
"Sayang udah jam sepuluh, kita pulang lagi yuk, besok kamu kerja pagikan? Belum lagi dokumen yang harus kamu baca masih banyak" ujar Juan mengajak Sari untuk pulang karena sudah larut malam. Tambah lagi mereka harus membaca dokumen dokumen yang masih ada lima lagi yang belum mereka selesaikan
"Oke sayang. Mari kita pulang" jawab Sari setuju untuk pulang ke rumah mereka. Mereka butuh istirahat untuk memulai hari esok dengan kesibukan yang sama.
"Kami pulang dulu Vin." ujar Sari melambaikan tangannya ke arah Vina dan Maya. Vina dan Maya membalas lambaian tangan Sari.
"May, bisa bicara sebentar?" tanya Vina dengan nada serius kepada Maya saat Maya akan membuka pintu kamarnya.
"Bisa, dimana?" tanya Maya yang juga ingin mengobrol dengan Vina
"Di balkon ajalah" ujar Vina sambil berjalan ke arah balkon lantai dua rumah mereka.
Vina dan Maya kemudian duduk di balkon rumah. Balkon yang menghadap ke rumah rumah para manager yang rata rata dihuni oleh para staff yang masih belum memiliki rumah pribadi.
"Ada apa Vin?" tanya Maya saat mereka sudah duduk di balkon sambil menikmati angin malam yang masih belum terlalu dingin untuk orang yang biasa tinggal di daerah tropis seperti Vina dan Maya.
Vina terdiam, dia menatap lama ke arah bangunan bangunan rumah itu. Vina terdiam cukup lama, Vina terlihat berpikir dari mana mau memulai pembicaraan dengan Maya tentang Danu.
"Gue mulai dari mana ya, nggak tau mau mulai dari mana ini?" ujar Vina yang masih ragu mau mulai dari mana pembicaraan antara dirinya dengan Maya.
"Ngomong aja. Masalah Danu?" ujar Maya menebak ke arah mana pembicaraan Vina akan diarahkan.
Vina mengangguk. Dia memang akan bercerita tentang Danu kepada Maya. Tapi, Vina tidak tau harus mulai dari mana bercerita saat ini.
"Ngomong lah. Gue akan denger apa yang mau loe omongin, gue nggak akan menyela sama sekali." ujar Maya meyakinkan Vina untuk menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Danu.
"Tadi pagi saat gue masih tidur, Danu nelpon gue" ujar Vina memulai ceritanya kepada Maya, tentang Danu yang menghubunginya tadi pagi saat dia masih tidur.
"Pagi?" tanya Maya kaget mendengar jam berapa Danu menghubungi Vina tadi.
"Iyup pagi. Gue aja kaget saat dia menghubungi gue" ujar Vina menjawab pertanyaan dari Maya.
"Apa katanya?" tanya Maya yang penasaran dengan apa pembicaraan antara Vina dengan Danu.
FLASHBACK PAGI HARI
Vina masih memeluk guling, karena rasa kantuk dan lelah masih menghantui dirinya. Vina mendengar sayup sayup bunyi panggilan masuk di ponsel miliknya. Vina meraih ponsel tersebut, dia melihat hanya nomor saja yang tampil di layar ponselnya.
Vina melihat jam dinding kamar, jarum jam menunjukkan pukul empat dini hari. Vina memastikan penglihatannya, dia melihat jarum jam memang masih di angka empat, masih belum beranjak sedikitpun.
"Ini orang punya otak nggak sih nelpon subuh subuh" ujar Vina menatap layar ponselnya dengan kesal. Dia benar benar marah dengan orang yang menghubunginya tidak kenal waktu itu.
Panggilan itu berakhir begitu saja. Vina sama sekali tidak berminat untuk mengangkat panggilan dari nomor tersebut. Vina kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas. Vina kembali memejamkan matanya untuk menyambung tidur yang sempat terganggu oleh bunyi ponsel.
Ternyata orang yang menghubungi Vina, masih mencoba peruntungannya. Ponsel Vina kembali berbunyi saat ia hendak memejamkan matanya untuk kembali tidur.
"Ini orang kekeh banget pengen nelpon" ujar Vina kesal dan mengambil ponselnya di atas nakas.
"Siapa yang nelpon coba. Hari masih gelap gini" ujar Vina sambil menekan tombol hijau di layar ponsel miliknya. Panggilan itu akhirnya terhubung juga.
"Hallo, siapa ya, nelpon nggak nengok waktu gini?" ujar Vina menyapa seseorang yang menghubunginya subuh subuh begini dengan nada kesal.
"Hallo Vina, ini Danu" ujar Danu menyapa Vina.
Vina terdiam saat mendengar suara Danu. Dia tidak menyangka Danu akan menghubunginya kembali. Vina mengira semua yang dikatakan Danu di bandara itu hanya omong kosong belaka. Tetapi ternyata tidak. Danu memang berniat untuk kembali kepada dirinya.
"Eh Danu, ada apa? Tumben nelpon" ujar Vina yang sudah bisa menetralkan kembali kegugupan nya dan perasaannya.
"Nggak ada kenapa kenapa. Cuma pengen nelpon aja. Kamu sedang ngapain?" tanya Danu kepada Vina dengan nada ramah.
"Ini baru bangun tidur." ujar Vina menjawab pertanyaan dari Danu.
"Aku ganggu nggak Vin?" tanya Danu ingin memastikan apakah panggilannya saat ini mengganggu Vina atau tidak.
Vina terdiam, dia ingin menjawab kalau Danu menganggu nya, tapi di satu sisi lain dalam pikirannya, dia juga rindu mendengar suara seseorang yang berarti dalam hidupnya dan selalu ada dalam pikirannya selama ini. Berkali kali Vina berusaha melupakan, tetapi berkali kali itu juga rasa semakin bertambah.
"Vina, aku ganggu kamu ya? Kenapa kamu diam?" ujar Danu bertanya kepada Vina yang hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Danu sedikitpun.
"Eeh sorry Bang. Nggak kok, kamu nggak ganggu aku. Aku tadi pergi ambil air minum. Haus" ujar Vina berbohong kepada Danu.
"Oh kirain kamu terganggu sama telpon aku. Syukur kalau ternyata tidak. Kamu tidur jam berapa tadi. Masak jam delapan udah bangun aja?" ujar Danu saat melihat jam dinding kamarnya yang menunjukkan angka delapan.
Vina menepuk jidatnya. Dia lupa kalau perbedaan waktu antara negara U dengan negara I sangatlah jauh berbeda.
"Tadi pulang kerja, aku merasa capek banget makanya ketiduran, eee nggak taunya bablas" ujar Vina berbohong kepada Danu.
"Terus nanti nyambung tidur jam berapa?" tanya Danu.
Danu seperti tidak ingin mengakhiri percakapannya dengan Vina. Dia masih terus bertanya kepada Vina.
"Kayaknya pas ngantuk aja. Nggak pasti jam berapa" ujar Vina menjawab sekenanya kepada Danu.
"Kiranya nggak ngantuk ngantuk gimana?" lanjut Danu memberikan pertanyaan berikutnya kepada Vina.
__ADS_1
"Ngantuk, baca novel online pasti ngantuk. Nggak mungkin nggak lah nggak ngantuk." jawab Vina yang memang kalau susah tidur dia akan membaca novel online sampai tertidur sendiri karena matanya udah terlalu lelah.
"Ooo. Sekarang kamu kerja dimana Vin?" pertanyaan yang lain dimunculkan oleh Danu kepada Vina.
"Nggak kerja dimana mana, hanya membuka usaha roti kecil kecilan aja" jawab Vina berbohong kepada Danu.
"Oh, Aku kira saat Kita bertemu di bandara itu, kamu mau pergi ke luar negeri untuk kerja di sana" ujar Danu mengutarakan kepada Vina apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Hahahaha, mana ada. Kenalan aja nggak ada di luar negeri. Ngapain mau ke sana." jawab Vina mengelak dari pertanyaan Danu.
"Jadi, ngapain ke bandara hari itu Vin?" tanya Danu mulai mengorek Vina.
"Ooooo. Aku kerja di luar pulau, makanya harus pakai pesawat ke sana" jawab Vina yang bisa menjawab lancar pertanyaan Danu dibagian itu.
"Bukannya terminal kemaren itu terminal khusus penerbangan pesawat pribadi?" ujar Danu mengingat di terminal mana Danu bertemu dengan Vina.
"Iya. Aku di ajak satu pesawat dengan Tuan dan Nyonya pemilik tempat jualan yang sudah aku beli, tokonya itu" jawab Vina sambil tersenyum kepada Danu.
"Oh aku kira kamu masih di ibu kota kerja. Ternyata udah nggak lagi" ujar Danu dengan suara lemahnya. Danu langsung menjadi pria yang tidak mood semenjak mendengar Vina tidak lagi di ibu kota.
"Ooooo. Tidaklah, semenjak kejadian itu, aku meninggalkan ibu kota." ujar Vina menjawab pertanyaan Danu. Vina sengaja menjawab seperti itu agar Danu sadar Vina pergi karena kesalahan dia.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan seputar kegiatan mereka masing masing. Tapi yang lebih banyak bertanya adalah Danu kepada Vina. Vina hanya menjawab kalau Danu bertanya. Sedangkan Vina tidak pernah bertanya apapun kepada Danu. Kalau tidak ada pertanyaan dari Danu, maka mereka akan diam cukup lama.
Vina melihat jam dinding, sudah jam enam pagi. Vina harus menghentikan telpon dari Danu. Dia berencana untuk memasak sarapan. Vina berpikir bagaimana cara dia memutuskan panggilan telpon dari Danu.
"Yah dengan menguap" ujar Vina pelan.
"Hoam" ujar Vina pura pura mengantuk.
Vina sengaja menguap dengan besar agar terdengar oleh Danu. Danu ternyata memang mendengar Vina menguap, tambah lagi dia juga udah mengantuk.
"Oh kamu kayaknya udah ngantuk Vin. Kalau gitu, kamu tidur aja lagi. Aku juga mau tidur" ujar Danu kepada Vina mengakhiri percakapan mereka.
"Iya Dan. Kayaknya aku memang sudah mengantuk. Aku tidur dulu ya" ujar Vina sambil menahan senyumnya.
"Selamat tidur Vina" ujar Danu kepada Vina.
Vina tidak menjawab perkataan Danu. Dia hanya diam saja. Vina kemudian menekan tombol merah dan memutuskan panggilan telpon tersebut.
BALKON
"Nah gitu, dia nelpon" ujar Vina kepada Maya.
"Nggak. Jujur nggak sama sekali" jawab Vina yang tidak mau berbohong kepada Maya.
"Nah kalau nggak, saat dia telpon angkat aja. Tapi aku mohon sama kamu, pastikan dulu status dia, baru kamu buka hati kembali. Aku nggak mau kamu kecewa untuk ke dua kali" ujar Maya yang nggak mau sahabatnya kecewa untuk kali kedua akibat Danu.
"Oke sip. Aku juga nggak mau terpuruk untuk ke dua kalinya" ujar Vina kepada Maya.
"Keren itu. Udah malem tidur yuk" ujar Maya mengajak Vina untuk beristirahat.
"Kafe gimana?" tanya Vina yang ingat Maya seharian ke kafe.
"Besok bahas. Ngantuk" ujar Maya teriak kepada Vina.
Maya sudah berjalan masuk kembali ke rumah. Vina akhirnya mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat malam. Besok pagi mereka akan beraktifitas lagi seperti biasa.
"Kafe gimana?" tanya Vina yang ingat Maya seharian ke kafe.
"Besok bahas. Ngantuk" ujar Maya dengan suara keras kepada Vina. Maya benar benar sudah mengantuk dan sangat lelah hari ini, dia membutuhkan istirahat yang cukup untuk kembali beraktifitas besok di kafe.
Maya sudah berjalan masuk kembali ke rumah. Vina akhirnya mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat malam. Besok pagi mereka akan beraktifitas lagi seperti biasa.
...****************...
Tepat pukul tiga dini hari waktu negara U, giliran Maya yang dibangunkan oleh Ivan subuh subuh. Dering suara ponsel yang telah berkali kali berbunyi membangunkan Maya dari tidur lelapnya. Dia melihat ternyata Ivan yang sudah menghubunginya berkali kali. Tapi itulah beda Maya dengan Vina, Maya tidak akan mengangkat panggilan itu karena dia benar benar butuh istirahat.
"Tenang sayang, besok baru akan aku balas dengan pesan chat. Aku mengantuk dan capek berat. Kamu nggak ngerasain gimana capeknya aku sekarang" ujar Maya menjawab panggilan telpon dari Ivan tanpa mengangkat panggilan itu.
Maya kembali memejamkan matanya, tetapi sebelumnya dia sudah menonaktifkan nada dering ponselnya. Maya benar benar tidak ingin diganggu jam tidurnya oleh siapapun. Bahkan untuk membuat sarapan pun Maya enggan hari ini.
Vina yang terbangun karena bunyi alarm ponselnya, langsung membasuh wajahnya ke wastefel yang ada di depan pintu kamar mandi. Vina melihat ponselnya yang juga ternyata telah dinonaktifkan nada dering nya tadi malam. Ternyata pada layar ponsel terlihat sepuluh kali panggilan tak terjawab dari Danu serta ada lima belas pesan chat.
"Is gigih kali ne orang untuk nelpon sama ngirim pesan chat" ujar Vina menggerutu melihat layar ponsel miliknya.
Vina membuka pesan chat itu satu persatu, isinya semua intinya sama, yaitu menanyakan Vina sedang ngapain dan apa sudah tidur sehingga tidak menjawab panggilan telpon dari Danu.
'Bukan nggak mau angkat, tapi capek habis kerja, ini sedang istirahat' bunyi balasan pesan yang dikirim oleh Vina kepada Danu.
Vina tidak ingin dikatakan oleh Danu sengaja menghindar dari Danu. Kenapa Vina berbuat seperti itu, karena dia sudah berjanji akan memberikan Danu kesempatan kedua. Apalagi kemaren Danu juga sudah mengatakan akan menemui Ranti dan mengajukan gugatan perceraian. Jadi, Danu sudah berhak untuk memanfaatkan kesempatan kedua itu.
Setelah mengirimkan pesan chat tersebut, Vina keluar dari kamarnya. Dia melihat lampu kamar Maya yang masih mati.
__ADS_1
"Kayaknya tu anak bener bener lelah bekerja kemaren di kafe. Aku akan tanyakan Pak Hand, ngapain aja dia kemaren di kafe." ujar Vina sambil berbicara pelan di depan pintu kamar Maya yang masih tertutup rapat dan tidak ada tanda tanda orang sudah bangun dari dalam kamar itu
Vina kemudian turun ke lantai bawah rumahnya. Dia berencana untuk memasak sarapan hari ini. Dia telah lama sekali tidak memasak, jadi, kali ini dia akan melepaskan rasa rindu memasaknya.
"Bikin apa ya?" ujar Vina saat dia melihat isi almari pendingin.
Vina terlihat berpikir sambil melihat lihat isi kulkasnya itu. Isi kulkas yang masih sangat penuh karena Bik Ima baru selesai berbelanja mingguan ke pasar.
"Nasi uduk ajalah, setelah itu bikin telur dadar, ayam bumbu sama terakhir mie goreng" ujar Vina yang telah menemukan akan memasak apa hari ini untuk sarapan mereka hari ini.
Vina mengeluarkan semua bumbu bumbu yang dibutuhkan untuk membuat nasi uduk dan juga yang lainnya.
Vina mengupas semua bumbu bumbu, setelah itu memisahkan mana yang untuk nasi duduk, telur dadar, ayam bumbu dan juga mie goreng.
Setelah memisahkan semua bumbu, Vina mengulek bumbu untuk memasak nasi uduk. Setelah itu Vina memasak nasi uduk. Tersebut kedalam rice cooker. Dia tidak mungkin memakai kompor untuk memasak nasi uduk.
Saat nasi uduk dimasak, Vina merebus ayam lengkap dengan bumbunya. Sambil menunggu ayam selsai, Vina merebus air hangat untuk merendam mie. Vina memakai semua kompor yang ada di sana.
Makanan pertama yang selesai di masak Vina adalah telur dadar. Vina memasak telur dadar dari kota Padang. Telur dadar yang padat dan banyak memakai rempah rempah.
Vina kemudian memasak mie goreng, selain itu dia juga menggoreng ayam bumbu yang telah didinginkan.
Rina yang baru selesai menyiram tanaman di taman belakang rumah langsung menuju dapur. Rina penasaran siapa yang sedang memasak dan tercium aroma sangat wangi itu.
"Eh Nona Vina. Saya kira Nona Maya tadi" ujar Rina yang kaget melihat siapa yang sedang memasak di dapur.
"Maya masih tidur Rin. Jadi, saya sekarang yang masak sarapan" ujar Vina yang telah menyelesaikan memasak mie goreng.
Hanya tinggal ayam goreng satu kali goreng lagi. Vina melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Rina sudah mengambil sapu untuk menyapu rumah.
Setelah menyelesaikan semua masakannya, Vina melihat nasi uduk yang tadi diolah oleh dirinya. Vina memastikan kalau nasi itu sudah matang dan sudah bisa untuk di santap saat sarapan.
Vina kemudian membuat sepoci teh hangat hijau untuk dirinya dan Maya. Mereka memang selalu meminun teh hijau kalau sarapan mengandung kalori yang sangat tinggi seperti sekarang ini.
Setelah meyakinkan kalau semua menu untuk sarapan telah selesai dieksekusi oleh Vina. Vina kemudian menghidangkan di atas meja makan. Kali ini mereka akan makan di sana. Tidak di meja mini bar lagi, seperti sarapan kemaren pagi.
Vina kembali menuju kamarnya, dia akan membersihkan badannya terlebih dahulu dan akan langsung bersiap siap untuk berangkat kerja. Saat melewati kamar Maya, Vina masih mendapati pintu kamar dan lampu kamar yang masih belum menyala.
"Berarti ini anak bener bener lelah, tuh dia masih belum juga beranjak dari kasurnya." ujar Vina saat menyaksikan keadaan kamar Maya yang masih sama kayak tadi saat Vina mau pergi memasak sarapan.
Vina kemudian masuk ke dalam kamarnya.. Vina melakukan semua rutinitasnya sebagai perempuan. Vina membersihkan dirinya dan juga telah memakai pakaian kerjanya. Hari ini karena ada meeting penting, jadinya Vina memakai pakaian kantor formal. Kemeja putih, blazer dan rok span di bawah lutut. Tidak lupa ula Vina merias wajahnya dengan riasan natural. Untuk rambut Vina mengikat setengah rambutnya dan membuat rambut tersebut menjadi ikal. Vina benar benar tampil cantik dan maksimal hari ini. Penunjang penampilannya yang sudah wow itu, Vina memakai high heels tinggi tujuh senti berwarna crem.
Vina telah selesai berias dan sudah siap untuk berangkat ke perusahaan. Sedangkan hal sebaliknya terjadi kepada Maya. Maya masih larut dalam tidurnya, dia benar benar malas untuk bangun. Badannya capek capek semua. Makanya Maya tidak juga bangun dari atas ranjang empuknya itu.
Setelah memastikan kalau dirinya sudah tampil oke, Vina keluar dari kamar. Dia menyempatkan diri untuk melihat keadaan kamar Maya. Tetapi ternyata masih sama.
"Maya Maya, udah dibilang jangan terlalu lelah. Eee malah makin lelah parah" ujar Vina menggerutu di depan kamar Maya. Ingin rasanya Vina mengetuk pintu kamar itu, tetapi diurungkan nya niatnya kembali saat melihat bagaimana lelahnya Maya semalam. Apalagi Maya masih menyempatkan diri untuk memasak menu makan malam mereka saat pulang dari kafe.
Vina kemudian menuju meja makan. Dia akan sarapan sendirian hari ini. Vina kemudian mengisi piringnya dengan nasi uduk dan pelengkapnya yang lain. Setelah itu, Vina menyantap sarapannya dalam kesendirian. Vina menyelesaikan sarapannya dalam waktu yang sangat singkat.
"Ternyata makan sendirian sama sekali tidak enak." ujar Vina sambil menatap meja makan yang besar tapi hanya ada dia sendirian duduk di sana. Vina merasa hal itu adalah suatu yang aneh. Makanya hal itu membuat selera makan Vina menjadi hilang
Vina mengambil semua barang barangnya. Dia kemudian berjalan menuju teras. Pak Hans sudah berdiri di dekat mobil dan sudah membukakan pintu mobil untuk Vina.
"Silahkan masuk Nona" ujar Pak Hans kepada Vina.
"Terimakasih Pak Hans" ujar Vina.
Vina kemudian masuk ke dalam mobil. Pak Hans kemudian menutup pintu mobil Vina. Pak Hans berlari menuju kursi sopir. Pak Hans melakukan mobil menuju perusahaan tempat Vina bekerja.
"Pak Hans, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Vina kepada Pak Hans yang sedang fokus menyetir mobil.
"Boleh Nona. Sepengetahuan saya akan saya jawab kepada Nona. Tapi kalau saya tidak tahu maka maaf, saya akan mengatakan saya tidak tahu jawabannya" ujar Pak Hans memperbolehkan Vina untuk menanyakan hal apapun kepada dirinya. Pak Hans akan menjawab semua pertanyaan dari Vina.
"Pak Hans, apakah kemaren Maya bekerja terlalu keras di kafe?" tanya Vina kepada Pak Hans.
Pak Hans terlihat berpikir. Dia berusaha mengingat apa saja yang dilakukan oleh Maya sehari kemaren di kafe.
"Pak Hans, kenapa diam?" tanya Vina kepada Pak Hans.
"Sebentar Nona, saya berusaha mengingat apa saja yang dilakukan Nona Maya kemaren di kafe" ujar Pak Hans kepada Vina.
"Nona, kemaren Nona Maya memang sangat luar biasa sibuk. Nona Maya juga membantu para karyawan untuk mengangkat kursi kursi yang baru dibelinya dan meletakkan kursi kursi itu di tempatnya" ujar Pak Hans menceritakan apa saja kesibukan Maya kemaren, sehingga membuat Maya tidak juga bangun sampai Vina berangkat ke kantor.
"Terimakasih atas infonya Pak Hans" ujar Vina yang sudah tidak akan bertanya lagi. Vina sudah tau penyebab Maya masih tidur sampe sekarang.
Tak terasa mereka telah sampai di depan lobby perusahaan. Vina bersiap siap untuk turun dari dalam mobil.
"Pak Hans langsung pulang saja. Mana tau Maya juga mau pergi ke kafe hari ini. Saya tidak mau dia naik kendaraan umum Pak Hans" uajr Vina meminta Pak Hans untuk kembali pulang ke rumah.
"Siap Nona. Kalau nanti Nona mau pulang hubungi saya saja" ujar Pak Hans.
"Oke Pak" jawab Vina.
__ADS_1
Vina kemudian masuk ke dalam perusahaan tempat dia bekerja. Sedangkan Pak Hans kembali menyetir mobil menuju rumah. Dia akan mengantarkan Maya ke kafe kalau Maya memang mau pergi ke kafe. Kalau tidak, maka Pak Hans akan kembali ke perusahaan tempat Vina bekerja.