
Sari, loe makan malam di rumah aja ya. Nanti pakai aja pakaian gue. Loe belum pernahkan ya cobain masakan gue." ujar Vina sambil menatap lurus ke depan.
"Tunggu mana enak masakan loe dari pada Maya?" tanya Sari sambil menatap lurus jalanan. Sari berkonsentrasi membawa mobil sport miliknya itu.
"Loe coba aja nanti. Sekarang loe mau makan makanan negara I yang mana. Akan gue bikinkan." ujar Vina.
Sari terlihat berpikir keras. Dia sudah sangat lama tidak makan makanan negara I.
"Nggak ada rekomended dan permintaan. Berhubung gue pemakan segalanya. Maka gur menyerahkan ke elo aja." ujar Sari dengan pasrah.
"Okelah. Gue akan bikin makanan spesial untuk loe." ujar Vina.
Vina sudah menyusun menu makan malam di otaknya. Dia sudah membayangkan apa saja yang akan dimasaknya nanti.
Tak berapa lama, Sari sudah masuk ke dalam gerbang perumahan perusahaan. Sari memarkir mobilnya di depan rumah Vina. Mereka melihat masih belum ada mobil Pak Hans di parkiran.
"Sepertinya Maya sangat menikmati kegiatannya. Sampai sampai jam segini belum pulang." ujar Vina.
"Sepertinya gitu. Semoga aja pembangunan kafe berjalan cepat. Jadi Maya ada kesibukan selain harus nongkrong di rumah setiap harinya." kata Sari mengaminkan ucapan Vina.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Vina dan Sari menuju lantai dua rumah tersebut. Vina membersihkan dirinya dan memakai baju rumahan.
"Sar, mandi sana. Nanti loe pilih aja baju mana yang loe suka. Gue ke bawah dulu." ujar Vina yang telah selesai bersiap siap.
Vina kemudian keluar dari kamar. Dia menuju dapur untuk mengeksekusi menu makan malam. Sedangkan Sari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Bik Ina yang sedang berada di dapur melihat Vina sudah memakai apronnya menggeleng lemah.
'Biasanya Nona Maya yang ganggu. Sekarang Nona Vina lagi. Ampun kapan aku bisa masak dengan nyaman.' ujar Bik Ina sambil geleng geleng kepala tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bibik, kali ini aku yang masak menu makan malam ya. Aku sedang ingin membuat kejutan untuk Maya, kasian dia capek kerja seharian." ujar Vina sambil menatap Bik Ina.
"Siap Nona Vina. Silahkan. Apa ada yang bisa bibik bant" tanya Bik Ina.
"Nggak ada Bik. Bibik cukup duduk tenang aja di situ. Perhatikan aja aku masak. Atau kalau bibik mau, bibik bisa kok ngupas buah. Sepertinya buah potong kita udah habis." ujar Vina memberikan perintah kepada Bik Ina.
Bik Ina kemudian berjalan ke arah kulkas yang berada di dapur. Dia mengambil semua buah buahan yang ada untuk dikupas dan dipotong potong.
Sedangkan Vina mulai mengeluarkan semua yang dibutuhkannya untuk masakan pertama.
"Bikin puding dulu lah. Aku mau buat puding coklat vla vanila" kata Vina.
Vina dan Maya memiliki kebiasaan setelah makan malam, mereka akan memakan puding. Makanya setiap hari di rumah kontrakan mereka pasti ada puding yang berganti ganti rasa setiap harinya.
Setelah selesai memasak puding coklat, barulah Vina akan membuat menu pertama makan malam mereka yaitu ikan gurame pesmol. Vina sudah menyiapkan ikan gurame yang akan digorengnya seperti ikan terbang. Vina memarinage ikan tersebut dengan segala jenis bumbu.
Setelah itu Vina menyiapkan bumbu bumbunya. Vina melakukan dengan sangat cekatan. Bik Ina yang melihat merasa bangga dengan kedua Nona yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya di dua rumah besar.
"Selesai" ujar Vina setelah berkutat setengah jam lebih untuk memasak ikan pesmol.
"Masakan kedua. Bikin udang goreng tepung aja sama union ring." ujar Vina dengan semangat.
Vina kembali mengeluarkan semua bahan bahan yang diperlukan. Dia kembali berkutat dengan udang dan juga bawang bombay. Vina luar biasa bersemangat.
'Sayurnya capcay ajalah ya. Rasanya acar kemaren dibuat baru bisa dimakan sekarang' kata Vina sambil kembali menuju kulkas.
__ADS_1
Vina melihat acar yang dibuatnya kemaren sudah mengeluarkan rasa yang pas.
"Oke sip. Capcay tinggal lagi." lanjut Vina sambil tersenyum bangga.
Vina membuat sayur capcay favorit dirinya. Dia juga tidak lupa menggoreng kerupuk emping sebagai menu tambahan agar ada rasa kriuk kriuk saat mereka makan nanti.
Sari yang selesai bersiap siap turun ke dapur untuk melihat apa yang dimasak oleh Vina. Dia menatap tidak percaya ke arah Vina karena telah menyelesaikan dua masakannya.
"Bik Ina ini beneran Vina yang mengerjakannya sendiri?" tanya Sari tidak percaya.
"Iya Nona Sari. Nona Vina yang mengerjakannya sendirian. Saya hanya diminta untuk memotong buah buahan saja." ujar Bik Ina sambil menunjuk buah buahan yang telah selesai di potongnya.
Vina terlihat begitu asik memasak. Dia juga sempat bergoyang karena mengikuti alunan musik yang dipasang di telinganya.
"Kenapa tidak pakai musik rumah aja Vina, bik ina?" kata Sari yang penasaran Vina memakai earphone di telinganya.
"Sepertinya itu kebiasaan Nona Vina dan Nona Maya. Saya melihat Nona Maya setiap memasak pasti memakai itu. Sedangkan Nona Vina baru sekali ini masak." jawab Bik Ina
"Saya penasaran dengan masakan Vina Bik." lanjut Sari sambil menatap Vina.
"Sama Non. Apakah sama enaknya atau luar biasa enak." kata Bik Ina yang setuju dengan Sari.
"Kita coba nanti aja Bik Ina. Makanan Bik Ina dengan mereka samakan?" tanya Sari yang penasaran bagaimana cara Vina memberlakukan para pelayan di rumah itu.
"Sama Nona. Apa yang dimakan oleh Nona Vina dan Nona Maya, kami juga makan itu." ujar Bik Ina.
"Jadi sekarang kebalik? Bik Ina yang dimasakin?" tanya Sari menatap Bik Ina.
Bik Ina menekurkan kepalanya. Dia benar benar malu dengan apa yang dikatakan oleh Sari.
"Iya Nona." jawab Bik Ina.
Saat mereka asik berbincang dan Vina tetap dengan acara memasaknya. Maya dan Rina pulang dari proyek pengerjaan kafe. Mereka berdua langsung menuju meja mini bar saat melihat Sari dan Bik Ina sedang asik bercakap cakap dan melihat ke arah dapur.
"Apa yang dilihat Sar?" tanya Maya lagi dengan penasaran.
"Tu" ujar Sari sambil menunjuk ke arah apa dia melihat.
"Wow master chef masak. Wah perkara akan makan kenyang ini gue." ujar Maya sambil mengintip menu masakan apa yanh dibuat oleh Vina.
"Vin, loe mau buat gue gendut?" protes Maya saat melihat masakan apa yang dibuat oleh Vina.
"Sekali sekali juga May. Nggak bakalan gendut." jawab Vina yang memberikan sentuhan akhir pada puding coklat miliknya.
"Loe mandi sana. Bentar lagi kita makan malam. Gue mau menunaikan kewajiban dulu." kata Vina memerintah Maya untuk melakukan kewajibannya.
"Maaf ya Sar. Kamu nggak melakukan kewajiban?" tanya Vina lagi kepada Sari yang dilihatnya sangat acuh.
"Sudah lama ndak Vina. Apa Tuhan masih mau memaafkan aku?" tanya Sari lagi yang air matanya sudah menganak sungai.
"Sar, Tuhan itu maha pemaaf. Kita tidak bisa membayangkan seluas apa pintu maaf yang dibuka oleh Tuhan untuk kita. Jadi jangan sia siakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita Sar. Ambil semua kesempatan yang ada itu. Tuhan maha pemaaf kok." ujar Vina menjawab pertanyaan Sari dengan kata kata yang tidak menghakimi malahan memberikan nasehat.
"Lakukanlah sekarang dari pada terlambat. Karena dalam beribadah tidak ada kata kata terlambat. Seburuk buruknya ibadah orang di masa lalu, saat masa sekarang dia beribadah dengan taat, siapa yang tau dengan amalannya. Hanya Tuhan yang tau Sar. Jadi mari lakukan." lanjut Vina memberikan semangat.
"Makasi Vina. Gue akan melakukannya mulai sekarang. Gue janji sama Tuhan dan diri gue sendiri. Gue mau berubah menjadi manusia lebih baik lagi." kata Sari sambil memeluk Vina dengan erat.
__ADS_1
'Hay pria goblok loe udah menyianyiakan permata ini hanya karena ketakutan nggak mendasar dari dalam diri loe.' ujar Sari yang geram dengan sikap Danu.
Seluruh penghuni rumah melaksanakan ibadah mereka di kamar masing masing. Vina yang terlebih dahulu selesai berjalan menuju meja makan untuk menyiapkan makan malam bagi mereka bertiga dan juga sekaligus menyiapkan meja mini bar untuk para pelayan di rumah itu yang berjumlah empat orang. Vina sengaja tidak memisahkan makanan yang mereka makan dengan yang dimakan oleh para pelayan. Bagi Vina tanpa mereka berada di rumah maka kerjaan di luar tidak akan bisa mereka selesaikan.
Maya dan Sari turun bersamaan. Mereka langsung menuju meja makan saat melihat Viba sudah duduk di salah satu kursi. Maya dan Sari kemudian duduk di kursi kosong. Para pelayan juga sudah duduk di kursi mereka masing masing.
"Pak Hans tolong pimpin doa nya ya." ujar Vina kepada Pak Hans.
Pak Hans kemudian berdiri dari posisi duduknya. Dia memimpin pembacaan doa sebelum makan.
"Aamiin" ujar yang lain menjawab bersamaan.
"Mari makan." ujar Maya dengan penuh semangat.
Maya mengambil semua menu makanan terlebih dahulu. Setelahnya barulah Sari dan yang paling terakhir Vina.
Sari dan para pelayan yang penasaran dengan masakan yang dibuat oleh Vina langsung menyendong sambal yang ada di atas piring mereka tanpa memakai nasi. Mereka mengunyahnya dengan perlahan dan terlihat sangat menikmati.
"Vina, ino wow." ujar Sari yang tidak bisa mengatakan apa apa lagi.
"Nona Vina ini luar biasa lezat" kata Rina dari meja mini bar.
"Hahahahaha. Kalian baru tau kan ya bagaimana enaknya masakan Vina. Gue aja bisa masak enak karena Vina yang ngajarin coba. Nggak belajar sendiri." kata Maya sambil menatap Vina.
"Jadi yang ngajarin loe masak Vina?" tanya balik Sari yang masih kurang yakin.
"Yup." jawab Maya sambil menatap Sari.
"Sudah nggak usah ribut siapa yang ngajarin siapa. Sekarang yang jelas kita makan aja semua yang ada." kata Vina melerai perdebatan yang nggak berarti itu.
Mereka kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda karena omongan receh itu. Selesai semua makan malam. Vina mengajak kedua sahabatnya untuk pindah menuju kolam renang. Mereka akan mengobrol di sana.
"May, gimana dengan pembangunan kafe?" tanya Vina yang sebenarnya juga penasaran dengan pembangunan kafe milik mereka.
"Kalau mereka bekerja seperti tadi setiap hari, gue yakin bulan depan kita udah bisa mulai beroperasi." jawab Maya.
"Jadi mereka kerja tidak pakai sitirahat?" tanya Sari.
"Pakelah. Cuma mandornya keren. Dia memberi istirahat tidak bersamaan. Jadi pekerjaan tidak berhenti. Lanjut terus." jawab Maya.
Mereka kemudian melanjutkan cerita ke berbagai hal. Mereka bertiga terlihat tertawa menikmati obrolan receh penghangat malam hari.
"Oh ya Vin. Loe nggak minat buka ponsel lama loe?" tanya Maya tanpa ampun kepada Vina.
"Minat tapi nggak sekarang. Malam minggu aja. Kalau sekarng takut ngerusak mood gue dianya." jawab Vina sambil tersenyum.
"Ye lah. Awas kalau malam minggu batal lagi." ujar Maya menatap Vina.
Vina mengagguk. Dia memang sudah berniat malam minggu akan mengaktifkan ponsel miliknya yang sudah lama tidak aktif itu.
Mereka kembali melanjutkan obrolan receh. Sekali sekali ditimpali dengan selingan tawa yang membuat mereka sakit perut.
"Udah malam. Besok loe berdua harus ke kantor. Kita istirahat aja lagi. Gue juga luar biasa letih." ujar Maya yang sudah merasakan capek capek di badannya.
Mereka bertiga masuk ke dalam kamar masing masing. Mereka akan beristirahat dan menikmati istirahat malam. Mereka bertiga cukup lelah hari ini.
__ADS_1