Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pencarian Ivan


__ADS_3

"Bang gue balik dulu ya" ujar Ivan sambil mengambil tas ransel miliknya yang terletak di kursi sebelah Ivan


"Kok cepat banget Van?" ujar Frans yang kaget saat mendengar Ivan yang ingin langsung pulang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Frans sebentar ini yang membahas tentang Anggara pengacara sekaligus kekasih Ranti.


"Ada kerjaan Bang" ujar Ivan yang terpaksa harus berbohong kepada Frans.


Ivan sudah tidak bisa memundurkan lagi jadwalnya untuk pulang ke panthouse supaya bisa melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan oleh dirinya sebelum semuanya terlambat di lakukan oleh Ivan.


"Oh baiklah" ujar Frans yang tidak mengkin mencegah keinginan Ivan untuk pulang. Apalagi tujuan Frans meminta Ivan untuk datang ke kantornya sudah tercapai. Frans sekarang hanya tinggal melihat apa yang akan dilakukan oleh Ivan ke depannya. Frans sangat yakin kalau Ivan tidak akan bersikap diam saja saat tahu apa yang sedang terjadi sekarang yang juga ada efeknya kepada Danu, manager sekaligus teman Ivan di kantor.


Frans sama sekali tidak bisa lagi menahan Ivan untuk pulang karena Ivan sudah menyandang tas ranselnya dan mengambil munci motor yang ditaruh Ivan di atas meja.


"Hati hati Van" ujar Frans sambil mengantarkan Ivan ke pintu ruang kerjanya.


"Makasi Bang. Maaf harus bergegas pulang kembali ke kantor" ujar Ivan


"Mau di antar sampai lobby Van?" uajr Frans berbasa basi kepada Ivan. Frans sangat tahu kalau Ivan pasti tidak akan pernah mau untuk di antar ke lobby dalam waktu yang seperti ini.


"Nggak usah aja Bang. Gue bisa sendiri" ujar Ivan yang sudah tidak sabar lagi ingin segera lepas dari Frans. Ivan harus segera mengeksekusi apa yang ada dalam pikirannya sekarang ini. Ivan tidak boleh terlambat.

__ADS_1


Ivan kemudian bergegas untuk pergi meninggalkan kantor Frans. Ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh dirinya sebelum semuanya terlambat. Ivan tidak mau dengan permasalahan baru ini bisa membuat perceraian Danu dan Ranti menjadi ruwet kembali. Sebenarnya sekarang saja Ivan sudah sangat terlambat apalagi dengan tambah memperlama lagi maka akan semakin terlambat Ivan untuk bisa menghentikan liarnya berita di luar sana.


Ivan yang terburu buru saat menuju motornya tanpa sengaja menyenggol seorang wanita. Ivan menatap wanita itu sekilas.


"Maaf saya terburu buru" ujar Ivan sambil memberikan buku dari wanita itu yang terjatuh saat Ivan menabrak dirinya.


"Oh iya tidak apa apa" ujar wanita itu.


Ivan kemudian melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti sekian menit karena menabrak seorang wanita. Wanita yang tadi di tabrak oleh Ivan menatap ke arah Ivan.


"Tampan sekali" ujar wanita itu


"Gue harus mendapatkan dia" lanjut wanita itu sambil menatap ke arah Ivan yang sudah menghilang.


Ivan yang sama sekali tidak peduli dengan wanita itu melanjutkan perjalanannya menuju motor. Ivan kemudian mengemudikan motornya menuju panthouse milik Ayah. Ivan sudah tidak sabaran lagi untuk melakukan apa yang sudah ada di dalam otaknya pada saat ini. Ivan harus melakukan itu segera. Ivan mengemudikan motor dalam kecepatan tinggi, untung saja pada saat itu jalanan menuju panthouse bisa dikatakan sepi tidak seperti waktu waktu karyawan pada pulang kerja.


Ivan hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit dari kantor Frans untuk menuju panthouse Ayahnya. Sekarang Ivan sudah berada di parkiran khusus untuk pemilik panthouse yang ada di apartemen tinggi menjulang itu. Ivan memarkir motornya di sana, tepat di sebelah mobil milik Ivan yang sangat jarang dipakai Ivan karena dalam kesehariannya Ivan lebih banyak memakai motor. Alasan Ivan gampang yaitu simpel dan menghemat waktu di perjalanan.


Ivan memarkir motornya, setelah itu dia langsung berjalan cepat menuju lift yang ada di bestman. Ivan memasukkan password untuk menuju lantai panthouse tempat Ivan dan Ayah tinggal selama ini. Keamanan panthouse di apartemen ini sangat terjamin, untuk menuju panthouse memakai lift, setiap orang diminta untuk memasukkan pin, kalau tidak maka lift tidak akan bisa menuju panthouse yang diinginkan. Salah satu yang membuat Ayah memilih untuk tinggal di panthouse di apartemen itu karena tingkat kerahasiaan kamar panthouse sangat dijamin di apartemen ini. Apalagi dengan kondisi Ivan yang tidak ingin siapapun tahu siapa dia sebenarnya, kecuali orang orang yang memang sudah tahu siapa Ivan sebenarnya.

__ADS_1


Pintu lift terbuka langsung di depan panthouse. Ivan masuk ke dalam panthouse yang sepi itu. Ayah sama sekali belum pulang dari perusahaan, Ivan melihat jam dinding panthouse yang menunjukkan masih pukul setengah empat sore.


"Pantesan ayah belum pulang hari saja masih jam setengah empat" ujar Ivan yang memang sudah tahu Ayah belum pulang karena mobil Ayah tidak ada di bestman.


Ivan mengambil air mineral dari almari pendingin, Ivan juga mengambil buah potong yang juga ada di dalam almari pendingin. Dia membawa semuanya ke kamar. Ivan akan mulai melakukan apa yang sudah direncanakannya dari tempat kerja Frans tadi. Ivan tidak mengulur ngulur waktu lagi.


Ivan langsung menghidupkan komputer mahalnya itu. Komputer yang sudah dilengkapi dengan peralatan canggih untuk melakukan hobby hobby Ivan. Ayah akan selalu mengupgrade komputer milik Ivan. Asal ada keluaran terbaru maka Ivan akan langsung punya tanpa menunggu waktu yang lama. Bahkan barang belum lounching sudah bisa dipastikan kalau Ivan akan memiliki satu dari seri keluaran terbaru itu. Ayah sangat mendukung apa yang dilakukan dan diinginkan oleh Ivan.


Ivan menukar pakaian rapinya dengan stelan rumahan, celana pendek dan baju kaos longgar. Pakaian favorit Ivan apabila sedang bekerja di depan komputer melacak dan mencari sesuatu bahkan merusak sesuatu.


"Mending telpon Bang Iwan minta dia datang ke sini" ujar Ivan yang tiba tiba memutuskan untuk mengajak Iwan dalam kegiatannya kali ini.


"Minimal Bang Iwan bisa menemani begadang gue kan ya, dari pada sendirian bekerja" ujar Ivan sambil senyam senyum sendiri sehabis berkata menghubungi Iwan hanya untuk menemani Ivan begadang.


Ivan mengambil ponsel miliknya, dia langsung saja mengirim pesan chat kepada Iwan. Ivan menunggu beberapa saat sambil membuka aplikasi yang selalu digunakan oleh Ivan untuk melakukan pekerjaannya itu.


'Gue ke sana, sehabis meeting' ujar Iwan membalas pesan chat yang dikirim oleh Ivan kepada dirinya.


'Gue tunggu Bang. Sampe di pathouse ngomong ya, biar gue jemput ke lobby' ujar Ivan membalas pesan chat yang dikirimkan oleh Iwan sebagai balasan dari pesan chat yang dikirim oleh Ivan tadi.

__ADS_1


'Siap' jawab Iwan dengan satu kata saja.


Danu dan Iwan sekarang sedang membahas kerjasama dengan salah satu perusahaan ternama yang ada di negara I. Perusahaan JFB Grup, salah satu perusahaan properti ternama di negara I. Selain properti banyak lagi bisnis yang dilakukan oleh JFB Grup, makanya Danu dan Iwan harus bisa memenangkan kontrak kerjasama kali ini supaya bisa menjalin kerjasama di bidang lain dengan perusahaan raksasa itu. SIapa pebisnis di negara I yang tidak tahu dengan perusahaan JFB Grub, perusahaan yang dalam sekejap bisa langsung menjadi perusahaan raksasa dan memiliki gurita bisnis yang sangat luar biasa besarnya.


__ADS_2