
Ivan mengambil ponsel miliknya yang di taruh oleh Ivan di atas meja kerjanya itu, dia langsung saja mengirim pesan chat kepada Iwan. Ivan menunggu beberapa saat sambil membuka aplikasi yang selalu digunakan oleh Ivan untuk melakukan pekerjaannya itu. Ivan menunggu aplikasinya jalan sambil menunggu balasan pesan chat yang dikirimkan oleh Iwan kepada dirinya.
'Gue ke sana, sehabis meeting' ujar Iwan membalas pesan chat yang dikirim oleh Ivan kepada dirinya. Iwan sebenarnya sedang tidak bisa memainkan ponsel miliknya itu, tetapi karena satu dan lain hal dan sepertinya pesan chat dari Ivan penting, makanya Iwan membalas pesan chat tersebut, tetapi memang sedikit telat. Iwan harus mencari moment yang pas untuk dirinya membalas pesan chat yang dikirimkan oleh Bayu kepada dirinya.
'Gue tunggu Bang. Sampe di pathouse ngomong ya, biar gue jemput ke lobby' ujar Ivan membalas pesan chat yang dikirimkan oleh Iwan sebagai balasan dari pesan chat yang dikirim oleh Ivan tadi.
'Siap' jawab Iwan dengan satu kata saja.
Iwan kemudian kembali serius menyimak meeting yang sedang dilakukan oleh dirinya dan Danu. Iwan bertindak sebagai arsitek yang menjelaskan secara detai konsep rumah yang dikerjakan oleh dirinya.
Danu dan Iwan sekarang sedang membahas kerjasama dengan salah satu perusahaan ternama yang ada di negara I. Perusahaan JFB Grup, salah satu perusahaan properti ternama di negara I. Selain properti banyak lagi bisnis yang dilakukan oleh JFB Grup, makanya Danu dan Iwan harus bisa memenangkan kontrak kerjasama kali ini supaya bisa menjalin kerjasama di bidang lain dengan perusahaan raksasa itu. SIapa pebisnis di negara I yang tidak tahu dengan perusahaan JFB Grub, perusahaan yang dalam sekejap bisa langsung menjadi perusahaan raksasa dan memiliki gurita bisnis yang sangat luar biasa besarnya.
Tepat pukul lima sore, akhirnya meeting yang berjalan dari jam setengah sembilan itu selesai juga. Danu dan Iwan kemudian keluar dari ruangan meeting yang terasa sangat menyesakkan bagi mereka berdua.
"Bener bener detail mereka Dan" ujar Iwan saat dirinya mengemudikan mobil kembali ke perusahaan untuk mengambil mobil Iwan yang memang ditinggalkan di perusahaan.
"Kalau tau gini tadi gue bawa langsung mobil aja ke tempat meeting, jadi kita nggak perlu bolak balik kayak gini" ujar Iwan yang menyesal tidak langsung membawa mobilnya saat mereka berangkat meeting tadi pagi.
"Gue mana tau akan selama ini Wan. Ternyata mereka detail banget. Pantesan perusahaan itu luar biasa kayanya dan berhasil dalam setiap proyek yang mereka kerjakan. Ternyata mereka sangat detail memperhatikan apapun, sampai yang urusan kecil saja mereka sangat perhatian" ujar Danu yang kagum dengan cara kerja dari JFB Grub.
"Apa tadi itu managernya Dan?" ujar Iwan yang saat mereka memperkenalkan dirinya, Iwan izin ke kamar mandi untuk mencurahkan perasaannya yang sudah tidak bisa lagi di tahan oleh Iwan untuk dikeluarkan secepatnya.
__ADS_1
"Nggak. Pria yang memakai jas warna dongker tadi, bernama Bram, salah satu dari tiga pemilik perusahaan JFB Grub" ujar Danu menjawab pertanyaan dari Iwan.
"Gue kira managernya" ujar Iwan yang langsung kaget mendengar jawaban yang diberikan oleh Danu kepada dirinya. Iwan sama sekali tidak menyangka kalau mereka berdua akan bertemu langsung dengan salah satu pemilik dari JFB Grub, perusaahn baru yang sedang naik nama di negara I. Siapa yang nggak kenal dengan perusahaan JFB Grub, tetapi sampai sekarang orang orang tidak mengenal wajah atau sosok dari yang memiliki JFB Grub
"Dengar dengarnya ini Dan, pemilik dari perusahaan JFB Grup sama sekali tidak pernah menampilkan wajah mereka ke semua orang. Kenapa begitu ya Dan? Kok pas ke kita mereka mengirim satu dari mereka bertiga untuk bertemu dengan kita" ujar Iwan yang mendengar gosip gosip di kalangan pebisnis saat mereka membahas tentang pemilik JFB grub.
"Bener, tapi kalau pertemuan bisnis dengan salah satu perusahaan baru yang akan bekerja sama dengan mereka, maka sudah bisa dipastikan salah satu dari mereka bertiga akan langsung datang saat meeting itu. Sama kayak kita sekarang ini, posisinya kan kita baru akan kerjasama, nah Bram Asander lah yang dikirim untuk membahas kerjasama dengan kita" ujar Danu mengatakan kepada Iwan bagaimana sistem kerja dari tiga pemimpin JFB Grub tersebut.
"Wow keren mereka. Berarti mereka akan memastikan dulu apa perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan mereka berkompeten atau tidak, kalau tidak menurut salah satu dari mereka maka kerjasama itu akan gagal, tetapi kalau menurut mereka oke, maka kerjasama itu akan langsung dilanjutkan" ujar Iwan menarik kesimpulan dari apa yang dikatakan oleh Danu kepada mereka berdua.
"Yup benar sekali. Mereka akan memastikan terlebih dahulu, kemudian baru menyerahkan semuanya kepada para bawahan mereka" ujar Danu menegaskan kembali kepada Iwan.
Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Iwan sudah sampai di parkiran perusahaan. Danu dan Iwan kemudian turun dari dalam mobil.
"Nggak, gue ada perlu di luar dulu, kenapa?" tanya Iwan yang penasaran kepada Danu bertanya tentang hal itu.
"Nggak jadi, Gue kira tadi kalau loe langsung ke rumah, gue mau ikut ke rumah loe. Ternyata loe ada keperluan" jawab Danu menjelaskan maksud dan tujuannya
"Sorry Dan, hari ini gue pulang larut malam, bahkan bisa jadi gue nggak pulang. Maafin gue bro" ujar Iwan yang tidak mungkin membawa Danu ikut dengan dirinya ke penthouse Ivan.
"Sip nggak masalah. Gue duluan jalan" ujar Danu yang sudah berada di balik kemudi
__ADS_1
"Hati hati bro. Maafin gue" kata Iwan meminta maag kepada Danu sekali lagi, karena Iwan secara halus menolak keinginan Danu untuk datang ke rumahnya.
"Nggak masalah. Gue duluan" ujar Danu menjawab permintaan maaf yang diajukan oleh Iwan kepada dirinya.
Danu mengemudikan mobilnya menuju rumah pribadinya yang berjarak lumayan jauh dari perusahaan tempat dia bekerja. Sedangkan Iwan berjalan menuju bestman karena mobilnya di parkir di sana tadi pagi.
"Oke siap meluncur ke rumah Ivan" ujar Iwan yang sekarang sudah berada di balik kemudi.
Iwan sudah menghidupkan mesin mobilnya. Mobil keren berwarna hitam dove itu siap meluncur ke rumah Ivan. Iwan sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Ivan kepada dirinya.
"Sepertinya permasalahan kali ini memang tidak boleh diketahui oleh Danu" ujar Iwan mencoba menebak nebak apa yang terjadi.
"Semoga aja ini nggak ada hubungannya dengan Deli, kalau sampai ada maka bisa dipastikan aku akan pusing setelahnya" ujar Iwan sambil mengemudikan mobil meninggalkan parkiran perusahaan.
Iwan mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang, Iwan tidak ingin terjadi masalah diperjalanan karena jalanan yang lumayan ramai, karena semua orang baru balik dari tempat kerja mereka dan bahkan ada yang baru balik dari acara raun raun sepanjang jalan. Keputusan yang tepat bagi Iwan untuk mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang.
Setelah berkendara kurang lebih empat puluh lima menit karena jalanan yang begitu ramai, akhirnya Iwan sudah berada di bestman gedung apartemen itu.
'Gue udah di bestman' ujar Iwan mengirimkan pesan kepada Ivan
'Tunggu situ Bang' ujar Ivan membalas pesan chat dari Iwan
__ADS_1
Ivan kemudian turun dari dalam penthousenya. Ivan harus menjemput Iwan ke bestman, kalau tidak maka Iwan tidak akan bisa sampai ke penthouse tempat dimana Ivan sedang menunggu dirinya.