Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Danu Bahagia


__ADS_3

Danu yang terlihat sangat bahagia keluar dari dalam ruangannya menuju tempat Ivan dan Iwan yang sedang bekerja. Danu keluar ruangan sambil bersiul siul, suatu hal yang sudah lama tidak dilakukan oleh Danu. Semenjak Vina pergi dari hidupnya.


"Makan siang keluar yuk. Gue yang traktir" ujar Danu dengan nada bahagia yang tidak bisa disembunyikan oleh dirinya saat ini.


"Loe kelihatan sangat bahagia Bang? Apa yang terjadi?" tanya Ivan yang melihat bintang bintang kebahagiaan berpendar dari wajah Danu.


"Iya Dan. Gue setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ivan. Loe terlihat sangat bahagia sekali. Apa yang terjadi? Penasaran gue jadinya" ujar Iwan yang juga dapat melihat dengan jelas kebahagiaan yang sedang didapati oleh Danu.


"Loe menang lotre Bang?" ujar Ivan menebak dasar kebahagiaan Danu yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh Danu dari kedua sahabatnya sekaligus rekan kerjanya itu.


"Intinya sekarang gue sedang bahagia. Nanti gue ceritain. Kalian udah makan atau belum?" tanya Danu sekali lagi kepada kedua rekan kerjanya itu.


"Belumlah. Dari tadi nih ya yang ditengok cuma laptop kertas laptop kertas. Belum ada nengok nasi dan lauknya" ujar Ivan yang selalu mendramatisir keadaan sepuya terlihat sempurna.


"Pinter banget loe ngomong. Padahal snack loe aja tu berserakan di meja" ujar Danu menunjuk bungkus snack yang dimakan Ivan dari tadi saat dia baru mulai kerja.


"Beda Bang. Nasi dan snack. Orang negara kita kalau belum makan nasi itu namanya belum makan" ujar Ivan menjawab perkataan Danu.


Sangat jarang antara Danu dan Iwan bisa menang melawan Ivan saat berdebat. Apalagi debat ngasal seperti saat sekarang ini. Maka sudah bisa dipastikan Ivan pemenangnya.


"Udah debatnya atau masih mau lanjut Van?" tanya Iwan kepada Ivan.


"Kalau masih, loe lanjut sendiri aja. Sedangkan gue dan Danu pergi duluan ya. Kami lapar" ujar Iwan sambil pergi keluar dari dalam ruangan.


"Jadi, kalau loe berdua pergi gue debat sama tembok gitu?" tanya Ivan kepada mereka berdua yang telah berjalan meninggalkan ruangan.


"Sama angin juga boleh Van" jawab Iwan dari luar.


"Sarap loe Bang" sambar Ivan secepat kilat.


Ivan mengambil ponselnya. Dia nggak mau makan siang sendirian. Ivan mengejar Iwan dan Danu yang telah jalan terlebih dahulu.


"Makan dimana Bang?" tanya Ivan kepada Danu dan Iwan.


"Nasi kapau" jawab Danu yang memang sangat ingin menikmati makanan asli daerah sumbar itu.


Danu ingin menikmati makan enak dan porsi besar. Makanya, Danu memilih untuk makan nasi kapau.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil Danu. Iwan duduk di bangku sebelah sopir. Sedangkan Ivan membuka pintu belakang. Danu hanya geleng geleng kepala saja melihat kelakuan dua staffnya yang menjadikan dirinya sopir mereka.


Danu kemudian duduk di kursi pengemudi. Dia menatap ke arah Ivan dan Iwan yang telah duduk dengan santainya.


"Kalian beneran lah ya berdua. Makan gue yang bayar, eeee sekarang bawa mobil gue lagi. Jadi loe berdua numpang perei aja gitu?" ujar Danu kepada kedua staffnya yang cengengesan mendengar apa yang dikatakan oleh Danu.

__ADS_1


"Sekali sekali Bang" jawab Ivan dari belakang.


"Hem" balas Danu menjawab apa yang dikatakan oleh Ivan.


Danu memilih untuk tidak melayani obrolan Ivan, karena tipe Ivan kalau dilayani akan ngobrol terus.


"Wan, loe inget ndak waktu pertama kali Ivan datang ke perusahaan?" tanya Danu kepada Iwan tentang kedatangan Ivan untuk w prtama kalinya.


"Ingetla Dan. Nggak bakal gue lupa. Dia datang dengan wajah lugunya. Ngomong ala kadarnya. Bener bener hemat. Eeee ternyata dan ternyata sekarang dia seperti petasan yang nggak akan berhenti berbunyi kalau belum habis bahan" ujar Iwan menjawab pertanyaan Danu dengan jawaban yang panjang.


"Alah Bang, harusnya loe bersyukur gue ada. Kan jadinya perselingkuhan istri loe gue yang ngungkapin. Walaupun ya sampe sekarang masalah itu nggak juga kelar" balas Ivan dari belakang, memukul telak Danu.


"Hahahahahaha. Balasan loe keren Van. Gue nggak nyangka itu lu jadikan serangan balik ke Danu" ujar Iwan yang sekarang tidak jelas di posisi siapa.


"Kami males sama loe wan" ujar Ivan dan Danu kompak.


Iwan menutup telinganya. Kedua orang ini berniat membuat dia menjadi budeg karena berteriak tepat di telinga Iwan.


Mobil berbelok masuk ke parkiran sebuah rumah makan yang bernama Warung Kapau. Danu memarkir mobilnya tepat di depan warung tersebut. Mereka bertiga kemukemudian keluar dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam warung nasi Kapau.


"Ka makan jo apo da?" ujar pelayan di warung itu dengan bahasa minang yang masih bisa dimengerti oleh para tamu yang datang.


Mereka sengaja tidak memakai bahasa negara I karena ingin melestarikan dan memperkenalkan bahasa daerah mereka.


"Tambunsu ciek da" ujar Danu yang memang sedang ingin makan usus sapi yang di alamnya di isi tahu dan telur.


"Awak, gulai babek da jo tunjang" ujar Ivan yang memilih makan dengan dua sambal.


"Ado tambahan da, karupuak jangek baku ah bagai?" ujar pelayan.


"Yup duo piring da" ujar Danu.


Danu, Ivan dan Iwan kemudian memilih duduk di tempat yang pemandangannya cukup bagus yaitu jalan raya. Mereka menunggu pesanan datang. Seorang pelayan datang mendekati mereka bertiga.


"Ka pasan minum apo da?" ujar pelayan kepada mereka bertiga.


"Teh es tigo" jawab Danu.


Pelayan kemudian kembali ke tempat dia bekerja. Pelayan membuatkan tiga gelas es teh yang dipesan oleh Danu.


Makanan yang dipesan oleh Danu, Ivan dan Iwan akhirnya datang. Begitu juga dengan tiga gelas es teh. Mereka bertiga kemudian menyantap makanan itu dengan lahap.


"Enak Bang dari pada di tempat biasa. Ini bisa jadi rekomendasi makan siang kita" ujar Ivan yang merasakan kalau rasa masakan di sini sangat enak.

__ADS_1


"Porsinya porsi kuli banget. Tengok aja tuh segunung" ujar Iwan.


"Segunung tapi kering loe bikin Bang" ujar Ivan menyindir Iwan.


"Laper mana enak lagi. Jadi sayang untuk dibuang." kata Iwan kepada Ivan.


Mereka telah selesai makan. Jam istirahat juga sudah habis.


"Yuk pulang" kata Danu mengajak kedua sahabatnya untuk balik ke perusahaan.


"Bara Da?" ujar Danu kepada kasir.


"A sajo tadi Da?" tanya kasir kepada Danu.


"Nasi tigo ciek samba duo" ujar Danu menyebutkan makanan yang telah dimakan oleh mereka bertiga.


Kasir menghitung dengan cepat. Dia sama sekali tidak memakai kalkulator.


"Nasi tigo samba dabel ciek. Dua kali duo limo limo puluh tambah nasi samba dabel ciek jadi sambilan puluh" ujar kasir menghitung dengan cepat.


"Ado lai da?" tanya kasir kepada Danu.


"Teh es tigo" jawab Danu.


"teh es tigo kali sapuluah ribu jadi tigo puluh ribu tambah sambilan puluh ribu jadi saratui duo puluah ribu. A lai da?" ujar kasir kepada Danu.


"Karupuak kuah gulai duo" jawab Danu menyebutkan pesanan terkahir mereka.


"Karupuak kuah gulai duo piring kali sapuluah ribu jadi duo puluah ribu sajo. Dua puluah ribu ditambah saratui duo puluah jadi e saratui ampek puluah" ujar kasir menghitung dengan sangat cepat.


Danu menyerahkan uang dua ratus kepada kasir.


"Pitih uda duo ratui lanjo uda saratui ampek puluah baliak pitih uda anam puluah, makasi uda" ujar kasir sambil memberikan uang enam puluh ribu kepada Danu.


Danu dan kedua sahabatnya keluar dari dalam warung, mereka langsung naik ke atas mobil.


"Keren kasirnya. Ngitung e cepet. Mana menyebutkan kembali pesanan kita dia. Otaknya encer banget" ujar Ivan memuji kasir warung tempat mereka makan tadi.


Akhirnya mobil telah diparkir kembali di lobby kantor. Mereka bertiga keluar dari dalam mobil. Hari ini Ivan dan Iwan akan lembur. Berbeda dengan Danu yang harus pulang cepat karena ada meeting dengan salah satu calon rekan kerja perusahaan.


Sebenarnya tadi Danu juga ingin lembur. Tapi, sebentar ini masuk pemberitahuan kalau dia harus pergi meeting.


"Gue jalan dulu ya" ujar Danu yang tidak singgah di kantor. Dia harus berangkat meeting.

__ADS_1


"Oke Bang. Hati hati" ujar Ivan mewakili Iwan.


Ivan dan Iwan kembali keruangan mereka. Mereka berdua akan lembur malam ini.


__ADS_2