Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Maya


__ADS_3

Vina pagi ini telat bangun tidur. Dia bangun saat jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.


"Wow telat." ujar Vina yang syok melihat jam dinding kamarnya.


Vina bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan badannya dengan gerakan super kilat. Vina selesai mandi dalam waktu sepuluh menit saja. Selesai mandi Vina mengambil pakaian kantor yang sudah disiapkannya tadi malam. Vina bergegas bersiap siap.


Sedangkan Sari sudah datang dari tadi ke rumah Vina. Dia dan Maya sedang duduk di meja makan menunggu Vina turun dari kamar.


"Tumben belum turun. Apa dia telat ya May?" tanya Sari saat melihat jarum jam sudah hampir mendekati pukul tujuh.


"Kayaknya. Aku siapkan bekal aja ya. Nggak akan mungkin Vina mau makan di rumah." ujar Maya yang sudah hafal tingkah Vina.


Maya menyiapkan bekal untuk Vina. Dia memasukkan semua bekal sarapan pagi yang berupa nasi uduk lengkap dengan semua topingnya ke dalam rantang.


Vina beru turun tepat jam tujuh pagi. Dia terluhat sangat bergegas.


"May bisa mintak tolong." ujar Vina yang melihat Maya sedang di dapur.


"Bungkusin menu sarapnkan ya. Ini udah selesai. Tinggal bawa aja." ujar Maya sambil menunjuk rantang berisi bekal.


"Sari kita sarapan di kantor saja. Saya tidak mau telat." ujar Vina sambil menyambar rantang menu sarapan.


Dia berjalan cepat menuju mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Pak Hans. Sari setengah berlari mengejar Vina.


"Ngebut Pak Hans." ujar Vina memerintahkan Pak Hans untuk mengebut.


Pak Hans kemudian memilih jalan tikus untuk menuju perusahaan. Dia tidak mau membuat Vina terlambat sampai di perusahaan.


Pak Hans berhasil sampai di depan lobby perusahaan pukul tujuh lewat lima belas menit. Pak Hans betul betul dalam menginjak pedal gas mobilnya.


Vina dan Sari turun dari mobil. Mereka berdua langsung menscan kartu perusahaan.


"Huft untung nggak telat." kata Vina dengan lega.


Karyawan yang melihat Vina bersyukur tidak telat tersenyum bahagia. Wakil Direktur mereka saja cemas untuk telat. Berarti keadilan dan kesetaraan sudah mulai di terapkan di perusahaan ini.


"Nona Vina, maaf ini rantang sarapan Anda tertinggal di mobil." ujar Pak Hans sambil mengangkat rantang makanan milik Vina.


"Oh iya Pak Hans. Maaf saya lupa. Ini karena mau mengejar absen Pak Hans." jawab Vina sambil tersenyum menerima rantang sarapannya.


"Sari, kita mau makan dimana sini atau di ruangan saya?" tanya Vina kepada Sari.


"Sini aja Nona. Jadi nanti saat ada yang terlambat dengan alasan sarapan bisa kita jadikan diri kita menjadi contohnya." ujar Sari yang memiliki ide briliant itu.


"Apa kamu tidak malu makan di depan karyawan? Kalau saya sama sekali tidak malu." jawab Vina.


"Nggak Nona. Ayuk aja." jawab Sari.


"Oke."


Vina kemudian membuka bekal sarapan yang ternyata sangat banyak dibawakan oleh Maya. Vina melihat beberapa karyawannya yang sedang melirik dirinya dan Sari.


"Kamu berdua ambil sana piring ke belakang. Gabung sarapan dengan saya. Ini sangat banyak untuk kami berdua." ujar Vina memerintahkan dua resepsionis untuk mengambil piring ke dapur.


"Serius Nona?" tanya salah seorang resepsionis yang ragu dengan pendengarannya.


"Apa saya harus mengulang kembali perkataan saya tadi?" ujar Vina meyakinkan resepsionis.


Salah seorang dari resepsionis pergi ke dapur untuk mengambil dua piring. Mereka kemudian menuju tempat Vina duduk. Vina menyodorkan nasi uduk itu kepada resepsionisnya.


"Apa kalian pernah makan ini?" tanya Sari kepada kedua resepsionist yang asli orang negara U.


"Belum Nona. Tapi kelihatannya sangat lezat. Kami yakin rasanya juga lezat." jawab salah seorang resepsionis.


"Saya sudah pernah Nona. Waktu saya liburan ke negara I. Kalau tidak salah namanya nasi uduk." jawab resepsionis yang lain yang pernah liburan ke negara I.


"Sip bener. Ini namanya nasi uduk." jawab Sari.


Kedua resepsionis membawa sarapan mereka kembali ke meja resepsionis. Mereka mencoba satu sendok dan merasakan betapa lezatnya sarapan mereka kali ini.


"Nona, maaf sebelumnya Nona beli dimana? Ini sangat lezat Nona." kata resepsionis sambil mengasngkat kedua jempol mereka bersamaan.


"Tidak beli. Sahabat saya yang memasaknya. Kalau kalian mau sebentar lagi kami akan membangun kafe khusus masakan negara I. Kalian semua boleh singgah." ujar Vina dengan semangat.


"Nona, kalau boleh usul dari sekarang aja Nona. Kami akan bantu promosikan dengan teman teman kantor. Nona bagi aja nomor ponselnya kepada saya." ujar salah satu resepsionis.


"Oooo. Baiklah nanti akan saya pastikan dengan dia. Kalau dia oke maka nomor ponselnya melalui Sari." jawab Vina.


Saat mereka sarapan satu persatu mulai berdatangan para karyawan dan juga manager yang keseringan terlambat.


"Sari, enak banget ya kerja di sini. Udahlah gaji gede, tunjangan gede bisa datang sesuka hati aja. Ini aja udah jam delapan masih aja ada yang baru datang." ujar Vina menyindir mereka mereka yang datang terlambat.


Semua manager dan karyawan yang disindir oleh Vina menundukkan kepala mereka. Mereka baru tau kalau wakil direktur dan asistennya sedang duduk di ruang tunggu yang berdekatan dengan tempat cek kehadiran.


Sari menatap heran ke layar monitor yang sama sekali tidak menampilkan tanda merah keterangan terlambat.


"Vin, lihat itu." ujar Sari.


Vina melihat layar monitor, layar monitor tidak menampilkan keterangan terlambat para pegawai yang baru datang.


"Mantap." ujar Vina.


Vina menuju resepsionist.


"Minta seluruh makhluk yang berada di ruangan IT untuk menemui saya ke ruangan sekarang." ujar Vina dengan dinginnya.


"Baik Nona." jawab salah seorang resepsionist.


Resepsionist itu menuju ruangan IT yang berada di lantai dua gedung perkantoran. Sesampainya di sana tidak satupun ada orang bagian IT di ruangan. Resepsionist tersebut memoto ruangan yang kosong. Dia langsung mengirimkan ke Sari.

__ADS_1


Ting ting ting ting, notifikasi masuk ke ponsel Sari. Sari meraih dan membuka notifikasi itu.


"Wow." ujar Sari terkejut melihat apa yang dikirim oleh resepsionist itu.


"Ada apa Sar?" tanya Vina yang akan memencet angka lantai ruangannya.


"Kita ke dua dulu Vin. Loe akan tau sampai di sana." ujar Sari.


Sari menekan angka dua. Mereka menuju lantai dua perusahaan.


"Sini Vin." ujar Sari.


Vina mengikuti langkah kaki Sari dengan cepat. Viba melihat tulisan di depan pintu ruangan itu. BAGIAN INFORMASI DAN TEKNOLOGI.


"Ngapain ke sini Sar?" tanya Vina dengan heran.


Sari membuka pintu ruangan. Betapa kagetnya Vina saat melihat sama sekali tidak ada karyawan yang datang di bagian IT.


"Keren ini Sar." Vina berkeliling ruangan.


Dia kemudian melihat sebuah komputer yang menyala dengan menampilkan jam kedatangan para karyawan kantor. Vina memperhatikan semuanya dengan saksama.


"Kerja mereka benar benar tidak rapi." ujar Vina sambil tersenyum.


"Ada apa Vin?" ujar Sari yang heran dengan Vina.


"Ini Sar, tim IT memundurkan waktu di perekam kehadiran. Mereka benar benar niat. Masak kita hadir jam lima. Gue aja jam lima masih tidur." ujar Vina geleng geleng kepala melihat kelakuan tim IT mereka.


"Mereka benar benar terniat ini." lanjut Vina.


Vina dan Sari keluar dari ruangan ini saat mereka mendengar suara derap langkah orang di luar. Mereka berdua tidak mau ketahuan untuk saat ini.


"Hahahaha. Kita mau dilawan sama wakil direktur baru songong itu. Mana ada dia mengerti hal itu. Nanti kita kembalikan lagi ke jam semula." ujar salah satu karyawan.


"Bener. Dia nggak mikir apa kalau kita kita ini hebat." ujar yang satu lagi.


"Biarin aja dia duduk di lobby kan kita nggak telat. Walau sebenarnya telat dua jam. Bukti fisik kita telatkan tidak ada." jawab karyawan yang satu lagi.


"Hahahahahaha. Makan tu sok keren. Sok sok makan di lobby kiranya udah dimainkan karyawan." ujar salah satu karyawan.


Sari yang mendengar luar biasa kesal. Sari sudah ingin maju menampar kelima karyawan IT itu.


"Tahan Sar. Jangan gegabah. Biarkan aja." ujar Vina lagi.


"Mereka mau main main. Ayuk gue juga bisa ladenin mereka." jawab Vina dengan tajam.


Vina dan Sari menuju ruangan mereka masing masing. Hari ini agenda Vina pemanggilan manager yang terus terlambat. Agenda itu akan berlangsung jam sepuluh nanti.


"Masih ada waktu untuk menyiapkan pekerjaan yang lain." kata Vina sambil menatap dokumen dokumen yang berada di atas mejanya.


Vina mulai memeriksa tiap lembaran dokumen yang berisi angka angka. Vina begitu teliti membaca setiap lembar.


"Mereka kerja dijalan yang bener. Tetapi kedisiplinan mereka memang sangat sangat memprihatinkan." ujar Vina sedikit kesal.


"Mau masak apa kita Non?" tanya Rina kepada Maya.


"Bentar ya. Lagi kangen kekasih ini. Aku video call bentar." ujar Maya.


Maya merogoh ponselnya. Dia langsung menghubungi Ivan sang kekasih. Ivan tidak mengangkat panggilan pertama dari Maya. Barulah pada panggilan kedua Ivan mengangkat panggilan itu.


"Pagi sayang." sapa Ivan yang membuat Rina dan Bik Imah kaget.


Mereka mendengar kembali suara direktur mereka yang sudah lama tidak terdengar itu.


"Kamu jangan buat malu. Aku sedang dengan Bik Imah dan Rina." ujar Maya sambil mengarahkan kamera ponselnya ke Bik Imah dan Rina.


Kedua maid yang kenal dengan siapa yang ditelpon Maya langsung menundukkan sedikit kepalanya. Maya yang melihat merasa heran.


"Bik Imah, Rina nggak usah menunduk ke dia. Dia orang biasa cuma. Bukan seperti Sari." ujar Maya mengingatkan kedua maid itu.


"Maaf Nona." ujar Rina.


"Ngapain manggil Nona. Panggil Maya aja. Aku juga tidak seperti Sari." ucap Maya yang protes dipanggil dengan Nona.


Ivan mengangguk kepada Rina dan Bik Imah. Kedua maid itu paham dengan kode yang diberikan Tuan Muda mereka.


"Oh ya sayang, kamu masak apa hari ini? Aku kangen masakan kamu." ujar Ivan menggoda Maya.


"Rencananya mau masak eighroll, terus ayam kecap, semur telur sama samba lado kukui plus lalapannya timun dan kukus buncis. Apa kamu mau sayang?" tanya Maya yanh suka menggoda Ivan.


"Maulah. Tapi jauh sayang. Coba dekat aku akan kesana. Aku kangen kamu." ujar Ivan kembali.


Ivan benar benar kangen dengan Maya, tetapi karena Danu masih belum juga kembali makanya Ivan tidam bisa pergi. Ivan tidak mungkin meninggalkan Iwan untuk kerja sendirian.


"Sayang udah dulu ya aku mau masak. Kamu nggak kantor?" tanya Maya yang lupa di negara I masih malam.


"Sayang masih malam sayang." ujar Ivan sambil tersenyum.


"Ups maaf sayang. Aku nggak tau. Maafkan aku karena udah ganggu istirahat malam kamu." ujar Maya dengan wajah menyesalnya.


"Nggak apa apa sayang. Malahan aku suka kamu ganggu. Jadi aku bisa lihat wajah cantik kamu yang udah pergi selama lima tahun." jawab Ivan menggoda Maya.


"Lebay mana ada lima tahun. Baru juga lima ja. Segitu cintanya sama aku, lima jam rasa lima tahun." kata Maya membalas menggoda Sari.


"Hahahahahahaha. Sana masak sayang. Nanti Vina dan asistennya kelaperan. Kamu mau bikin Vina sakit?" ujar Ivan yang sebenarnya sudah sangat sangat sangat merindukan Maya.


"Sayang apa pria nggak ada pendirian itu udah ada di perusahaan?" tanya Maya yang ingat dengan Danu.


"Belum sayang. Kalau dia udah kembali aku akan datang kepada dirimu. Tolong tunggu aku sayang." ujar Ivan lagi.

__ADS_1


"Lebay. Sana tidur. Muach." kata Maya yang siap siap akan mematikan ponselnya.


"Muach muach muach" ujar Ivan yang paling senang menggoda Maya.


Maya memutuskan panggilan video callnya dengan Ivan. Maya kemudian menuju dapur. Dia mulai mengolah semua masakan yang akan dibuatnya.


"Sari, bisa kita mulai meetingnya?" tanya Vina kepada Sari sambil memasukkan kepalanya melalui celah pintu.


Sari keluar dari ruangannya. Vina dan Sari kemudian menuju ruang meeting karyawan yang berada di lantai tiga perusahaan. Mereka berdua masuk dengan Sari membawa map berisi surat teguran.


Vina memiliki kebiasaan asal tidak suka dengan sesuatu dia akan langsung menyampaikan dan tunjuk orangnya dari pada masalah ini semakin berlarut larut.


"Baiklah terimakasih saya ucapkan kepada Tuan Besar dan Nona Besar yang sudah bersedia memenuhi undangan saya. Saya bukan manusia yang bisa berkata manis. Saya akan langsung ke inti kenapa kalian semua saya kumpulkan di sini." ujar Vina dengan nada dinginnya.


"Saya sangat berterimakasih kepada anda semua karena setiap hari datang tepat waktu sehingga perusahaan tidak rugi membayar gaji dan semua tunjangan anda dengan penuh. Sungguh anda semua luar biasa hebat." lanjut Vina.


Semua Manager dan Karyawan menunduk mendengar sindiran pedas dari wakil direktur mereka.


"Nah karena prestasi baik anda itu yang tidak merugikan perusahaan selama ini, maka dengan berat hati saya menyatakan untuk bulan ini anda semua tidak menerima setiap tunjangan yang ada di perusahaan. Anda semua hanya akan menerima gaji saja yang sudah dibayarkan di awal bulan." lanjut Vina.


"Apakah ada yang keberatan?" tanya Vina.


Vina dan Sari menatap setiap orang yang ada di ruangan itu. Tak satupun dari mereka berani mengajukan keberatan. Tim kelompok IT tersenyum senyum senang karena mereka bisa menolong semua karyawan perusahaan karena mereka telah memundurkan jam. Vina dan Sari melihat senyum itu.


"Baiklah karena tidak ada yang merasa keberatan jadi semua setuju dengan peniadaan pembayaran tunjangan untuk bulan ini." Vina membacakan keputusan rapat hari ini.


"Terimakasih atas waktunya. Semoga mulai hari ini timbul kesadaran dalam diri anda masing masing untuk berubah kedepannya. Ingatlah saya tidak akan merugikan anda kalau anda tidak merugikan perusahaan." kata Vina mengakhiri rapat hari ini.


"Pak tolong bagikan surat peringatannya." ujar Vina kepada Manager HRD.


Vina dan Sari kembali keruangan masing masing. Vina kembali membaca semua laporan yang belum selesai.


Tok tok tok. Bunyi pintu di ketuk dari luar. Vina melihat jam dinding ternyata sudah saatnya makan siang. Vina yang juga mendengar pintu di ketuk dari luar membuka pintu tersebut. Ternyata sahabat baiknya sudah berdiri di depan pintu dengan membawa rantang berisi makan siang.


"Wow, dewa perut gue datang." ujar Vina sambil tersenyum bahagia.


Vina berjalan menuju ruangan Sari. Dia yakin Sari belum makan siang juga.


"Sar, dewa perut datang. Ayuk makan." ujar Vina.


Sari yang mendengar dewa perut datang sudah yakin siapa yang datang. Dia kemudian mengikuti Vina menuju ruangannya.


"Bawa apa May?" tanya Sari yang sudah tidak sabar.


"Noh" tunjuk Maya ke makanan yang telah disiapkannya di meja makan.


"Wow. Mari makan." kata Sari dengan semangat.


Ketiga wanita itu makan siang bersama.


"Kayak gini gue akan kaya ini. Dua kali makan ada yang nanggung." ucap Sari tersenyum bahagia.


"Selagi gue belum buka restoran. Kalau udah maka lie berdua harus bayar." jawab Maya sambil tersenyum.


"Ye" jawab Vina dan Sari serempak.


Selesai makan siang bersama, Vina dan Sari kembali bekerja. Sedangkan Maya membersihkan meja kembali.


"Vin, gue pulang duluan ya." ujar Maya yang melihat Vina sibuk bekerja.


"Sama gue aja. Gue bentar lagi juga mau pulang." jawab Vina melarang Maya untuk pulang sendirian.


"Asiap." jawab Maya.


Maya mengambil sebuah dokumen yang ada di meja Vina. Dia membaca dokumen itu.


"Vin, ini kelihatan aneh. Masak iya pengeluarannya sebanyak ini." ujar Maya kepada Vina.


Vina membaca dokumen tersebut. Dia melihat memang ada kecurangan di dokumen itu.


"Bener May. Ini ada kecurangan. Loe bisa panggilun Sari?" ujar Vina kepada Maya.


"Gampang itu." Maya kemudian keluar dan memanggil Sari yang sedang diruangan.


"Ada apa Vin?" tanya Sari.


"Baca ini" ujar Vina sambil memberikan sebuah dokumen kepada Sari.


Sari menganalisa dokumen itu. Dia menumukan sebuah kejanggalan di sana.


"Mereka lagi. Sepertinya mereka perlu diberi syok terapi Vin." ujar Sari kepada Vina.


"May, loe masih bisakan jebol web?" tanya Vina kepada Maya.


"Bisalah. Apa yang harus gue kerjain?" tanya Maya lagi.


Vina menceritakan semuanya kepada Maya. Maya mengangguk dengan paham apa maksud dari Vina.


"Hahahahaha. Mereka bodoh kalau hanya main segitu aja. Sini laptop loe. Gue hajar mereka." ujar Maya.


Vina memberikan laptop miliknya. Maya mulai memainkan jari jemarinya di atas kayboard laptop Vina. Maya tersenyum kecil.


"Selesai." ujar Maya.


"Mereka bodoh. Loe tukar deh tim IT loe. Masak database perusahaan sebesar ini gampang di terobos." ujar Maya memberitahukan kelemahan dari database perusahaan.


"Loe bantu gue ya." ujar Vina menatap Maya.


"Ini ni bikin males." jawab Maya.

__ADS_1


Tapi Maya tetap mengerjakan apa yang diminta oleh Vina. Maya sibuk bekerja. Sari hanya bisa menatap Maya.


Sari menatap Vina. Vina mengucapkan kata Nanti dengan gerak bibirnya.


__ADS_2