Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kereta Api


__ADS_3

"Vin, kita kemana hari ini?" tanya Maya yang luar biasa sangat bersemangatnya untuk melakukan kegiatannya di negara I.


"Kita nggak kemana mana bersama, aku berencana mau menjenguk ibu sebentar ke kampung." ujar Vina memberitahukan kepada Maya apa yang akan dia lakukan.


"Berapa hari di kampung? Aku ikut ya. Males di sini kalau nggak ada kamu." ujar Maya yang memang tidak bisa berbisah dengan Vina.


"Kamu di sini aja, Aku palingan tiga hari di sana." ujar Vina lagi.


"Nggak Aku ikut." jawab Maya.


Maya langsung masuk ke dalam kamarnya, dia kembali menutup kopernya yang sudah akan dibongkarnya itu. Sari yang melihat Maya menutup koper miliknya menjadi heran dengan kelakuan Maya.


"Mau kemana May?" tanya Sari yang penasaran itu.


"Mau ikut Vina ke kampung. Loe mau ikut?" tanya Maya kepada Sari.


"Emang boleh?" tanya Sari lagi dengan oonnya.


"Bolehlah, nggak ada yang larang." jawab Maya.


Sari mengikuti tingkah Maya, dia juga menutup kembali koper miliknya yang sudah akan dibongkarnya itu. Mereka berdua menarik kopernya keluar kamar. Vina yang melihat kedua sahabatnya itu menarik koper hanya bisa tersenyum sambil geleng geleng kepala.


"Jadi, kalian berdua tetap akan ikut gue ke kampung?" tanya Vina sambil menatap dua koper sudah berdiri di depan dirinya.


"Yup, kita akan ikut kemana salah satu dari kita pergi, nggak ada yang boleh tertinggal atau meninggalkan diri." jawab Maya.


"Meninggalkan diri maksud loe?" tanya Sari yang merasa agak aneh mendengar kata yang diucapkan oleh Maya.


"Meninggalkan diri itu maksudnya dengan sengaja untuk tertinggal. Begitu." kata Maya menjelaskan kepada Sari.


"Oh baru tau gue itu makna meninggalkan diri." jawab Sari yang memang nggak habis pikir dengan imajinasi kata kata dari Maya.


"Jadi, kita pergi pakai apa Vin?" tanya Maya.


"Pakai travel, gue udah cater satu travel untuk kita. Gue udah yakin aja loe berdua pasti akan ikut kemana gue pergi. Makanya gue cater aja satu travel untuk mengantarkan kita ke kampung." jawab Vina memberitahukan dengan apa mereka akan pergi ke kampung Vina.


"Wah bagus itu, jadi kita bisa fhoto fhoto sepanjang jalan." ujar Maya tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Apa nggak ada selain travel Vin?" tanya Sari yang takut dan memiliki trauma sendiri dengan travel.


"Ada kereta api. Apa loe mau naik kereta api?" tanya Vina kepada Sari.


"Wah ide bagus. Gue mau. Kita naik kereta api aja." ujar Sari yang luar biasa semangat untuk naik kereta api.


"Oke, kita naik kereta api. Gue akan cek dulu apakah masih ada yang kosong di bagian VIP." ujar Vina yang kemudian membuka aplikasi di ponsel pintarnya, untuk memesan tiket kereta api yang masih kosong.


Vina mencari dengan semangat, untung saja untuk kereta api yang berangkat siang masih ada kursi vvip yang masih kosong sebanyak tiga kursi lebih, jadiĀ  Vina memasan tiga kursi untuk dirinya dan kedua sahabatnya yang sangat ingin naik kereta api.


"Dapat. Kita akan naik kereta api pukul dua siang. Kita harus bergerak cepat, karena stasiun lumayan jauh dari hotel ini." ujar Vina.


Mereka bertiga kemudian chekout dari hotel, Maya tidak sempat memberitahukan kepada Ivan kalau mereka akan pergi ke kampung Vina. Maya berencana saat sudah sampai di kereta api aja nanti dia akan mengirim pesan kepada Ivan kemana tujuannya dalam lima hari ke depan.


"Loe udah ngasih tau Ivan, May?" tanya Vina yang melihat Maya sama sekali tidak menyentuh ponsel miliknya.


"Belum Vin, Nanti saat udah di kereta api aja dia gue kasih kabar. Loe tau lah kan ya, dia saat ini sedang sibuk." ujar Maya lagi.


"Bener juga ya. Terserah elo mau ngasih kabar kapan, yang paling penting elo nggak lupa untuk ngasih kabar." ujar Vina kepada Maya.


"Siap boss, pasti akan gue kasih kabar." ujar Maya.


Mereka bertiga menuju taksi online tersebut.


"Dengan Nona Vina?" tanya supir taksi online.


"Benar Pak saya Vina." ujar Vina.


"Silahkan masuk Nona." ujar sopir taksi online mempersilahkan Vina dan yang lainnya untuk masuk ke dalam mobilnya.


Maya duduk di sebelah sopir, sedangkan Vina dan Sari duduk di kursi penumpang.


"Ke stasiun kota kan Nona?" tanya sang sopir.


"Benar Pak. Ke Stasiun kota." jawab Maya.


Sopir kemudian melajukan mobilnya menuju stasiun kota seperti yang dikatakan oleh Maya dan juga yang tertera di aplikasi taksi online miliknya.

__ADS_1


"Mau kemana Nona?" tanya Pak sopir yang terlihat sangat ramah dengan penumpangnya ini.


"Mau ke Kota J Pak." jawab Maya.


"Pulang kampung to." ujar Pak Sopir.


"Nggak Pak pulang ke kota, mana ada kota J kampung, Bapak belum pernah ke kota J ya?" tanya Maya yang dapat teman ngobrol sepanjang perjalanan menuju stasiun kota.


"Sudah Non." jawab Pak sopir.


"Tapi secara virtual Nona." jawab Pak Sopir.


"Hahahahahaha, semua secara virtual sekarang ya Pak." jawab Maya.


"Bener Neng, saking virtualnya saya juga sudah ke Negara Paman Sam Nona." ujar Sopir.


Vina, dan Sari yang dari tadi menyimak obrolan Maya dan Sopir hanya bisa tertawa saja mendengar pembocaraan gabut mereka itu. Tak terasa mereka sudah sampai di depan pintu masuk stasiun, Pak sopir menurunkan barang barang milik tiga Nona cantik itu.


"Selamat sampai ke tujuan Nona. Hati hati di jalan, jangan lupa beli gudeg saat sampai di sana." ujar Sopir.


"Bapak ndak sekalian titip salam untuk penjual gudegnya?" ujar Maya menggoda Pak Sopir.


"Ogah Non, udah tua." ujar Pak Sopir.


"Hahahahahaha. Oke Pak. Ini ongkosnya dan yang paling penting udah bintang lima Pak." ujar Maya sambil memperlihatkan ponsel milik Vina yang sudah ditekannya bintang lima.


"Makasi Nona cantik, baik hati, semoga bahagia selalu." ujar Pak Sopir.


Pak Sopir masuk ke dalam mobil, sedangkan tiga Nona cantik itu masuk ke dalam stasiun kota, mereka langsung masuk ke dalam kereta api yang akan membawa mereka menuju kota J, kampung halaman Vina dan Maya.


"Wow kereta apinya keren sekali Vin. Gue baru pertama kali naik kereta api kayak gini." ujar Maya yang sangat kagum dengan kereta api yang mereka tumpangi hari ini.


"Seperti pesawat class excecutif ya May, bisa tidur, bisa dengerin musik." ujar Sari sambil merebahkan dirinya di kursi penumpang.


"Apa kalian mau naik kereta yang duduk aja selama sekian jam. Kalau mau besok pas pulang kita naik.kereta itu." ujar Vina memberikan alternatif berbeda.


"Wow tidak." teriak Sari dan Maya kompak.

__ADS_1


"Dasar." jawab Vina sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.


Kereta api mulai terisi penuh, pada gerbong yang ditumpangi Vina dan kedua sahabatnya, hanya berisikan enam orang saja. Tiga penumpang lain adalah pasangan suami istri dan seorang asisten pribadi. mereka duduk di bagian gerbong paling depan.


__ADS_2