
Sari yang baru pulang dari rumah Ayahnya dengan Juan langsung masuk ke dalam apartement Ivan. Ternyata Vina dan Maya belum tidur. Mereka berdua masih menunggu Sari pulang.
"Hay, gue kira udah tidur" ujar Sari saat melihat Vina dan Maya masih setia duduk di depan televisi.
"Belum Sar, kami sengaja nungguin kamu" jawab Maya.
"Ooo. Sorry gue pulang nggak bawa apa apa, gue kira kalian berdua udah tidur" ujar Sari meminta maaf karena tidak membawa oleh oleh pulang ke apartemen.
"Nggak apa apa Sari, kami berdua sudah makan kok." jawab Vina.
Sari kemudian duduk di sebelah Maya.
"Jadi, kalian tadi sore kemana?" tanya Sari yang tidak yakin kalau Vina dan Maya hanya di rumah saja saat dia tinggal pergi dengan Juan.
"Kami ke mall pusat. Males di sini aja. Kami pergi cuci mata" jawab Maya dengan semangat.
"Yah nggak ngajak ngajak" ujar Sari dengan nada sedih.
"Besok bisa pergi lagi. Udah sekarang istiraat udah malam"
Vina mengajak kedua sahabatnya itu untuk beristirahat malam. Mereka bertiga memang juga sudah mengantuk dan sedikit letih terasa di badan mereka masing masing.
"Kalian duluan aja, gue bersih bersih bentar dan tukar pakaian" ujar Sari sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Sari membersihkan wajahnya dari sisa sisa makeup yang dipakainya tadi, Sari juga menukar pakaiannya dengan pakaian untuk beristirahat. Setelah itu barulah Sari naik ke atas kasur. Dia juga akan beristirahat malam.
Vina yang dikira kedua sahabatnya telah tertidur ternyata masih membuka matanya, Vina menatap miring ke arah dinding. Pikirannya masih teringat dengan wajah Danu yang sempurna dilihatnya.
"Kenapa gue masih mengingat dia?" ujar Vina sambil mengusap wajahnya.
Vina kemudian berusaha memejamkan mata indahnya itu. Tetapi mata dan pikiran Vina tidak sama. Mereka berdua sama sama membawa Vina untuk terjaga karena mengingat Danu.
Hal yang sama juga terjadi kepada Danu, Danu juga sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Wajah Vina terbayang jelas di depan wajahnya. Setiap Danu berusaha memejamkan matanya, wajah sedih Vina tergambar jelas di pelupuk mata Danu.
"Vina, apa yang harus aku lakukan. Berkali kali aku sudah berdiri di depan pengadilan itu, tetapi berkali kali pula aku kembali dengan tangan kosong." ujar Danu sambil menelentangkan tubuhnya.
"Apa aku harus ke pengadilan agama dengan kamu? Baru aku bisa mengajukan gugatan itu?" ujar Danu selanjutnya.
"Aku sangat mencintai kamukamu Vina. Tapi kenapa aku tidak bisa memutuskan sesuatu yang terbaik untuk kamu" lanjut Danu berbicara sendiri.
Akhirnya karena terlalu lelah dengan pikiran mereka masing masing Vina dan Danu tertidur saling berhadapan. Vina dan Danu pasrah kalau mereka masing masing di datangi oleh pasangannya di dalam mimpi mereka. Mereka akan menikmati saja mimpi itu.
...................................................................
Pagi harinya Maya sudah bangun terlebih dahulu. Maya menyiapkan sarapan untuk Vina dan Sari yang masih tertidur lelap. Maya juga melebihkan memasak sarapan untuk Ivan dan Iwan. Maya berencana untuk mengantarkan sarapan itu ke kantor Ivan.
__ADS_1
'Sayang, jangan makan di luar. Aku akan antarkan sarapan' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Maya kepada Ivan.
Ivan yang baru selesai sarapan dengan Ayah langsung melongos, tidak tau lagi apa yang harus dilakukannya.
"Kamu kenapa Van?" tanya Ayah yang melihat Ivan bersikap aneh seperti itu.
"Maya akan mengantarkan sarapan Ayah. Padahal aku udah sarapan." ujar Ivan.
"Hahahahahaha. Jangan katakan ke dia kalau kamu sudah sarapan. Nanti dia sedih, sudahlah semalam kamu tidak menemuinya, sekarang sarapannya yang tidak kamu makan. Kamu usahakan aja memakan sarapan yang telah dibuatnya itu" ujar Ayah memberikan nasehat kepada Ivan.
Ayah tidak mau Ivan membuat Maya bersedih karena tidak memakan sarapan yang sudah Maya buat.
"Sip Ayah, aku akan makan sarapan yang dibuat oleh Maya." ujar Ivan.
Ayah dan Anak itu kemudian bersiap siap untuk berangkat ke perusahaan. Mereka pergi dengan terpisah kendaraan. Ayah akan memakai mobil miliknya. Sedangkan Ivan tetap memakai motor kebanggaannya.
Maya telah selesai memasak sarapan. Nasi goreng lengkap dengan telur dadar kering, acara timun dan wortel serta kerupuk. Maya juga tidak lupa membuat tambahan sambal terasi bagi yang merasa kalau nasi goreng itu kurang pedas.
Maya kemudian meletakkan nasi goreng untuk Ivan dan Iwan ke dalam rantang. Mata juga menata menu tambahan di rantang yang lain. Setelah memastikan semuanya sudah siap, Maya pergi menukar pakaiannya ke kamar.
Maya juga telah memesan taksi online. Dia kemudian menuju lobby apartemen. Maya tak lupa membawa rantang bekal untuk Ivan dan Iwan. Ternyata taksi online sudah menunggu Maya di teras lobby apartemen. Maya kemudian masuk ke dalam taksi online. Taksi online meluncur mengantarkan Maya ke perusahaan yang dimintanya melalui aplikasi.
Sopir melajukan mobilnya menuju perusahaan yang diminta Maya. Maya duduk tenang di dalam taksi online itu. Tidak berapa lama karena jarak apartemen Ivan dengan perusahaan dekat, Maya telah sampai di sana. Maya kemudian membayar sewa taksinya dengan cara tunai.
"Mau kemana Nona?" tanya Ayah menyapa Maya.
"Mau ke ruangan arsitek Tuan." jawab Maya yang antri di pintu lift khusus karyawan.
"Ayuk sama dengan saya Nona. Saya juga akan keruangan itu. Dari pada antri menggunakan lift karyawan" ujar Presiden direktur.
"Apa boleh saya masuk ke dalam lift khusus itu Tuan?" ujar Maya yang ragu untuk ikut masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Boleh" jawab presiden direktur.
Maya kemudian ikut masuk ke dalam lift. Presiden direktur menekan lantai ruangan Ivan. Setelah itu barulah direktur menekan lantai khusus lantai ruangannya.
"Tapi Tuan mau ke ruangan arsitek?" tanya Maya saat melihat presiden direktur menekan tombol lift sebanyak dua kali.
"Nanti saja" jawab presiden direktur.
Lift kemudian berhenti di lantai ruangan Ivan.
"Saya duluan Tuan" ujr Maya permisi kepada Presiden direktur.
Presiden direktur mengangguk. Maya kemudian keluar dari dalam lift.
__ADS_1
"Semoga kedua anak aku itu mendapat kebahagiaan mereka masing masing dengan pasangan masing masing" ujar Ayah.
Maya kemudian mengetuk pintu ruangan Ivan. Ivan yang berada di dekat pintu ruangan membuka pintu itu. Dia mendapati Maya sudah berdiri di depan pintu ruangan dengan membawa rantang yang lumayan besar. Rantang yang dari dulu biasa dipakai Maya untuk mengantarkan makanan buat Ivan.
"Masuk sayang" ujar Ivan mempersilahkan Maya untuk masuk ke dalam ruangannya.
Danu yang baru selesai membuat kopi untuk dirinya menatap lama Maya.
"Hay May" sapa Danu.
"Hay Bang" balas Maya.
Maya kemudian membuka kotak bekalnya. Danu, Iwan dan Ivan sudah duduk di kursi dekat sofa.
"Kamu yang buat Maya?" tanya Danu.
"Iya Bang. Vina masih tidur" jawab Maya keceplosan.
Ivan menatap Maya.
"Maaf" ujar Maya.
Ivan mengangguk.
Danu pura pura tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Maya. Danu tidak ingin nanti Maya menceritakan kepada Vina dan membuat Vina langsung pergi dari sana. Danu sudah mengetahui dimana Vina berada sekarang.
Setelah mengantarkan sarapan, Maya pamit kepada Ivan. Ivan mengantarkan sampai ke lobby.
"Nanti makan siang aku antar lagi ya." ujar Maya yang ingin memperlakukan Ivan dengan sangat spesial.
"Aku aja yang ke apartemen sama Iwan dan Juan. Nggak usah dianterin ya. Biar kita makan rame rame aja." kata Ivan memberikan saran kepada Maya.
"Sip. Aku akan ke supermarket dulu" ujar Maya.
Ivan mengangguk. Maya kemudian masuk ke dalam taksi online yang sudah di pesannya tadi. Ivan kemudian kembali ke ruangannya untuk ikut menikmati sarapan keduanya hari ini.
"Udah lama banget nggak ngerasain nasi goreng seenak ini" ujar Iwan saat mereka telah selesai sarapan.
"Hahahaha. Bisa aja loe bang" ujar Ivan.
Sebenarnya bukan itu kalimat yang akan dikatakan oleh Ivan. Tetapi Ivan malas menyinggung Danu.
'Kita makan siang di apartemen' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Ivan kepada Iwan.
'Oke' balas Iwan
__ADS_1