
"Nenek kenapa Nenek termenung? Apa Deli ada salah ngomong sama Nenek?" tanya Deli yang cemas kalau dia ada salah berbicara dengan Neneknya itu.
"Nggak ada sayang. Kamu tidak ada salah ngomong apa apa. Mari kita lanjutkan ke tempat yang nenek janjikan" ujar Mami melanjutkan membawa Deli ke tempat yang akan mereka berdua tuju.
Tempat yang telah membuat Deli menjadi sangat penasaran dan ingin langsung ke sana semenjak mereka dari Bandara tadi. Suatu tempat yang juga menyimpan cerita kelam kehidupan keluarga Sanjaya.
"Nenek" ujar Deli memegang tangan Neneknya.
"Ada apa Nenek?" ujar Deli yang masih melihat neneknya melamun dan belum bergerak dari posisi yang sama.
"Deli tau Nenek sudah menyimpan suatu rahasia. Deli memang kecil Nenek, tapi Deli tau bedanya orang dewasa yang sedang menyimpan rahasia besar dengan yang tidak" ujar Deli sambil menatap mata neneknya itu. Deli berharap Nenek mau bercerita tentang apa yang ada di dalam pikiran nenek saat ini.
Deli menuntut penjelasan dari neneknya. Deli tidak ingin neneknya menutupi apa sebenarnya terjadi. Deli ingin mengetahui semua itu. Deli. memang anak yang selalu penasaran dengan apa yang terjadi. Dia tidak akan pernah bisa diam sebelum semuanya diceritakan oleh nenek kepada dirinya saat ini.
"Kamu bener mau mengetahui semuanya sayang?" tanya Nenek kepada Deli sambil berjongkok agar bisa sama tinggi dengan Deli.
"Ya nenek. Deli ingin tahu semuanya" jawab Deli dengan pasti.
Deli menatap mata neneknya itu. Dia benar benar berharap neneknya mau menceritakan semuanya kepada Deli.
"Baiklah, mari kita ke tempat itu. Di sana nanti Deli akan mengetahui semuanya. Nenek akan membawa Deli ke tempat tersebut. Nenek tidak akan menutupinya lagi sayang" ujar Mami yang akhirnya mengambil kesimpulan sendiri untuk membawa Deli ke tempat itu. Tempat yang akan membuka satu rahasia besar yang selama ini telah ditutupi oleh keluarga Sanjaya dari siapapun.
Nenek dan Deli melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang dimaksud oleh Nenek. Nenek berjanji di sana akan menjelaskan kepada Deli apa yang telah terjadi di masa lalu, yang membuat semuanya menjadi berubah semenjak kejadian tersebut.
Akhirnya setelah berjalan sekitar lima belas menit lebih, Nenek dan juga Deli sudah sampai di sebuah kebun yang sangat menawan dan membuat Deli menjadi sangat bahagia.
"Nenek, ini kebun anggur milik kita?" tanya Deli saat melihat buah yang paling disukainya banyak tumbuh di sini.
__ADS_1
"Iya sayang, ini adalah kebun kita. Kamu mau anggur berapapun tinggal petik saja sayang" ujar Nenek sambil memetik setangkai anggur yang sudah matang untuk Deli.
"ini untuk kamu sayang" ujar Nenek memberikan anggur yang baru saja di petik nya kepada Deli.
Deli mengambil anggur yang diberikan oleh Nenek. Deli kemudian memakan anggur tersebut.
"manis dan segar nenek" ujar Deli yang baru kali ini memakan langsung anggur yang baru saja di petik dari batangnya.
"Sayang, kita duduk di sana aja yuk. Nenek akan menceritakan semua kejadian itu di sana" ujar Nenek mengajak Deli untuk bercerita di bawah payung payung yang ada di kebun anggur milik keluarga Sanjaya.
"Oke Nenek. Mari kita ke sana" ujar Deli mengajak neneknya untuk ke sana.
Nenek dan cucu itu kemudian duduk di bawah sebuah payung payung yang biasanya dipakai. oleh pekerja kebun anggur keluarga Sanjaya yang sangat luas itu. Deli menatap dengan bangga kebun anggur milik keluarganya.
"Nenek, berapa luas kebun anggur milik atuk ini nek?" tanya Deli penasaran dengan luas kebun anggur tersebut.
"Luas sekali nenek. Terus siapa yang mengelola saat Atuk berada di negara I?" tanya Deli yang memang pikirannya sangat jauh dari usianya.
"Ada orang kepercayaan atuk. Juga sepupu dari Ayah kamu sayang" jawab Nenek sambil menatap Deli.
Mami sudah mulai masuk ke awal cerita tentang keluarga Sanjaya secara keseluruhan.
"Maksud nenek sepupu Ayah, maksudnya gimana ya Nek, Deli kurang mengerti" ujar Deli yang memang sangat kurang paham dengan maksud yang diucapkan oleh neneknya itu.
"Sayang, kamu kan udah nengok kakek tampan kamu. Nah kakek kamu itu punya anak dua orang. Satu laki laki dan satu lagi perempuan. ujar Nenek mulai bercerita.
"Bentar Nenek, apa kita sudah masuk ke dalam cerita yang mau nenek kisahkan itu?" tanya Deli sambil menatap ke arah Nenek.
__ADS_1
"Iya sayang. Nenek sudah mulai menceritakan kisah itu. Kita akan mulai dari keluarga kakek tampan" ujar Nenek yang tidak ingin langsung ke topik kenapa mereka bisa tinggal di negara I dan meninggalkan semua aset yang sangat berharga di negara U.
"Jadi kakek tampan memiliki anak dua orang, satu perempuan dan satu laki laki. Usia mereka yang laki laki hanya terpaut tiga tahun dari Ayah kamu sayang. Sedangkan yang perempuan terpaut lima tahu dari Ayah kamu" ujar Nenek mulai melanjutkan ceritanya kembali.
"Kenapa mereka tidak pernah ke rumah kita Nenek?" tanya Deli yang ingin mempercepat cerita dari neneknya itu.
"pernah kok sayang. malahan sering. Cuma kamu dan Ayah saja yang tidak tahu" ujar Nenek mengatakan hal itu kepada Deli.
"maksud nenek? Deli tidak paham nenek" ujar Deli yang susah mencerna maksud dari pernyataan neneknya tadi.
"Salah satu anak Kakek tampan adalah sahabat Ayah kamu sayang. Coba tebak siapa menurut kamu yang hampir mirip kakek tampan?" tanya Nenek kepada Deli.
Deli mengingat dua sahabat Ayahnya yang laki laki hanya ada Iwan dan Ivan. Deli berusaha mengingat wajah mereka berdua. Deli membayangkan dan membandingkan dengan wajah Kakek tampannya itu.
Deli berpikir sesaat, dia pasti bisa menemukan siapa anak dari kakek tampannya itu.
"Nenek, Deli tahu siapa Nek" ujar Deli dengan semangatnya mengatakan kepada Neneknya itu.
"Siapa sayang?" tanya Nenek kepada Deli.
"Om Ivan. Hanya om Ivan yang berwajah bule itu nek. Sedangkan om Iwan sangat kental wajah negara I nya" ujar Deli menjawab dengan sangat pasti pertanyaan yang diberikan oleh Neneknya itu.
"Benar sayang. Om Ivan adalah anak dari kakek tampan" jawab Nenek membenarkan jawaban yang diberikan oleh Nenek tadi untuk Deli.
"Loh kok Ayah nggak tau Nek?" tanya Deli yang heran kenapa Ayahnya sampai tidak mengetahui cerita itu.
"Itu yang akan nenek beritahukan kepada kamu sayang. Kenapa Ayah sampai tidak mengenali om Ivan sebagai sepupunya sendiri, dan hanya mengenal om Ivan sebagai karyawan dan sahabatnya saja" ujar Nenek.
__ADS_1
Nenek berusaha mengingat dan kembali jauh membuka lembaran lembaran kelam kehidupan Danu dan keluarga Sanjaya saat itu. Kehidupan yang membuat Danu menjadi seperti sekarang ini.