Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Healing Maya #


__ADS_3

Vina dan Sari membersihkan wajah mereka terlebih dahulu sebelum mereka beristirahat. Sedangkan Maya sudah duduk di kursi yang berada di balkon kamar. Dia terlihat sedang memegang ponsel miliknya. Maya terlihat sedang melakukan chat dengan seseorang.


'Sayang, kami udah di ibu kota. Kami berada di hotal HS. Kamu ke sini ya sayang. Jangan marah lama lama. Kami tidak jadi naik bus malam. Kami naik pesawat perusahaan.' bunyi pesan chat yang dikirim Maya kepada Ivan.


Ivan yang sedang ngobrol dengan Ayah dan Iwan melihat ada pesan chat masuk ke dalam ponsel miliknya membiarkan saja. Dari nada notifikasi Ivan sudah tau siapa yang mengirim pesan chat kepada dirinya.


'Sayang, kamu masih marah?' pesan chat kedua dikirim oleh Maya karena pesan yang pertama tidak ditanggapi oleh Ivan sama sekali.


Ivan kembali melihat saja pesan chat yang masuk itu. Ivan tidak membalas pesan. Jangankan membalas, membaca pesan chat itu saja tidak dilakukan oleh Ivan.


Maya meletakkan ponsel miliknya. Dia kemudian menuju balkon. Maya memegang besi balkon. Dia menatap laut nan jauh di sana. Maya menyesal karena sudah membuat Ivan marah. Maya menyesal karena tidak mengejar Ivan saat Ivan marah dua hari yang lalu.


Setelah menunggu selama tiga puluh menit, pesan chat dari Maya tetap tidak dibaca oleh Ivan.


'Oke marah saja. Tidak masalah. Aku tau aku salah. Makanya aku minta maaf. Tidak dimaafkan pun tidak apa apa.' ujar Maya.


Maya kemudian menonaktifkan ponsel miliknya. Dia kemudian masuk kembali ke kamar dengan wajah dibuat sebahagia mungkin. Maya sudah menyusun rencana di otak cantiknya itu. Maya melihat Vina dan Sari sudah rapi dan sudah selesai mandi.


"Gue mandi dulu ya." ujar Maya seraya mengambil handuk untuk dirinya.


Maya mandi dengan kilat. Dia benar benar butuh healing sendirian untuk beberapa hari ke depan. Maya sudah menghitung sisa uang di dalam atmnya. Uangnya lebih dari cukup untuk melakukan healing. Maya memesan tiga buah tiket. Dia tidak ingin keberadaannya diketemukan oleh siapapun.


"May, kamu mau ikut tidak?" ujar Vina yang sudah memakai pakaian santai miliknya.


"Mau kemana?" tanya Maya yang akhirnya memiliki kesempatan untuk pergi dari hotel.


"Kami mau ke mall yang ada di depan hotel." ujar Vina memberitahukan mereka berdua mau kemana.


"Elo ajalah. Gue pengen istirahat. Capek." ujar Maya.


"Oke sip"


Vina dan Sari tanpa menaruh curiga kepada Maya, meninggalkan Maya sendirian di dalam kamar. Setelah yakin Vina dan Sari sudah turun memakai lift.


Maya memakai pakaiannya. Dia membawa dompet dan tas ransel kecil miliknya yang muat untuk menyimpan dua dress dan perlengkapan makeup miliknya.


Maya kemudian memesan taksi online untuk mengantarkannya ke bandara. Maya sudah menetapkan pilihan. Dia akan menuju pulau S untuk merehatkan otaknya. Maya keluar dari kamar. Dia turun ke lobby hotel dan menitipkan kunci kamar ke resepsionist.


Tidak menunggu lama taksi online yang dipesan Maya sudah menunggu dirinya di depan lobby. Maya kemudian masuk ke dalam taksi online itu. Sebelum masuk ke dalam taksi Maya sempat bertemu dengan Jeri yang juga baru datang dari luar.

__ADS_1


"Mau kemana Nona Maya?" tanya Jeri dengan sopan.


"Mau ketemu dengan Ivan. Kami janjian di kafe untuk bertemu." ujar Maya memberitahukan kemana dia akan pergi kepada Jeri.


Taksi online mulai meninggalkan hotel HS. Maya bisa melihat Vina dan Sari baru selesai berbelanja di mall depan. Mereka berdua terlihat sudah menenteng paperbag di tangan masing masing.


"Maaf Vin, Sar. Gue harus pergi bentar." ujar Maya menatap punggung ke dua sahabatnya itu.


"Bandara Nona?" tanya sopir taksi online.


"Benar Pak. Bandara." ujar Maya.


Maya kemudian menonaktifkan ponsel miliknya. Sebelum menuju bandara Maya mengambil sejumlah uang yang dirasa bisa membiayai hidupnya selama healing di pulau S. Maya tidak ingin Ivan melacak dirinya melalui transaksi keuangan miliknya.


Sesampainya di bandara Maya melakukan lima kali chekin di maskapai yang berbeda beda dengan tujuan yang berbeda beda pula. Maya sengaja melakukan itu agar semua yang mencari dia akan kesulitan.a maya sangat tau kalau Ivan cerdas dalam melacak keberadaan seseorang. Makanya semua akses yang bisa digunakan untuk melacak sudah ditutup Maya serapi mungkin.


Maya juga sudah meninggalkan KTPnya di kamar hotel. Semua kartu yang memakai chip sudah ditinggalkan oleh Maya di hotel. Maya tidak pergi membawa apa apa.


Maya sudah berada di dalam pesawat lagi. Kalau tadi dia melakukan penerbangan dengan kedua sahabatnya, kali ini dia terbang hanya sendiri saja. Tidak ada orang yang menemani dan Maya juga tidak dalam kondisi yang baik. Hatinya sedang hancur karena Ivan sama sekali tidak menerima maaf dari dirinya.


Maya duduk dengan tenang di kelas ekonomi pesawat. Maya duduk tepat di sebelag kaca jendela pesawat. Di sebelahnya sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia karena akan pergi liburan berdua.


Pilot mulai menerangkan berapa lama mereka akan terbang dan juga bagaimana keadaan cuaca selama penerbangan serta cuaca saat mereka sampai di provinsi SB di pulau S. Maya sama sekali tidak.mendengar apa yang dikatakan oleh pilot. Maya hanya fokus dengan keadaan yang ditampilkan di kaca jendela pesawat.


Maya melihat ke arah luar kaca jendela pesawat. Dia hanya ingin menikmati pesawat yang berlari meninggalkan landasan pacu dan meninggalkan ibu kota. Sebenarnya ingin rasanya Maya melihat tv kecil yang terletak disandaran kursi penumpang di depannya. Tetapi pandangan matanya akan rusak gara gara sepasang kekasih di sebelahnya yang selalu bergandengan tangan seperti orang mau nyebrang jalan.


Maya yang sudah lelah melihat ke jendela pesawat lebih memilih untuk tidur. Dia memejamkan matanya. Maya sama sekali tidak melepaskan seltbeltnya. Jadi, dia tidak perlu terjaga nanti saat pilot mengabarkan akan melakukan pendaratan. Tak lama kemudian dia sudah tertidur lelap.


Tanpa terasa pesawat sudah mendarat dengan mulus di kota P provinsi SB. Maya turun dari pesawat. Dia kemudian berjalan masuk ke bandara. Maya sama sekali tidak menunggu bagasi karena dia tidak ada membawa apa apa ke sana.


Maya kemudian berjalan sampai ke pintu luar bandara. Dia melihat ada taksi online yang sedang menunggu orderan.


"Bisa antarkan saya ke hotel yang sederhana saja?" tanya Maya kepada sopir taksi.


"Bisa Nona." jawab sopir taksi.


Maya kemudian masuk ke dalam taksi. Taksi mulai bergerak meninggalkan kawasan bandara. Taksi menuju kota P tempat Maya akan menginap di sana semalam.


Maya ingat dia punya teman di kota P. Dia juga yakin sekarang Vina dan Sari belum menyadari akan kepergiannya.

__ADS_1


"Pak bisa berhenti di toko penjuak ponsel sebentar?" tanya Maya.


"Bisa Nona" jawab sopir taksi.


Sopir taksi kemudian meberhentikan mobilnya di depan sebuah toko yang menjual ponsel. Maya membeli satu ponsel serta kartu baru.


"Ada ktp Nona?" tanya penjual ponsel.


"Tinggal Bang." jawab Maya.


Penjual ponsel mengambil sembarangan footo copy tanda pengenal. Penjual memasukkan nomor sembarangan saja. Akhirnya Maya memiliko ponsel baru dan nomor baru


Dia kembali masuk ke dalam taksi. Taksi mulai berjalan kembali membawa Maya ke sebuah hotel.


Maya sudah menginstal aplikasi hotel tersebut ke dalam ponsel barunya dengan identitas aslinya. Dia juga sudah memesan hotel tersebut untuk penyamarannya.


Maya mengaktifkan ponsel lamanya. Sama sekali tidak ada pesan chat yang masuk. Pesan chat untuk Ivan juga belum terbaca. Maya menatap sedih ponsel lamanya itu.


Maya mencari nama kawan lamanya tersebut. Setelah dapat Maya menyalin ke nomor barunya. Maya kembali mematikan ponsel lamanya.


Maya menghubungi kawan lamanya itu. Tidak menunggu lama sambungan telpon itu tersambung.


"Hallo" ujar kawan Maya.


"Dian, ini gue Maya. Loe masih ingatkan?" ujar Maya menyapa kawan lamanya yang bernama Dian itu.


"Maya?" Dian mencoba mengingat.


"Oh maya ada apa. Lama banget loe nggak nelpon gue. Loe dimana sekarang?" tanya Dian yang sudah mengingat Maya.


" Gue ada di kota loe sekarang. Apa gue boleh nginap di rumah loe?" tanya Maya yang memang ingin menghilangkan jejaknya.


"Oh oke. Sip." loe boleh nginap di sini." jawab Dian yang senang malam ini ada sahabat lamanya yang akan menginap.


"Makasi Yan. Sharelock ya." ujar Maya.


Dian kemudian mensharelock lokasi rumahnya. Maya mengatakan kepada sopir alamat rumah Dian.


"Siap Nona." jawab sopir.

__ADS_1


Sopir mengantarkan Maya ke rumah Dian yabg terletak di tenga kota. Dian sudah menunggu Maya datang di teras rumahnya. Dia penasaran kenapa teman lamanya itu datang ke kota P ini.


__ADS_2