
"Vina, bawa Sari ke puncak bukit sana, kalian tunggu duriannya jatuh." ujar Ibuk memberitahukan kepada Vina kalau durian di atas bukit sudah masak.
"Bener buk ada durian masak di situ?" tanya Sari dengan penuh semangat.
"Emang bule bisa makan durian Sari?" tanya Bapak sambil menatap ke arah Sari.
"Pak, aku aslinya dari negara ini. Ayah sama Bunda yang pindah ke negara U. Kalau durian hem jangan tanya, aku juaranya." jawab Sari dengan bangga.
"Ya udah, sana ke atas bukit. Mana tau udah banyak yang jatuh, tapi kalian harus berhati hati, jangan sampai kepala jadi korban keganasan durian." kata Ibuk mengingatkan mereka bertiga untuk hati hati saat berada di bawah batang durian.
"Oke Ibuk, kami ke atas dulu." ujar Sari dengan semangat. Dia membawa sebuah parang untuk membuka durian yang jatuh nanti.
"Sar, emang loe tau jalannya kemana?" tanya Maya dengan setengah berteriak.
"Nggak" jawab Sari dengan santainya.
"Nah terus ngapain loe jalan paling depan sendirian coba?" ujar Maya sambil geleng geleng kepala melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
"Nggak nahan sama yang namanya durian." jawab Sari dengan nyantai ala dirinya.
"Udah jangan ribut mulu, pusing gue. Ayuk jalan, ikutin gue." ujar Vina.
Vina berjalan paling depan, dibelakangnya diikuti oleh Sari. Sedangkan Maya berjalan paling belakang, dia paling tidak bisa kalau berjalan mendaki ada orang dibelakangnya. Makanya Maya sama sekali tidak mau ikut kegiatan mendaki gunung yang dilakukan teman teman mereka waktu sekolah.
Setelah berjalan selama sepuluh menit, mereka akhirnya sampai juga di atas puncak bukit kecil itu.
"Wow keren, pemandangannya uwow." ujar Sari.
Sari langsung mengambil gambar pemandangan yang sangat menyejukkan mata itu. Dia begitu bahagia bisa berada di daerah tersebut.
"Kalau semuanya kayak gini gue makin nggak mau pulang." teriak Sari menggema keseluruh penjuru ladang.
Maya dan Vina hanya bisa menutup telinga mereka saja mendengar teriakan menggelegar dari Sari.
"Gelok sia" ujar Maya sambil geleng geleng kepala.
Bum bum bum bum. Empat kali bunyi durian jatuh saat angin berhembus kencang. Vina dan Sari berlari mencari kemana durian tersebut jatuhnya. Sedangkan Maya merekam kejadian tersebut sambil menahan tawanya.
"Woi tengok sini" ujar Maya.
Maya melakukan siaran langsung di media sosialnya.
"Hay gays mereka berdua mengalami masa kecil kurang bahagia. Jadi saat mendengar bunyi durian jatuh mereka berdua langsung berlari." ujar Maya sambil mengambil gambar kedua sahabatnya yang hanya tampak belakang saja.
Ivan yang berada di kantor, mendapatkan notifikasi kalau Maya sedang melakukan siaran langsung, lantas menonton siaran langsung dari Maya. Ivan berusaha menahan tawanya melihat tingkah adiknya dan juga Vina.
__ADS_1
"Dasar masa kecil nggak pernah ngejer durian." ujar Ivan dengan pelan.
Iwan yang melihat Ivan senyam senyum saja langsung berjalan dan berdiri di belakang Ivan. Dia ikut menonton siaran langsung Maya.
Saat dua orang wanita yang Iwan rasa satu orang cukup dikenalnya lewat sekilas tanpa memperlihatkan wajah mereka ke kamera.
"Van, itu siapa?" tanya Iwan kepada Ivan.
"Oh kedua teman baru Maya." jawab Ivan dengan santainya.
"Loe ikut gue." ujar Iwan.
Ivan dan Iwan keluar dari dalam ruangan. Mereka menuju sofa yang ada di koridor ruangan.
"Apa Bang?" tanya Ivan penasaran.
"Loe jawab gue sekarang dengan jujur. Itu tadi Vina kan?" tanya Iwan menatap tajam Ivan.
"Nggak Bang. Itu teman baru Maya." jawab Ivan.
"Van, loe nggak usah boong ke gue. Gue nggak akan kasih tau ke Danu tentang hal ini." ujar Iwan menyakinkan Ivan.
"Gue tau loe pasti tau dimana Vina berada sekarang." ujar Iwan sambil menatap Ivan.
"Gue akan cerita, tetapi tidak di sini. Kita ke rumah gue aja nanti. Gue akan kasih tau semuanya ke elo bang." ujar Ivan.
Mereka berdua kembali masuk kedalam ruangan. Mereka kembali bekerja.
"Loe dapat berapa Vin?" tanya Sari.
"Dua. Loe berapa?" teriak Vina.
"Empat" jawab Sari.
Mereka berdua kemudian meletakan durian yang berhasil mereka kumpulkan ke pondok. Sari langsung menaruh satu buah durian di depan Maya.
"Buka dong May. Gue mau." ujar Sari dengan wajah memelas.
"Kalau gue males gimana?" tanya Maya.
"Gue manggok." jawab Sari.
"Senjata andalan." sahut Maya.
Maya kemudian membuka durian yang disodorkan oleh Sari. Sari melihat buah durian kali ini berdaging kuning. Buah yang membuat Sari meneteskan air liurnya.
__ADS_1
"Op air liur tolong ditahan, tumpah baru nyahok." ujar Maya meledek Sari.
"Hehehe. Ngiler gue nengoknya." ujar Sari menjawab ledekan dari Maya.
Sari langsung menyambar buah yang mengeluarkan aroma khas itu. Sari bener bener kalap memakan durian. Dalam sekejap dua durian berhasil pindah ke perut tiga wanita cantik itu.
"Yah kok nggak ada yang jatuh lagi." ujar Sari menatap beberapa pohon durian yang sedang berbuah lebat itu.
"Sabar Sar. Kalau nggak jatuh sekarang palingan jatuh malam, pagi baru dikumpul sama Bapak." jawab Vina.
"Besok gue pagilah ke ladang sama Ibuk dan Bapak, biar bisa ngumpulin durian. Hem kita bikin kolak durian ya." ujar Sari.
"Oke besok gue bikin kolak durian." jawab Vina.
Mereka bertiga memutuskan untuk turun kembali ke ladang setelah selama dua jam menunggu durian jatuh. Mereka membawa masing masing empat buah durian di tangan mereka.
"Loh kok udah selesai aja panennya? Tapi kamu hantu durian" kata Bapak kepada Sari.
"Nggak ada yang mau jatuh lagi Bapak, makanya kami turun." jawab Sari sambil memasukkan durian yang dibawanya dari atas tadi ke dalam keranjang.
"Oh ya Pak, besok Bapak berangkat jam berapa ke ladang?" tanya Sari kepada Bapak.
"Emang kenapa?" tanya balik Bapak.
"Pengen ikut Bapak pagi ke ladang. Jadi, bisa ngumpulin durian lagi" kata Sari sambil menghayal mengumpulkan begitu banyak durian esok pagi.
"Boleh, tapi apa kamu bisa bangunnya jam lima pagi? Bapak besok nggak sarapan di rumah" kata Bapak menjawab pertanyaan Sari.
"Jam lima? Tadikan udah jam tujuh Bapak ke ladang" Sari protes dengan jam yang dikatakan oleh Bapak.
"Kalau ngumpulin duren ya nggak bisa kesiangan Neng, habis di ambil orang nanti duriannya." kata Bapak sambil tersenyum.
"Kalau jam lima ogah mah Bapak, aku untuk ikut ke ladang. Bangun aja belum aku Bapak" kata Sari dengan wajah menunduk lesu.
Ibu yang melihat hal itu menjadi kasihan kepada Sari. Ibuk tau kalau Bapak sedang mengerjai Sari.
"Nak Sari besok maunya jam berapa ke ladang?" tanya Ibuk sambil tersenyum.
"Jam tujub Ibuk." jawab Sari.
"Kalau jam tujuh sama Ibuk aja ya. Kan buahnya masih banyak, jadi peluang untuk jatuhpun banyak." kata Ibuk menenangkan Sari.
"Wah makasi Ibuk. Sari sayang sama Ibuk." ujar Sari sambil memeluk Ibu.
"Lebay" ujar Maya sambil lalu.
__ADS_1
"Biarin" jawab Sari dengan santainya.
Setelah semua hasil ladang terkumpul dan dijual, mereka berlima kembali pulang menuju rumah. Mereka akan bersih bersih terlebih dahulu sambil menunggu waktu maghrib datang.