Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kereta Api #


__ADS_3

Kereta api mulai bergerak meninggalkan stasiun ibu kota negara I. Kereta akan melakukan perjalanan selama enam jam menuju Kota J. Vina dan kedua sahabatnya asik menonton film yang ditampilkan di tv yang terletak di setiap kursi penumpang kelas bisnis itu. Kereta yang sangat nyaman digunakan untuk perjalanan jarak jauh dan memerlukan waktu yang lama.


"Vin, gue laper, apa loe nggak laper?" tanya Sari yang memang sudah merasakan lapar di perutnya. Dia tadi sarapan hanya dengan sereal saja dan segelas susu.


"Laper. Gue lihat di display tentang kereta ini, ada restoran yang terletak di gerbong belakang. Apa loe mau ke sana?" ujar Vina menawarkan tempat makan kepada Sari.


"Mau." jawab Sari dengan semangat. Sari mengambil tas kecil miliknya dan juga ponsel yang tadi di cas.


"Maya, loe ikut dengan kami tidak, kami mau pergi makan ke restoran di gerbong belakang." Vina menawarkan hal yang sama kepada Maya.


"Mau, Gue juga udah merasakan lapar." jawab Maya yang padahal sarapan paling banyak antara mereka bertiga saat di hotel tadi pagi.


Ketiga sahabat itu berjalan menuju gerbong restoran, mereka akan makan siang di sana, padahal sebenarnya untuk kelas binis di kereta api itu, sudah termasuk paket makan siang yang akan diantarkan oleh cru kereta api. Mereka langsung berpindah ke gerbong di belakang gerbong mereka yang ternyata langsung merupakan gerbong restoran itu.


"Gue kira jauh, eee ternyata di belakang gerbong kita restorannya." ujar Sari yang tadi mendengar perkataan Vina yang mengatakan kalau gerbong restoran terletak di gerbong paling belakang.


"Loe nya yang salah mengartikan perkataan gue Sar. Gue ngomong kan gerbong di belakang, maksudnya ya di belakang gerbong kita tadi." ucap Vina membela dirinya, yang padahal dia juga salah mengartikan.


Maya dan Sari serta Vina duduk di meja yang menghadap langsung ke depan jendela kereta api. Kebetulan pemandangan yang disajikan sekarang adalah hamparan persawahan yang sedang menghijau. Pemandangan yang begitu menakjubkan dan memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.


Seorang pelayan datang membawa buku menu, Mereka kemudian melihat lihat menu apa yang akan mereka pesan untuk makan siang kali ini.


"Saya pesan, nasi goreng tambah dengan ayam crispi serta minumnya teh es." ujar Vina menyebutkan apa yang dipesannya.


"Sama." ujar Sari yang memang sama sekali tidak membuka buku menu yang ada dihadapannya. Dia sibuk melihat pemandangan yang disajikan di depan kaca jendela kereta api.


"Saya pecal ayam dan jus jeruk." ujar Maya yang memilih berbeda menu makan siangnya dengan Vina dan Sari.


Mereka kemudian mengeluarkan ponsel masing masing, Sari mengecek kegiatan perusahaan bersama dengan Vina, sedangkan Maya akan menghubungi Ivan.


'Sayang, aku pergi ke kampung Vina' bunyi pesan yang dikirim Maya kepada Ivan.


Ivan yang sedang sibukĀ  bekerja karena awal bulan besok dia akan kembali ke negara U, sama sekali tidak mendengar bunyi pesan chat yang masuk ke dalam ponsel miliknya itu.

__ADS_1


Maya melihat terus ke layar ponselnya, sampai sampai dia tidak menyadari pelayan yang dari tadi sudah meletakkan pesanannya di atas meja, Vina dan Sari yang melihat hanya beranggapan kalau Maya akan makan bersama mereka, karena pesanan mereka belum datang. Mereka sama sekali tidak sadar kalau Maya sedang larut dalam lamunannya menatap layar ponsel yang sampai sekarang masih tidak juga datang balasan chat dari Ivan.


'Sayang, kamu sedang ngapain, kenapa tidak balas pesan dari aku' Maya kembali mengirim sebuah pesan chat kepada Ivan.


Dua orang pelayan meletakkan pesanan milik Vina dan Sari.


"May" panggil Vina


Tetapi Maya sama sekali tidak merespon panggilan dari Vina. Dia masih larut dalam lamunannya yang tidak berarti.


"May" kini giliran Sari yang memanggil, tetapi masih sama, tidak ada respon dari Maya.


"Woy Maya" ujar Vina sambil memukul pundak Maya.


"Apa?" ujar Maya kaget dengan Vina yang mendadak memukul pundaknya.


"Main pukul aja." ujar Maya protes.


"Ye dari tadi orang manggil, loe nya diem aja, tu gue pukul, eeee malah marah." ujar Vina protes.


"Lah bukannya makanan loe udah datang dari tadi ya? Emang loe nggak tau?" tanya Sari yang heran dengan tingkah Maya.


"Loe kenapa May?" tanya Vina yang yakin Maya sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.


Maya menggeleng lemah. Maya kembali melihat ponsel miliknya.


"Ivan nggak balas chat dari elo?" tanya Vina yang sudah tau Maya kenapa kenapanya.


Maya mengangguk dengan lemah.


"Sepertinya Ivan sedang sibuk May, makanya dia tidak sempat membalas pesan chat dari loe." ujar Vina berusaha menenangkan kembali perasaan Maya yang sudah lumayan itu.


"Iya May, loe tau sendirikan ya perusahaan tempat Ivan bekerja itu sangat besar, pasti kliennya banyak. Loe jangan mikir aneh aneh dulu." ujar Sari juga menenangkan Maya.

__ADS_1


"Iya juga ya, dia pasti sibuk, kalau dia nggak sibuk langsung balas chat dari aku. Ah bodohnya aku mikir aneh aneh." ujar Maya sambil memukul kepalanya sendiri.


"Emang loe mikir apa?" tanya Vina sambil memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Mikir dia sedang jalan kemana. Hahahahaha" jawab Maya yang nggak habis pikir dengan apa yang dipikirkannya tadi.


"Gila loe." ujar Vina dan Sari bersamaan.


Mereka kemudian melanjutkan makan siang yang sudah tertunda lama itu, mereka makan sambil menikmati pemandangan yang sekarang sudah berganti dengan pemandangan sungai yang berair jernih.


"Nggak sia sia kita naik kereta api, jadi banyak pemandangan yang bisa disaksikan." ujar Maya sambil memasukkan suapan terakhir pical ayam yang dipesannya tadi.


Tak terasa pesanan makan siang mereka sudah berpindah dari atas piring ke dalam perut mereka masing masing. Mereka sekarang tinggal menikmati keindahan pemandangan yang disajikan oleh alam untuk para pengguna kereta api.


"Siapa bilang naik kereta api nggak nikmat, noh buktinya nikmat banget, banyak pemandangan indahnya." ujar Maya sambil menyeruput jus jeruk miliknya.


"Gue setuju dengan loe May, ini perjalanan paling keren yang gue rasain. Kita pulang naik ini lagi aja ya, gue nggak mau naik pesawat atau bus umum. Gue maunya kereta api." ujar Sari.


"Nah kita pulang naik bus umum, biar elo pada ngerasain bagaimana asiknya naik bus dan bisa berhenti ditempat makan. Naik bus umum lain pula sensasinya loh." ujar Vina kepada Maya dan Sari.


"Kalau busnya seperti yang kita tumpangi dulu, gue ogah Vin. Sempit, belum bau lagi." ujar Maya yang mengingat kala kala mereka baru pertama kali ke ibu kota.


"Nggaklah, kita naik bus yang keren juga." jawab Vina.


"Nah kalau busnya keren gue mau, tapi kalau busnya kayak yang dulu gue ogah." ujar Maya.


"Emang bus kayak yang dulu itu gimana May?" tanya Sari yang sama sekali tidak tau maksud Maya.


"Loe bayangin aja ya Sar. Orangnya banyak di dalam tu bus, semua masuk ke dalamnya, terus toiletnya satu untuk keseluruhan orang. Mana bisa ngerokok lagi di situ." ujar Maya menggambarkan mobil bus yang dulu dia tumpangi.


"Ye kalau kayak gitu gue ogah. Tapi kalau busnya seperti kereta api ini gue mau." jawab Sari yang sudah bisa membayangkan seperti apa bus yang dimaksud oleh Maya.


"Hahahahaha, nggak akan kayak yang dulu, besok kita lihat bus itu, jadi kalian berdua bisa memutuskan naik bus atau naik kereta api." ujar Vina sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan dua sahabatnya.

__ADS_1


Setelah satu jam lebih mereka di restoran, matapun sudah mulai lelah, ditambah dengan pemandangan yang sudah kurang mengenakkan mata, Vina dan kedua sahabatnya memutuskan untuk kembali ke gerbong mereka. Mereka akan kembali beristirahat di sana. Perjalanan masih panjang yang akan mereka lalui, tetapi tadi kata cru kereta api sebelum mereka beristirahat, kereta akan berhenti di stasiun kota S, jadi mereka bisa turun sejenak di stasiun untuk membeli oleh oleh daerah tersebut, kebetulan Vina kemaren belum sempat membeli oleh oleh untuk keluarganya bisa membeli oleh oleh di stasiun S.


__ADS_2