Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Operasi Danu #


__ADS_3

"Aku ke mansion dulu baru beli makan siang untuk kakak dan kakak ipar. Tetapi kalau di mansion ada makan siang, aku akan bawa itu aja" ujar Paman berkata sendirian saat dia berjalan keluar dari ruangan operasi


Paman kemudian menuju parkiran rumah sakit tempat dia terakhir kalinya meletakkan mobil yang dipakai menuju rumah sakit saat kejadian naas itu terjadi.


Paman mengemudikan mobilnya dalam kecepatan agak tinggi karena belum masuk waktu istirahat siang para karyawan. Paman berencana untuk sampai lebih cepat di mansion dan langsung bertemu anak anaknya setelah itu kembali menuju rumah sakit. Paman tidak mau Papi dan Mami menunggu dirinya terlalu lama di sana.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam karena ada kemacetan akibat pohon peneduh jalan tumbang. Paman akhirnya sampai juga di mansion keluarga Sanjaya. Paman memarkir mobil di tempat parkiran mobil milik kakaknya yang lain. Paman kemudian turun dari mobilnya. Paman berjalan menuju Ivan dan Sari yang sedang asik bermain ayunan.


Ivan dan Sari yang sedang bermain ayunan melihat siapa yang datang langsung bersorak kegirangan.


"Ayah" teriak kedua bocan kecil yang sedang berlarian itu kepada Paman.


"Hay sayang Ayah. Gimana sudah makan siang?" tanya Ayah kepada mereka berdua.


"Belum Ayah. Kami baru sampai dari sekolah. Ayah sudah makan siang?" tanya Ivan mewakili Sari yang dari tadi memeluk Ayahnya itu.


"Belum. Apa maid masak di mansion?" tanya Ayah kepada Ivan.


"Ivan akan lihat Ayah. Kalau maid tidak masak, maka Ivan akan meminta maid untuk memasak makan siang" ujar Ivan sambil berjalan masuk ke dalam mansion utama yang sangat besar tersebut.


"Ayah bagaimana dengan keadaan Bang Danu?" tanya Sari yang sekarang sudah duduk di ayunan bersama dengan ayahnya itu.


"Bang Danu sekarang sedang menjalani operasi kepalanya sayang. Kita doakan semoga Abang Danu cepat sembuh ya dan bisa bermain bersama kamu dan Bang Ivan lagi" ujar Ayah sambil mengusap kepala Sari dengan sayang.


"Aku dan Bang Ivan selalu mendoakan Bang Danu supaya cepat sembuh kok Ayah" jawab Sari sambil memeluk lengan Ayahnya.


"Oh ya Ayah. Sekarang kami memanggik Bibi tidak dengan panggilan Bibi. Tapi Mami" ujar Sari menceritakan kepada Ayah tentang panggilan Mami itu.

__ADS_1


"Kok bisa sayang? kalian berdua yang minta sama Mami?" tanya Ayah kepada Sari yang memang seperti kertas terbuka itu.


"Tidak Ayah. Malahan Mami sendiri yang meminta kami memanggil dengan panggilan Mami, bukan bibi" ujar Sari menceritakan kenapa bisa mereka memanggal Bibi dengan panggilan Mami.


"Ooo. Kalian senang bisa memanggil Mami kepada Bibi?" tanya Ayah kepada anak perempuannya yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Bunda itu.


"Senanglah Ayah, akhirnya aku bisa memanggil Mami lagi. Selama ini kan tidak pernah aku memanggil Mami atau apapun itu Ayah" ujar Sari dengan sangat senangnya.


Ivan yang tadi pergi melihat apakah ada menu makan siang disiapkan oleh maid, sudah kembali ke dekat Ayah dan juga Sari.


"Ayah, kata maid sebentar lagi mereka akan menyiapkan menu makan siang untuk kita. Mereka semua sedang sibuk memasak." ujar Ivan memberitahukan kepada Ayah dan juga Sari.


"Tadi aku juga udah katakan juga untuk melebihkan Papi dan Mami supaya bisa Ayah bawa ke rumah sakit" lanjut Ivan yang memang sudah menjadi dewasa semenjak Danu masuk rumah sakit.


Ivan selalu menjaga Sari. Ivan tidak pernah membiarkan Sari bersedih atau bermain sendirian. Ivan benar benar menjadi kakak terbaik bagi Sari saat Ayah tidak ada di dekat mereka berdua.


"Tuan besar, makan siang sudah siap" ujar Maid kepada Paman, Ivan dan Sari.


"Wow makanan sudah siap. Mari kita makan. Ayah sudah lapar." ujar Ayah membawa Ivan dan Sari untuk makan siang bersama di dalam mansion.


Mereka bertiga kemudian duduk di kursi meja makan. Dihadapan mereka sudah ada menu makan siang yang tersaji.


"Maid untuk Kakak dan kakak ipar apa sudah di siapkan?" tanya Ayah kepada maid yang sedang menuang air minum ke dalam gelas mereka bertiga.


"Sudah Tuan, tinggal di bawa saja ke rumah sakit" jawab maid tersebut.


"Ayah, apa kami boleh ikut ke rumah sakit?" ujar Ivan dengan tatapan memohon kepada Ayahnya itu.

__ADS_1


"Maaf sayang, untuk sekarang tidak boleh. Bang Danu masih di ruangan ICU yang tidak bisa di masuki oleh anak seusia kalian berdua" ujar Ayah memberikan alasan dan pengertian kepada Ivan dan Sari.


Mereka berdua kemudian berpandang pandangan. Mereka tidak menyangka kalau Danu masuk ruangan ICU.


"besok kalau sudah di ruangan rawat biasa. Ayah janji, pasti akan bawa kalian ke rumah sakit. Sekarang tidak dulu ya. Kalian di mansion saja dengan maid dan Mami" lanjut Ayah kepada kedua anaknya yang cepat mengerti itu dan tidak banyak cerita lagi.


"Sekarang kita makan siang ya. Ayah harus kembali ke rumah sakit mengantarkan menu makan siang untuk Papi dan Mami" ujar Ayah mengajak ke dua anaknya itu untuk makan siang.


Mereka bertiga makan siang sambil di selingi obrolan ringan khas keluarga Paman. Maid yang melihat merasa sedang berada di mansion yang berbeda. Kalau keluar Papi, mereka makan dalam keadaan hening, tidak ada yang mengobrol antara satu dengan yang lainnya. Hal berbeda terjadi kepada keluarga Paman. Mereka bisa mengobrol santai saat makan.


"Ayah berangkat ke rumah sakit lagi ya. Kalian berdua harus jadi anak yang baik. Nggak boleh banyak cerita ke para maid ya. Jangan bikin susah maid. Paham sayang?" ujar Ayah kepada Ivan dan Sari.


"Paham Ayah. Kami akan selalu ingat pesan Ayah untuk tidak menyusahkan para maid" jawab Ivan sambil mengacungkan dua jempolnya kepada Ayah.


"Titip salam kami untuk Bang Danu dan juga Papi ya Ayah" kali ini Sari yang berbicara.


"Oke sayang. Kalian berdua hati hati. Mami sepertinya akan malam pulang" ujar Allah kepada Ivan dan Sari.


Ivan dan Sari mengantarkan Ayah sampai ke depan pintu mansion. Ayah kemudian masuk ke dalam mobil. Maid sudah menaruh rantang di kursi penumpang.


"Dada sayang. Hati hati di mansion" ujar Ayah sebelum dia benar benar berlalu dari hadapan kedua anaknya yang sangat sangat dikangeninya itu.


"Dadah Ayah. Hati hati di jalan ya. Besok pulang lagi" kali ini Sari yang menjawab perkataan dari Ayah.


"Oke sayang. Besok siang Ayah akan pulang lagi untuk bertemu dengan dua jagoan ayah" jawab Ayah meyakinkan Sari kalau besok Ayah akan menyempatkan untuk datang saat makan siang.


Ayah kemudian mengemudikan mobil menuju rumah sakit. Ayah tidak mau Kakak dan Kakak iparnya menunggu lama di rumah sakit untuk makan siang.

__ADS_1


Ayah mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi. Jalanan kota masih sepi karena masih jam kantor. Jadi, Ayah dengan leluasa bisa melakukan mobil yang dibawanya itu dengan kecepatan jauh di atas kecepatan normal mobil melaju di ibu kota.


__ADS_2