
Seminggu sudah bidang bagian Danu bekerja lembur. Lembur ini disebabkan karena ada beberapa rekan kerja yang meminta perubahan pada sketsa gedung mereka. Imbasnya ya itu, semua karyawan bagian Danu harus bersedia untuk lembur sampai malam. Lembur ini berlaku juga untuk Vina.
"Akhirnya selesai" teriak Iwan dengan sangat keras.
Iwan berteriak sambil mengeluarkan beban lemburnya yang ditanggung selama seminggu ini.
"Gimana Fan, punya loe banyak lagi?" tanya Iwan yang melihat Ifan masih menupang dagunya.
"Buntu" jawab Ifan.
Iwan mengambil alih laptop milik Ifan. Dia mengerjakan beberapa pekerjaan detail yang memang membutuhkan ketekunan. dan keseriusan.
Iwan melihat Vina yang juga sedang serius mengerjakan pekerjaannya. Target mereka hari ini adalah terakhir lembur. Besok adalah hari minggu hari untuk beristirahat.
"Yes, selesai" teriak Vina sama dengan Iwan juga berteriak untuk mengeluarkan beban berat lembur selama ini.
"Butuh bantuan?" kata Vina kepada Iwan.
"Nggak dikit lagi" jawab Iwan.
Vina masuk ke ruangan Danu, dia melihat Danu sedang menupang dagu dan terlihat sedikit kesal dan cemberut. Vina berjalan dengan melenggak lenggokkan pinggulnya.
"Hay sayang apa yang terjadi? Kenapa seperti habis makan kain lap?" tanya Vina kepada Danu yang memang berwajah aneh.
"Sayang, duduk sini" kata Danu sambil memukul pahanya.
"Mana boleh sayang, belum halal. Nanti ada yang tegang dibaliknya, susah kita" jawab Vina yang lebih memilih duduk di depan Danu.
Vina meraih tangan Danu. Dia memainkan jari jari tangan mungilnya di atas tangan Danu.
"Ada apa sayang?" ulang Vina kepada Danu.
"Harusnya malam ini kita nonton sayang. Gara gara beberapa rekan bisnis minta diubah konsep gedung mereka, kita terpaksa lembur" kata Danu dengan kesal.
"Hahahaha. Sayang, sayang. Aku kira kenapa tadi. Besok minggu kan ya. Gimana kalau kita jalan jalan ke luar kota. Aku juga jenuh sayang." ajak Vina yang memang tidak ingin menerima pesanan untuk hari besok.
"Serius? Emang nggak ada pesanan?" tanya Danu dengan wajah yang berubah menjadi lebih ceria lagi.
"Ada" jawab Vina berusaha menggoda Danu.
"Yah itu namanya pemberi harapan palsu sayang"
"Ada tapi bukan aku yang buat melainkan Maya. Makanya denger dulu jangan main serobot aja. Kebiasaan" kata Vina sambil mencubit tangan Danu dengan kerasnya.
__ADS_1
"Aw. Sayang mulai KDRT nya"
"Hahahahaha"
Mereka berdua bercerita sambil melepaskan penat penat dibadannya. Tak terasa ternyata Vina tertidur berbantalkan meja kerja Danu. Danu yang melihat geleng geleng kepala dan merasa iba kepada Vina.
"Sayang sayang, bisa bisanya tidur beralaskan kaca meja" kata Danu sambil merapikan anak rambut Vina.
Danu keluar dari ruangan kerjanya. Dia melihat Iwan dan Ifan yang masih berdiskusi.
"Siap Wan?" tanya Danu.
"Coba tengok sama loe. Ini permintaan kolega yang ribet itu" kata Iwan memperlihatkan desain yang dibuat Ifan.
"Bagus dan sempurna. Kalau dia nggak suka juga, kita terpaksa masuk keruangan presdir untuk angkat tangan. Tapi tetap perlihatkan desain ini ke presdir" kata Danu memberi semangat rekan kerjanya.
"Vina mana Dan?" tanya Iwan yang tidak melihat Vina keluar bersama Danu.
"Tidur beralaskan meja" jawab Danu.
"Hah? Bisa dia tidur kayak gitu?" tanya Ifan yang heran dengan kelakuan Vina.
"Tuh bisa" jawab Danu.
"Vin, Vin bangun sayang. Kita pulang" Danu membangunkan Vina yang asik terlelap dalam mimpinya.
"Udah selesai sayang?" tanya Vina
"Udah. Kita pulang lagi." kata Danu.
Danu dan ketiga rekannya menuju parkiran. Mereka selesai lembur tepat jam sebelas malam. Suasana kota masih terlihat sangat ramai.
"Sayang, besok berangkat jam berapa?" tanya Danu kepada Vina.
"Jam sepuluh gimana? Apa kamu udah bangun?" tanya Vina.
"Sip jam sepuluh aku sampe rumah kamu. Sayang boleh minta sesuatu?" tanya Danu sambil menatap Vina.
Vina mengangguk menyetujui.
"Kalau ada pesanan yang memang harusnya Maya ngerjain, kamu nggak boleh ikut malam ini. Kamu harus istirahat. Besok kita akan pergi merehatkan otak" kata Danu sambil meremas tangan Vina.
"Aman itu sayang. Lagian jam segini Maya juga udah tidur. Besok kami nggak buka warung sayang. Juan mengajak Maya untuk ke pantai" kata Vina.
__ADS_1
"Atau kita ajak aja mereka pergi sama kita?" goda Vina.
"Sayang" jawab Danu memelas.
"Becanda sayang. Mana mau aku. Sekalinya kita bisa keluar malahan bawa orang lain" jawab Vina.
Tak terasa mereka sampai di rumah kontrakan Vina. Vina sampai sekarang masih belum bisa mengatakan kepada Danu kalau dia mau membangun sebuah kafe.
"Ingat sampe dalam rumah, cuci muka tanpa mandi setelah itu kangsung tidur. Nggak ada pake ngobrol atau apapun. Paham sayang?" Danu kembali mengingatkan Vina.
"Paham sayangku. Muach" Vina mencium kembali pipi Danu dengan tiba tiba.
Vina setelah mengecup pipi Danu langsung memilih turun dan kabur ke dalam rumah. Dia tidak ingin Danu membalas mencium pipinya.
"Mulai lagi dia" kata Danu sambil melihat Vina masuk ke dalam rumah.
Setelah memastikan kekasihnya itu masuk ke rumah, barulah Danu mengendarai mobilnya menuju rumah miliknya. Rumah yang berasa seperti neraka itu.
Danu membuka pintu rumah, ternyata di ruang tamu Ranti sudah duduk dengan tenangnya. Dia seperti mau mengajak Danu berperang.
"Hm hebat kamu ya, mengatakan kalau aku selingkuh. Kamu ngapain? Selalu bawa perempuan itu kemanapun" kata Ranti.
"Oh, dia wanita itu baik. Tidak seperti kamu. Kamu kemana mana selalu pergi ngangkang kepada semua orang." kata Danu.
"Oh sekarang kamu nyalahin aku? Kamu juga sama bejatnya dengan aku" kata Ranti.
"Oh kamu salah. Aku nggak seperti kamu. Kamu jangan samakan aku dengan diri kamu." teriak Danu.
"Stop jangan teriak. Aku mengatakan apa yang harus aku katakan. Aku pastikan wanita itu akan menyesal." kata Ranti.
Danu menarik tangan Ranti. Dia menghempaskan Ranti ke arah kursi tamu. Danu berdiri menjulang di depan Ranti. Wajah Danu berubah menjadi merah padam. Danu masih berusaha menahan emosinya.
"Sekali saja kamu menganggu dia, aku akan siarkan secara langsung di media sosial kelakuan bejat kamu selama ini." kata Danu.
"Kamu jangan kira aku tidak menyimpan bukti. Aku simpan semuanya dengan rapi. Kamu akan menyesal kalau sempat mengganggu dia" lanjut Danu dengan nada marah dan kesal.
"Kenapa kamu begitu membela dia" teriak Ranti.
"Hay Ranti, jangan ubah posisi kamu yang menjadi dizholimi padahal selama ini kamu tidak mau tau dengan rumah tangga kita" beber Danu dengan sangat kesal.
"Sudahlah Ranti. Jangan jadikan kamu sebagai korban perselingkuhan. Padahal selama ini kamu yang bermain dibelakang ku." lanjut Danu.
"Ingat perkataan aku tadi Ranti. Jangan sekali sekali kamu berani mengganggu dia. Awas saja kamu ganggy. Maka kamu akan menyesal dengan apa yang kamu lakukan" kata Danu kepada Ranti.
__ADS_1
Danu kemudian melangkah dengan kaki lebar lebar menuju kamar tamu. Dia membanting pintu kamar dengan sangat kuat. Ranti yang semula merasa bisa di atas angin langsung terdiam. Danu sama sekali tidak bisa diserangnya. Danu sudah menyiapkan semua bukti yang bisa menjatuhkannya.