
Aku ke tempat Ayah waktu Bang Danu udah pergi ke tempat Bang Frans' ujar Ivan mengirimkan sebuah pesan kepada Ayahnya mengabarkan jam berapa Ivan akan datang ke ruangan Ayah untuk membicarakan sesuatu yang penting menurut Ayah tadi saat mereka berada di berteman apartemen.
'Kalau nggak ada Danu, kamu bawa Iwan sekalian aja ya' kata Ayah membalas pesan yang dikirim oleh Ivan kepada dirinya.
'Sip. Tapi traktir makan siang' balas Ivan yang memang akan selalu meminta gratisan makan siang, walaupun sebenarnya tanpa diminta pun Ayah akan tetap memberikan Ivan dan Iwan makan siang di ruangannya.
'Sudah di dalam' ujar Ayah memberikan tanggapannya kepada permintaan yang diajukan oleh Ivan kepada dirinya.
Ivan mengirimkan screenshot percakapannya dengan Ayah kepada Iwan. Iwan membalas dengan memberikan stiker jempol sebesar gaban.
Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan sebentar sambil menunggu Danu yang akan berangkat ke kantor Frans untuk melakukan konsultasi perceraiannya yang kata Frans akan masuk mediasi dia hari lagi.
Ivan sibuk membuat sebuah desain cafe yang sangat sangat keren untuk dijadikan tempat duduk para anak muda. Sebuah desain yang dikerjakan oleh Ivan dengan sangat tekun sekali, Ivan berusaha meminimalkan setiap kesalahannya dalam membuat desain tersebut.
"Loe bikin apa Van?" ujar Iwan saat melihat Ivan yang sibuk dengan laptop miliknya buka komputer kantor seperti biasanya.
Iwan sangat paham kalau Ivan sudah memakai laptop miliknya berarti dia mengerjakan pekerjaan pribadi bukan pekerjaan kantor seperti biasanya. Sedangkan kalau sudah memakai komputer kantor maka bisa dipastikan Ivan sedang mengerjakan proyek kerjasama perusahaan dengan perusahaan lain.
"Sedikit rancangan untuk kafe Maya dan Vina yang baru Bang." jawab Ivan yang semakin serius menatap layar laptopnya. Dia sudah berjanji kepada Maya dan Vina untuk mengirimkan gambar dari rancangannya serta hitungan untuk biaya pembangunan kafe baru mereka hari ini. Tetapi sampai sekarang semuanya belum selesai di buat oleh Ivan. Ivan masih berkutat dengan desain, belum sampe kepada berapa harga yang akan dikeluarkan oleh Maya dan Vina dalam membangun kafe tersebut.
Iwan mentap kepada rancangan yang telah dibuat oleh Ivan sebentar ini. Iwan menatap dengan seksama rancangan pembangunan kafe Vina dan Maya yang akan menjadi cabang pertama di negara U.
__ADS_1
"Ada ide tambahan Bang?" ujar Ivan bertanya kepada Iwan yang terkadang memiliki ide ide yang tidak terduga sama sekali oleh Ivan. Ide yang diberikan oleh Iwan akan selalu memberikan nilai tambah terhadap sketsa yang dibuat oleh Ivan maupun Danu.
"Besok lah saat udah jadi seratus persen baru ditambahkan ide ide, kalau sekarang belum tau konsepnya seperti apa, bagaimana mau di kasih ide" ujar Iwan yang menolak untuk memberikan ide kepada Ivan pada saat ini.
"Loe udah janji ya Bang, mau ngasih ide ke gue saat ini desain selesai seratus persen" ujar Ivan meyakinkan kalau Iwan tidak akan berbohong kalau dia akan memberikan idenya saat desaign yang dibuat oleh Ivan selesai.
"Pegang lah" jawab Iwan
"Gue selesaikan dikit lagi Bang, nanti jam setengah sebelas kita ke tempat Ayah" ujar Ivan yang akan menyelesaikan sedikit lagi desainnya setelah itu baru mereka akan ke tempat Ayah sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh Ayah kepada mereka tadi pagi.
"Oke. Gue juga mau lanjutkan sedikit untuk redisaind gambar yang kemaren selesai di presentasikan" ujar Iwan yang memang saat presentasi dengan perusahaan yang akan melakukan kerja sama dengan mereka menemui sebuah kendala.
Perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan Danu meminta melakukan edit terhadap beberapa desaign yang mereka tidak suka. Iwan sudah membawa desaign yang harus di perbaharuinya itu, ada beberapa bagian dari bangunan itu yang minta untuk diganti desaignnya dengan tampilan yang lebih minimalis dan mencirikan dari proyek bangunan tersebut supaya berbeda dengan bangunan bangunan perumahan di tempat lain.
"Udah dari tadi loe di situ Dan?" ujar Iwan bertanya kepada Danu yang baru dilihatnya duduk di sofa ruangan dengan pakaian yang sudah rapi dan terlihat siap untuk pergi ke suatu tempat.
"Lumayan, loe berdua serius amat." komentar Danu saat melihat Iwan dan Ivan serius menatap layar komputer dan laptop masing masing, sampai sampai tidak menyadari kalau Danu sudah duduk dengan santai di sofa ruangan, padahal sofa itu berada tepat di depan mereka berdua.
"Terpaksa serius Bang, proyek keberlangsungan hubungan" ujar Ivan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Danu kepada dirinya dan juga Iwan
"Nah loe, apaan lagi tuh?"
__ADS_1
Danu penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh Ivan kepada dirinya. Danu langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah meja Ivan. Danu melihat sebuah desaign yang dibuat oleh Ivan. Danu berusaha mengingat kalau sekarang perusahaan tidak ada mendapatkan kerjasama untuk pembangunan kafe seperti yang dibuat oleh Ivan sekarang ini.
"Ini desain kafe untuk kerjasama dengan yang mana Van?" ujar Danu langsung bertanya saja kepada orang yang membuat desaign dari pada Danu harus memikirkan sendiri dan membalik balik memori otaknya memikirkan perusahaan mana yang melakukan kerjasama dengan mereka dalam pembangunan kafe.
"Nggak di negara ini Bang, tetapi negara luar" ujar Ivan menjawab pertanyaan dari Danu.
Danu berpikir sesaat atas apa yang dikatakan oleh Ivan kepada dirinya. Danu tiba tiba membayangkan sebuah nama yang muncul di memory otak Danu.
"Pasti negara U" ujar Danu langsung mengatakan kepada Ivan negara mana menurut tebakan Danu yang proyeknya sedang dikerjakan oleh Ivan pada saat ini.
"Nah tu tau"
Kali ini yang menjawab tebakan dari Danu bukanlah Ivan, melainkan Iwan. Iwan sangat senang sekali menjawab dengan cepat pernyataan yang diajukan oleh Danu tadi kepada Ivan.
"Oh Maya sama Vina mau menambah cabang kafe lagi?" ujar Danu dengan nada bertanya yang sangat terlihat nada cemasnya.
"Kok jadi cemas begitu bang?" ujar Ivan yang menangkap sinyal sinyal aneh yang sedang ditunjukkan oleh nada bicara Danu sebentar ini.
"Ais loe Van, gimana nggak akan cemas tu kawan, kekasihnya di negara U bikin kafe baru, tentu tu kekasih tidak akan pulang dalam waktu yang cepat ke negara ini. itu yang dipikirkan oleh kawan kita ini" kata Iwan mulai melakukan dan memberikan sindiran sindiran kepada Danu.
"Oh bener juga ya Bang. Pantesan tadi nadanya cemas banget, jadi itu yang ada dalam pikiran kawan. baru tau gue bang" ujar Ivan yang ikut ikutan membully Danu.
__ADS_1
"Ya sudahlah ya, kalau gitu aku jalan dulu" ujar Danu yang tidak akan mungkin bertahan berada di dekat Ivan dan Iwan, bisa habis Danu kalau berada di sana lama lama.
"Yah kabur, nggak asik loe bang" ujar Ivan bersorak saat melihat Danu yang memilih untuk pergi dari pada mendengar olok olokan yang diberikan oleh Ivan dan Iwan kepada dirinya.