
"Sudah Bun, bunda tenang saja, untuk orang yang menjemput kita berdua sudah deli amankan. jadi sekarang bunda fokus saja kepada koper koper kita yang belum ditemukan dengan sangat lengkap" ujar Deli meyakinkan Vina kalau mereka berdua memang sudah dijemput oleh orang yang tadinya sudah di telpon oleh Deli untuk menjemput mereka ke bandara dan mengantarkan mereka ke hotel atau rumah Nenek dan Atuk Deli yang berada di daerah pinggiran ibu kota. Deli sudah sangat yakin kalau kedua orang itu pastinya sudah berada di bandara sejak tadi, Sehingga bukannya Deli dan Vina yang menunggu kedatangan mereka berdua melainkan mereka lah yang menunggu kedatangan deli dan Vina
"Oke sip, semoga orang itu sudah datang dan sudah menunggu kita di luar" ujar Vina berharap orang yang telah di telpon oleh Deli sudah berada di depan dan sudah menunggu kedatangan mereka.
Vina dan Deli kemudian menuggu koper koper mereka keluar dari pintu pemeriksaan. Vina dan Deli sudah mendapatkan satu koper mereka yaitu koper Deli tinggal dua lagi koper yang harus mereka tunggu. Satu adalah koper Vina sedangkan yang satu lagi koper yang berisi oleh oleh yang akan mereka berikan kepada orang orang yang mereka kenal.
"Dua koper lagi kan ya Bun?" ujar Deli yang sudah duduk di atas kopernya itu.
"Nah itu satu Del" ujar Vina berteriak saat melihat satu koper mereka sudah terlihat keluar dari dalam pintu pemeriksaan.
Vina sangat senang melihat kopernya yang ke dua sudah terlihat. Apa lagi Deli dia sudah benar benar bosan berada di bandara, sehingga mau tidak mau dia ingin pergi dan berangkat dari bandara ini. Dia benar benar sudah lelah dan tidak ingin lagi berada di Bandara. Bau bandara semakin membuat Deli menjadi kesal dan tidak ingin berada lama lama lagi di sana. Pekerjaan yang benar benar membuat Deli menjadi sangat kesal dan ingin cepat cepat angkat kaki dari sana.
__ADS_1
Vina berjalan menuju tempat ternyaman untuk mengambil kopernya itu. Saat koper berada tepat di depan Vina, Vina dengan cekatan mengambil kopernya itu. Vina tidak ingin koper itu pergi terlalu jauh dan mengakibatkan dirinya susah untuk mengambil koper tersebut. Sesuatu yang membuat Vina menjadi sangat menyesal karena telah lalai dalam mengambil kopernya, kalau koper itu menjadi rusak karena kecerobohan dari Vina.
"Ini koper yang mana Bun? Kok Deli baru lihat koper yang ini?" ujar Deli yang tidak tahu kalau Vina ada membawa koper yang seperti itu.
"Apa isinya Bun? Baju Bunda atau oleh oleh yang telah Bunda siapkan untuk kerabat kita di negara ini?" ujar Deli yang ingin memastikan koper yang mana yang telah lulus sensor imigrasi bandara.
"Ini yang oleh oleh, koper yang berisi pakaian Bunda yang belum keluar" ujar Vina yang kembali melihat ke arah tempat keluar koper koper itu. Vina memastikan dengan melihat catatan yang sengaja di gantung oleh Vina di retsleting atau penutup kopernya itu. Vina tidak mau nanti saat mengambil koper, koper kopernya akan tertukar dengan punya orang lain, karena begitu banyak koper yang sama di atas dunia itu, terkhusus di bandara. Karena tidak mungkin setiap orang yang memiliki koper memesan koper dengan corak yang berbeda beda, suatu hal yang tidak akan mungkin terjadi, sehingga untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan itu, Vina lebih memilih untuk menggantung catatan di koper koper miliknya.
Vina dan Deli kemudian menunggu kembali satu koper Vina yang berisi pakaian pakaian Vina keluar dari dalam ruang pemeriksaan imigrasi. Setelah menunggu sekitar seperempat jam lagi akhirnya koper yang terakhir milik Vina dan Deli keluar juga dari pintu pemeriksaan. Vina meraih kopernya itu. Vina terlebih dahulu memastikan kalau koper yang keluar itu adalah memang miliknya dengan melihat gantungan yang menjadi penanda setiap koper Vina dan Deli, setelah memastikan kalau koper yang keluar itu memang koper miliknya Vina kemudian membawa koper itu ke tempat Deli yang sedang berada dan menunggu Vina di ujung terminal.
Saat itulah Vina melihat Ivan dan Iwan datang menjemput mereka dengan memegang karton beruliskan nama Vina dan Deli dengan tulisan super besar sekali.
__ADS_1
"Jadi mereka berdua yang jemput" ujar Vina saat tahu siapa yang datang menjemput mereka berdua saat ini.
"Serius sayang, kalau mereka berdua yang akan menjemput kita?" ujar Vina yang kaget saat melihat siapa yang berdiri menjemput dirinya dan Deli di bandara itu.
"Hehe hehe hehe, siapa lagi Bunda yang bersedia menjemput kita berdua kalau bukan Om Ivand an Om Iwan? Emang Bunda punya alternatif lain orang yang bersedia menjemput kita tengah malam seperti ini ke bandara yang jaraknya dari kota ke sini lumayan sangat jauh sekali?" ujar Deli yang ternyata sudah memperhitungkan dan memikirkan semuanya dengan sangat masak.
"Bener juga ya sayang. Siapa orang yang bersedia menjemput kita berdua ke bandara selain dengan mereka berdua, apa lagi hari malam kayak gini"
Akhirnya VIna sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya. Memang tidak ada orang yang akan bersedia menjemput mereka berdua tengah malam begini ke bandara apalagi dengan bandara yang sangat jauh dari pemukiman. Sehingga siapapun pastinya akan berpikir dua kali untuk menjemput ke bandara kalau sudah malam.
"Om Ivan, Om Iwan" teriak Deli memanggil kedua orang yang sudah sangat dirinduinya itu.
__ADS_1
Ivand an Iwan yang sedang mengobrol saat mendengar teriakan yang sangat kencang dari Deli, langsung melihat ke arah sumber suara, ternyata memang benar di sana sudah ada deli dan vina yang kedua duanya terlihat sedang menarik koper mereka.
Ivan dan IWan yang melihat keadaan sekitar sudah sepi memilih untuk masuk ke dalam area yang sebenarnya orang yang menjemput penumpang pesawat sama sekali tidak boleh masuk ke dalam area itu. Tetapi saat melihat Vina dan Deli yang sudah terlalu letih dengan penerbangan mereka yang sangat lama sekali itu membuat Ivan dan juga Iwan menerobos protokoler yang ada di bandara. Mereka berdua kemudian mengambil koper yang di pegang oleh Deli dan Vina. MEreka berdua akhirnya membawa koper itu keluar dari area bandara.