
Vina, Sari dan Juan berjalan cepat menuju kamar Maya yang terletak di lantai dua rumah itu. Vina membuka dengan tergesa gesa pintu kamar Maya. Mereka langsung masuk ke dalam kamar. Sari kaget melihat Maya yang terbaring lemah di atas kasur.
"Maya" teriak Sari saat melihat keadaan Maya.
Vina dan Sari langsung naik ke atas ranjang besar milik Maya. Mereka kemudian memeriksa suhu tubuh Maya. Mereka takut sesuatu yang buruk terjadi kepada Maya.
"Panas kali Vin" ujar Sari saat meraba leher Maya yang luar biasa panas itu.
"Sama Sar. Sepertinya naik dari pada saat gue mau cari air untuk ngompres Maya tadi" ujar Vina memberitahukan kepada Sari keadaan Maya sebelum Sari dan Juan datang.
"Lebih baik kita bawa Maya ke rumah sakit sekarang" ujar Juan yang tidak mau berlama lama di sini. Maya harus mendapatkan pertolongan sesegera mungkin.
Vina memasukkan beberapa potong pakaian Maya ke dalam tas ransel. Vina sudah sangat yakin kalau Maya pasti akan di rawat di rumah sakit
"Sari tolong semua berkas berkas Maya ada di dalam laci meja rias nya. Kita akan membutuhkan itu nanti sampai di rumah sakit" ujar Vina yang saling memberitahukan kepada Maya dimana masing masing mereka menyimpan berkas berkas penting milik mereka masing masing.
Sari mengambil berkas berkas milik Maya. Setelah itu Sari berjalan kembali ke ranjang.
"Kamu kuat sayang gendong Maya sendirian ke bawah?" tanya Sari saat melihat Juan bersiap siap menggendong Maya menuju mobil
"Kuat sayang" ujar Juan dengan sangat yakin. Juan tidak mungkin meminta Sari ataupun Vina membantu dirinya mengangkat Maya. Sedangkan Pak Hans, Rina dan Bik Ina sedang tidak ada di rumah, mereka suda berada di kafe. Sehingga mau tidak mau Juan harus mengangkat Maya sendirian ke atas mobil.
Juan menggendong Maya turun ke lantai satu rumah. Sedangkan Sari berlari untuk memutar mobil. Vina mengangkat tas ransel dan juga dompet Maya. Mereka bertiga bergerak dengan sangat cepat menuju lantai satu rumah.
Vina masuk terlebih dahulu ke kursi penumpang. Juan memasukkan Maya ke bangku belakang. Vina menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Maya. Sari masuk ke kursi penumpang sebelah sopir.
Juan mengemudikan mobilnya dalam kecepatan penuh. Berhubung jalanan di negara U terkenal dengan tidak pernah macet mambuat Juan bisa dengan penuh menginjak pedal gas mobilnya.
"Sayang ke rumah sakit CT Grub aja" ujar Sari menganjurkan Juan untuk membawa Maya ke rumah sakit itu saja.
__ADS_1
Vina sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Sari kepada Juan. Vina sibuk dengan Maya. Vina tetap mengompres kening Vina agar suhu tubuh Vina menurun. Tetapi hasilnya tetap sama, suhu tubuh Maya sama sekali tidak mengalami penurunan.
Juan mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit yang diminta oleh Sari. Juan menginjak pedal gas mobilnya dengan cukup dalam, hal ini membuat mobil melaju dengan kencang.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil sudah masuk ke parkiran rumah sakit. Juan memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk ruang IGD. Sari turun terlebih dahulu dari dalam mobil.
Beberapa suter dan dokter IGD yang melihat siapa yang turun dari mobil yang berhenti di depan IGD langsung mendorong brangkar rumah sakit menuju mobil tersebut.
"Mobil" ujar Sari menunjuk ke arah pintu mobil bagian belakang.
Suster dan dokter mendorong brangkar itu ke sana. Seorang suster membuka pintu mobil. Mereka melihat Maya terbaring dengan lemah dan nyaris kehilangan kesadarannya. Mereka kemudian memindahkan Maya ke atas brangkar.
Suster dan dokter mendorong brangkar itu dengan kecepatan penuh menuju ruangan IGD. Dalam ruangan periksa sudah menunggu dua orang dokter, mereka siap untuk memeriksa Maya.
Seorang suster meminta Sari mengisi biodata Maya. Vina mengeluarkan pasport milik Maya dari dalam tasnya. Vina menuliskan biodata Maya dengan lengkap. Setelah itu Sari memberikan kepada suster.
"Nona Sari, di sini siapa mau saya tulis namanya?" tanya suster kepada Sari.
"Ivan Sanjaya" ujar Sari berkata pelan kepada suster.
Suster melihat kepada Sari. Sari mengangguk meyakinkan suster itu kalau nama yang harus ditulisnya di sana adalah Ivan Sanjaya.
"Baiklah Nona. Saya permisi dulu" ujar suster sambil berjalan meninggalkan Sari dan yang lainnya di sana.
Semua dokter yang berada di IGD berjalan menuju ruang rawat Maya. Mereka bergerak dengan sangat cepat saat melihat siapa nama wali Maya yang tertulis di selembar kertas itu. Mereka tidak ingin karier mereka luluh lantak karena kebodohan mereka tidak memberikan pelayanan yang bagus kepada Maya.
Vina melihat semua dokter berjalan ke ruangan IGD menjadi sedikit takut kalau terjadi sesuatu terhadap Maya. Vina bergegas berjalan ke arah Sari.
"Ada apa dengan Maya, kenapa semua dokter ke ruangan Maya?" tanya Sari mulai cemas dengan kondisi Maya sekarang.
__ADS_1
"Nggak apa apa Vina. Maya diperiksa oleh semua dokter atas permintaan kita berdua. Kamu lupa ini rumah sakit siapa?" tanya Sar kepada Vina yang dari tadi tidak mau tahu nama rumah sakit tempat mereka membawa Maya berobat.
"Emang rumah sakit apa?" tanya Vina yang memang tidak sempat melihat nama rumah sakit dari tadi.
"CT Grub. Mereka pasti akan memberikan pelayanan ekstra kepada Maya. Apalagi kita berdua yang mengantar Maya kan ya." ujar Sari sambil melihat ke arah Vina.
"Tengok tuh logo besarnya" ujar Sari menunjuk kepada logo yang terpasang dengan sangat besar di dinding ruangan IGD.
"Oh jadi ini rumah sakit CT Grub. Baru gue tau" ujar Vina sambil melihat logo yang ditunjuk oleh Sari.
Mereka kemudian menunggu Maya di depan ruangan pemeriksaan. Saat itulah ponsel Vina berdering. Sari yang melihat nama siapa yang terpampang di layar ponsel Vina langsung mengetahui siapa yang menghubungi Vina.
"Angkat aja nggak apa apa" ujar Sari yang melihat Vina ragu untuk mengangkat panggilan video itu.
"Hallo" ujar Vina dengan raut wajah yang masih panik menunggu kabar kesehatan Maya.
"Kenapa wajah kamu, wajah panik sayang? Ada apa?" tanya Danu saat melihat wajah Vina yang terlihat sangat panik itu.
"Maya sayang" ujar Vina dengan terbata bata.
"Maya sayang" ujar Vina sekali lagi mengulang perkataan sebelumnya.
"Iya Maya. Ada apa dengan Maya sayang?" tanya Danu yang mulai cemas melihat Vina yang sangat panik itu
"Maya masuk rumah sakit sayang. Badannya panas sekali tadi. Aku benar benar takut dia kenapa kenapa sayang. Aku nggak mau dia kenapa kenapa" ujar Vina dengan suara terbata bata.
Tangis yang dari tadi di coba Vina untuk menahannya akhirnya jebol juga. Vina menangis saat bercerita dengan Danu kekasihnya itu. Danu terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Vina.
Saat itulah di belakang Danu berdiri sesosok pria yang begitu mencintai Maya. Pria itu terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Vina kepada Danu. Wajah pria itu langsung berubah menjadi wajah cemas dan panik.
__ADS_1