
Taksi online yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu masuk ke pantai yang dituju. Mereka semua turun dari dalam taksi online. Mereka menuju tempat penjualan tiket. Mereka sengaja memilih pantai yang seperti itu karena mereka berencana untuk memakai permainan yang ada di sana.
"Wow pantai." ujar Sari berteriak dengan begitu kerasnya sehingga banyak orang orang yang berada di pantai melihat ke arah mereka berlima. Karena mendengar suara teriakan Sari. Mereka yang melihat ke arah Sari beranggapan kalau Sari datang dari daerah jauh, sehingga tidak pernah melihat pantai sebelumnya.
"Sari jangan norak. Tengok tu kita dilihatin semua orang." ujar Maya.
Maya menurunkan topi lebarnya dan memakai kaca mata hitam miliknya. Agar dia tidak terlihat oleh orang lain wajahnya. Maya malu dengan kelakuan norak Sari.
"Hahahahaha. Biarin aja norak May. Mulut mulut gue nggak minjem mulut mereka. Benerkan Vin?" ujar Sari mencari dekingan ke Vina.
Vina mengangguk. Dia malas berkomentar. Bisa bisa saat dia berkomentar suasana akan semakin hangat. Sehingga mereka berlima akan menjadi tontonan para pengunjung pantai.
Ivan kembali dari membeli tiket masuk pantai. Dia membagikan satu tiket kepada satu sahabatnya. Mereka kemudian menuju pintu masuk pantai yang dijaga ketat.
Vina memberikan tiket miliknya. Sebagai ganti tiket pergelangan tangan Vina diberi sebuah gelang menandakan kalau sudah diberi izin masuk. Secara bergiliran kelima sahabat itu memberikan tiket masuk. Mereka sama sam menerima gelang di tangannya.
"Apa fungsinya Mas?" tanya Sari yang memang selalu penasaran dengan gelang yang sekarang sudah berada di tangannya itu.
"Nanti setiap mau menaiki permainan Nona tinggal menunjukkan gelang ini saja kepada panitia yang ada di sana. Mereka akan memperbolehkan Nona untuj langsung bermain." ujar penjaga pintu masuk.
"Oh makasi Mas." kata Sari lagi.
Sari masuk paling terakhir di bandingkan sahabat sahabatnya yang telah duluan masuk ke area pantai.
"Mau main apa duluan?" tanya Ivan yang sebenarnya malas untuk beraktifitas. Ivan hanya ingin menikmati angin laut sambil minum es kelapa muda.
"Banana Boat gimana Bang?" Sari menawarkan pilihan pertama untuk mencoba permainan di laut.
"Mau" teriak Vina dan Maya.
Ivan memandang ke arah Iwan. Dia meminta persetujuan dari Iwan terlebih dahulu.
"Okeh gue setuju. Banana Boat untuk yang pertama kedengerannya asik juga." ujar Iwan sambil memandang ke arah laut.
Saat itu lewat sebuah banana boat dengan kecepatan tinggi dan melemparkan semua penumpangnya ke dalam air laut.
"Boleh. Ayok." ujar Ivan yang mendadak menjadi semangat untuk bermain di air.
Mereka menuju tempat untuk naik banana boat. Ivan melakukan pendaftaran.
"Kapan Bang?" tanya Sari yang biasanya hanya memanggil nama saja dengan Ivan.
"Setelah orang orang yang di depan kita ini." jawab Ivan sambil memilih duduk di kursi sebelah Iwan.
Mereka kemudian duduk sambil mengobrol menunggu giliran mereka untuk melakukan permainan banana boat.
Vina melihat orang orang tertawa setelah melakukan permainan itu. Dia ikut tersenyum sekilas.
"Bang silahkan memasang perlengkapan keselamatannya di sana." ujar panitia dari tim banana boat.
Ivan dan yang lainnya bergerak menuju tempat yang ditunjukkan oleh panitia. Mereka menukar pakaiannya dengan pakaian sederhana yang dibeli Maya dan Sari saat mereka menunggu giliran untuk bermain.
"Hahahaha. Sayang kamu keren juga makai hawai." ujar Maya menggoda Ivan yang baru sekali ini dilihat Maya memakai celana hawai pendek sebatas lutut itu.
"Ye. Mana ada." ujar Ivan sambil mengusap wajah Maya.
"Hahahahaha. Seriusan sayang. Keren." ujar Maya kekeh dengan perkataannya.
"Yalah keren. Pacar siapa dulu." ujar Ivan sambil merangkulkan tangannya ke pundak Maya.
"Mulai poak" ujar Sari yang mendengar kesombongan hakiki kakaknya itu.
"Hahahaha." Ivan tertawa sombong.
Maya menatap Ivan. Dia sama sekali tidak pernah melihat gaya Ivan yang seperti ini sejak pertama mereka kenal.
Mereka semua kemudian naik ke atas banana boat. Dengan urutan paling depan adalah Iwan, Sari, Vina, Maya dan urutan terakhir adalah Ivan.
Spead boat membawa banana boat dengan kecepatan pelan untuk dua puluh meter pertama. Setelah itu spead mulai membawa mereka dengan kecepatan penuh.
"Wow gilak" ujar Sari sambil bertahan untuk tidak jatuh ke laut.
Mereka berlima bertahan untuk tidak terlempar ke dalam laut. Pengendara spead boat sampai frustasi dibuatnya. Ivan dan yang lain tidak cepat menyerah untuk tercebur ke dalam laut.
Spead boat berputar sekali lagi dengan kecepatan penuh. Saat itulah mereka berlima terlempar ke laut. Satu persatu mereka kembali muncul. Mereka kemudian di bantu seorang panitia menaikkan ke atas banana boat.
Spead mengantarkan mereka kembali ke tempat semula. Ivan dan yang lainnya membuka pelampung badan dan memberikannya kepada panitia yang ada di sana.
"Keren." ujar Sari sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Gimana mau lagi?" tanya Ivan.
"Maulah, tapi yang lain." ujar Sari menatap suatu permainan seperti perahu karet berbentuk donat.
__ADS_1
"Bang mau yang itu." ujar Sari menunjuk permainan yang memikat hatinya.
Mereka berlima menuju permainan yang diinginkan oleh Sari.
"Bang, bisa kami main ini?" tanya Sari kepasa panitia yang duduk di sebuah kursi.
"Bisa Nona tapi harus menunggu setelah rombongan yang di sana." ujar panitia menunjuk rombongan yang sudah memakai pelampung.
"Oh tidak masalah. Kalu boleh tau ini permainan apa namanya Bang?" tanya Sari yang memang selalu banyak pertanyaan akan hal hal baru yang pertama kali dilihatnya.
"Ini nama permainannya Rolling Donut." ujar panitia.
"Cara bermainnya nanti Nona dan Abang berdua naik ke atas perahu yang berbentuk donat itu. Naiknya berlima paling banyak. Nanti perahu rolling donut akan di tarik speedboat." ujar panitia menjelaskan bagaimana cara naik rolling donut.
"Nggak pakai di lempar kayak banana boatkan?" tanya Sari sambil melihat orang yang sedang naik dan akan melakukan permainan itu.
"Nggak Nona. Ini hanya akan memberikan sensasi seru saat Nona naik berlima di atas perahu berbentuk donat. Nanti akan ditarik speadboot dengan kecepatan tinggi." ujar panitia memberitahukan bagaimana sensasi naik rolling donut tersebut.
"Makasi infonya Bang." ujar Sari.
Sari kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat permainan tersebut. Dia menuju keempat sahabatnya.
"Apa yang loe tanya sama abang penunggu permainan itu?" tanya Maya yang dari tadi melihat Sari asik mengobrol dengan panitia.
"Gue nanyak gimana cara naik permainan yang itu dan namanya." ujar Sari lagi sambil duduk di kursi yang masih kosong.
"Terus apa katanya?" tanya Maya penasaran.
Sari kemudian menceritakan apa yang diceritakan oleh panitia kepada keempat sahabatnya.
"Nona sekarang giliran Nona." ujar panitia yang tadi di ajak ngobrol oleh Sari.
Sari dan keempat sahabatnya memakai alat pelindung diri. Mereka kemudian diarahkan untuk naik ke perahu karet yang berbentuk donut. Mereka berlima duduk melingkar di dalam perahu karet donut.
"Wah kayaknya sero ini." ujar Maya.
Pengemudi speedboat kemudian naik ke atas speednya. Pengemudi mulai menghidupkan speedboat itu.
"Siap Bang, Nona?" tanya pengemudi speedboat.
"Siap" ujar mereka kompak sambil mengangkat jempol mereka.
Speedboat mulai melaju dengan kecepatan sedang. Saat sampai di laut yang agak dalam, pengemudi speedboat mulai menaikkan kecepatan.
Speedboat membawa kembali rombongan Vina kembali ke tepi pantai. Speedboat berhenti di tepi pantai. Mereka kemudian turun dari perahu rolling donut. Mereka kemudian melepaskan alat alat pengaman yang mereka pakai.
"Puas belum?" tanya Iwan yang sudah basah kuyup semua pakaiannya.
"Belum." jawab ketiga wanita tersebut dengan kompak.
"Mau main yang mana lagi?" tanya Ivan kepada ketiga wanita yang sangat gila dengan permainan laut.
"Bang boleh makan dulu ndak. Lapar." ujar Sari yang merasakan lapar diperutnya. Cacing cacing sudah memberontak di perut mereka masing masing.
Mereka dengan pakaian yang masih basah menuju foodcourt yang ada di pantai. Mereka duduk di bawah payung pantai.
"Pesan apa?" tanya Ivan kepada semua sahabatnya.
"Soto sama jus jeruk panas." ujar Sari.
Maya mencatat pesanan yang dikatakan oleh Sari.
"Loe apa Vin?" tanya Maya yang melihat Vina begitu serius menatap menu makanan yang tertera di daftar menu.
"Sup sama jus jeruk panas." jawab Vina.
"Bang Iwan?"
"Sama dengan Vina aja." jawab Iwan yang sibuk melihat ponsel miliknya yang digunakan tadi untuk mengambil video mereka saat main banana boat dan rolling donut.
"Bang bagi videonya Bang?" ujar Sari meminta Iwan untuk mengirimkan video mereka tadi.
"Ketik nomor penselnya." ujar Iwan meminta Sari untuk menyimpan nomornya di ponsel milik Iwan.
"Aku juga Bang." ujar Vina yang juga menginginkan video yang direkam oleh Iwan.
Sari mengetik nomor ponselnya di ponsel Iwan. Setelah itu Iwan mengirimkan video tadi ke ponsel milik Sari dan Vina.
"Hahahahaha" Sari dan Vina tertawa bersamaan.
Maya dan Ivan yang baru datang menatap ke arah Vina dan Sari yang tertawa terbahak bahak sambil menatap ponsel mereka.
"Apa Vin?" tanya Maya.
__ADS_1
Vina kemudian melihatkan kepada Maya apa yang menyebabkan dirinya dan Saei tertawa ngakak.
"Wah bagi ke gue ya." ujar Maya.
Vina mengirimkan video itu kepada Maya.
Vina, Sari dan Maya dengan kompak mengunggah video tersebut ke akun media sosial mereka masing masing. Video yang akhirnya akan membuat pecah perang dunia ke lima.
Pesanan mereka akhirnya datang juga. Kelima sahabat yang sedang menikmati liburan itu menyantap makan siang mereka yang sudah tertunda lama sekali. Mereka menyantap dengan lahap. Tidak membutuhkan waktu yang lama, semua isi piring dan juga gelas telah berpindah ke dalam perut mereka berlima.
"Siap ini pulang atau gimana?" tanya Iwan yang sebenarnya masih ingin bermain satu permainan lagi yang menurut dirinya rugi kalau tidak dilakukan.
"Lanjut main Bang. Ngapain pulang cepat cepat. Hari belum malam juga." ujar Sari yang masih ingin bermain di laut.
"Mau main apa lagi?" tanya Ivan.
"Apa di sini ada permainan seawalker?" ujar Sari yang ingat dia semoat brosing di internet tentang permainan laut yang sesang trand saat ini.
"Nggak tau juga. Kita tanya aja sama mereka." ujar Ivan menunjuk para panitia dari tempat permainan itu.
Sari dengan semangat pergi menemui panitia yang sedang berdiri melihat lihat kearah laut.
"Bang, boleh tanya sesuatu?" tanya Sari kepada panitia itu.
"Boleh Nona. Mau tanya apa?"
"Apa di sini asa permainan seawalker?" tanya Sari dengan harapan panitia itu mengadakan ada.
"Wah kebetulan sekali Nona permainan itu sudah ada di sini. Mari ikuti saya." ujar panitia sambil berjalan paling depan.
"Bentar, saya panggil teman saya yang lain dulu." ujar Sari.
Sari kembali menuju sahabatnya yang juga sudah mau berdiri itu.
"Ada bang permainan seawalkernya. Kita ikuti aja orang itu." ujar Sari menunjuk ke orang yang ditanyainya tadi.
"Sar emang permainan seawalker itu apaan?" tanya Vina yang baru kali ini mendengar permainan seawalker.
Vina bertanya sambil tetap mengiringi langkah kaki orang yang menunjukkan dimana tempat permainan seawalker itu berada.
"Seawalker itu aktivitas berjalan di dasar laut." jawab Sari dengan entengnya.
"Hah serius loe?" ujar Vina kaget dengan jawaban Sari.
"Aman nggak tu." lanjut Vina menyuarakan kekagetannya.
"Serius. Amanlah masak ndak. Jadi kita akan berjalan di laut. Untuk dapat berjalan di dasar laut itu, maka setiap peserta yang akan melakukan seawalker akan memakai helm kedap udara. Dengan menggunakan helm kedap udara peserta seawalker dapat bernapas di dasar laut, seperti layaknya bernapas di darat. Jadi semuanya akan aman selagi masih mengikuti SOP nya." ujar Sari menjelaskan gimana cara atau aktifitas seawalker itu.
"Loe udah pernah?" tanya Vina yang masih ragu.
"Sudah. Makanya gue pengen lagi. Mana tau indah yang di sini daripada yang di sana." lanjut Sari sambil menatap Vina dan tersenyum.
Vina terlihat berpikir dia antara pengen mencoba dengan tidak sama sekali.
"Kalau loe ragu, loe boleh nggak ikut. Tunggu aja kami di kapal." ujar Sari yang melihat keraguan dimata Vina.
"Gue nggak ragu tapi rada cemas aja." jawab jujur Vina kepada Sari.
"Kalau ragu nggak usah aja Vin." ujar Sari mencegah Vina untuk ikut.
Sesampainya di tempat yang dituju. Vina melihat fhoto fhoto orang orang yang melakukan seawalker. Vina melihat orang santai saja di sana. Tidak ada yang merasa takut dari fhoto fhoto mereka.
"Gue ikut" ujar Vina yang berubah pikiran.
Vina memutuskan untuk ikut dalam kegiatan seawalker.
Mereka semua memakai semua alat alat pendukung untuk melakukan seawalker. Setelah selesai memakai perlengkapan, mereka semua naik ke atas kapal yang sudah disiapkan. Kapal kemudian mengantarkan kelima sahabat itu dan instruktur menuju titik akan dilakukannya seawalker.
Kapal melaju dengan cepat. Tidak sampai sepuluh menit kapal sudah sampai dititik mereka akan melakukan kegiatan seawalker tersebut.
Instruktur memberikan instruksi bagaimana cara melakukan seawalker. Vina dan yang lainnya menyimak apa yang dikatakan oleh instruktur kepada mereka.
"Apa bang abang dan nona nona sekalian sudah mengerti dengan apa yang saya instruksikan?" ujar instruktur.
"Sudah" jawab mereka kompak.
Instruktur memasangkan helm kedap udara kepada setiap orang yang ada di atas kapal. Setelah mereka semua memakai helm tersebut, instruktur mulai terjun ke laut. Diikuti oleh Vina dan yang lainnya.
Mereka kemudian mulai berjalan di dalam laut. Mereka menatap keindahan yang disajikan di dalam laut.
Vina terjun didampingi oleh Sari. Sedangkan Maya dengan Ivan dan Iwan. Mereka menikmati kegiatan seawalker dengan santainya.
Setelah selesai melakukan kegiatan seawalker. Mereka kemudian kembali ke pantai. Vina dan sahabat sahabatnya menukar pakaian basah mereka dengan pakaian saat mereka pergi tadi pagi.
__ADS_1
Setelah selesai berganti pakaian. Ivan memesan taksi online. Mereka akan kembali ke hotel untuk beristirahat sekalian menyiapkan pakaian mereka untuk pulang besok.