
Danu, Iwan dan Ivan sibuk menyiapkan semua pekerjaan mereka. Mereka terlalu fokus dengan semua deadline yang datang sampai sampai tidak satupun dari mereka yang teringat untuk mencari tau keadaan Vina.
Sedangkan di rumah sakit Vina yang sedang duduk duduk didatangi oleh dokter dan suster yang akan melakukan visit terhadap dirinya.
"Pagi Nona Vina. Bagaimana keadaannya?" tanya dokter yang menangani Vina.
"Sudah lebih baik dokter. Kapan ya saya bisa pulang?" tanya Vina yang memang sudah tidak betah lagi di rumah sakit.
"Kita akan cek dulu semuanya, kalau hasil cek saya hari ini Nona sudah sehat maka besok pagi sudah boleh pulang." jawab dokter memberikan angin segar kepada Vina.
"Silahkan berbaring kembali Nona." ujar Suster.
Suster membantu Vina untuk kembali berbaring di brangkar rumah sakit. Setelah memastikan posisi Vina nyaman, barulah dokter melakukan pemeriksaan terhadap Vina.
Dokter memeriksa seluruhnya. Dia ingin memastikan kalau Vina sudah kembali sehat. Dokter tidak melewatlan satupun pemeriksaan.
"Selesai." ujar dokter.
"Gimana dokter?" tanya Vina yang sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan dokter.
"Nona Vina besok sudah boleh pulang. Semuanya sudah dalam keadaan baik." jawab dokter.
"Apa nggak bisa sekarang dokter?" tanya Vina yang benar benar berharap untuk bisa pulang sekarang.
"Maaf Nona tidak bisa. Jadi Nona bersabar menjelang besok pagi. Bisa kan Nona? Atau akan saya ulang lagi menulis di catatan medis Nona, kalau Nona masih perlu perawatan lanjutan?" ujar dokter sambil menatap jail ke arah Vina.
"Jangan dokter. Aku nggak sanggup lagi." jawab Vina.
"Hahahahahaha." dokter tertawa melihat ekspresi Vina yang langsung menolak untuk dirawat kembali.
"Sekarang silahkan beristirahat Nona. Kami akan keluar dulu." ujar dokter.
Vina membalas dengan anggukan kepala. Dia sangat senang bisa pulang esok hari. Vina memakan sarapan paginya sendirian. Biasanya dia akan dibantu oleh Danu untuk menikmati sarapannya. Tetapi hari ini Danu harus masuk kerja karena sudah tiga hari dia tidak kantor.
Setelah selesai menghabiskan sarapan paginya tanpa semangat, Vina meminum obat yang diantarkan suster barusan.
"Mau tidur tidak ngantuk. Mau ngapain lagi ya? Mana Maya masih di jalan lagi." ujar Vina.
__ADS_1
Vina meraih ponselnya, dia melihat layar beranda ponsel tersebut. Masih tidak ada satupun notifikasi dari Danu
"Sayang, kamu kelihatannya benar benar sibuk, sampai sampai nggak sempat nanyain keadaan aku." ujar Vina.
"Hay Vin, kamu harus semangat Danu bekerja kan karena dia ada tuntutan. Masak dia harus ngurus kamu terus. Aneh kamu." ujar Vina mengata ngatai dirinya sendiri.
Akhirnya Vina meraih remot televisi. Dia mencari chanel yang memutar film orang memasak. Vina menikmati siaran televisi tersebut. Dia bisa mengambil manfaat dari siaran televisi itu. Dia bisa menambah menu makanan yang disediakan di kafe miliknya.
Saat Vina asik menonton televisi, Maya baru saja datang dari rumah membawa bekal makanan yang tadi dibuatnya.
"Vin, loe udah makan belum?" tanya Maya sambil meletakan bekal yang dibawanya tadi.
"Udah. Gue udah sarapan. Loe bawa apa ya?" tanya Vina yang melihat Maya membawa kantong kresek lumayan besar.
"Gue bawa desertbox favorit kamu. Kan gue dapat proyek itu kemaren. Loe lupa?"
Vina membuka kantong kresek yang dibawa Maya. Dia melihat ada beberapa desertbox di dalam kantong tersebut.
"Ini bener bener uwow." Vina.
"Gimana?" tanys Maya dengan sangat penasaran.
"Uenak banget. Luar biasa. Perfecto." ujar Vina sambil menggigit sendoknya dan memberikan dua jempol kepada Maya.
"Hahahahaha. Nggak percuma gue begadang semalaman membuat desert ini." ujar Maya dengan nada bangganya.
"Oh ya May. Gue besok udah boleh pulang. Loe nginap sinikan ya malam ini?" tanya Vina.
"Kayaknya nggak bisa Vin. Gue besok ada pesanan kue tampah. Gue tunggu lo di rumah aja ya." ujar Maya dengan menatap lesu Vina.
"Oke oke sip." jawab Vina.
Vina sangat tau kalau sekarang pesanan sedang banyak masuk ke warung mereka. Sebenarnya Vina sudah mau menambah seorang karyawan lagi. Tetapi menurut Maya karyawan yang sekarang sudah cukup, tidak perlu ditambah lagi.
"Apa loe yakin May nggak nambah karyawan lagi?" tanya Vina kembali membuka percakapan masalah karyawan.
"Nggak usah Vin. Udah cukup kita berempat saja. Kalau nambah lagi makin sempit tu dapur. Kecuali kalau kita jadi mewujudkan rencana kita itu. Barulah kita nambah karyawan lagi." jawab Maya yang kekeh tidak akan menambah karyawan.
__ADS_1
Vina mengangguk setuju. Dia memang sudah jarang berada di dapur. Kecuali pada saat dia libur atau masakan yang membutuhkan keahlian dari dirinya barulah Vina akan turun tangan langsung.
"Oh ya Vin, jadi gimana dengan pembangunan cafe kita? Akan dilanjutkan atau pending dulu?" tanya Maya.
"Sepertinya akan gue pending dulu May. Gue berencana mau mengajukam surat pindah ke bos." ujar Vina memulai ceritanya.
"Loh kok pindah? Ada apa? Apa ada sangkut pautnya dengan loe sakit kemaren?" tanya Maya yang memang dari semula sudah penasaran juga dengan penyebab Vina jatuh sakit.
Vina termenung sesaat memikirkan semua kejadian yang dihadapinya beberapa hari yang lewat. Kejadian yang berhasil membuat dia jatuh pingsan dan berujung masuk rumah sakit.
"Iya May ada hubungannya. Jadi saat itu" ujar Vina mau memulai ceritanya.
Tok tok tok
Bunyi pintu kamar yang diketuk dari luar. Maya yang paling dekat dengan pintu kamar beranjak untuk membuakkan pintu ruangan.
"Tumben pake ketuk pintu dulu Bang?" tanya Maya ke Danu yang berdiri di depan pintu.
"Sengaja, takutnya kalian berdua sedang ngegosip hangat. Jadinya kalian terganggu kan ya. Makanya di ketuk dulu pintunya cari jalan aman." ujar Danu.
Danu kemudian masuk ke dalam kamar rawat Vina. Dia melihat Vina yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara masak.
"Cup" sebuah ciuman mendarat di puncak kepala Vina.
"Aku kira udah nggak ingtmat lagi." ujar Vina sambil memonyongkan bibirnya.
"Hahahahaha. Maaf sayang ku cintaku rinduku bukan maksud hatiku mau mencuekin dirimu seharian ini, tapi kerjaanku luar biasa banyak. Maafkan aku ya." ujar Danu merayu Vina.
Vina mengangguk saat melihat sebuah ketulusan dan bebean dari sorot mata Danu. Vina tidak mau menambah beban Danu dengan acara ngambek dan tidak pengertian dirinya.
"Udah makan sayang?" tanya Vina ke Danu.
Danu menggeleng, "Aku ke sini mau ajak kamu makan ke kantin. Kita makan kesana ya bertiga dengan Maya?" ajak Danu yang memang sengaja mau makan siang dengan Vina.
"Oke. Mari kita pergi." ujar Vina yang setuju dengan ajakan Danu.
Mereka bertiga pergi makan siang ke kantin rumah sakit. Vina sebenarnya masih kenyang akibat makan dua desertbox yang dibawa Maya. Tetapi dia tidak mungkin menolak ajalan Danu, dia tau Danu belum makan. Makanya Vina pasrah saja dengan keadaan perutnya yang begah nanti sehabis makan siang.
__ADS_1