


Sudah cukup mereka ribut karena hal sepele saja. Masalah naik motor aja masih juga ribut. Danu dan Deli sama sama tidak mau mengalah. Jadi, dari pada mereka semakin ribut nggak jelas, akhirnya Vina mengambil keputusan sendiri saja.


"Oke, sudah diputuskan besok kamu nggak boleh naik motor saat malam hari. Nggak ada penawaran apapun" ujar Danu kepada Deli dan Vina.


"Mengerti kan ya. Ayah nggak akan mengulangi lagi perkataan yang sama" ujar Danu mengingatkan Deli dan Vina untuk tidak melanggar apa yang dirinya katakan.


"Siap akan kami ingat. Nggak akan kami lupakan" ujar Vina dan Deli kompak.


Mereka berdua sudah sadar tidak akan bisa menang melawan Danu. Apalagi kalau Danu sudah dalam posisi marah dan onfire seperti sekarang ini.


"Sayang, kamu sama Deli masuk ke dalam ya. Aku harus mengarahkan apa yang harus dikerjakan oleh karyawan untuk besok" ujar Vina kepada Danu sambil menatap ke arah Danu dan Deli.


"oke sip" jawab Danu kepada Vina.


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam kafe. Danu dan Deli duduk di dekat kasir. Sedangkan Vina sudah berkumpul dengan semua karyawan kafe membahas apa yang akan mereka kerjakan besok hari.


Danu melihat cara Vina berbicara yang sangat luwes sekali. Sampai sampai Danu geleng geleng kepala dengan apa yang dilakukan oleh Vina. Vina terlihat sangat menguasai materi yang ada.


Vina mengembalikan kunci motor karyawan. Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam mobil.


"Sayang, kamu ikut ke mansion bukan?" tanya Danu kepada Vina.


"Iya sayang. Aku ikut ke mansion. Aku mau ketemu Mami dan Papi" ujar Vina menjawab pertanyaan dari Danu.

__ADS_1


Danu kemudian melajukan mobil menuju mansion keluarga Sanjaya yang terletak di pinggiran kota. Deli sudah tertidur kelelahan di kursi belakang. Sedangkan Vina dan Danu asik mengobrol berdua saja. Mereka membahas berbagai hal yang berhubungan dengan hubungan mereka.


__ADS_2