
Danu mengambil ponsel miliknya yang sedang di cas di nakas itu. Dia menatap lama ke arah ponselnya.
"Emang dia belum tidur udah jam segini?" tanya Danu berkata sendirian saat melihat jam sudah menunjukkan angka berapa.
"Kirim pesan chat ajalah biar gampang" ujar Danu yang akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan chat saja kepada Vina yang sudah bisa dipastikan oleh Danu sedang tertidur lelap itu.
Dia kemudian mengetik sebuah pesan kepada Vina.
'Sayang, besok aku telpon ya. Aku istirahat dulu. Aku akan tidur di dekat Deli' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Danu kepada Vina.
Vina sama sekali tidak mendengar bunyi pesan chat yang masuk. Vina sudah tertidur lelap. Dia besok akan meeting dengan salah satu perusahaan yang akan melakukan kerja sama dengan perusahaan CT Grub.
Pagi harinya Vina terbangun dalam keadaan segar. Dia melihat jam dinding kamar yang menunjukkan angka enam pagi. Vina kemudian mengambil handuk miliknya, dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Vina mandi sambil bernyanyi nyanyi kecil. Suatu hal yang sudah sangat lama tidak pernah lagi dilakukan oleh Vina. Kali ini suasana hati Vina yang sudah lapang dan tenang, membuat dia ingin selalu bernyanyi dengan bahagianya. Vina sangat bersemangat hari ini untuk memulai aktivitas nya kembali.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Vina mengambil pakaian yang akan dipakai oleh dirinya. Vina menatap lama kedalam almarinya. Dia pusing ingin memakai pakaian yang mana. Padahal apapun pakaian yang dipakai oleh Vina, akan tetap membuat Vina terlihat sangat cantik. karena pada dasarnya Vina memang sudah cantik juga
"Pakai yang mana ya?" ujar Vina sambil menatap isi almari nya yang begitu banyak pakaian pakaian yang bisa dipilih sesuai keinginannya. Vina menatap bingung ke pakaian itu.
Vina mengambil salah satu pakaian yang tergantung. Vina mengambil midi dress berwarna pink dan bercorak bunga bunga yang kecil kecil. Vina meletakkan pakaian itu ke tubuh depannya, dia melihat ke cermin.
"Oh tidak, kayak taman bunga" ujar Vina yang membatalkan memakai pakaian yang diambilnya tadi.
Vina kemudian kembali memilih pakaian untuk dipakainya hari ini. Vina menatap satu persatu pakaian yang akan dipakainya itu. Setiap dia mengambil satu ada saja kesalahan yang dirasa oleh Vina, yang pada akhirnya membuat Vina harus memilih lagi yang baru.
"Is ngapain gue kayak orang bego gini. Danu kan tidak sekantor dengan gue. Gile bener gue bisa memilih segini banyak pakaian" ujar Vina saat melihat pakaian yang begitu banyak di atas kasurnya.
Vina melihat ke almari pakaiannya. Lebih dari setengah pakaian yang berada di dalam kamar mandi sudah berpindah ke atas kasur.
"Huft jadi capek gue gara gara ini" ujar Vina dengan kesal menatap pakaian nya yang di atas kasur.
Akhirnya Vina memutuskan untuk memakai stelan kantor seperti biasa. Dia membatalkan niatnya untuk memakai midi dress seperti yang dibayangkan Vina di dalam kamar mandi tadi.
Setelah memakai pakaiannya, Vina berdiri di depan cermin, dia akan memoles sedikit wajahnya dengan make-up standar yang dimilikinya. Vina sibuk dengan merias wajah dan menata rambutnya. Vina sekarang benar benar memerhatikan penampilannya.
Setelah yakin dengan riasan wajahnya, Vina kemudian mengambil jam tangan dan juga sepatu yang sesuai dengan warna pakaiannya yang berwarna biru soft itu.
Vina sekali lagi menatap ke arah cermin. Dia tidak mau penampilannya hari ini tidak memuaskan, dia akan meeting di luar. Sekalian nanti dia juga akan video call dengan Deli.
Setelah yakin dengan penampilannya, Vina kemudian keluar dari kamar. Dia melihat lampu kamar Maya sudah mati.
"Hem sepertinya Maya sudah pergi lagi ke pasar pagi" ujar Vina sambil turun ke lantai bawah rumahnya untuk menikmati sarapan yang udah dimasak bik Ina.
Vina sampai di lantai satu rumahnya. Dia melihat bik Ina yang sedang menyapu lantai ruang tamu. Sedangkan Pak Hans terlihat baru selesai mengambil sarapan di dapur.
"Bik Ina, nampak Maya?" tanya Vina dengan nada biasa saja. Tidak ada lagi nada kesedihan seperti kemaren pagi.
"Nona Maya dia pergi ke pasar pagi dengan Tuan Ivan dan Rina, Nona Vina" Ujar bik Ina menjawab pertanyaan dari Vina.
"Terus tadi, nona Maya juga berpesan kepada saya, untuk meminta Nona sarapan dengan sangat lahap. Tidak mendiskon jumlah nasi yang akan dimakan" ujar Bik Ina menyampaikan pesan dari Maya untuk Vina.
"Oke bik Ina, hari ini saya tidak akan diskon makan karena saya harus meeting di luar. Tapi kalau Sari bisa pergi sendiri maka saya tidak jadi pergi" Ujar Vina yang sangat berharap Sari bisa pergi sendiri. Jadi, dia kembali bisa menemani Danu sepanjang perjalanan menuju ibu kota.
"Danu kan masih ada hutang sama aku" ujar Vina sambil mengambil sarapan nasi goreng kampung yang dibuat oleh bik Ina yang terkenal sangat lezat itu.
__ADS_1
Vina menyantap nasi goreng itu dengan lahap. Vina tahu kalau hubungannya dengan Danu kembali membaik, maka dia membutuhkan energi yang sangat banyak untuk melakukan sambungan telpon. Vina tidak lagi menolak untuk sarapan, apalagi seperti hari kemaren yang memang hanya sedikit Vina sarapan.
Selesai sarapan Vina mengambil tas kerjanya. Dia kemudian berjalan keluar dari rumah. Pak. Hans yang melihat Vina sudah berada di depan pintu membetulkan sepatunya, langsung membukakan pintu mobil untuk Vina.
"bik ina bisa aku minta tolong sesuatu?" tanya Vina kepada bik ina yang terlihat masih belum mengantuk itu.
"Apa Nona. saya akan bantu Nona" ujar bik ina yang ternyata baru selesai menukar air cuci pakaiannya.
"Nanti tolong satu ya untuk menyusun kembali pakaian aku yang bertebaran di atas kasur Bik. Apa bibik bisa membantu saya menyusun pakaian itu kembali ke dalam lamari?" tanya Vina kepada Bik ina.
"Siaap Nona akan saya kerjakan." ujar bik ina kepada Deli.
"Bik Ina, aku berangkat dulu ya. Hati hati di rumah" ujar Vina berpesan kepada Bik Ina. Pesan yang sama setiap harinya.
Pak Hans melajukan mobilnya menuju perusahaan dengan kecepatan sedang. Pak Hans tidak mau terjadi apa apa di jalan. Tak memerlukan waktu yang lama, mobil sudah berhenti di depan lobby perusahaan.
Pak Hans membukakan pintu mobil untuk Vina. Vina kemudian keluar dari dalam mobil. Dia lansung mengambil kehadirannya di mesin yang sudah disediakan oleh pihak perusahaan. Setelah mengambil kehadirannya, Vina langsung masuk kedalam lift yang dikhususkan untuk petinggi perusahaan itu.
Vina akhirnya telah sampai di lantai dimana ruangannya ada. Vina kemudian keluar dari lift langsung melihat ke ruangan Sari. Tapi tidak ada tanda tanda Sari sudah datang.
Vina kemudian kembali keruangannya. Dia harus membaca dokumen yang akan dibawa meeting hari ini. Pas saat Vina sedang serius membaca dokumen kerjasama, terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Masuk" ujar Vina yang sama sekali tidak ada gambaran siapa yang akan datang keruangannya sepagi ini.
"Hay, ujar Sari menyapa Vina dari depan pintu ruangan Vina.
" Ngapain loe di situ. Sini masuk" ujar Vina mengajak Sari untuk masuk ke dalam ruangan Vina.
Sari kemudian masuk ke dalam ruangan Vina. Sari melihat dokumen yang sedang dibaca oleh Vina. Dokumen yang pada akhirnya memang akan dipakai untuk meeting hari ini.
"Serius loe mau ke sana sendirian?" Tanya Vina memastikan bahwa yang dikatakan oleh Sari adalah benar adanya.
"Yup. Kebetulan dia adalah sahabat lama gue, jadi gue berencana untuk temu kangen dengan dia terlebih dahulu, barulah gue akan melanjutkan dengan meeting" ujar Sari menjelaskan kepada Vina kenapa Sari ingin mengikuti meeting itu sendiri saja, tanpa ada Vina di sana.
"Oke gue setuju aja. Biar gue yang jaga gawang ya" ujar Vina yang akhirnya keinginannya terkabul juga.
Padahal sebelumnya Vina yang akan mengatakan kepada Sari untuk Sari saja yang pergi meeting. Vina tidak bisa karena kurang sehat. Tetapi akhirnya Sari jugalah yang minta untuk dia saya yang pergi meeting.
Sari kemudian pergi kembali menuju ruangannya. keinginannya untuk pergi sendirian dikabulkan oleh Vina. Sari sangat bahagia mendengarnya, dia memang sudah sangat lama tidak bertemu dengan sahabatnya yang kali ini akan menjadi rekan bisnis Sari ke depannya.
Vina kemudian membaca beberapa laporan yang baru masuk. dia terlihat sangat serius dalam bekerja. Vina tidak ada menghiraukan apa pun saat di bekerja seperti ini. Vina menatap jam dindingnya.
"gimana dia mau ngirim pesan chat. sinyal aja ****" ujar Vina melihat sinyal di ponselnya jauh dari kata bagus.
Sedangkan di negara I, Danu sudah bangun terlebih dahulu sebelum Deli bangun dari tidurnya. Danu kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang kemaren tidak sempat dia bersihkan karena sudah keburu ngantuk dan badannya yang juga sangat letih habis menyetir mobil sejauh iru.
Selesai mandi, Danu memakai pakaian yang sudah disiapkannya dari semalam. Pakaian kerja dengan rincian, kemeja warna putih, sedangkan jas dan celana warna coklat muda. Ntah kenapa Danu menginginkan pakaian itu saat ini.
Danu melihat Deli yang sudah bangun dan sudah duduk dengan menyandarkan badannya ke kepala ranjang.
" hay anak gadis Ayah. Kamu sakit apa nak?" tanya Danu kepada Deli anak kesayangannya walaupun bukan anak kandungnya itu.
"Demam aja Ayah. nenek aja yang lebay sampai harus memanggil Ayah pulang ke sini" uajr Deli sambil menatap ayahnya itu.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha, emang kamu tidak senang sayang, kalau Ayah datang ke sini?" tanya Danu kepada Deli.
__ADS_1
"Oh ya Del. Hampir aja Ayah lupa. Deli masih ingin bertatap muka dan berbicara dengan Bunda Kue?" tanya Danu kepada anak satu satunya itu.
"Emang Bunda Kue udah bisa Ayah yang menghubunginya?" tanya Deli yang sampai sekarang masih tidak tau kalau Ayahnya sudah baikan dengan Bunda kue.
"Udah. Deli mau ngobrol tidak dengan Bunda kue?" tanya Danu kepada Deli
"Kalau Bunda kue mau, Deli juga mau Ayah" ujar Deli menjawab pertanyaan ayahnya.
"Oh sip. kalau gitu, Ayah akan melakukan panggilan video dulu dengan Bunda kue ya" ujar Danu sambil mengambil ponselnya yang sudah di cas itu.
Danu mencari nomor ponsel Vina. dia kemudian melakukan panggilan video dengan Vina. Vina yang memang sudah menunggu panggilan telepon itu dari tadi, langsung mengangkat panggilan itu. dia melihat Danu memenuhi layar ponsel milik Vina.
"Mana Deli nya sayang?" tanya Vina kepada Danu yang terlihat sudah sangat tampan itu.
"eh sayang, tunggu bentar. itu baju warnanya apa ya?" tanya Vina yang sangat tidak suka melihat warna baju Danu
"Putih kemeja. Coklat jas dan celana. emang kenapa sayang?" tanya Danu yang tidak mengerti kenapa Vina menanyakan warna bajunya.
"nggak ada. aku baru sekali ini melihat orang pakai kemeja putih dan jas serta celana warna coklat" ujar Vina yang memang tidak suka warna coklat.
"nanti aku tukar ya. oh ya, apa kamu masih mau ngobrol dengan Deli?" tanya Danu kepada Vina.
Danu menikmati wajah cantik kekasihnya itu. Vina bagi Danu ibarat air di tengah gurun pasir yang terbentang luas itu.
Maulah mana Deli dia?" tanya Vina yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak satu satunya Danu itu.
"Sayang ini Bunda kue" ujar Danu memberika ponsel miliknya kepada Deli yang memang sudah menunggu Danu memberikan ponselnya kepada Deli.
Deli mengambil ponsel yang sudah diberikan oleh Ayahnya itu. Deli melihat Vina yang jauh di ujung negara sana.
"Hay Bunda kue. Deli kangen Bunda kue walaupun ini adalah pertemuan pertama kita kan ya" ujar Deli menyapa Vina dengan panggilan kesayangan dari Deli untuk Vina.
"Hay deli sayang. kata ayah, kamu sakit sayang. apa benar seperti itu?" tanya Vina kepada Deli yang serius menyimak apa yang dikatakan eh Vina.
"iya bunda, aku sedang sakit. tapi hanya demam saja sih. nenek sama atuk saja yang rasa takutnya berkelabihan. sampai sampai harus menghubungi ayah. sehingga membuat ayah harus mengemudikan mobil sejauh ini. padahal ayah masih kerja belum akhi minggu" uang Deli mencurahkan semua isi hatinya kepada Vina.
"apa sekarang sudah minum obat?" tanya Vina mengingatkan Deli untuk minum obatnya sebelum mereka melanjutkan pembicaraan nggak mutu sama sekali itu.
"sudah bunda. tadi Deli minum obatnya sama nenek." ujar Deli mengatakan kepada Vina kalau dia sudah meminum obatnya hari ini.
"oh ya bunda, kok bunda pindah sih. bunda marah dengan ayah Deli ya?" tanya Deli selanjutnya. Deli menatap lekat wajah Vina. Wajah seorang ibu yang memiliki rasa keibuan. bukan seorang ibu yang hanya memiliki rasa keibuan ke anak kandungnya saja.
"Iya sayang. bunda pertamanya memang marah sekali dengan ayah Deli. tapi setelah bunda mendengarkan cerita dari ayah Deli langsung, bunda baru paham ternyata ayah sama sekali tidak bersalah" ujar Vina kepada Deli yang memang terlihat sangat menyimak apa yang diberikan oleh Vina.
"Bidan, boleh Deli cerita sesuatu kepada Bunda?" tanya Deli menatap kearah Vina.
"apa yang mau kamu ceritakan kepada bunda nak?" tanya Vina yang sudah tidak berat lagi memakai kata ganti bunda saat dia berbicara dengan Deli.
"Jadi begini Bunda" ujar Deli memulai awal ceritanya kepada Vina.
Deli menatap tajam kearah Vina. Deli memang ingin meredamkan isi otaknya yang sudah sangat kusut maksut itu. anak seusia Deli masih belum bisa menerima kedua orang tuanya ribut terus dan akan bercerai. Tapi Deli sudah menyarankan kepada kedua orang tuanya itu untuk bercerai saja. supaya tidak ada lagi yang akan tersakiti atau merasa tersakiti bahkan terzholimi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
apakah cerita yang akan diceritakan kepada Vina oleh Deli???????
__ADS_1
Stay cun ya kakak. Singgah juga di novel ku yang lain. Ketik saja SUCIATI FDA TRIA**