Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pengurusan 4


__ADS_3

"Gilak udah jam lima aja" ujar Maya yang telat bangun. Biasanya kalau dia ingin pergi ke pasar pagi, Maya akan bangun sekitar pukul empat pagi. Bukan jam lima seperti sekarang.


"Semoga aja Vina udah bangun. Kalau Rina aku udah yakin kalau dia pasti udah bangun" kata Maya yang meragukan Vina sudah siap untuk ke pasar, apalagi melihat Vina yang semalam sangat letih terlihat.


Maya membasuh wajahnya. Dia kemudian berjalan keluar kamar dan melihat lampu kamar Vina masih mati.


"Yah ne anak masih tidur ternyata" ujar Maya langsung lemas saat melihat lampu kamar Vina masih padam.


Tok tok tok. Maya mengetuk pintu kamar Vina. Vina mendengar sayup sayup bunyi pintu kamar yang diketuk dari luar. Vina yang rasanya baru saja tidur, terlihat enggan untuk membuka matanya.


"Ini anak kalau udah tidur susah banget untuk bangunnya" kata Maya sambil kembali mengetuk pintu kamar Vina.


"Vina Vina Vina, bangun. Gilak loe tidur lama banget. Tapi mau pergi ke pasar pagi. Ngapain loe masih tidur Vina" ujar Maya sambil menggedor pintu kamar Vina dengan sangat kuat.


Vina yang sudah semakin terganggu dengan gedoran pintu yang dilakukan oleh Maya, berusaha dengan keras membuka matanya. Dia benar benar mengantuk sekarang, kantuk yang tidak bisa diusir oleh Vina dari matanya. Tapi karena mengingat janjinya untuk pergi dengan Maya ke pasar pagi, membuat Vina harus membuka matanya. Vina berusaha membuka mata indahnya.


Maya terus menggedor pintu kamar Vina dengan guncangan lumayan keras.


"Gue harus cepat bangun ini, bisa runtuh kamar gue karena gedoran Maya" ujar Vina sambil berusaha dengan keras membuka matanya dan menggerakkan badannya untuk bisa bangun dari atas kasur.


Vina berjalan membuka pintu kamarnya. Vina menatap Maya yang sudah berdiri di depan pintu kamar, sambil berdiri tegak pinggang dan menatap tajam ke arah Vina. Tatapan sangat tidak bersahabat yang diberikan oleh Maya kepada Vina.


"Loe tidur apa separoh koit sih Vin. Lama banget bangunin elo. Untung aja ne dinding nggak runtuh gara gara gedoran gue" ujar Maya nyerocos kayak petasan yang dibakar waktu tahun baru.


"Sorry gue ngantuk berat" ujar Vina sambil mengucek matanya. Mata Vina masih belum bisa diajak kompromi. Matanya benar benar mengantuk saat ini. Dia benar benar pengen tidur lagi kalau bisa.


"Loe jadi pergi nggak ke pasar pagi?" tanya Maya melihat ke arah Vina yang terlihat masih mengantuk itu. Berdiri saja Vina masih sempoyongan, karena bangunn tidur terpaksa akibat gedoran dari Maya.


"Jadi. Gue basuh muka dulu ya. Tunggu bentar" ujar Vina yang berusaha untuk bisa bangun.


Vina kembali masuk ke dalam kamar. Dia akan bersiap siap sebelum pergi ke pasar pagi dengan Maya. Vina melakukannya dengan gerak cepat. Vina sudah tidak sabar lagi mau pergi ke pasar pagi. Selama dia tinggal di negara U, dia belum pernah sekalipun pergi ke pasar pagi.


"May, gue udah siap" ujar Vina sambil berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempat Maya dan Rina yang sudah menunggu dirinya di sofa ruang tamu.


"Duduk dulu Vin." ujar Maya meminta Vina untuk duduk di sebelah dirinya.


Vina menatap Maya, dia menatap Maya dengan tatapan penuh arti. Vina sangat yakin kalau Maya akan mengatakan sesuatu kepada dirinya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Vina sambil melihat ke arah Maya.


"Sebelumnya gue minta maaf tidak bisa menemani kalian berdua ke pasar pagi" ujar Maya sambil melihat ke arah Vina dan Rina.


"Kenapa?" tanya Vina penasaran kenapa Maya tidak bisa menemani mereka ke pasar pagi.


"Ivan dan Iwan pulang ke negara I sekarang, Ivan minta gue untuk mengantarnya ke bandara. Mereka berangkat jam sembilan" ujar Maya kepada Vina dan Rina.


"Okelah kalau gitu. Gue sama Rina berangkat sekarang. Ada catatan apa yang harus kami beli?" tanya Vina yang tidak tau apa yang harus di belinya dan berapa banyak.


"Ada, udah sama Rina. Uangnya juga sudah sama Rina" kata Maya menjelaskan semuanya kepada Vina.


"Oke sip. Mari kita pergi Rin. Nanti siang lagi. Jam berapa kafe mau buka" ujar Vina mengajak Rina untuk pergi menuju pasar pagi.


"Vin, nanti langsung buka kafe aja ya. Kalau gue belum balik dari bandara." kata Maya meminta Vina untuk membuka kafe saat mereka pulang dari pasar pagi.


"Oke sip. Loe tangis tangisan aja dulu dengan kekasih hati loe. Setelah itu baru ke kafe lagi. Serahkan saja kafe ke kami" ujar Vina yang sangat senang diminta Maya untuk mengoperasikan kafe dari pagi.


Vina dan Rina kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka akan diantar oleh Pak Hans menuju pasar pagi. Sedangkan Maya akan berangkat ke Bandara menumpang trem atau taksi.


Danu yang merasakan badannya sudah kembali fit, berjalan menuju kamar mandi. Dia akan membersihkan badannya terlebih dahulu. Setelah itu baru Danu akan menuju ruang kerjanya.


"Bik tolong buatkan teh hangat ya Bik. Antar ke ruang kerja" ujar Danu sambil berjalan menuju ruang kerja.


"Siap Tuan" ujar Bibik.


Bibik membuatkan teh hangat untuk Danu. Bibik juga menyiapkan cemilan sederhana. Setelah menyiapkan semuanya Bibik membawa minuman dan makanan untuk Danu ke dalam ruangannya.


Tok tok tok. Bibik mengetuk pintu ruangan Danu.


"Masuk Bik. Tidak saya kunci" ujar Danu meminta Bibik untuk masuk saja langsung ke dalam ruangannya.


Bibik masuk ke dalam ruangan Danu. Bibik menaruh makanan dan minuman untuk Danu di atas meja kerja.


"Silahkan diminum Tuan" ujar Bibik mempersilahkan Danu untuk menikmati teh hangat dan juga cemilan yang dibawakannya.


"Makasih Bik" jawab Danu.

__ADS_1


Danu kemudian menikmati teh hangat yang sudah disediakan oleh Bibik.


"Vina sedang ngapain ya?" ujar Danu dalam hatinya.


Danu mengambil ponsel miliknya, dia kemudian menghubungi ponsel Vina. Danu menunggu panggilan itu diangkat oleh Vina.


Vina yang sedang berjalan jalan di pasar pagi merasakan kalau ponsel di dalam sakunya bergetar. Vina melihat siapa yang menghubunginya.


"Oh Danu. Tumben" ujar Vina.


Vina mengangkat panggilan telpon dari Danu.


"Hay, tumben nelpon jam segini?" ujar Vina mengangkat panggilan dari Danu.


"Kangen aja sayang. Sedang ngapain?" tanya Danu yang penasaran Vina sedang melakukan kegiatan apa sekarang.


"Ini mau ke pasar pagi sama Rina. Cari bahan bahan untuk masak di kafe" ujar Vina memberitahukan kepada Danu dia berada dimana sekarang.


"Tu sekarang sedang di tengah pasar? Emang aman?" tanya Danu yang khawatir Vina masuk pasar di negara orang lain.


"Aman sayang. Pasar di sini nggak kayak pasar yang di negara kita. Di sini pasar kayak supermarket. Bersih, tertara rapi dan paling penting nggak ada becek nya" kata Vina memberitahukan bagaimana keadaan pasar di negara tempat dia berada sekarang.


"Keren banget itu sayang. Kalau pasar kayak gitu, aku mau nemani kamu ke pasar setiap pagi" ujar Danu.


"Sinilah kalau iya. awas besok ya, pas kita udah bersama, kamu harus terus menemani aku ke pasar" ujar Vina menantang Danu untuk melakukan apa yang dikatakannya tadi.


"oke. Tapi kalau di pasar tradisional di sini nggak mau. Tapi kalau mall mau" ujar Danu meralat apa yang dikatakannya tadi.


"curang" ujar Vina sambil menahan tawanya.


"Udah dulu ya, aku belanja dulu. Bisa marah Maya kalau kami telat buka kafe" kata Vina yang sedang sibuk memilih cumi cumi.


"Oke sip. Hati hati ya" kata Danu berpesan kepada Vina untuk berhati hati selama di pasar.


"Asiap sayang" jawab Vina.


Rina yang mendengar percakapan antara Vina dan Danu hanya bisa tersenyum saja. Rina tidak menyangka kalau Vina akan bisa berkata seperti itu kepada Danu.

__ADS_1


Danu kemudian berjalan mengambil laptop miliknya. Dia akan melihat keadaan rumah beberapa bulan ke belakang. Sedangkan Vina dia melanjutkan kegiatan berbelanja nya dengan Rina. Mereka berbelanja cukup banyak. Malahan Vina membeli beberapa bahan makanan di luar catatan yang diberikan oleh Maya kepada mereka.


__ADS_2