
Iwan masih dengan sikap pura pura tidak mendengarnya itu. Padahal di pantry sana dia mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan dengan suara yang sengaja dilebih keraskan volumenya dari pada biasanya.
Hal ini sengaja dilakukan oleh Ivan supaya Iwan mendengar dengan sangat jelas apa yang dikatakan oleh dirinya dan juga Danu. Iwan yang sedang dalam mode pura pura tuli itu sama sekali tidak berhasil menjalankan rencananya, karena suara Ivan dan Danu amatlah sangat keras.
"Kalian berdua sengaja ngomong dengan nada suara tinggikan ya, supaya gue bisa mendengar apa yang kalian berdua sedang bicarakan. Benerkan itu alasannya?" ujar Iwan sambil menaruh tiga cangkir kopi di atas meja makan dan juga piring untuk tempat mereka memakan ketupat sayur yang tadi di beli di warung sesaat sebelum mereka sampai di kantor.
"Mana ada sengaja Bang, loe sensi banget jadi orang" kata Ivan yang mengajukan protes atas tuduhan yang diberikan oleh Iwan kepada dirinya dan Danu.
"udah ngaku aja tidak apa apa. gue juga nggak akan marah"
Ivan yang seakan mendapatkan lampu merah dari apa yang dikatakan oleh Iwan tadi. Dia ingin langsung saja bertanya tentang rasa yang dimiliki oleh Iwan kepada salah satu resepsionist yang dari tadi selalu dipandang oleh Iwan dengan pandangan yang seakan tidak akan bisa lepas tersebut.
Tetapi keinginan Ivan itu harus tertahan sebentar karena Danu sudah memberikan kode secara tidak langsung kepada dirinya untuk diam terlebih dahulu.
"Mari sarapan. Gue laper banget" ujar Danu berkata sambil mengambil sebungkus katupek gulai yang tadi di beli.
Ivan yang mulutnya sudah terbuka untuk bertanya kepada Iwan, kembali langsung menutup mulutnya itu. Dia tidak akan mungkin memberikan pertanyaan kepada Iwan di saat Danu sudah mengatakan untuk menikmati sarapan mereka terlebih dahulu. Ivan harus menuruti apa yang dikatakan oleh Danu kepada mereka semua. Ivan dan Iwan kemudian mengikuti apa yang telah dikerjakan oleh Danu dengan mengambil plastik ketupat gulai dan memindahkannya ke dalam piring yang sudah diambilkan oleh Iwan tadi di pantry.
Mereka bertiga kemudian menikmati sarapan yang telah di beli. Sebungkus katupek gulai dengan gulai nangka dan rebung terhidang di depan mereka. Menu yang terlihat amat sangat lezat dan menggugah selera itu sudah tersaji di depan mata mereka. Apalagi dengan tambahan mie goreng dan juga gorengan serta kerupuk merah ciri khas katupek gulai daerah Padang, semua sajian itu semakin membuat selera mereka bertiga menjadi sangat sangat memuncak. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin memindahkan isi piring itu ke dalam perut mereka yang sudah lumayan berbunyi karena semalam tidak sempat makan malam lagi.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, sepiring katupek gulai dan segala pernak pernik tambahannya sudah berpindah ke dalam perut Danu dan kedua sahabatnya dalam waktu tiga puluh menit saja. Mereka bertiga benar benar terlihat sedang kelaperan saat menikmati hidangan katupek gulai tersebut.
"Lanjut kerja, tidak ada lagi yang saling mengejek. Ada paham Ivan?" ujar Danu saat sudah berdiri dari posisi duduknya untuk menuju ruangan manager.
"Iya Bang. Nggak akan mulai lagi" jawab Ivan yang langsung kehilangan semangatnya karena dilarang untuk melanjutkan menggoda Iwan.
"Yah gagal deh untuk melanjutkan menggodanya" ujar Iwan yang dapat menyaksikan wajah kecewa dari seorang Ivan yang gagal untuk menggoda dirinya kembali.
"Mau gimana lagi" ujar Ivan.
__ADS_1
Danu yang masih mendengar berbalas kata antara kedua anggotanya itu kembali mengeluarkan kepalanya.
"masih ribut, jatah makan siang ditiadakan" ujar Danu yang hanya mengeluarkan kepalanya saja dari balik pintu ruangan.
"Nggak" jawab Ivan dan Iwan kompak.
"Tenang aja Bang, loe belum aman" ujar Ivan dengan berbisik ke telinga Iwan.
"Ivan" teriak Danu yang masih dapat melihat dari dalam ruangannya apa yang dilakukan oleh Ivan kepada Iwan di luar sana.
"Yah tu orang" ujar Ivan mendadak menjadi lemas saat mendengar teriakan dari Danu yang berada di dalam ruangannya.
Danu hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat kekompakan sekaligus keanehan kedua anggotanya tersebut. Mereka berdua memang sangatlah aneh. Kadang bisa menjadi seperti tom and jeri, kadang bisa menjadi seperti tinki, winki, dipsi, lala dan po.
Iwan dan Ivan melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka melupakan sejenak untuk saling menggoda antara satu dengan yang lainnya. Mereka harus menyelesaikan sebuah maket yang akan digunakan sebagai bahan presentasi besok oleh Danu.
"Emang udah pasti kalau kita akan bertemu dengan Frans jam makan siang hari ini?" tanya Iwan dengan polosnya.
"Makanya kalau cinta bilang. Jadi goblok kan" ujar Danu yang langsung memulai keributan kembali.
"Kalau kerja jangan menggoda kawan" ujar Ivan mengingatkan Danu akan apa yang dikatakannya pagi kepada Ivan dan Iwan.
Danu yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan, langsung menutup pintu ruangannya.
"Haha haha haha, dia jadi kesal sendiri" ujar Iwan dan Ivan kompak.
"Loe terusin dulu. Gue pesan ruang makan VVIP dulu" ujar Iwan meminta kepada Ivan untuk melanjutkan memasang maket yang sudah ada itu.
Iwan menghubungi pihak rumah makan untuk memesan ruang makan VVIP satu sekaligus menu makan siang favorit mereka berempat. Setelah selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Danu, Iwan kembali ke dekat Ivan yang masih sibuk menyusun maket sesuai dengan sketsa yang telah dibuat oleh Iwan. Iwan mulai membantu Ivan kembali untuk menyiapkan maketnya itu.
__ADS_1
Tepat pukul setengah dua belas siang, Danu keluar dari dalam ruangannya.
"Gimana udah siap?" tanya Danu saat melihat maket yang dibuat sudah lumayan siap.
"Sembilan puluh persen. Kenapa?" tanya Iwan saat melihat Danu sudah rapi.
"Kita berangkat sekarang. Segan kalau Frans harus menunggu lama di restoran" ujar Danu mengajak Iwan dan Ivan untuk berangkat ke restoran.
"Oke" ujar Iwan setuju dengan ajakan Danu untuk pergi ke rumah makan sekarang.
"Van bawa semua bukti buktinya" perintah Danu kepada Ivan sambil mengingatkan Ivan yang terkenal sedikit pelupa.
"Oke. Semua sudah di ransel. Dari tadi nggak ada buka ransel" jawab Ivan yang memang sudah memasukkan semua barang barang yang menyimpan bukti bukti perselingkuhan Ranti sudah ada di dalam ransel kebesarannya itu. Ransel yang kalau hilang Ivan akan langsung menyewa semua detektif hebat untuk mencari ranselnya itu.
Mereka bertiga kemudian menyandang tas masing masing. Rencananya mereka akan langsung pulang ke rumah masing masing saat selesai pertemuan antara Frans dan Danu.
"Kita langsung ke bestman aja ya. Gue males lewat lobby" ujar Iwan yang tidak mau lewat lobby
"Nanti ketemu lagi dengan resepsionist cerewet itu" lanjut Iwan mengatakan alasannya yang tidak ingin lewat lobby.
"Yah kalau sama yang cerewet mengelak, gimana dengan yang curi curi pandang?" ujar Ivan langsung memakan bola tanggung yang diberikan oleh Iwan lewat jawabannya tadi.
"Makanya kalau cinta dan suka ngomong, ngapain curi curi pandang. Kayak kucing mau curi ikan asin aja" ujar Danu mulai memainkan kata katanya.
"Lah loe kok ikut ikutan" ujar Iwan protes kepada Danu yang ikut ikutan membully dirinya.
"Kan udah nggak sedang kerja lagi. Kalau sedang kerja memang nggak boleh" jawab Danu membela dirinya
"Ya lah yang bos" jawab Iwan
__ADS_1