
"Suruh aja nanti Maya sharelock ke elo Sar. Dia nanti akan ke kafe sama Pak Hans." ujar Vina yang sudah mengetahui kalau Maya akan ke kafe hari ini.
"Oh oke sip" jawab Sari.
Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan masing masing. Vina dan Sari akan mulai kerja full mengerjakan semua pekerjaan mereka yang telah mereka tinggalkan seminggu lamanya.
"Waduh serius ini dokumen? Banyaknya. Kerja rodi gue baca semua ini" ujar Vina saat melihat dokumen yang harus dibaca oleh dirinya.
Vina mulai mengambil dokumen yang telah disusun berdasarkan kebutuhannya. Vina mengambil dokumen yang paling atas. Dokumen yang paling mendesak waktu pengerjaannya.
Vina membaca dokumen itu dengan sangat teliti. Dia tidak mau salah dalam menganalisis sebuah dokumen. Vina ingin pekerjaannya benar benar dilakukan dengan sangat baik. Tanpa ada kesalahan sama sekali.
Hal yang serupa juga terjadi kepada Sari saat melihat apa yang tersaji di meja kerjanya.
"Ini semua pekerjaan atau makanan?" ujar Sari saat melihat dokumen dokumen yang ada tersaji dengan begitu banyaknya. Dokumen dokumen yang akan membuat Sari menjadi luar biasa pusingnya.
"Sari menatap tiga tumpukan dokumen dokumen itu. Harus mulai dari yang mana coba" ujar Sari sambil menatap semua dokumen dokumennya.
"Juan. Siapa lagi yang bisa bantu kalau tidak Juan" ujar Sari yang teringat dengan kekasihnya yang juga sangat ahli dalam dunia bisnis. Apalagi hanya sekedar membaca dokumen saja.
Sari kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas kerjanya. Dia akan meminta pertolongan. Dia tidak akan kuat membaca tiga tumpukan dokumen ini sendirian. Sari kemudian menghubungi nomor Juan. Juan yang sedang memantau para porter memindahkan barang barang ke dalam mobil kargo mengangkat panggilan Sari agak lama.
"Mana sih Juan, angkat dong Juan telpon dari aku" ujar Sari saat panggilannya masih belum diangkat oleh Huan.
"Hallo sayang, ada apa, baru juga pisah udah telpon aja" ujar Juan menyapa Sari dengan cara menggoda dirinya.
"Sayang jangan menggoda gitu. Aku lagi butuh bantuan kamu sayang" ujar Sari mengutarakan niatnya menghubungi Jero.
"Bantuan apa sayang? Tumben kamu minta bantuan aku. Ada apa?" tanya Jero yang kaget Sari meminta bantuan dari dirinya. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan oleh Sari selama ini.
"Baca dokumen kerjasama sayang. Masak iya tiga tumpukan. Aku nggak sanggup kalau harus baca sendiri sayang. Bantu aku ya" ujar Sari membujuk Juan untuk mau membantu dirinya.
"Bukan aku nggak mau bantu sayang, tapi apa harus sekarang? Kalau sekarang aku nggak bisa. Aku harus mengirim semua barang barang ini terlebih dahulu" ujar Juan yang ternyata juga sedang bekerja.
"Kamu nggak jadi terbang?" tanya Sari yang ingat Juan akan terbang hari ini.
"Nggak sayang, besok kayaknya. Aku akan ke perusahaan, tapi aku kirim semua brang barang ini dulu ya" ujar Juan memberitahukan kapan dia bisa datang menemui Sari.
__ADS_1
"Oke sayang, aku tunggu ya. Oh ya sayang, share lock kafe Maya sudah aku kirim sayang" ujar Sari yang memang sudah mengirim share lock lokasi kafe Maya berada.
"Udah aku Terima sayang. Barang barangnya sudah diantar, palingan bentar lagi sampe. Aku selesaikan semua ini dulu ya. Menjelang aku ke sana, kamu baca baca jugalah dokumen dokumen itu sebelum aku sampe ya" ujar Juan sambil tetap memberikan instruksi kepada semua porter yang ada di sana.
"Yang itu bukan ke mobil yang itu bro. Ke yang sebelah situ" ujar Juan memberikan instruksi kepada porter yang salah angkat barang.
"Yang itu baru ke situ" lanjut Juan mengabaikan telpon dari Sari.
Juan kalau sudah bekerja maka tidak ada satupun yang bisa mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Juan.
"Sayang" panggil Sari.
Juan baru sadar kalau sambungan telponnya dengan Sari belum terputus sama sekali.
"Maaf sayang, tadi aku mengabaikan kamu sesaat. Aku memberikan instruksi ke porter yang salah menaruh barang." ujar Juan meminta maaf kepada Sari karena telah mengabaikan telpon dari Sari.
"Nggak apa apa sayang. Aku sangat paham bagaimana cara kamu bekerja sayang. Pas jam makan siang ke perusahaan ya sayang. Sekalian bawa makan siang, aku lagi mager gara gara tiga tumpukan dokumen yang berada di depan aku ini sayang. Aku menjadi uwow" ujar Sari yang harus memfokuskan pikirannya ke tumpukan dokumen yang harus dibacanya saat ini.
"Sip sayang, nanti aku akan langsung ke sana pas pekerjaan di sini selesai. Bilang Vina juga nggak usah beli makan siang, aku lebihkan aja nanti" ujar Juan mengingatkan Sari agar mengatakan kepada Vina kalau makan siangnya akan dibawakan oleh Juan.
Sari memutuskan panggilan telponnya dengan Juan. Dia kemudian melanjutkan membaca dokumen dokumen yang ada di atas meja kerjanya itu.
Sedangkan di kafe, Maya sedang terlihat sangat sibuk dengan segala barang barang yang baru dikirimkan oleh Juan. Semua pekerja yang telah selesai membangun kafe itu mengangkat semua barang barang yang dibeli Maya ke dalam kafe.
"Nona Maya, bagaimana dengan kursinya?" tanya seseorang pekerja yang akan langsung jadi pelayan di kafe Maya. Pekerja itu minta berhenti dari pekerjaannya menjadi tukang bangunan. Dia meminta kepada Maya untuk menjadi pelayan di kafe. Maya akhirnya menyetujui permintaan pekerja ituitu.
"Katanya sebentar lagi akan di antar orang toko. Kursinya tarok di bagian luar yang mengarah ke pemandangan itu, yang dibagian belakang dan samping kafe." ujar Maya memberitahukan dimana akan diletakan kursi kursi yang sebentar lagi akan sampai.
"Kalau bantal bantal besar itu, tarok di rooftop aja. Di sana kita akan bikin orang seperti duduk sambil lesehan. Kalau yang mau pakai bantal silahkan pakai. Kalau yang mau di atas karpet juga boleh" ujar Maya memberitahukan kepada Tiga orang laki laki yang sudah diterima menjadi pelayan.
Mereka bertiga menaruh bantal bantal yang memang sudah datang ke atas roftopp. Di sana juga sudah ada boka untuk menyimpan bantal dan karpet saat hari hujan.
Semua meja sudah diletakan pada posisi masing masing. Meja dibuat oleh para pekerja yang membangun kafe dari lebihan kayu dan besi serta tripleks, jadi Maya sedikit hemat untuk membeli meja.
"Nona, itu kursi pesanan Nona datang" ujar Seorang pelayan sambil menunjuk mobil pick up yang datang.
Maya dan yang lainnya keluar dari dalam kafe. Mereka membantu pelayan toko menurunkan semua barang barang yang telah di beli oleh Maya.
__ADS_1
Para pekerja Maya membawa semua barang barang itu ke tempat tempat yang telah dikatakan oleh Maya tadi. Maya kemudian melihat jam tangannya. Hari sudah menunjukkan waktunya akan makan siang. Maya yang memang sudah menyiapkan semua bahan makanan di kafe nya, langsung menuju dapur baru, Maya akan memasak di dapur yang sifatnya terbuka dan bisa dilihat oleh pengunjung. Maya sengaja melakukan itu, agar pengunjung mengetahui kalau pesanan mereka benar benar dibuat secara fresh bukan dibuat pagi hari atau malam harinya.
Maya memasak cumi goreng tepung, ayam rica rica dan tumis kangkung. Maya sengaja hanya memasak tiga hal itu saja, karena waktu yang mepet. Maya mulai mengolah semua bumbu yang telah disiapkan nya.
Para pelayan yang telah selesai meletakkan kursi berjalan masuk ke dalam kafe saat mencium aroma wangi yang berasal dari dapur itu. Mereka melihat Maya dengan lihainya mengolah tiga masakan dalam sekali memasak. Mereka melihat Maya yang luwes memasukkan bumbu bumbu ke dalam tiga masakan yang langsung terjerang itu.
"Wow, ini keren Nona. Tiga masakan dalam sekali masak. Ini bener bener wow Nona" ujar salah seorang pelayan yang terkagum kagum melihat cara Maya memasak.
"Hahahaha.Santai aja bro. Apa pekerjaan kalian sudah siap?" tanya Maya yang telah memindahkan sayur kangkung ke dalam mangkuk.
"Sudah Nona." jawab ketiga pelayan dengan kompak
"Derik, tolong ambilkan nasi. Kita akan makan bersama sama, bentar lagi saus rica rica nya akan siap" ujar Maya meminta tolong salah satu pelayannya yang bernama Derik untuk membawa nasi.
"Kita makan di roftoop aja gimana Nona?" tanya pelayan yang lainnya bernama Hendri.
"Setuju. Kamu bawa air minum, kita akan makan di sana bersama sama. Saya juga pengen makan sambil ditemani cuaca yang lumayan lah ya" ujar Maya memikirkan gimana panasnya hari di roftoop itu.
"Tenang Nona, kita makan dibagian yang ada pohon rindang nya. Jadi nggak akan terkena panas matahari langsung" ujar Erik pelayannya yang lain.
Akhirnya semua masakan Maya selesai di buat. Maya dan ketiga pelayannya memakan hasil masakan Maya di roftoop seperti yang dikehendaki ketiga pegawainya itu.
"Nona ini bener bener luar biasa rasanya. Kalau tamu kafe kita tidak memesan ini makan akan saya katakan mereka gubelok" ujar Erik sambil memberikan dua jempolnya kepada Maya.
"Hahahahaha. Kamu bisa aja Erik. Oh ya besok gue akan masak semua menu makanan yang akan kita jual. Diantara kalian bertiga siapa yang jago fhotogragi?" tanya Maya yang ingin fhoto dalam menu makanannya adalah fhoto yang asli dari hasil masakannya.
"Saya Nona. Besok saya akan fhoto semua hasil masakan Nona itu" ujar Hendri yang memang sangat bagus saat mengambil gambar.
"Oke mari kita lanjutkan pekerjaan yang lain. Target kita awal minggu kita sudah grand opening kafe. Apa kalian masih semangat untuk melanjutkan pekerjaan ini?" tanya Maya kepada ketiga pelayannya itu.
"Siap Nona" jawab ketiga pelayan.
Derik dan Hendrik membawa piring kotor mereka ke dapur. Maya akan mencuci semua piring dan peralatan dapur yang telah dikotorkannya. Sedangkan untuk kelebihan dari menu makanan akan ditinggalkan Maya untuk ketiga pelayannya yang tidur di kafe itu. Maya membuatkan rumah petak muat untuk tiga orang di bagian bawah kafe untuk tempat tinggal pelayan pelayannya nanti.
Vina, Sari dan Maya melanjutkan pekerjaan mereka. Maya memang telah selesai makan siang, sedangkan Vina dan Sari masih menunggu kedatangan Juan yang sedang terkena macet di jalan. Mereka berdua menunggu sambil tetap membaca dokumen dokumen yang ada.
Sari sudah pindah keruangan Vina karena dia malas sendirian berada di ruangannya. Apalagi dengan melihat tiga tumpuk dokumen, semakin membuat Sari menjadi merasa tidak nyaman.
__ADS_1