Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kompor Iwan dan Ifan


__ADS_3

Danu, Iwan dan Ifan akhirnya sampai di rumah Danu. Mereka kemudian turun dari mobil dengan tergesa gesa. Saat mereka turun mobil Ranti ada di parkiran rumah.


"Dan, mobil istri loe ada. Berarti dia ada di rumah."


"Mobil ada dari tadi. Dia keluar nggak bawa mobil."


Danu kemudian membuka pintu rumah dengan kunci yang biasa dia bawa. Mereka semua masuk ke dalam rumah, ternyata Bik Inah belum tidur. Bik Inah terkejut karena Danu yang katanya tidak pulang datang saat sudah tengah malam.


"Maaf Tuan, saya tidak mendengar mobil Tuan datang." kata Bik Inah.


"Tidak apa apa Bik. Saya hanya sebentar. Saya ke atas dulu bik" Danu langsung naik tangga menuju kamarnya di lantai dua rumah.


Danu setelah melihat tidak ada tanda tanda istrinya langsung turun kembali dan menuju ruang tamu. Iwan bertanya lewat sorot matanya. Danu kemudian menggeleng, mimik wajah Iwan langsung berubah kesal, begitu juga dengan Ifan.


"Bik, nyonya ada pulang tadi?"


"Ada Tuan. Sekitar jam sembilan ntah jam sepuluh, nyonya datang Tuan." jawab Bik Inah sambil menunduk. Bik Inah takut kalau Danu menjadi murka.


"Lama Bik?"


"Tidak Tuan. Nyonya datang sebentar. Nyonya langsung ke kamar atas, dan turun membawa tas kecil. Saya tidak tau apa isi tasnya." kata bik Inah.


"Begitu Bik. Terimakasih Bik. Saya pergi dulu. Titip rumah bik." kata Danu.


Danu dan kedua teman sekaligus karyawannya itu pergi meninggalkan rumah. Mereka pergi tanpa tujuan.


"Mau dicari atau gimana Dan?"


"Biarin ajalah Wan. Ndak usah cari malez gue" jawab Danu sambil bersandar ke kursi mobil.


"Jadi sekarang kemana itu tujuan?" kata Ifan yang membawa mobil.


"Puter puter nggak jelas aja lah Fan." kata Danu.


Ifan kemudian kembali melajukan mobilnya. Ifan hanya memutari komplek rumah Danu. Iwan yang sadar langsung menggelengkan kepalanya.


"Fan, Fan. Maksudnya muter muter bukan muter muterin komplek kayak gini. Kemana kek."


"Hehehehe. Perintahnya muter muter. Kan bener gue bang. Gue nggak lurus lurus dari tadi kok"


"Serah loe Fan."


Ifan kemudian mengarahkan mobilnya ke gerbang keluar komplek perumahan Danu. Ifan kemudian mengarahkan mobilnya ke jalan besar. Ifan melihat lihat kafe yang masih buka. Perutnya sudah menjerit minta diisi. Ifan baru sadar kalau dia belum makan malam.


Ifan langsung membelokkan mobilnya ke sebuah kafe yang ada di seberang jalan. Ifan memberhentikan mobilnya dan langsung turun. Danu dan Iwan pun ikut turun, mereka juga sudah lapar.


"Ee dikira udah kenyang"


"Kenyang dari hongkong."


Mereka kemudian memesan makananan.

__ADS_1


"Dan, kalau loe diam aja maka makin riwet nanti Dan. Loe harus bertindak" kata Iwan.


"Menurut loe berdua gue harus ngapain?"


"Pak. Menurut saya, yang sekali ini biarkan. Nah malam besok kita lihat lagi. Kalau dia tidak pulang maka akan kita grebek." kata Ifan.


"Tu kita harus ngikutin dia?" kata Danu.


"Pak kalau Bapak nggak bos saya udah lumayan sumpah serapah saya ke Bapak" jawab Ifan.


"Hahahahahahahahaha" Iwan langsung tertawa.


"Serahin ke gue. Besok akan gue kasih tau dimana target berada." kata Ifan.


"Gue serahin ke elo" kata Iwan.


Mereka kemudian menyantap menu makanan yang tadi mereka pesan. Iwan dan Ifan makan sambil mengolok olok Danu.


"Bang, loe bisa nggak ngebayangin Nyonya sedang ngapain sekarang?"


"Pasti sedang nggak kedinginan kayak kita ini Fan. Kita kan kedinginan neh. Dia nggak akan kedinginan"


"Keren tuh bang. Yang satu kedinginan yang satu kepanasan. Diadu mantap hasilnya tuh bang."


"Gue bukan kerennya yang gue pikir. Gimana nyeseknya ya, wah gua nggak bisa bayanginnya Fan" Iwan menatap ke arah Danu. Danu diam tak bergeming.


"Fan, kalau semua ini terjadi ke elo, apa yang loe lakuin?"


"Sama wan. Gue juga kayak gitu. Gue pulangin langsung. Gue nggak pria lemah. Gue cari yang baru."


"Setuju bang. Kita karyawan biasa aja bisa cari yang baru. Apalagi manager ya bang." Ifan melihat ke arah Danu.


"Puas belum?? Kalau udah yuk pulang. Kita nginap di hotel aja. Ambil kamar presiden suit." kata Danu.


Mereka bertiga kemudian pergi mencari hotel ternama di kota itu. Mereka akan beristirahat disana.


"Sekali kali ya pak menikmati hidup. Masak nyonya aja yang bocin di hotel" kata Ifan.


"Bocin, mana ada bocin bonas yang ada Fan."


"Iya ya bang, bonas."


Mereka kemudian sampai di hotel tempat nginap. Danu dan kedua temannya langsung cek in. Mereka bertiga ditatao aneh oleh resepsionis hotel. Danu langsung emosi.


"Loe biasa aja natap. Loe kira kami hombreng." maki Danu.


Resepsionis hotel langsung menunduk. Dia telah salah menilai orang.


Danu dan kedua temannya langsung masuk ke kamar yang sudah mereka pesan. Jarum jam kamar hotel menunjukkan pukul empat dini hari. Mereka semua langsung terlelap saat kepala bertemu bantal, badan bertemu kasur empuk.


RUMAH VINA

__ADS_1


Vina dan Maya langsung bangun dari tidur saat alarm poselnya berbunyi. Mereka akan memasak berbagai jenis jajanan pasar. Hari ini mereka dapat pesanan yang lumayan banyak. Maya bagian memasak masakan jajanan pasar, sedangkan Vina membuat somay pesanan dari sebuah pengajian ibu ibu.


Mereka memasak dengan semangat. Semua harus selesai sebelum pukul sepuluh pagi. Semua pesanan kloter pertama akan diambil jam sembilan. Vina dan Maya selesai memasak semua makanan pada pukul delapan pagi. Vina kemudian menata makanan jajanan pasar di tampah. Setelah semua pesanan kloter pertama selesai. Vina meletakkan di meja makan.


"May. Pesanan kliter kedua jam berapa dijemput?"


"Jam dua Vin"


"Waduah keren ini kerja rodi. Apa aja pesanannya May? Banyak?"


"Lumayan Vin. Delapan loyang brownies kukus, empat nampah jajanan pasar sama soto madura untuk lima puluh porsi."


"Semua diambil jam dua?"


"Bentar tengok catatan dulu" Maya kemudian melihat catatan pesanan yang diletakkannya di lemari es.


"Vin, dua brownies dan lima puluh porsi soto madura diambil jam lima."


Mereka kembali menyiapkan semua bahan bahan yang diperlukan.


Saat mereka sedang sibuk menyiapkan semua bahan untuk diolah pintu rumah diketuk dari luar. Maya pergi membuka pintu rumah.


"Maaf bu cari siapa ya?"


"Apa benar ini rumah Vina yang bisa memesan kue kue itu?"


"Iya buk. Mari masuk. Ibuk mau pesan apa ya?"


"Mau pesan kue ulang tahun"


"Silahkan dipilih ibuk modelnya mau yang mana." kaya Maya.


Ibuk itu langsung melihat lihat model kue yang akan dipesannya. Akhirnya pilihan ibuk itu jatuh kepada kue micky mouse.


"Kapan mau ibuk ambil buk??"


"Sore besok akan saya ambil."


"Baiklah buk sekitar jam tiga udah bisa ibuk ambil."


Setelah pemesan itu pergi, barulah datang orang yang mengambil semua pesanan kloter 1.


Setelah itu mereka berdua langsung mengerjakan pesanan untuk kloter ke dua. Mereka masak sambil membicarakan masalah masalah yang tidak perlu.


"Gimana dengan Danu, Vin?"


"Biarkan saja mengalir seperti air. Aku tidak akan memikirkannya lagi." kata Vina sambil membuat onde onde.


Mereka kemudian kembali bekerja menyiapkan pesanan untuk diambil nanti sore. Mereka harus menyiapkan begitu banyak pesanan. Akhirnya Maya dan Vina selesai memasak makanan tepat pukul dua siang. Mereka bisa bersantai santai setelah pemesanan itu diambil.


Vina kemudian pergi membersihkan dirinya. Vina membaringkan tubuhnya di depan televisi sejenak. Dia melepas lelah sejenak sehabis bekerja full dari jam empat pagi.

__ADS_1


__ADS_2