
"Wan, kadang gue mikir, ijazah lie asli dari hasil otak loe atau dari otak orang lain. Gue jadi heran sendiri" kata Danu sambil menatap ke arah jalanan yang sudah ramai tersebut.
Mobil sudah mendekati bandara yang khusus diperuntukkan untuk pesawat carteran.
"Loe nggak salah milih bandara Wan?" tanya Danu saat dirinya melihat bandara yang dituju oleh Iwan.
"Nggak memang bener ini bandaranya" jawab Iwan yang nggak paham dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh Danu.
"Loe goblok atau pa sih Wan."
"Ini jelas bandara untuk pesawat pribadi atau carteran. emang Ivan punya pesawat pribadi atau carteran?"
"Loe bikin gue kesel aja Wan"
Danu meluapkan emosinya kepada Iwan. Dia benar benar kesal dengan Iwan saat ini. Mereka harus kembali ke bandara satunya lagi untuk menjemput Ivan. Jarak lumayan jauh harus mereka lalui untuk sampai di bandara yang sebenarnya.
Iwan yang paham dengan maksud perkataan dari Danu menatap ke arah bosnya yang sudah terlihat sangat kesal itu.
"Sorry bos. Gue lupa" jawab Iwan dengan santainya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Gampang banget ngomong lupa. Mundur" kata Danu memerintahkan Iwan untuk mundur kembali menuju bandara yang satunya lagi.
Iwan yang mendengar perintah dari Danu kemudian memutar kembali mobilnya menuju bandara yang satunya lagi. Sebenarnya kalau menurut jenis pesawat yang ditumpangi oleh Ivan, Iwan dan Danu memang menjemput dirinya di bandara itu. Tetapi Ivan yang tidak ingin Danu mengetahui siapa dirinya, kemudian memilih untuk pergi ke bandara yang satunya lagi dengan memakai mobil kantor yang sudah di sediakan oleh Ayah saat Ivan mengatakan kalau dirinya akan mendarat di bandara pukul dua dini hari.
"Loe emang lah ya Wan Iwan. Sudahlah kita telat jemput Ivan, kamunya malah salah bandara lagi. Emang ngadi ngadi kamu jadi orang" ujar Danu sambil melihat ke arah Iwan.
"Gimana lagi bro. lupa gue. Masak iya orang lupa masih mau loe marahin" kata Iwan yang sangat candu dan suka melihat wajah kesal dari seorang Danu.
__ADS_1
"Ais mana ada lupa. Paling dilupa lupain" jawab Danu.
Berkah dari pembicaraan dan pertengkaran mereka yang tidak jelas itu membawa Iwan dan Danu pada tempat tujuan mereka. Mobil yang dikemudikan oleh Iwan telah sampai di bandara yang dikhususkan untuk penumpang pesawat komersil.
"Keren karena kita ribut nggak jelas, membuat kita cepat sampai di bandara. Ini bener bener keren." kata Iwan sambil tersenyum dan memancing Danu supaya berkomentar lagi.
"Yah mau gimana lagi. Akhirnya kita sampai juga berkat obrolan ringan yang nggak mutu itu" jawab Danu sambil melihat ke arah Iwan yang sudah senyum senyum nggak jelas tersebut.
"Ngapain senyum senyum. Biasa aja" kata Danu saat melihat Iwan yang senyum senyum nggak jelas saat Danu mengatakan hal tersebut.
Iwan yang sudah malas berdebat dengan Danu lebih memilih untuk langsung turun dan keluar dari dalam mobil yang dikemudikan oleh dirinya.
Danu yang melihat Iwan turun dari dalam mobil akhirnya juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Iwan. Danu akhirnya juga keluar dari dalam mobil. Mereka berdua kemudian berjalan menuju terminal kedatangan luar negeri untuk menjemput Ivan yang sudah dari tadi menunggu di sana.
"Gue yakin tu anak pasti udah tumbuh akarnya karena kelamaan menunggu kita berdua" ujar Iwan yang merasa kasihan dengan Ivan yang sudah menunggu dengan sangat lama di terminal kedatangan luar negeri.
"Maksud loe Wan?" kata Danu yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Iwan kepada dirinya.
"Ais loe emang lah ya. Kalau udah capek dan kurang tidur langsung berubah menjadi tulalit luar biasa. pusing gue sama loe"
"maaf maaf tapi gue memang tidak mengerti sama sekali. Jadi tolonglah jelaskan. Kenapa dan kok bisa gitu loh" kata Danu memohon kepada Iwan untuk menjelaskan secara keseluruhan apa yang dimaksud dengan perkataan yang dilontarkan oleh Iwan sebentar ini.
"Iyalah Danu. Ivan juga salah. Ngapain dia harus naik pesawat yang mendaratnya dini hari di negara kita. Jadinya ya kita bisa ajakan telat jemput. Jangan salahin kita aja" kata Ivan yang ntah dari mana mendapatkan ide untuk mengatakan hal seperti itu kepada dirinya.
"Bener juga loe. Kalau dia nanti ngomel ngomel kita salahin aja dia"
Danu sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini. Mereka berdua bersepakat untuk menyalahkan Ivan saat nanti Ivan mengomel ngomel nggak jelas kepada mereka berdua.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian telah sampai di depan terminal kedatangan tempat Ivan menunggu dengan beberapa orang rekan rekannya.
Iwan tadi sudah mengirim chat kepada Ivan kalau mereka berdua sudah hampir sampai di dekat Ivan. Iwan meminta siapapun yang sekarang sedang menemani Ivan diminta untuk pergi meninggalkan Ivan supaya Danu tidak curiga. Apalagi kalau Danu sempat melihat siapa yang menemani Ivan saat ini, bisa bisa Danu mati berdiri dan langsung bertanya tanya siapa Ivan yang sebenarnya.
"Woi bro lama banget kalian berdua. Nggak mikir apa gue di sini sendirian"
Ivan langsung memasang waja kesalnya saat melihat Danu dan juga Iwan yang sudah berada di dekat dirinya saat ini.
"Hay bro, ngapain loe marahin kami berdua. Elo yang salah malah main marahin kami"
Danu balas berteriak kepada Ivan karena tidak Terima diteriaki dan dimarahi oleh Ivan karena datang telat menjemput Ivan ke Bandara.
"Loh kok gue yang salah" kata Ivan yang tidak Terima disalahin dan dimarahin oleh Danu.
"Lah iyalah, elo kan yang milih mendarat malam di negara kita. Mana mendaratnya jam setengah tiga pagi lagi. Itu mah waktu yang paling bagus untuk menikmati tidur. Ibaratnya jam setengah tiga dini hari itu adalah puncak puncaknya tidur. Loe main gangguin aja" lanjut Danu mengatakan dan membela dirinya dan Iwan dengan mati matian di depan Ivan.
"jadi yang salah di sini gue gitu maksud loe berdua?" ujar Ivan yang sudah paham alur ceritanya mau di bawa kemana oleh Danu saat ini.
"Bener. Itu baru pinter namanya. Nggak bego plus oon" jawab Danu yang puas melihat raut wajah kesal yang ditampilkan oleh Ivan karena disalahkan oleh Danu.
"Jadi kalian berdua nggak ikhlas nge jemput gue ke bandara gitu?" tanya Ivan yang sengaja sekarang memutar arah arus kesalahan.
Tadi pertama arus kesalahan berada di pihak Ivan. Sekarang Ivan berusaha menaruh dan memutar kesalahannya menunjuk ke arah Danu dan Iwan.
Apakah itu akan berhasil?
Atau tetap Ivan yang disalahkan?
__ADS_1