Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Deli #


__ADS_3

Papi melihat siapa yang mengetuk pintu dari luar itu dari layar CCTV. Papi kaget melihat Adiknya dan juga anaknya datang saat hari sudah larut malam.


"Kenapa mereka datang tengah malam begini? Apa yang mereka pikirkan? Apa ada yang sakit?" ujar Papi bertanya tanya akan kedatangan keluarganya itu yang sudah larut malam seperti sekarang ini.


Tok tok tok, Danu sekali lagi mengetuk pintu rumah. Papi yang sempat termenung kembali sadar saat mendengar pintu yang diketuk dari luar itu.


"Bentar" ujar Papi dari dalam sambil berjalan dengan cepat menuju pintu rumah.


Papi kemudian membukakan pintu rumah untuk adik dan juga anaknya itu. Papi menatap heran ke wajah mereka.


"Kenapa datang malam malam? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Papi kepada Paman dan juga Danu.


"Kalian tidak biasanya datang berdua seperti ini. Terlebih dia. Dia mana pernah datang ke rumah ini semenjak kematian kedua orang tuanya" ujar Papi menunjuk ke arah Paman yang pada akhirnya mengalah untuk menemani Danu datang ke rumah masa kecilnya itu.


Paman hanya diam saja. Dia sudah membayangkan perkataan itu akan dikeluarkan oleh kakaknya satu satunya itu.


"Jadi, ada apa kalian berdua bisa datang ke sini bersamaan dan dalam satu mobil yang sama. Pasti ada sesuatu bukan?" tanya Papi menatap Paman dan Danu bergantian.


"Paman ajalah yang cerita Paman. Aku bener bener ngantuk. Paman kan udah tidur dua jam lebih di mobil tadi" ujar Danu meminta Paman saja yang menceritakan kenapa mereka berdua bisa datang malam malam begini ke rumah Papi dan Mami.


Danu kemudian mengambil bantal dan tidur di sofa yang panjang di ruang keluarga itu.


"Ada apa adik?" tanya Papi kepada Paman.


"Begini Kak. Danu kan sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Tadi Ranti datang dengan emosi ke kantor. Nah Ranti sama sekali tidak merobek surat gugatan cerai itu." ujar Paman mulai bercerita kepada Papi.

__ADS_1


"Saat itu, Ranti mengatakan dia akan melakukan berbagai cara agar dia tidak bercerai dengan Danu. Nah Danu setelah Ranti pergi dari perusahaan, langsung menuju ruangan saya. Dia menceritakan semuanya kepada Saya saat itu" lanjut Paman menceritakan kronologi kejadian kepada Kakaknya itu.


Papi menyimak semua yang diceritakan oleh Paman. Papi sama sekali tidak pernah menyela cerita yang sedang diceritakan oleh Paman. Papi menyimak semua cerita itu.


"Terus, aku menyarankan untuk Danu bertemu dengan Frans dan menceritakan semua yang terjadi kepada Frans. Kebetulan juga Iwan sempat merekam semua kejadian itu. Iwan memberikan rekaman kejadian kepada Danu. Danu kemudian memberikan kepada Frans." lanjut Paman bercerita.


"Frans kemudian melihat rekaman itu. Frans mengambil kesimpulan kalau, Ranti bisa jadi menggunakan Deli sebagai alat untuk meminta Danu menghentikan gugatan perceraian itu" ujar Paman kepada Papi


"Apa, dia akan menggunakan Deli?" ujar Papi kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Paman.


"Seenaknya aja menggunakan anak yang tidak diurusnya itu untuk dijadikan alat supaya Danu mencabut gugatannya." ujar Papi dengan sangat geram.


"Dasar nggak ada otak jadi orang tua. Mau maunya dia berbuat seperti itu" ujar Papi dengan nada marah dan kesal atas apa yang akan dilakukan oleh Ranti.


"Terus sekarang bagaimana Adik?" tanya Papi meminta saran kepada Paman.


"Sebuah tempat tinggal" ujar Paman menjelaskan lebih spesifik lagi apa maksud dari pertanyaan Paman tadi.


Papi terlihat memikirkan apa yang dikatakan oleh Paman barusan. Papi memikirkan sebuah tempat untuk dirinya dan istri serta Deli tinggal untuk sementara waktu. Papi hanya memikirkan satu tempat yang letaknya cukup jauh dari rumah kedua orangtuanya yang ditempatinya sekarang ini.


"Adik, bagaimana kalau kami tinggal di rumah peristirahatan kita yang ada di tepi waduk?" tanya Papi kepada Paman menyebutkan kemana keluarga mereka akan mengungsi sampai proses perceraian berjalan di pengadilan.


"Rumah peristirahatan di waduk? Apa di sana masih bersih?" tanya Paman kepada Papi.


"Setiap hari ada orang yang aku minta untuk membersihkan rumah peristirahatan itu" jawab Papi yang memang menggaji seseorang untuk membersihkan rumah peristirahatan di tepi waduk tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan lihat bagaimana kondisi rumah di sana. Apakah masih bisa di huni atau tidak. Kalau seandainya tidak layak untuk dihuni lagi, maka apakah masih ada tempat lainnya?" tanya Paman yang tidak tau harus kemana lagi kalau rumah peristirahatan itu tidak bisa dihuni.


"Mungkin aku akan membawa mereka berdua ke negara U. Aku tidak akan membiarkan wanita itu mengambil paksa cucu kesayangan aku" ujar Papi sambil menatap jauh ke luar.


Papi marah dan kecewa mendengar apa yang akan dilakukan oleh Ranti kepada Deli. Papi akan melakukan semua cara untuk menyelamatkan Deli.


"Berarti Paman akan membawa kakak ipar dan cucu ke mansion yang ada di negara U?" tanya Paman memastikan kembali rencana Papi


"Ya, mansion yang juga sudah lama tidak aku kunjungi. Tapi apa Danu bisa berjauhan lama dengan Deli?" tanya Papi yang akhirnya mengkhawatirkan anaknya itu.


"Untuk sementara waktu, biar Danu mengantarkan Kakak dan keluarga ke negara U. Jadi, Danu bisa berada di negara U selama seminggu." ujar Paman kepada Papi


"Tapi boleh aku memohon sesuatu kepada Kakak?" tanya Paman sambil menatap ke mata Papi


"Apa?" tanya Papi yang penasaran dengan permintaan adiknya itu.


"Aku ingin, Kakak tidak membicarakan tentang Ivan dan Sari kepada Danu. Biarlah Ivan dan Sari membuka jati diri mereka sendiri kepada Danu" ujar Paman meminta hal sederhana itu kepada Kakaknya.


"oke. Aku tidak akan mengatakan apapun kepada Danu tentang Ivan dan Sari. Aku juga ingin dia mengetahui sendiri kedua sepupunya itu" ujar Papi menyetujui permintaan yang diajukan oleh Paman.


"Baiklah hari sudah larut malam. Besok kita akan pergi ke rumah waduk. Tapi sebelumnya kita harus menceritakan ini kepada kakak ipar kamu dan juga Deli besok pagi. Jadi, lebih baik sekarang kita beristirahat dahulu sebelum pagi menjelang" ujar Papi mengajak Paman untuk beristirahat.


Mereka berdua kemudian beranjak menuju kamar masing masing. Paman masih memiliki kamar pribadinya di rumah besar itu. Kamar yang sama yang dari kecil ditempati oleh Paman. Sedangkan Danu tetap dibiarkan oleh Papi dan Paman tidur di atas sofa. Mereka berdua sama sekali tidak berniat untuk membangunkan Danu untuk pindah ke kamar.


"Semoga kakak memiliki tempat untuk menetap sementara waktu selain harus pergi ke negara U. Aku takut kalau mereka ke negara U, Danu akan bertemu dengan Vina." ujar Paman sambil berbaring di ranjang yang sudah di tukar oleh Kakaknya dengan ranjang baru.

__ADS_1


"Suasana kamar ini masih sama dengan yang dulu" lanjut Paman menyaksikan kamar masa kecilnya yang susunannya masih sama sejak ditinggalkan Paman.


Paman kemudian menutup matanya. Dia akan tidur dan beristirahat untuk esok hari harus menuju rumah peristirahatan di waduk yang letaknya lumayan jauh dari rumah ini. Rumah singgah milik keluarga besar Sanjaya.


__ADS_2