Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Keributan Tak Berarti 3 Pria Tampan


__ADS_3

"Van, jam berapa kita bertiga bisa ke tempat Frans?" tanya Danu kepada Ivan.


"Terserah loe aja Bang mau jam berapa gue mah ayuk aja"


Ivan menjawab sambil memakai sepatu ketsnya untuk digunakan ke perusahaan. Ivan dan Iwan memang sangat jarang memakai sepatu pantofel seperti yang digunakan oleh Danu ke perusahaan. Mereka berdua lebih nyaman bekerja memakai sepatu kets, ntah apa yang terjadi dengan sepatu pantofel, hanya Ivan dan Iwan saja yang mengetahui alasan pastinya kenapa mereka berdua lebih nyaman dengan pilihan sepatu yang itu dari pada yang lainnya..


Mereka hari ini akan berangkat kerja dari rumah Iwan, karena sehabis dari bandara menjemput kedatangan Ivan dari negara U mereka tidak kembali ke rumah masing masing, tetapi langsung menuju rumah Iwan, karena rumah Iwan lah yang paling dekat dengan bandara. Keadaan mereka pada saat itu tidak memungkinkan untuk mereka menuju rumah masing masing, masih memungkinkan untuk mereka menuju rumah Iwan.


"Gue coba hubungi Frans dulu jam berapa dia bisa baru kita berangkat" kata Danu sambil mengambil tas ransel miliknya. Danu telah selesai bersiap siap, dia memang yang paling dahulu terus kalau urusan bersiap siap, sedangkan yang paling terakhir siapa lagi kalau bukan Ivan, si pria yang selalu ingin terlihat tampan di mata semua wanita yang memandang dirinya. Sebenarnya walaupun Ivan tidak serius dalam bergaya, dia juga akan terlihat sangat tampan, karena memang pada dasarnya Ivan adalah sesosok pria yang memang sudah sangat tampan. Istilah orang zaman sekarang, pondasi Ivan sudah sangat pas dan mantap, jadi mau dibangun seperti apapun akan tetap mantap.


"Kok nggak ada yang tanya gue ya, gue maunya jam berapa pergi"


Iwan yang dari tadi ada di sana tapi di anggurin hanya bisa komplen karena dirinya sama sekali tidak di ajak berdiskusi oleh Danu dan Ivan menentukan jam berapa mereka akan datang ke kantor Frans untuk membahas bukti bukti yang dimiliki oleh Ivan.


"Ngapain nanyak elo bang, cuma buang buang energi aja. Elo akan tetap ikut dengan kami jam berapapun itu"


Ivan yang menjawab komplenan yang dilakukan oleh Iwan. Bagaimanapun mau jam berapapun, Iwan akan ikut dengan mereka berdua, jadi pendapat Iwan memang sengaja tidak diminta oleh Danu dan Ivan.


"Ye lah" jawab Iwan sambil mengambil tas ranselnya.


"Elo mau kami tinggal?" ujar Iwan saat melihat Ivan masih di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang sebenarnya telah rapi tetapi sengaja disisir kembali oleh Ivan.

__ADS_1


"Ya Allah, kenapa aku harus se tim dengan mereka berdua. Mereka selalu menzholimi hamba mu ini ya Allah" ujar Ivan mengadukan apa yang dilakukan oleh Danu dan Iwan kepada Tuhan sang pemilik kehidupan.


"Yah mulai lagi dah tu anak" ujar Danu sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan dari rekan kerja sekaligus sahabatnya yang paling kecil itu.


Sebenarnya tidak ada Ivan di antara mereka berdua juga tidak akan enak, karena bagaimanapun juga Ivan adalah salah satu orang yang bisa membuat mereka tertawa. Sehingga dengan adanya Ivan, rasa lelah habis bekerja itu akan langsung hilang saat mendengar hal hal yang dikatakan oleh Ivan yang ntah dari mana berasalnya.


"Ayolah Van, atau loe mau naik taksi online aja ke perusahaan?" ujar Iwan yang sudah tidak sabaran lagi melihat apa yang dilakukan oleh Ivan di dalam kamar tersebut.


"Ogah mah naik taksi online. Pria ganteng naik taksi online, bisa bisa di culik gue Bang" jawab Ivan.


Ivan kemudian mengambil tas ransel miliknya, tas itu berisi semua bukti bukti perselingkuhan yang dilakukan oleh Ranti. Semua bukti bukti yang akan membuat Ranti tidak bisa berkutik lagi, walaupun Ranti dengar kabarnya dibela oleh seorang pengacara yang kepinterannya dalam melakukan pembelaan sama hebatnya dengan Frans pengacara Danu.


"Gimana nggak bengong, loe dengan gampangnya main ambil tas terus jalan ke luar kami, harusnya yang keluar duluan itu kami yang udah capek nungguin loe ini" ujar Iwan yang kembali mengajukan protes kepada Ivan


"Kebanyakan protes loe bang" ujar Ivan yang pada akhirnya mundur kembali ke dalam kamar dan mempersilahkan kedua abang abangnya itu untuk berjalan keluar kamar terlebih dahulu.


Mereka bertiga keluar dari dalam kamar. Sebenarnya kamar di rumah Iwan ada sebanyak tiga kamar, tetapi ntah kenapa mereka bertiga lebih memilih untuk tidur dalam satu kamar.


"Siapa yang bawa mobil bang?"


"Gue capek ini. Nggak mampu bawa mobil ke kantor"

__ADS_1


Kata Ivan yang merasakan badannya sedikit letih karena semalam selesai menikmati penerbangan yang lumayan jauh, kemudian Ivan harus membawa mobil pulang menuju rumah Iwan, karena melihat kedua orang yang menjemputnya pada malam tadi sedang dalam keadaan mengatuk yang lumayan akut, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, Ivan yang harus membawa mobil menuju rumah Iwan.


"Biar gue aja yang bawa mobilnya"


Danu akhirnya menawarkan diri untuk membawa mobil menuju perusahaan. Danu tahu kalau Iwan juga pasti sangat capek karena saat menjemput Ivan dia yang membawa mobil. Belum lagi saat siangnya mereka ngobrol sampai larut malam dengan Frans. Sehingga hal itu membuat Iwan sangat letih.


"Akhirnya, dia turun tangan juga" kata Iwan yang kalau Danu tidak mengatakan dia yang akan membawa mobil menuju perusahaan maka akan Iwan lagi yang maju mengendarai mobil menuju perusahaan.


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil. Danu duduk di belakang stir, dia akan bertindak sebagai supir untuk pagi ini. Sedangkan Ivan memilih duduk di kursi belakang, Iwan yang sebenarnya ingin beristirahat di kursi belakang, pada akhirnya harus duduk di depan menemani Danu menyetir mobil.


"Oh ya Bang, boleh gue nanyak sesuatu ndak?" tanya Ivan kepada Danu dari kursi bagian belakang.


"Mau nanyak apa loe, kayaknya serius banget" ujar Iwan yang menanggapi apa yang dikatakan oleh Ivan sebentar ini.


"Bang, loe kebiasaan bangetlah, gue nanyak ke bang Danu, elo yang jawab. Nanti giliran gue nanyak ke elo, elonya diam. Mau loe apa sebenarnya sih Bang?" ujar Ivan yang memang selalu dibegitukan oleh Iwan kalau Iwan dalam mode jahil bin usil binti recok.


"Loe sukak kali bikin gue emosi Bang. Heran gue. Ntah apa salah gue ke elo selama ini, gue juga nggak tau Bang. Tiba tiba aja elo beginikan gue. Sedih banget rasa hati gue Bang" lanjut Ivan mendramatisirkan keadaan supaya Iwan memberikan komentarnya atau Danu yang akan berkomentar melihat bagaimana keadaan kedua staffnya itu.


"Kalian berdua kenapa coba, kalau ketemu ngalahin tom and jerri, atau kucing dan tikus. Coba kalau nggak ketemu, tiap hari nanyain, heran gue, bener bener heran. Kenapa bisa kalian berdua jadi tim" ujar Danu menyuaran apa yang ada di dalam pikirannya saat ini kepada kedua staffnya yang sedang ribut tersebut.


"Itulah kami" jawab Ivan dan Iwan kompak.

__ADS_1


__ADS_2