Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Drama Deli


__ADS_3

"Bang, kita jangan main salah menyalahkan dong. Aku kan balik cepat dari negara U karena bang Danu yang nyuruh" kali ini Ivan berbalik menyalahkan Danu.


Danu yang tidak siap menerima serangan kata kata dari Ivan, hanya bisa menatap ke wajah Ivan. Danu tidak menyangka kalau Ivan akan menyerang dirinya memakai kata kata itu.


"Emang gu eyang nyuruh loe balik, tapi kan loe bisa terbang dari negara U pagi sekali atau paling tidak malam sekali, jangan siang. Kalau siang kan nyampenya dini hari" kata Danu yang tidak mau disalahkan oleh Ivan.


"Udahlah jangan ribut lagi. Sekarang yang jelas Ivan sudah di sini, dan kita sudah menjemput dia, mau dini hari kek, tengah malam kek, sore kek, siang kek, pagi kek, kapanpun waktunya yang akan menjemput Ivan akan tetap kita berdua, jadi sudahlah hentikan saja saling menyalahkan itu"


Iwan tiba tiba menjadi sok bijak di antara mereka bertiga. Padahal tadi yang memberi saran dan sedikit kesal dengan pilihan waktu pulang Ivan adalah Iwan. Sekarang ntah dapat ilham dari mana Iwan bisa mengatakan hal yang sangat dewasa tersebut.


Ivan melihat ke arah Danu dengan mengerenyitkan keningnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Danu. Mereka berdua sama sama tidak menyangka kalau Iwan akan mengatakan hal seperti tadi.


"Kayaknya kesambet" ujar Danu pelan di telinga Ivan


"Bisa jadi" jawab Ivan yang langsung setuju dengan apa yang dikatakan oleh Danu kepada dirinya.


"Sudahlah mau gue ke sambet, mau gue yang menyabet, sekarang ayo jalan lebih cepat. Udah ngantuk banget ini" kata Iwan yang tidak mau lagi melanjutkan obrolan sok dewasanya itu.


Danu, Ivan dan Iwan kemudian berjalan menuju mobil milik Danu yang di parkir Iwan agak lumayan jauh dari tempat mereka menemui Ivan. Ivan yang menyeret dua buah koper sedikit merasa kesal kepada kedua orang yang menjemputnya ke bandara.


"Kok jauh banget loe parkir Bang?" tanya Ivan sedikit protes kepada Iwan karena Iwan memarkir mobil milik Danu yang dikemudikan oleh dirinya di parkir lumayan jauh dari terminal kedatangan Ivan tadi.


"Memang jauh kalau dari tempat menjemput elo. Tapi dekat dari gerbang masuk bandara. Gue tadi hanya berpikir kalau ini dekat dari gerbang bandara, jadi pas keluar nggak perlu macet" jawaban Iwan kembali mulai tidak serius. Kantuk sudah mendera matanya saat ini. Belum lagi kelelahan fisik yang juga sudah tidak bisa ditahan oleh Iwan lagi.


"Haha haha haha, mulai lagi"


Danu tertawa ngakak mendengar jawaban yang tidak serius diberikan oleh Iwan kepada Ivan. Jawaban yang benar benar ngadi ngadi menurut Danu. Jawaban yang ntah dari mana datangnya dan sama sekali tidak dimengerti oleh Danu kenapa Iwan bisa menjawab seperti itu.


"Huft, ngantuk sih ngantuk, tapi jangan ngasal juga dong"


"Mana ada macet di bandara jam segini. Ada ada aja lah alasan yang kamu buat Bang. Alasan yang luar biasa masuk akal banget"

__ADS_1


Kali ini giliran Ivan yang mengomel kepada Iwan, karena Iwan mengantuk dan memberikan jawaban asal asalan saja kepada Ivan saat Ivan bertanya kenapa Iwan memarkir mobil cukup jauh dari tempat mereka menjemput Ivan. Padahal di depan terminal tempat Ivan menunggu dua abangnya itu, Iwan bisa memarkir mobilnya tepat di depan terminal kedatangan luar negeri. Nggak harus parkir sejauh itu banget. Tapi apalah daya Ivan, Iwan telah melakukan hal yang sangat absrud, Ivan hanya bisa pasrah dan mengikuti saja apa yang sudah terjadi.


"Udah udah dari pada ngeributin tempat parkir, mari kita pulang, lumayan bisa tidur dua jam lagi" kata Danu yang mengajak kedua sahabatnya untuk meninggalkan bandara dan menuju rumah kembali untuk lanjut beristirahat.


"Kita pulang ke rumah gue ajalah. Lebih dekat. Kalau ke rumah Danu jauh banget"


Iwan mengajak kedua sahabatnya untuk pulang ke rumahnya saja karena hanya membutuhkan waktu setengah jam perjalanan dari bandara. Sedangkan kalau ke rumah Danu bisa menghabiskan satu jam perjalanan, belum lagi mobil mobil ukuran besar akan menghalangi mereka untuk mengemudikan mobil dalam kecepatan lumayan tinggi.


"Biar gue yang bawa mobil, Bang Danu dan Bang Iwan sepertinya kurang aman untuk bawa mobil pulang."


"Gue masih sayang sama nyawa gue, jadi lebih baik gue yang bawa mobil pulang lagi"


Ivan yang melihat bagaimana keadaan dari fisik Danu dan Iwan mengajukan dirinya kepada mereka berdua untuk membiarkan dia saja yang membawa mobil saat pulang ke rumah Iwan. Ivan tidak mau mempertaruhkan nyawanya dengan membiarkan Danu atau Iwan yang membawa mobil.


"Bagus. Kami sangat yakin kalau loe dalam kondisi bugar sekali sekarang. Jadi memang loe yang cocok untuk membawa mobil saat ini" kata Iwan yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ivan.


Danu dan Iwan sudah sama sama mengantuk dan lelah, kalau masih mereka berdua yang membawa mobil, maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi di jalan nantinya. Taroklah mereka tidak akan tabrakan, tetapi ,mereka akan membuat pengendara kendaraan yang lain merasa terganggu karena Danu ataupun Iwan membawa mobil dengan jalan zigzag saking mengantuknya.


Sedangkan Danu dan Iwan sudah hilang di telan oleh kursi mobil. Mereka berdua sudah langsung terlelap tidur saat mobil baru keluar dari pintu masuk bandara.


"Yah sudah langsung tidur aja mereka. Mereka kira gue supir apa" ujar Ivan yang langsung protes saat melihat Danu dan Iwan yang sudah hilang di telan oleh kursi mobil.


Setelah berkendara selama tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan oleh Ivan sudah berhenti tepat di depan garasi mobil milik Iwan.


"Bang, ooo bang Iwan. Kita sudah sampe" ujar Ivan membangunkan Iwan yang tertidur di kursi samping pengemudi.


Iwan yang memang kalau tidur selalu tipis sangat mudah dibangunkan oleh Ivan.


"Kita sudah sampai Bang" ujar Iwan kembali memberikan informasi yang sama kepada Iwan saat Ivan melihat Iwan sudah membuka matanya kembali.


"Oh oke. Bangunkan Danu. Abang akan buka pintu dulu" ujar Iwan.

__ADS_1


Iwan kemudian memeriksa saku celananya. Ternyata....................


KAFE di NEGARA U


"Bunda, ooo ooo ooo Bunda, di mana Bunda berada??"


Deli yang baru saja turun dari mobil yang dikendarai oleh Maya langsung berlari ke dalam kafe untuk mencari Bundanya itu. Padahal mobil yang dikemudikan oleh Maya baru saja berhenti. Deli yang sudah sangat kangen dengan Vina langsung saja membuka pintu mobil dan berlari menuju kafe sambil berteriak memanggil bunda.


"Hay nona cantik, cari Bunda Vina ya?" tanya kasir saat mendengar suara teriakan Deli dari pintu kafe, apalagi saat melihat Deli yang langsung berlari masuk ke dalam kafe.


"Iya, apa Bunda kue sudah ada di kafe?" tanya Deli sambil ngos ngosan karena berlari sambil berteriak.


"Maaf ya sayang, Bunda kue belum sampai di kafe" kata kasir memberitahukan kepada Deli kalau Vina yang dicarinya itu sama sekali belum berada di kafe sampai saat ini.


Deli yang mendengar bunda kuenya belum sampai di kafe langsung berjalan dengan lesu dan kepala menunduk menuju sofa yang berada di depan televisi layar datar yang ada di dalam kefe. Deli duduk di sana sambil menekukkan kakinya. Kepala Deli di taruhnya di atas dua lutut. Deli terlihat sangat sedih sekali sekarang. Wajahnya tidak bisa menipu kalau dia dalam keadaan baik baik saja.


Kasir yang melihat Deli langsung berubah dari yang ceria menjadi lesu, hanya bisa merasa bersalah. Tidak seharusnya kasir menjawab seperti itu tadi.


"Nona maafkan saya" ujar kasir saat melihat Maya yang sudah sampai di sebelah kasir yang tadi mengatakan kepada Deli kalau Vina belum sampai.


"Tidak masalah. Lanjutkan saja pekerjaan kamu, biar Deli menjadi urusan saya" kata Maya yang meminta kasir untuk kembali bekerja dan tidak usah merasa bersalah dengan apa yang sudah dikatakan oleh dirinya kepada Deli tadi.


"Hay ada apa sayang Mami?" tanya Maya yang langsung berjalan menuju ke arah Deli saat dirinya melihat Deli yang sudah terduduk dengan lesu di sofa depan televisi.


"Mami" ujar Deli langsung memeluk Maya dengan erat.


Deli membenamkan wajahnya di badan Maya.


Maya yang kaget karena dipeluk dengan sangat tiba tiba oleh Deli hanya bisa pasrah dan akhirnya juga memeluk Deli dengan kuat.


"Ada apa sayang?" tanya Maya yang sangat yakin kalau Deli sekarang dalam keadaan tidak baik baik saja.

__ADS_1


Deli hanya diam saja. Deli tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Maya kepada dirinya. Dia hanya diam dan tetap bersedih dengan apa yang barusan di dengarnya dari kasir yang memberitahukan kalau bundanya belum sampai di kafe. Padahal tadi Vina sudah berjanji kepada Deli, kalau dia akan berada di kafe sebelum Deli sampai di kafe.


__ADS_2