Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Jebakan Iwan #


__ADS_3

Ranti menatap Danu yang dalam kondisi sudah sangat marah. Ranti harus pandai berhitung dengan keadaan yang ada. Ranti berpikir cepat untuk mengambil tindakan yang tidak akan merugikan dirinya. Ranti tidak ingin mendesak Danu dan membuat Danu akan menjadi murka kembali.


'Nggak mungkin gue ngomong sekarang ke Danu. Nanti saja. Gue sekarang harus mundur terlebih dahulu selangkah, untuk kemenangan selanjutnya' ujar Ranti berbicara sendiri dengan pikirannya. Ranti sudah memperhitungkan langkah langkah yang harus di ambil oleh dirinya sekarang.


Danu melihat Ranti yang terdiam cukup lama dan sibuk dengan pemikirannya sendiri. Danu memandang Ranti cukup lama.


"Kenapa loe diam? Tapi ada yang mau loe ungkapin ke gue. Ngomong lah, gue akan dengerin" ujar Danu dengan menatap tajam ke arah Ranti.


Ranti tersenyum smirk kepada Danu. Ranti sekarang yakin kalau alat perang Danu tidak lengkap. Ranti juga yakin kalau dia akan menang di pengadilan. Ranti tidak ingin bercerai dengan Danu.


"Maaf, saya tidak jadi mengatakan apa yang seharusnya saya katakan. Saya permisi dulu. Lain kali saya akan ke sini lagi" ujar Ranti sambil mengambil surat dari pengadilan agama yang tadi dilemparkan Ranti ke atas meja.


Ranti menggoyang goyangkan surat pengadilan di depan wajah Danu. Ranti kemudian memasukkan surat tersebut ke dalam tas kerjanya. Ranti tersenyum menatap ke arah Danu.


"Oh begitu. Oke, silahkan Anda keluar dari ruangan saya. Saya juga tidak butuh orang seperti Anda, berada terlalu lama di dalam ruangan saya" jawab Danu sambil melihat ke arah Ranti dengan tatapan seperti jijik melihat suatu benda.


Ranti berdiri dari duduknya dengan gaya yang sangat anggun.


"Permisi Tuan Danu" jawab Ranti sambil tersenyum kepada Danu.


Ranti dan bodyguard nya kemudian berjalan meninggalkan ruangan kerja Danu. Mereka akan kembali ke perusahaan Ranti.


"Kesel gue wan bener bener kesel" ujar Danu kepada Iwan sambil duduk di sofa ruang kerjanya itu.


"Sabar Dan." ujar Iwan sambil memegang pundak Danu.


Iwan kemudian berjalan menuju sebuah almari yang ada di ruang kerja mereka. Iwan menarik sebuah kursi yang ada di sana. Iwan kemudian memanjat kursi itu dan mengambil kamera kecil yang sudah diletakkan Iwan di sana semenjak Danu mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama.


"Apa Wan?" tanya Danu yang penasaran dengan apa yang dipegang oleh Iwan saat ini.


"Kamera" ujar Iwan menjawab pertanyaan dari Danu.


Iwan kemudian menghubungkan kamera tersebut dengan laptop miliknya. Iwan memperbesar pengeras suara. Danu dan Iwan mendengar semua yang dikatakan oleh Ranti dan melihat apa yang dilakukan Ranti dan bodyguard nya saat masuk ke dalam ruang kerja Danu.

__ADS_1


"Ini bisa kita jadikan tambahan bukti saat proses pengadilan" ujar Iwan kepada Danu.


"Makasi Wan. Gue nggak kepikiran sampai ke situ. Sedangkan elo bisa kepikiran sampe ke situ" ujar Danu dengan tulus mengucapkan terimakasih kepada Iwan.


"Ini ide Ivan. Semua alat alat ini punya Ivan. Gue cuma membantu Ivan memasang karena dia tidak ada di sini." ujar Iwan menjawab pertanyaan dari Danu.


"Bagi gue dan Ivan, perceraian elo dan Ranti adalah sebuah anugrah yang kami syukuri. Karena kami sudah lama berharap hal itu terjadi" ujar Iwan mewakili Ivan.


"Kalian berdua memang bener bener sahabat terbaik gue" ujar Danu kepada kedua sahabatnya itu.


Mereka kemudian berbincang bincang. Maket yang mereka buat telah selesai.


"Wan, besok meeting jam sepuluh kan? Loe yang temani presiden direktur ya. Gue berencana untuk pergi ke tempat Frans." ujar Danu meminta Iwan untuk menemani presiden direktur meeting.


"Oke. Besok gue yang akan pergi meeting" jawab Iwan.


"Loe fokus aja ke gugatan perceraian elo. Biar masalah meeting yang harus dihadiri bidang kita, gue yang akan wakili sampai Ivan datang kembali" lanjut Iwan yang akan selalu ada untuk ke dua sahabatnya itu.


Sedangkan di negara U, Vina yang sedang menunggui Maya, kaget saat mendengar pintu ruangan di ketuk dari luar.


Tok tok tok. Pintu ruangan Maya kembali di ketuk oleh seseorang dari luar. Vina akhirnya berjalan menuju pintu ruangan, dia membuka pintu ruang rawat Maya.


"Ivan?" ujar Vina kaget melihat Ivan yang sudah berdiri di depan pintu ruang rawat Maya.


"Gimana kabar Maya, Vin?" tanya Ivan kepada Vina.


"Itu sedang tidur" ujar Vina.


Vina dan Ivan kemudian masuk ke dalam ruang rawat Maya. Ivan kemudian duduk di tepi ranjang rumah sakit Maya. Ivan menatap ke arah Maya.


Ivan memegang kening Maya. Maya terlihat sangat lelah sekali. Ivan sangat sedih melihat keadaan Maya yang terkapar di atas ranjang.


"Sayang, aku datang, buka matanya sayang. Aku kangen melihat mata indah kamu" ujar Ivan mengajak Maya berbicara.

__ADS_1


Maya masih tertidur, dia tidak bisa melihat Maya dalam keadaan seperti sekarang ini.


"Bang Ivan, aku ke kafe dulu ya. Kasihan Rina di sana sendirian." ujar Vina yang harus membagi pikirannya antara Maya dan kafe.


"Sip Vin. Maya aku yang menjaganya. Kamu fokus saja ke kafe" ujar Ivan mengizinkan Vina untuk mengelola kafe hari ini.


Vina kemudian berjalan keluar menuju lobby rumah sakit. Pak Hans sudah menunggu Vina di lobby rumah sakit.


Vina kemudian masuk ke dalam mobil.


"Pak Hans kita ke kafe" ujar Vina memberitahukan kepada Pak Hans, kemana tujuan mereka sekarang.


"Siap Nona" jawab Pak Hans.


Pak Hans kemudian mengemudikan mobil menuju kafe. Vina hari ini akan mengelola kafe. Vina tidak mau saat Maya tidak ada, kafe tidak berjalan dengan baik, Vina harus selalu membantu Maya, selagi Vina masih bisa.


"Hay Rin, gimana keadaan kafe?" tanya Vina bertanya kepada Rina yang terlihat sibuk mengolah masakan yang dipesan oleh pengunjung kafe.


"Ramai Nona. Pengunjung silih berganti datang Nona" jawab Rina sambil menatap Vina sekilas. Rina masih melanjutkan acara memasaknya.


"Sip. Aku ke kasir dulu ya" ujar Vina yang rasanya tidak kuat untuk ikut memasak pesanan para pengunjung.


"Baik Nona. Bagian dapur serahkan kepada kami Nona. Kami pastikan semua akan berjalan dengan baik Nona" ujar Rina meyakinkan Vina kalau dia dan koki yang lain bisa mengkondisikan pemesanan para pengunjung.


"Sip" ujar Vina memberikan kedua jempolnya untuk Rina dan koki yang lain.


Vina berjalan menuju kasir. Dia akan disana menggantikan kasir.


"Hay, kamu tolong pelayan nganterin makanan gih. Biar aku aja yang jadi kasir" ujar Vina yang melihat pelayan sudah keteteran dalam melayani pembeli.


"Siap Nona" jawab kasir.


Vina kemudian menghitung berapa penghasilan berdasarkan menu pesanan yang telah diselesaikan pembayarannya. Setelah itu Vina memeriksa jumlah uang yang ada.

__ADS_1


"Pas" ujar Vina


__ADS_2