
Vina balas mengangguk kepada Sari. Mengizinkan Sari untuk kembali ke ruangannya sendiri.
Sari keluar dari dalam ruangan Vina. Sari menuju ruangannya sendiri. Sedangkan Vina saat melihat Sari sudah keluar, masuk ke dalam ruangan pribadinya. Vina merebahkan badannya ke atas kasur empuk itu. Dalam sekejap Vina sudah terlelap dan masuk ke alam mimpinya.
Sedangkan di negara I, Danu yang tersentak terbangun dari tidurnya, menunggu balasan pesan chat dari Vina. Tapi sampai rasa kantuk Danu hilang, pesan balasan chat sama sekali tidak ada masuk ke ponsel Danu.
"Apakah dia marah?" ujar Danu berkata sendirian.
"Gue harap tidak" lanjut Danu bermonolog sendirian.
Danu sangat takut kalau Vina kembali marah. Danu baru merasakan bebannya sedikit terangkat saat Vina sudah mau mengangkat panggilan telpon dari dirinya dan membalas pesan chat dari dirinya. Makanya Danu sangat menjaga perasaan Vina. Segala hal yang Vina katakan karena kejadian yang lalu, tidak digubris dan ditanggapi oleh Danu. Danu hanya minta maaf saja sebagi jawabannya atau balasan pesan chat tersebut.
Danu merebahkan kembali badannya. Dia melihat masih jam empat pagi. Masih ada dua jam lagi untuk dia menikmati istirahatnya. Nanti jam delapan paling lambat dia sudah harus mulai memeras otak dan tenaga kembali.
"Sayang, besok kamu ikut mengantarkan Bunda ke bandarakan sama Mami?" ujar Vina dengan tetap mengusap kepala Deli yang sekarang sedang tidur di pangkuannya.
Vina, Maya dan Deli sedang duduk di ruang tamu. Malam ini adalah malam terakhir Vina berada di negara U, besok dia akan terbang ke negara I menemui Danu, seperti yang disarankan oleh Maya kepada dirinya beberapa hari yang lalu. Semua pekerjaan di perusahaan sudah diselesaikan oleh Vina, sehingga Vina sudah bisa melakukan perjalanannya ke negara I. Beban pekerjaan sudah di selesaikan, sehingga Sari hanya perlu melakukan beberapa meeting penting dengan kolega perusahaan, suatu hal yang sudah biasa dilakukan oleh Sari selama ini.
"Iya tentulah Bunda, Deli ikut mengantar bunda ke bandara, masak Deli nggak ikut, mana mungkin Bunda" ujar Deli yang tidak akan menyia nyiakan atau tidak ikut pergi ke bandara saat pelepasan Bundanya untuk kembali pulang ke negara I menemui Ayah Danu.
__ADS_1
"Bunda berapa lama di sana?" ujar Deli sambil menatap ke arah Vina.
Deli berharap Vina tidak terlalu lama di negara I. Deli akan sangat kangen dengan Vina. Sekarang Ayah dan Bundanya akan pergi meninggalkan dirinya. Biasanya saat Danu berada di ibu kota dan Deli berada di rumah nenek dan atuknya dia tidak merasakan kesepian, sekarang saat dia akan ditinggalkan oleh Vina, Deli merasa kesepian akan melanda dirinya selama Vina tidak ada di negara U.
"Dua puluh hari sayang. Kenapa?" ujar Vina sambil tersenyum ke arah Deli.
"Wow lama juga ya Bun, tapi nggak apalah, aku setuju, biar Ayah puas bertemu Bunda. Kan nanti Ayah nggak perlu lagi mimpi norak kayak hari itu" ujar Deli sambil menahan senyuman di bibirnya, saat mengingat bagaimana keadaan Danu saat tidur dan mengigau memanggil nama Vina dalam tidurnya dan juga mengatakan hal hal yang seperti Danu sedang mengobrol biasa dengan Vina.
"Ye kamu Del, tadi ngomong lama pertamanya, seperti nggak rela aja, eee terakhirnya ngomong boleh lah bun. Apa maksudnya coba" ujar Maya yang juga berada di sana di dekat Vina dan Deli duduk.
Maya langsung saja mengomentari perkataan dari Deli. Perkataan Deli yang mengandung dua makna yang bertolak belakang. Satu sisi Deli tidak ingin ditinggal lama oleh Vina sedangkan di sisi lain Deli sangat paham kalau Ayahnya pasti ingin bertemu lama dengan Vina.
"Jadi, kamu bolehin ne, Bunda kamu pergi lama ke negara I?" ujar Maya bertanya kepada Deli.
Vina tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya. Vina pasti akan mengurus Danu saat dirinya berada di negara I. Dia tidak akan membiarkan Danu tidak ada yang mengurus. Dia akan memastikan semua kebutuhan Danu akan di siapkan oleh Vina dengan sangat sangat sempurna.
"Kamu mau oleh oleh apa dari Ayah nanti saat Bunda balik ke sini lagi?" ujar Vina bertanya kepada Deli apa yang Deli inginkan dari Negara I.
"Ingin Ayah ikut ke sini?" ujar Deli dengan santainya.
__ADS_1
"Tetapi apa bisa ya Bun? Kan Ayah kerja di sana" lanjut Deli menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan oleh dirinya kepada Vina.
"Kalau permintaan kamu seperti itu, Bunda tentu harus tanyakan dulu dengan Ayah kamu sayang, apa ayah bisa ikut dengan bunda ke negara U atau tidak besok pas bunda kembali ke sini lagi" ujar Vina menjawab permintaan yang diajukan oleh Deli kepada dirinya.
"Aku berdoa aja kepada Tuhan Deli. Minta sama Tuhan supaya Ayah Danu bisa berkunjung kemari. Doa anak sholeh cepat di jabah oleh Tuhan sayang" ujar Maya memberikan saran kepada Deli.
"Bener ya Mi, baiklah Deli akan berdoa kepada Tuhan untuk meminta supaya Ayah bisa datang ke negara U bersama dengan Bunda, saat Bunda pulang liburan ke negara I" ujar Deli dengan penuh semangat akan menjalankan apa yang di sarankan oleh Maya kepada dirinya.
"Kamu beneran kangen dengan Ayah sayang?" tanya Vina kepada Deli.
Deli menatap Vina sangat lama, dia akhirnya mengangguk. Deli memang sangat kangen dan merindui ayahnya itu. Bagi Deli, Danu adalah segala galanya, Danu adalah Ayah dan juga Bunda saat Deli belum bertemu dengan Vina. Sehingga saat dia harus berpisah lama dengan Danu, hal itu membuat Deli menjadi sangat canggung.
"Jadi selama ini kamu ketawa, hanya untuk menutupi kesedihan kamu saja sayang?" ujar Vina bertanya kepada anak perempuannya itu.
Deli mengangguk.
"Deli memang sangat bahagia bisa bertemu dengan Bunda, bisa main dengan Bunda di sini. Tetapi bagaimanapun juga Deli juga sangat rindu dan kangen dengan Ayah. Ayah adalah segala galanya bagi Deli." ujar Deli sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh tersebut.
Vina dan Maya mendengar apa yang dikatakan oleh Deli. Vina dan Maya juga bisa melihat bagaimana Deli memendam rasa rindu dan kangennya kepada Danu, Ayah yang memang selalu ada untuk Deli dalam keadaan seperti apapun. Ayah yang sekaligus menjadi Bunda bagi Deli.
__ADS_1
Maya mengambil ponsel miliknya. Dia terlihat sedang mengetik di ponsel pintar tersebut. Setelah selesai dengan ponsel pintarnya, Maya memberikan ponsel pintarnya kepada Deli.
Deli membaca apa yang tertulis di layar ponsel Maya. Dia kaget melihat hal itu.