
"Vina, Maya tengok sini." panggil Sari sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah Vina dan Maya yang sedang asik mencabut bayam untuk dijual.
"Nah bagi teman teman yang di luaran sana, kami sekarang sedang manen bayam guys. Ternyata sayur yang ditanam tanpa pupuk kimia rasanya lebih wow ternyata." ujar Sari sambil berbicara kepada para followernya.
"Ngevlok terus." ujar Maya.
"Hahahahaha. Ternyata ya guys tu anak iri ke gue. Followernya masih sedikit, jadi tolonglah ya followers gur untuk memfollow akun sahabat gue itu. Nama akunnya mayacuantik tolong ya. Jangan lupa." kata Sari sambil memberitahukan akun milik Maya.
Mereka bertiga sibuk mencabut bayam dan kangkung yang akan dijual hari ini kepada pengumpul sayuran. Sedangkan Ibu sibuk mengikat setiap sayur yang sudah dicabut oleh Maya dan Vina.
"Sari mau bantu Bapak nanam jagung?" tanya Bapak sambil mengambil alat untuk pencongkel tanah.
"Bisa pak." jawab Sari dengan sangat antusias.
Bapak mulai mencotohkan bagaimana cara menanam jagung. Sari mengikuti setiap gerakan Bapak dengan cekatan.
Tak terasa hari sudah mulai agak siang. Vina dan Maya menuju saung untuk memasak bekal makan siang mereka hari ini. Vina sudah membawa bahan masakan dari rumah. Sedangkan untuk sayur mereka akan mengambil langsung sayuran yang berada di kebun.
"Masak apa nduk?" tanya Ibu yang baru saja selesai memanen jagung.
"Rencana goreng tahu, tempe, ikan asin dan buat sambal blacan Buk. Nanti sayurnya rebus kacang panjang sama timun." jawab Vina mengatakan masakan apa yang akan dimasaknya pagi ini.
"Kedengerannya lezat nduk. Tapi apa Sari mau?"
"Mau ibuk tenang aja. Sari ini pemakan segalanya." jawab Sari dari belakang. Sari telah selesai membantu Bapak menanam jagung.
Vina dan Maya melanjutkan memasak makan siang dengan menu seadanya. Sedangkan Sari mengeluarkan dan menata piring yang telah selesai dicuci.
"Selesai. Bapak sini makan." ujar Vina memanggil Bapak yang masih sibuk menyiapkan media tanam untuk menanam sayur.
Bapak yang perutnya juga sudah protes minta diisi berjalan menuju saung. Betapa bahagianya Bapak saat melihat apa yang disajikan oleh Vina untuk menu makan siang.
"Ini pasti sangat lezat. Bapak udah lama nggak makan menu kayak gini." ujar Bapak yang ingat ibuk selalu melarang Bapak makan sambal blacan.
"Sambal blacan pak?" tanya Ibuk.
Bapak mengangguk.
"Bukan Ibuk nggak mau masakin Bapak sambal blacan. Bapak kalau udah makan sambal blacan nggak ingat yang lain. Main habiskan aja Pak." ujar Ibuk.
"Hahahaha. Jadi Bapak rakus sambal blacan Buk?" tanya Sari.
Ibuk mengangguk.
"Bener bener hantu sambal blacan." jawab Ibuk sambil tersenyum.
__ADS_1
Mereka kemudian melanjutkan makan siangnya.
"Pak Buk, kalau besok kami keliling pasar apa boleh?" tanya Vina.
"Boleh lah nduk. Masak kamu di sini kerjaannya hanya ke ladang aja. Kamu harus menikmati liburan kamu nduk. Jangan hanya di ladang aja." ujar Ibuk yang sangat setuju Vina dan yang lainnya pergi jalan jalan ke pasar.
"Tapai kalau Bapak boleh tau, kalian mau beli apa?"
"Is Bapak nggak boleh pengen tau urusan anak muda. Bapak aneh." jawab Ibuk sambil mencubit lengan Bapak.
"Lah apa salahnya toh Buk, Bapak tau apa yang mau mereka beli. Nanti mereka salah beli loh Buk." ujar Bapak masih membela dirinya
Ibuk membesarkan matanya ke arah Bapak tanda protes dengan apa yang dilakukan Bapak.
"Ibuk nggak masalah Bapak mau bertanya. Kami bertiga rencananya mau buka kafe di tempat kami bekerja sekarang. Nah Maya pengennya semua barang dan bumbunya berasal dari negara ini. Makanya kami mau ke pasar membeli semua pernak pernik daerah kita." ujar Vina memberitahukan apa maksud mereka mau ke pasar.
"Sedangkan untuk bumbunya kami akan beli dari Bapak sama Ibuk." lanjut Vina.
"Kok beli nduk?" tanya Bapak menatap Vina.
"Pak yang namanya bisnis ya bisnis. Nggak ada pake anak dan orang tua." kata Sari.
"Tapi kalau ngasih tambahan bolehkan?" ujar Ibuk.
"Tambahannya banyak banyak ya." ujar Maya.
"Nah mulai. Dikasih hati mintak jantung." kata Sari sambil menoyor kepala Maya.
"Sekali sekali." Maya tidak mau kalah.
"Kamu mau bawa apa aja nduk, jadi biar bapak siapin." ujar Bapak.
"Tanya Maya aja Pak. Dia yang jadi penanggung jawab kafe, bukan aku." jawab Vina.
"Aku list dulu Pak, apa aja yang aku butuhin dan berapa banyak." kata Maya menjawab pertanyaan Bapak.
"Ibuk, ajarin aku bikin jamu ya Buk. Biar pas di sana musim dingin mereka bisa minum jamu biar badan mereka panas." ujar Maya.
"Oke. Nanti kita buat berdua. Biar kamu bisa langsung belajar dan praktek." jawab Ibuk.
"Makasi Ibuk." ujar Maya.
Setelah makan siang dan melaksanakan kewajiban mereka. Bapak dan Ibuk kembali ke ladang, sedangkan Vina, Maya dan Sari kembali menunggui durian.
"May, apa loe udah mendata apa apa saja yang akan loe beli?" tanya Vina kepada Maya.
__ADS_1
"Belum. Kita tengok aja besok apa yang lucu dan rasanya cocok dengan kafe kita beli aja langsung." jawab Maya yang memang sangat malas mendata apa apa aja yang akan dibelinya.
Matahari sudah melai turun ke peraduannya. Vina dan keluarganga beranjak meninggalkan ladang, mereka kembali menuju rumah.
"Buk, apa bakso Mas Dadang masih ada?" ujar Vina yang tiba tiba ingin makan bakso.
"Masih. Emang kenapa?" tanya Ibuk.
"Aku mau buk." jawab Vina.
"Kamu lihat aja ke warungnya sama Maya. Kalau ada nanti bungkusin untuk Ibuk dan Bapak ya." ujar Ibuk yang ternyata juga ingin makan bakso.
"Oke sip."
Tepat dipertigaan jalan. Vina, Maya dan Sari berbelok ke sebelah kanan menuju bakso Mas Dadang. Sedangkan Ibuk dan Bapak kembali ke rumah.
"Mas Dadang." teriak Vina.
"Wow Non Vina. Kapan datang nduk?" ujar Mas Dadang tersenyum melihat pelanggannya itu.
"Udah beberapa hari. Mas Dadang bikinin aku ya seperti biasa." ujar Vina.
"Aku juga mas seperti biasa." ujar Mira.
"Aku ikut mas." kata Sari.
"Oke sip. Silahkan duduk dulu." ujar Mas Dadang mengambilkan bakso untuk ketiga pelanggan setianya itu.
"Udah lama nggak kesini Non" ujar Mas Dadang sambjl meletakan pesanan bakso Vina.
"Kerjalah Mas. Masak iya aku siap tamat kuliah mau di kampung aja." jawab Vina.
"Wah dah jadi orang sukses dong Non. Keren itu" ujar Mas Dadang.
"Belum sukses Mas. Tapi doakan aja ya biar bisa jadi orang sukses." kata Vina.
"Aamiin. Mas doakan semoga ketiga Nona cantik ini menjadi orang sukses di pekerjaannya." ujar Mas Dadang.
"Hahahaha. Makasi Mas." jawab Maya.
Mereka bertiga menikmati bakso yang ternyata sangat enak itu. Tidak kalah enak dengan bakso bakso yang sudah memiliki nama. Mana bakso di sana juga murah lagi.
"Mas bungkus dua ya untuk Bapak dan ibu." ujar Vina.
Setelah menerima dua bungkus bakso dari Mas Dadang, mereka bertiga kemudian kembali pulang ke rumah. Mereka akan menyusun apa apa saja bumbu dapur yang akan dibeli kepada Ibuk dan Bapak.
__ADS_1