
"Oke. Danu, aku istirahat dulu ya. Capek banget" ujar Vina yang sudah merasakan kantuk dimatanya.
"Iya.Hati hati di sana ya" ujar Danu berpesan supaya Vina berhati hati di negara orang.
"Oke. Aku akan selalu hati hati. Kamu juga hati hati di sana, jangan macem macem" Kata Vina yang sudah berani memberikan peringatan kepada Danu.
" ya mulai posesif" ujar Danu menggoda Vina.
"Bukan posesif tetapi ya itulah. Udah ah ngantuk ini" ujar Vina yang nggak mau Danu selalu menggodanya kembali.
Vina kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Danu. Vina kemudian tidur sedangkan Danu kembali membaca dokumen dokumen kerjasama dengan perusahaan lain.
Vina mengirimkan semua pesan chat yang berupa fhoto dan video itu kepada Danu. Danu membuka semua pesan yang dikirim oleh Vina. Danu ternganga melihat semuanya. Dia tidak menyangka Ranti akan berbuat sekotor itu. Perbuatan yang tidak hanya merugikan Vina tetapi juga Danu.
"Oke Ranti, kamu ingin berman dengan aku, maka akan aku jabanin. Mari kita bermain" ujar Danu sambil menatap tajam wajah Ranti.
Danu kemudian mengambil ponsel miliknya, dia kembali mengontak nomor ponsel Ivan. Danu menunggu sampai panggilannua diangkat oleh Ivan.
Ivan yang baru saja tertidur sama sekali tidak mendengar panggilan ponsel dari Danu. Ivan membiarkan saja panggilan dari Danu.
"Ini anak beneran lah ya" ujar Danu
Danu kemudian memutuskan untuk mengirim pesan chat saja kepada Ivan.
'Van, saat loe udah senggang tolong telpon gue penting' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Danu kepada Ivan.
"Paman iya pula, jelas kerjaan banyak, dia pake cuti seminggu. Kenapa semua orang cuti. Mereka akan menerima ganjarannya saat pulang nanti" ujar Danu mengomel sendirian sambil membaca kembali dokumen dokumen tersebut.
Danu kembali serius membaca dokumen dokumen miliknya. Besok masih ada tiga meeting lagi yang harus dilakukan oleh dirinya sendirian.
"Jam berapa ya?" ujar Maya sambil mengambil ponselnya yang di charge di nakas samping tempat tidur.
"Uwow udah jam empat. Gue cuci muka dululah. Nggak kuat mandi" kata Maya sambil mengambil handuk kecil miliknya.
Maya masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan juga membasuh wajahnya yang terlihat masih mengantuk itu. Tetapi, bahan bahan yang sudah habis di kafe harus segera di beli. Maya tidak ingin, saat pengunjung memesan salah satu menu di kafe, pelayan mengatakan habis. Makanya walaupun dia mengantuk, dia harus melawan rasa kantuknya itu.
"Ivan udah bangun atau belum ya?" ujar Maya meraih ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Ivan.
Ivan yang sedang berkendara menuju rumah Maya mengangkat panggilan itu.
"Hallo sayang, jangan cemas, aku udah dijalan mau ke rumah kamu. Bentar lagi sampe. Tapi siapin teh hijau tolong ya. Aku belum minum sama sekali" ujar Ivan yang meminta Maya menyiapkan air minum untuk dirinya.
Ivan memang belum sempat minum di mansion. Dia terlambat bangun karena salah menyetel jam alarm. Ivan yang bangun langsung membasuh wajahnya dan langsung berlari ke garasi mengambil mobil. Sekarang aja dia menginjam pedal gas cukup dalam, untung saja jalan sedang tidak ramai sama sekali.
"Oke sayang, aku akan siapkan" jawab Maya.
Maya keluar dari kamarnya. Dia melihat lampu kamar Vina masih mati. Maya turun ke lantai satu rumah mereka. Dia melihat Rina sudah siap untuk ikut kepasar tradisional membantu Maya berbelanja.
Sedangkan Bik Ina, sudah mempersiapkan bahan bahan yang akan di masaknya untuk sarapan nanti.
"Nona Maya nanti sarapan di rumah atau di kafe?" tanya Bik Ina sambil melihat ke arah Maya yang sudah rapi dan siap untuk melakukan aktifitas paginya.
"Kafe aja Bik. Nggak mungkin pulang dari pasar aku ke rumah lagi. Aku dan Rina langsung ke kafe dari pasar" jawab Maya sambil mengambil bahan bahan untuk membuat teh hijau.
__ADS_1
Maya membuat tiga gelas teh hijau, satu untuk dirinya, satu lagi untuk Ivan dan satu lagi untuk Juan yang mengantarkan Ivan ke rumah. Selain membuat dia cangkir teh hijau, Maya juga menyiapkan roti untuk dirinya dan Ivan.
Maya meletakkan semua yang telah selesai dibuatnya itu di atas meja makan. Maya duduk di salah satu kursi sambil menunggu kedatangan Ivan yang katanya sudah berada di jalan depan mau masuk ke komplek tempat Maya tinggal.
Tidak menunggu lama, terdengar dari depan pintu masuk rumah yang diketuk oleh seseorang. Rina berjalan menuju pintu rumah, dia membuka pintu itu dan melihat Ivan berdiri di sana.
Rina menundukkan kepalanya, menyapa Ivan yang sebenarnya adalah Tuan Muda keluarga Sanjaya itu. Ivan membalas anggukan Rina, dia kemudian masuk ke dalam rumah.
"Loh sayang, mana Juannya?" tanya Maya saat melihat tidak ada Juan di dekat Ivan.
"Juan masih tidur sayang. Aku pergi ke sini bermodalkan google map. Juan tadi sudah memberikan alamat kamu. Jadi, ya aku memanfaatkan teknologi yang ada aja." jawab Ivan yang sangat jelas berbohong itu
"Oh gitu. Ya udah sini duduk. Ini teh hijau hangatnya sama roti bakar" ujar Maya sambil memberikan secangkir teh hijau dan piring kecil yang sudah berisi roti bakar untuk Ivan.
"Makasi sayang" jawab Ivan.
Ivan menyeruput teh hijaunya, dia kemudian mencelupkan roti bakar ke dalam teh hijau miliknya. Ivan dan Maya memakan sarapan sederhana mereka. Mereka makan dengan cepat. Maya tidak mau lama lama sarapan, karena dia tidak mau untuk tidak mendapatkan bahan bahan yang dibutuhkannya dan sudah dicatat oleh Rina.
"Ayuk sayang jalan. Nanti aku nggak dapat yang aku butuhkan sayang" ujar Maya yang telah menghabiskan teh dan juga roti bakarnya.
Ivan kemudian menghabiskan dalam sekali teguk teh yang sudah menjadi hangat itu. Dia mengambil roti bakarnya dan memakan sambil berjalan meninggalkan meja makan. Dia nggak mau Maya keluar tanduknya dan memarahi dia.
Pak Hans dan Bik Ina yang melihat kelakuan Tuan Muda mereka itu hanya bisa geleng geleng kepala saja.
"Hanya Nona Maya yang bisa membuat Tuan Muda makan sarapan dalam waktu kurang dari lima menit" ujar Pak Hans menatap Tuan Muda mereka.
"Satu lagi Pak. Hanya Nona Maya yang bisa membuat Tuan Muda kita itu makan roti sambil jalan" lanjut Bik Ina menambahkan kelakuan terbari dari Tuan Muda mereka itu.
"Sayang, kamu kayak yang tau aja dimana letak pasar pagi" ujar Maya yang menegur Ivan.
"Kok?" tanya Ivan kaget. Ivan memang tau dan sangat hafal dimana letak pasar pagi.
Waktu Bunda masih hidup, Ivan dan Sari sangat sering diajak Bunda ke pasar pagi untuk membeli bahan masakan. Sepulang dari pasar mereka akan masak bersama sama.
"Aktifkan mapnya sayang, nanti kita nyasar" ujar Maya yang mengingatkan Ivan untuk mengaktifkan map mobilnya.
Ivan mengikuti apa kemauan Maya. Dia tidak mau Maya curiga kalau Ivan sangat hafal daerah daerah di negara ini. Sempat Maya curiga maka akan berabe jadinya.
Setelah dua puluh menit berkendara dengan kecepatan normal, mereka telah masuk ke dalam pasar pagi. Sebuah pasar yang terlihat tidak seperti pasar di negara asal Maya, melainkan seperti sebuah mall.
"Wow, ini pasar sayang?" ujar Ivan pura pura kaget saat melihat pasar tradisional yang dikatakan oleh Maya.
Rina pengen tertawa melihat ekspresi dari Tuan mudanya itu.
"Kalau mau tertawa, tertawa aja Rin, nggak usah ditahan, nanti rambut kamu berdiri berisik" ujar Ivan kepada Rina.
"Hahahahahahaha, Tuan Ivan aneh. Ekspresinya tidak tahan saat mengatakan ini pasar tradisional" ujar Rina yang akhirnya tertawa ngakak saat sudah dapat izin untuk tertawa dari Ivan.
Rina sangat senang saat boleh tertawa oleh Ivan. Kalau tidak Rina pasti sangat susah mengendalikan keinginannya untuk tertawa. Ivan dan Maya hanya tersenyum melihat kebahagiaan sederhana dari Rina itu.
"Rina, Rina, kamu sebegitu bahagianya diizinkan tertawa oleh Ivan. Aneh kamu. Saya aja nggak perlu izin dia dulu untuk bisa ngetawain dia" ujar Maya keheranan dengan sikap Rina yang menurut Maya agak berlebihan karena tertawa ngakak saat diperbolehkan oleh Ivan.
"Sudah kita masuk saja. Belanja, karena sebentar lagi hari akan pagi. Kafe jam berapa buka?" tanya Ivan kepada Maya.
__ADS_1
"Jam sepuluh" jawab Maya yang memang memutuskan kafe buka mulai pukul sepuluh.
Maya sengaja tidak membuka kafe dari pagi, karena dia harus menyiapkan semua bahan bahannya terlebih dahulu. Apalagi untuk segala jenis bumbu halus, itu memang dari bumbu bulat dihaluskan dengan mesin. Semua dilakukan oleh Maya seorang.
Mereka bertiga kemudian berbelanja di pasar tradisional itu. Maya membeli berbagai jenis sayuran yang diprediksi sudah habis. Selain itu Maya juga membeli berbagai jenis seafood dann juga bumbu bumbu yang sudah mulai menipis.
Mereka berbelanja di pasar lebih kurang selama dua jam. Ketiga tangan mereka sampai tidak bisa lagi untuk membawa kantong kantong belanjaan.
"Sudah atau masih ada lagi sayang?" tanya Ivan yang sudah keberatan membawa semua kantong kresek hasil belanjaan Maya itu.
"Masih sayang, kamu ke mobil aja dulu. Biar aku sama Rina yang mencarinya" ujar Maya yang sama sekali belum membeli buah dan bahan bahan untuk minuman coklat dan cocktail.
"Nggak, aku ikut ke dalam. Kita tarok ini di mobil dulu, setelah itu baru kita ke dalam lagi" ujar Ivan yang nggak mau Maya berjalan ke dalam pasar hanya berdua dengan Rina saja.
Mereka kemudian meletakkan hasil belanjaan Maya dan Rina ke bagasi mobil. Setelah itu. Maya, Ivan dan Rina kembali masuk ke dalam pasar. Mereka akan mencari keperluan yang lainnya, keperluan yang menurut Maya dan Rina sangat perlu sekali.
Maya dan Rina kembali membeli beberapa barang kebutuhan kafe. Ivan hanya melihat saja, dia sama sekali tidak melarang apa yang mau dibeli oleh Maya. Apapun itu, terpenting bagi Ivan, semua yang dibeli oleh Maya dan Rina sesuatu yang penting dan memang diperlukan oleh kafe.
Setelah berbelanja ronde kedua itu yang hanya sebentar, mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil.
"Langsung ke kafe atau bagaimana Sayang?" tanya Ivan yang berharap, Maya menjawab ke kafe langsung.
"Hem langsung ke kafe aja sayang" jawab Maya sambil mengambil dokumen yang sudah ditanda tangani oleh Felix.
Mobil melaju ke kafe dengan kecepatan di atas rata rata. Ivan langsung menguji batas kemampuan dari otak masing masing.
Tak terasa mereka telah sampai di kafe. Para pelayan pria yang sedang beberes beres melihat siapa yang datang, langsung menuju tempat parkir. Para pelayan laki laki, sudah diberikan gaji dan lain lainnya.
Mereka semua masuk ke dalam kafe. Tiba tiba saja rasa kantuk Ivan muncul.
"Sayang tidur di ruang aku saja" ujar Maya meminta untuk Ivan tidur di ruang kerjanya
"Oke sayang, aku akan ke sana dulu. Kamu hati hati kerjanya ya" balas Ivan sambil menatap Maya yang mulai sibuk menyiapkan semua bumbu bumbu yang kurang.
Ivan masuk ke ruangan Maya yang terletak di lantai paling atas dari bangunan Bramantya Grub. Maya dan Rina mulai membersihkan seafood mereka. Sedangkan para pelayan pria, sedang meletakkan dan menata meja dan kursi, serta menyusun kembali buku buku yang serba mahal.
Vina telah selesai mandi dan sudah memakai pakaian kantor. Dia keluar dari kamarnya menuju lantai satu rumah.
"Bik Ina, apa Nona Maya jadi ke pasar subuh subuh?" tanya Vina kepada Bik Ina yang terlihat sedang sibuk itu.
"Jadi Nona, subuh subuh Nona Maya dan Rina sudah pergi membeli kebutuhan tambahan untuk kafe kita" ujar Bik Ina menjawab perkataan dari Ivan.
Vina melanjutkan sarapannya. Dia kemudian juga pergi ke kantor, di sana yang terlihat dicky, hakim, tu baruan lokal.
"Bik, aku kantor dulu ya" ujar Vina sambil berjalan keluar dari rumah.
Pak Hans sudah membukakan pintu mobil untuk Vina. Vina masuk di kursi belakang. Pak Hans kemudian melajukan mobil menuju perusahaan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bagaimanakah reaksi yang diberikan oleh Vina, saat Danu menceritakan tentang Deli???
Tetap di sini ya kakak.
__ADS_1