
"Capek capek badan gue bang" kata Ifan sambil mereganggkan seluruh badannya.
"Bangben loe. Segitu aja udah capek loe. Cemen" ucap Iwan mengejek Ifan yang terkapar karena begadang semalamam.
"Loe udah biasa disusahin bos bang. Nah gue baru kali ini bang nyoba disusahin."
Ifan kemudian melihat jam yang ada di dinding kamar hotel. Betapa terkejutnya Ifan, jarumjam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Wow, ini karena tidur di ruangan mewah atau memang karena efek ngantuk plus capek sampe jam segini baru bangun." ucap Ifan sambil menutup matanya kembali.
"Fan jangan tidur lagi. Kita harus bangun." Iwan melemparkan bantal yang dipakenya ke muka Ifan.
"Sepuluh menit bang. Perih mata gue." Ifan kembali memejamkan matanya.
"Nggak ada bangun. Loe mau berenang nggak? Kamar ini ada fasilitas berenang gratisnya."
"Mau bang" Ifan langsung berdiri saat mendengar ada kolam berenang.
Iwan dan Ifan langsung saja nyebur ke dalam kolam. Mereka tidak memikirkan mau pakai dalaman apa nanti.
"Bang nanti pakai dalaman apa? Gue cuma bawa ini doang"
"Tubles aja, sekali sekali"
Ifan mengangkat kedua jempolnya tanda setuju dengan pendapat Iwan. Mereka berdua terus berenang menikmati dinginnya air. Sedangkan Danu terlihat sangat kesal saat selesai menghubungi bik Inah. Danu membuka bajunya dan ikut nyebur di kolam berenang. Iwan dan Ifan berpikiran pasti ada sesuatu dengan Danu.
"Ada apa lagi Dan?"
"Dia belum pulang" ucap Danu dengan kesal.
"Kalau bapak mau sekarang juga bisa kita lacak dia dimana. Tapi kita harus ke kosan dulu."
"Gimana Dan? Semua ditangan loe, kami siap membantu apapun itu."
Danu terlihat berpikir. Danu takut sesuatu yang buruk menimpa keluarga kecil mereka yang memang sedang bermasalah itu. Akhirnya Danu memutuskan juga.
"Ayok."
Mereka akhirnya cekout juga dari hotel. Iwan mekajukan mobil dengan kecepatan tinggi, sepertinya ibu kota sedang bersahabat dengan mereka saat ini, jalanan yang biasanya ramai sekarang terlihat lengang. Dalam waktu tiga puluh menit Iwan sampai di depan kos Ifan.
Ifan langsung membuka mobil dan berlari dengan cepat ke atas. Ifan menyambar ****** ***** dan celana pendeknya. Dia menukar dwngan cepat, setelah itu dia mengambil tas ranselnya dan berlari kembali untuk segera masuk kedalam mobil Danu.
"Sambil jalan aja bang. Gampang itu."
Iwan melajukan mobilnya kembali. Tapi dia bingung mau membawa mobil ke arah mana. Sedangkan dibangku belakang Ifan sibuk dengan laptopnya sesaat setelah Danu memberikan nomor ponsel istrinya. Ifan melacak keberadaan ponsel itu.
Ifan sangat serius dalam setengah jam Ifan tersenyum devil.
__ADS_1
"Dapat bang. Udah gue kirim ke ponsel loe. Target dimana sekarang."
"Keren loe Fan." kata Iwan.
Iwan kemudian menghidupkan mapnya, terlihatlah dimana posisi istri Danu berada.
"Jauh juga ya pergi setor" kata Iwan.
"Mayan bang. Gue tidur dulu bang. Kalau titik merahnya mati atau ilang, loe bangunin gue."
"Sip"
Ifan kemudian langsung tertidur, sedangkan Iwan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Iwan tidak mau targetnya berhasil kabur. Dia tidak mau usaha mereka gagal ditengah jalan.
"Loe siapkan Dan, apapun yang akan kita lihat disana?" Iwan tetap berkonsentrasi dengan jalan di depan.
"Apapun itu gue siap" Danu sudah mantap dengan keputusannya.
"Itu baru laki laki. Coba kalau dari malam Dan. Kita akan dapat pemandangan indah" ucap Iwan sambil tersenyum mengejek Danu.
Danu menoyor kepala Iwan yang asal bicara itu.
"Loe rasain aja besok. Gimana rasanya saat melihat istri jalan dengan pria lain. Sekarang malah pergi kemana dengan pria lain."
"Loe mau tau dari sekarang dia kemana?" Iwan berpikir sesaat.
"Janganlah Dan, nggak asik nanti kalau loe tau dari sekarang. Mending pas kita sampe situ aja loe taunya."
"Gue juga baru tau tadi Dan. Gue juga heran sejak kapan dia bisa. Padahal dia ngikutin gue udah empat tahun."
"Coba loe cari tau Wan. Menurut analisa gue dia bukan orang sembarangan."
"Yup. Kalau gue konggar kerja ya." ucap Iwan yang mana pernah longfar kerja itu.
"Mana ada loe kerja longgar. Tutup perusahaan baru loe longgar." kesal Danu.
"Makanya loe kasih longgar. Loe bukak lamaran baru untuk posisi arsitek." Iwan memberikan solusi.
"Ogah gue kerja sama orang baru lagi. Cukup loe bertiga yang jadi andalan gue."
"Bunuhlah aku sepuas hatimu" Ifan melagu dengan suara seraknya.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam dengan kecepatan mobil yang tidak diragukan lagi, mereka hampir sampai dititik tujuan. Ifan yang sudah bangun dari tadi langsung saja menyuruh Iwan untuk berhenti.
"Bang berhenti disini saja"
Danu dan Iwan bingung atas permintaan Ifan. Ifan yang paham langsung mengutarakan niatnya kenapa meminta berhenti di sini.
__ADS_1
"Gue yang masuk bang. Kalau loe berdua masuk maka akan ketahuan."
"Terus gimana gue bisa dapat bukti Fan." ucap Danu kesal.
"Bang ini laptop, dari sini abang berdua akan dapat gambar bersihnya. Laptop ini akan langsung menyimpan semua gambar. Jadi tenang saja"
"Terus kenapa harus loe sendirian yang turun?" Danu timbul mendadak gobloknya.
"Bang, kalau anda berdua yang turun, mereka berdua sudah mengenali Anda. Tetapi kalau saya tidak mereka kenali." ucap Ifan mulai kesal.
Iwan yang tau Ifan sudah kesal langsung menengahi perdebatan sia sia itu. "Udah Fan loe turun aja. Jaungkauan laptop loe berapa jauh? Jadi kami tidak akan berdiri di sini lama. Nanti akan mencurigakan dilihat orang."
"Tanpa batas selagi ada singnal"
Ifan kemudian turun, dia bergaya seperti anak muda yang lagi mau liburan. Danu dan Iwan geleng geleng kepala menyaksikan gaya Ifan yang ntah sejak kapan berubah.
"Sejak kapan tu orang ganti gaya?" Danu menatap Ifan yang sudah seperti anak muda banget.
"Gue juga heran. Bos loe turun deh beli kue sana" perintah Iwan kepada Danu.
"Enak aja loe main suruh gue. Loe yang turun."
Iwan kemudian turun membeli makanan.
"Neh." Iwan memberikan roti dan teh botol kepada Danu
Danu langsung memakan dan meminum makanan yang diberikan Iwan.
Ifan sudah masuk kedalam hotel, dia dengan gampangnya bisa masuk kedalam hotel. Ifan duduk di kafe yang mengarah ke kolam renang. Ifan melihat sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra di kursi santai tepi kolam renang. Ifan langsung merekan semua kejadian yang dilihatnya. Ifan seperti sedang menikmati pemandangan tetapi sebenarnya dia sedang mengambil gambar untuk disaksikan dan dinikmati oleh Danu dan Iwan.
Danu mulai geram melihat tingkah istrinya, terlebih lagi sepasang kekasih itu tanpa ada rasa malu melakukan berenang bersama sambil bercanda. Iwan hanya menatap tanpa berkedip melihat kelakuan sepasang anak manusia itu.
"Bos apalagi malam ya bos"
Danu hanya diam tidak menanggapi perkataan Iwan. Danu menahan hatinya karena sudah sangat jengkel. Danu dan Iwan kembali serius menatap layar laptop Ifan. Dua anak manusia yang tanpa malu itu keluar dari dalam kolam renang. Sambil berpelukan mesra mereka meninggalkan kolam renang menuju tempat yang lain. Ifan terus mengikuti mereka, saat naik lift Ifan juga ikut naik. tapi berdiri paling depan. Dua pasang anak manusia itu berdiri agak terpisah karena segan ada Ifan.
"Ow masih ada rasa segan ternyata" kata Ifan dalam hatinya.
Tiba tiba ponsel Ifan berbunyi, sebuah pesan masuk
✉️ Iwan
Cukup Fan.
Ifan kemudian kembali turun ke bawah dengan lift yang berbeda. Sebelum turun Ifan sudah memastikan kalau sepasang kekasih itu masuk ke dalam kamar yang sama.
"Gimana bos? Puas?"
__ADS_1
"Puas Fan. Terimakasih. Pulang Wan"
Iwan kemudian melajukan mobilnya kembali ke arah pusat ibukota. Danu sudah yakin dengan tindakan apa yang haris dilakukannya terhadap istrinya itu