
Danu mengendarai mobilnya menuju kantor Frans yang terletak lumayan jauh dari perusahaan Danu. Danu harus berkendara lebih kurang empat puluh lima menit untuk sampai di sana.
Danu tadi sudah mengkonfirmasi kedatangannya kepada Frans. Jadi, Frans tidak pergi kemana mana sampai Danu datang ke kantornya.
"Ya Tuhan semoga ini adalah jalan yang terbaik untuk hamba dan Deli anak hamba" ujar Danu berdoa dalam hatinya. Danu berharap tidak ada rintangan yang berarti dalam proses perceraiannya nanti dengan Ranti. Danu udah jenuh dengan kehidupan rumah tangganya.
Danu berkendara dengan pelan, dia tidak bisa menginjak pedal gasnya lebih dalam karena jalanan yang cukup ramai. Begitu banyak mobil yang tumpah di jalanan ibu kota hari ini.
"Orang orang ini kemana ya. Katanya hidup sedang susah, tetapi mereka banyak juga yang beli mobil, jalan jalan dengan mobil" ujar Danu ngedumel sendirian. Melihat banyaknya mobil yang berseliweran di jalan.
Tiba tiba saat Danu sednag serius mengemudikan mobilnya, panggilan video call masuk ke ponselnya. Fhoto Vina terpampang di layar ponsel miliknya.
Danu kemudian mengangkat panggilan dari Vina itu. Dia tidak mau telat untuk mengangkat panggilan itu. Danu sudah menunggu panggilan ini dari pagi.
"Hay sayang, selamat pagi menjelang siang" sapa Vina kepada Danu.
"Kalau di sana selamat apa sayang?" tanya Danu yang malas menghitung perbedaan jam mereka.
"Shubuh sayang. Ini aku mau ke dapur bikin sarapan. Udah lama banget nggak masak sarapan. Kemaren malam Sari ngirim chat, katanya Dia dan Juan mau sarapan di sini hari ini." kata Vina menjawab pertanyaan dari Bayu sambil berjalan menuju dapur.
"Aku juga udah lama sayang, nggak nyobain masakan kamu lagi. Kapan ya sayang bisa coba lagi?" kata Danu memandang ke arah Vina sebentar, setelah itu Danu kembali fokus ke jalan yang sedang dilaluibya.
"Dua minggu lagi sayang. Waktu kita di negara A" ujar Vina menjawab keinginan Danu untuk mencoba kembali masakannya.
"Sayang kita di sana seminggu lebih kan ya?" ujar Danu yang ingin berlama lama dengan Vina di negara A.
"Lima belas hari sayang. Bukan seminggu, dua minggu satu hari" ujar Vina mengatakan berapa lama mereka akan berada di negara A.
"Siap. Itu baru paten" jawab Danu.
Danu akhirnya sampai di depan kantor Frans. Dia sudah memarkir mobilnya di parkiran.
"Sayang, nanti kita sambung lagi ya. Aku ada meeting sebentar. Kamu lanjutin masak sarapannya dulu ya" ujar Danu yang nggak mau Vina tau dia sedang mengurus apa apa saat ini.
__ADS_1
Danu ingin surat selembar itu akan menjadi kejutan untuk Vina. Vina nggak boleh tahu untuk saat ini.
"Oke sayang, aku akan lanjut masak dulu. Kamu lanjut kerja ya. Cari uang yang banyak untuk kita menikah. Aku siap menikah nggaka mau kerja lagi sayang. Aku mau di rumah aja menunggu kamu pulang dan merawat Deli serta Papi dan Mami" ujar Vina mengutarakan keinginan dan niatnya setelah menikah kepada Danu.
"Aman itu sayang. Kamu tidak akan kerja lagi kalau kita sudah menikah. Kamu tinggal duduk duduk aja di rumah menunggu aku pulang" ujar Danu menyetujui keinginan Vina selepas mereka menikah.
"Tapi kalau di perusahaan kamu, aku mau kerja sayang" ujar Vina merubah sedikit keputusannya.
"Kok?" tanya Danu penasaran dengan alasan Vina yang mau bekerja kalau di perusahaan tempat Danu bekerja.
"Iyalah. Jadi kan aku bisa nengok kamu terus." ujar Vina memberikan alasannya kepada Danu.
"Jadi sekretaris aku aja lagi. Nggak udah dibagian perencanaan" ujar Danu menawarkan Vina posisi baru di perusahaan.
"Ye kegaya gayaan. Mana ada manager pake asisten." jawab Vina ngasal.
"Ada sayang. Aku" jawab Danu yang masih belum memberitahukan apa apa kepada Vina.
"Sayang. Aku udah sampe depan ruangan meeting. Aku masuk dulu ya. Hati hati sayang. Kalau udah mau ke kantor chat aku ya" ujar Danu menitip pesan kepada Vina.
Vina melanjutkan kegiatan memasak sarapan pagi untuk mereka nanti. Hari ini Maya tidak ikut ke pasar pagi. Pagi ini yang ke pasar pagi adalah Rina dan Bik Ina serta Pak Hans. Maya merasa badannya kurang sehat, sehingga dia meminta Bik Ina yang menemani Rina untuk membeli semua keperluan bahan makanan untuk kafe mereka.
Danu menuju resepsionis, dia menanyakan ruangan Frans terletak di lantai berapa. Setelah mendapatkan informasi dari resepsionis Danu kemudian berjalan menuju ruangan Frans.
"Pasti korban perselingkuhan lagi. Semua client Pak Frans kan korban perselingkuhan. Ganteng ganteng mau aja diselingkuhi" ujar Resepsionis yang masih terdengar oleh telinga Danu.
Danu kembali menuju resepsionis. Dia berdiri di depan resepsionis. Resepsionis yang kaget langsung menunduk, resepsionis yakin kalau Danu pasti mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya barusan.
"Makasi mbak atas komentarnya." ujar Danu yang kemudian berlalu dari hadapan resepsionis itu.
Danu kemudian menaiki lift yang akan mengantarkan dirinya ke ruangan Frans yang terletak di lantai tiga gedung perkantoran kelompok pengacara yang sangat handal di negara I. Setelah sampai di lantai yang di tuju Danu membaca papan informasi penunjuk ruangan masing masing lawyers yang di cari client mereka.
Danu berjalan sesuai dengan papan penunjuk arah itu. Dia membaca di setiap pintu ruangan nama nama pengacara. Sampailah Danu pada satu ruangan yang nama Frans tercetak dengan tebal dan rapi tanpa nama keluarga di belakangnya.
__ADS_1
Danu kemudian mengetuk pintu ruangan Frans. Frans yang memang sudah menunggu Danu datang dari tadi langsung berdiri dari duduknya. Dia membukakan Danu pintu ruangan.
"Gue kira loe nggak jadi datang Dan" ujar Frans menyapa Danu.
"Mana ada gue nggak jadi datang" jawab Danu sambil langsung duduk di sofa ruangan Frans.
Frans juga duduk di sofa.
"Mana dokumen yang gue minta?" tanya Frans kepada Danu.
"Ini" ujar Danu memberikan dokumen yang diminta oleh Frans tersebut. Dokumen dokumen pribadi milik Danu yang akan segera dijadikan bahan untuk mengajukan permohonan gugatan cerai.
"Apa udah sesuai dengan yang gue minta tadi pagi?" tanya Frans sebelum membuka map yang diberikan oleh Danu.
"Periksa sendiri aja. Rasanya udah sesuai. Ntah kok masih ada yang tinggal. Gue juga ragu" ujar Danu yang rasanya dan menurut dirinya sudah memasukkan ke dalam map itu semua persyaratan yang diminta oleh Frans.
Frans kemudian memeriksa dokumen dokumen itu. Frans kemudian mengurutkan sesuai dengan permintaan pengadilan yang sudah hafal oleh Frans di luar kepala. Ntah sudah berapa kasus perceraian yang dimenangkan oleh Frans. Makanya, Frans terkenal sebagai lawyers bidang perceraian dan KDRT dalam rumah tangga.
"Oke cukup dan sesuai dengan yang gue minta" ujar Frans kepada Danu.
"sekarang, loe tinggal tulis surat permohonan gugatan perceraian dan juga surat kuasa untuk mengangkat gue sebagai pengacara elo" ujar Frans memberitahukan kepada Danu apa yang harus dikerjakannya selanjutnya.
"Ada contoh kan?" tanya Danu yang tidak tahu harus menulis apa kalau sama sekali tidak ada contoh yang diberikan oleh Frans.
"Ada" jawab Frans.
Frans kemudian mengambilkan contoh surat dan juga dua buah matrai untuk ditandatangani oleh Danu sebagai pemberi kuasa dan juga sebagai pemohon gugatan perceraian.
"Ini dua contoh suratnya. Setelah loe tulis, loe bubuhi matrai kemudian loe tanda tangan si atas matrai" ujar Frans memberitahukan langkah kerjanya kepada Danu.
"Oke sip" jawab Danu.
Danu kemudian menulis kedua surat itu dengan tulisan tangan dia sendiri. Sedangkan Frans menyusun semua bukti bukti ke dalam satu flashdisk. Bukti bukti itu akan digunakan sebagai bahan untuk memperkuat posisi Danu di pengadilan.
__ADS_1
"Selesai Frans" ujar Danu yang sudah menandatangani ke dua surat itu.
"Oke mari berangkat ke pengadilan. Kita masukkan saja suratnya hari ini. Biar proses berjalan cepat" ujar Frans yang sangat semangat membantu Danu kali ini.