Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pengurusan 11


__ADS_3

"Frans, gue udah selesai menandatangani kedua surat yang loe minta" ujar Danu memberikan dua surat yang baru saja selesai di tulis dan di tanda tangani oleh Danu.


Frans mengambil kedua surat itu. Dia kemudian membaca kedua surat yang barusan di tulis dan ditandatangani oleh Danu tadi.


Danu menunggu sampai Frans selesai membaca surat yang dibuat oleh dirinya tadi. Frans membaca sangat serius, setiap kata dibaca oleh Frans. Frans tidak mau ada kelalaian saat Danu menulis kedua surat itu.


"Gimana Frans?" tanya Danu saat melihat Frans sudah memasukkan kembali kedua surat itu ke dalam amplop.


"Oke sip. Mari berangkat" ujar Frans mengajak Danu untuk pergi ke pengadilan guna mendaftarkan perkara perceraian dirinya dengan Ranti.


Danu dan Frans bergerak dari ruangan Frans. Mereka akan menuju parkiran untuk mengambil mobil.


"Kita jalan dengan mobil sendiri sendiri atau satu mobil aja?" tanya Danu kepada Frans.


"Pakai mobil sendiri sendiri aja Dan. Gue setelah ini mau pulang. Istri gue ngajak ke rumah mertua gue" ujar Frans yang sebisa mungkin dan kalau Frans sempat akan mengiyakan apa pun permintaan istri dan anaknya.


"Oke siap" jawab Danu.


Mereka kemudian keluar dari dalam lift. Danu melihat ke resepsionis yang tadi membicarakan tentang dirinya.


"Jadi loe pengacara khusus perceraian Frans?" tanya Danu kepada Frans dengan nada yang keras. Danu sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh resepsionis tadi.


"Enak aja loe ngomong. Banyak kasus yang gue menangin yang lain" jawab Frans yang tidak tahu maksud Danu mengatakan hal itu.


"Denger tu mbak resepsionis, Tuan Frans bukan pengacara khusus perceraian" ujar Danu men skakmat resepsionis yang mengatakan kalau Frans adalah pengacara perceraian.


"Kok loe ngomong gitu Dan?" tanya Frans sambil berjalan menuju mobil yang ada di parkiran.


"Tadi resepsionis loe ngomong dengan nada yang ternyata terdengar oleh gue. Dia ngomong kalau loe adalah pengacara khusus perceraian" ujar Danu sambil melihat ke arah Frans.


"Haha haha haha, melekat banget ye gelar gua" ujar Frans tertawa mendengar julukannya yang diberikan oleh resepsionis.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil masing masing. Dua mobil bergerak menuju pengadilan agama. Frans yang berada di depan mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang. Frans sama sekali tidak menginjak pedal gasnya lebih dalam. Danu yang berada di belakang, mengikuti Frans dengan kecepatan sedang pula.

__ADS_1


Kedua mobil berbelok masuk ke dalam parkiran pengadilan agama. Danu dan Frans memarkir mobil mereka bersebelahan. Mereka berdua kemudian turun dari dalam mobil, mereka menuju ke dalam ruangan pengadilan agama.


Frans kemudian berjalan menuju ruangan tempat melakukan pendaftaran untuk perceraian Danu dengan Ranti. Mereka kemudian menyerahkan semua dokumen dokumen tersebut kepada panitia penerima pendaftaran perceraian tersebut.


"Tuan, apa ini sudah Tuan pikirkan dengan benar dan sudah penuh pertimbangan?" tanya petugas penerima dokumen perceraian tersebut.


"Sudah Tuan. Sudah saya pikirkan dengan seksama dan sudah sangat lama saya mengambil keputusan ini Tuan" ujar Danu menatap ke arah petugas penerima dokumen itu.


"Baiklah Tuan, kalau Tuan sudah memikirkan dengan sangat masak dan juga sudah memikirkan semua dampak dan resiko dari perceraian ini, Saya akan menerima dokumen dokumen anda ini. Saya juga akan mendaftarkan permohonan perceraian Anda dengan istri Anda" ujar petugas penerima perceraian.


Petugas penerima pendaftaran untuk perceraian memeriksa semua dokumen persyaratan yang telah dibawa oleh Danu dan Frans. Setelah itu petugas penerima mendaftarkan permohonan Danu.


"Tuan, pengacara dari pemohon?" tanya penerima dokumen kepada Frans.


"Iya Pak. Saya adalah pengacara dari Tuan Danu Sanjaya" ujar Frans kepada Panitia.


Panitia kemudian mencatat nama Frans sebagai pengacara Danu.


"Baiklah Tuan, semua dokumen sudah sesuai dengan persyaratan yang kami butuhkan." ujar petugas penerima persyaratan pendaftaran perceraian.


"Baiklah, kami akan kembali lagi ke sini saat kami menerima perintah dari pengadilan agama" ujar Frans mewakili Danu.


Danu dan Frans berjalan keluar dari pengadilan agama. Mereka akan pergi menuju tujuan masing masing.


"Gue pulang dulu Danu. Kita tinggal menunggu surat dari pengadilan agama. Satu lagi, nanti saat Ranti menerima surat dari pengadilan agama, dia pasti akan mencari elo. Elo harus bisa meyakinkan dia untuk menandatangani surat tersebut" ujar Frans memberitahukan kepada Danu proses setelah surat gugatan perceraian Danu masuk.


"Sip. Palingan dia emosi emosi ke gue" ujar Danu yang sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Danu saat menerima surat dari pengadilan agama nantinya.


"Kalau loe nggak bisa sendirian menghadapi dia. Loe bisa sama gue menghadapi dia" ujar Frans menatap ke arah Danu.


"Oke. Besok kalau dia banyak cerita ke gue, biar gue antar dia menuju tempat elo besok" kata Danu kepada frans.


"Sip. Gue tunggu berita dari loe" ujar Frans.

__ADS_1


Frans melihat ponsel miliknya, istrinya sudah kembali menghubungi dirinya kembali.


"Gue duluan Dan. Nyonya sudah nelpon berkali kali" ujar Frans berjalan sambil mengangkat telpon dari istrinya.


Danu hanya bisa geleng geleng kepala melihat sahabatnya yang sangat memuja istrinya itu. Frans akan melakukan semuanya untuk keluarganya.


Danu yang melihat mobil yang dikendarai Frans sudah menghilang di telan keramaian jalan, Danu kemudian mengemudikan mobilnya menuju perusahaan.


Danu memarkir mobilnya di parkiran perusahaan. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam perusahaan. Danu harus mengerjakan semua pekerjaannya hari ini. Dia tidak akan membuang buang waktu, Danu sudah bisa memastikan ke depannya dia akan sibuk dan tidak ada waktu untuk mengerjakan pekerjaannya lagi.


Vina yang sudah selesai memasak semua menu sarapan, berjalan menuju kamarnya kembali. Dia akan mmbersihkan badannya terlebih dahulu dan memakai pakaian kantornya.


Vina melihat lampu kamar Maya masih padam. Vina kemudian berjalan masuk ke kamarnya.


Tok tok tok. Vina mengetuk pintu kamar Maya. Dia harus memastikan kondisi Maya sebelum berangkat ke perusahaan.


"Masuk Vin" ujar Maya dengan nada lemah dari dalam kamar.


Vina membuka pintu kamar Maya.


"Maya, loe" ujar Vina berteriak saat melihat Maya yang tidur sambil berbalut selimut tebal dan menggigil.


"Kenapa loe nggak ngomong ke gue dari tadi kalau kondisi loe lemah kayak gini Maya." ujar Vina yang sambil memegang kepala Maya yang terasa sangat panas sekali itu.


"Badan loe panas banget lagi. Loe udah minum obat?" tanya Vina yang mulai panik dengan kondisi Maya.


"Udah tadi. Tapi kayaknya nggak ada angsurannya" ujar Maya menggigil dan berbicara dengan pelan.


Vina berdiri dari duduknya. Dia mengambil wadah untuk mengompres Maya ke dapur. Saat itulah dia melihat Sari membuka pintu rumah bersama dengan Juan.


"Kebetulan loe berdua datang. Bantu gue bawa Maya ke rumah sakit" ujar Vina dengan nada panik.


"Kenapa dengan Maya, Vin?" tanya Sari kepada Vina.

__ADS_1


"Demam. Itu menggigil di kamar" ujar Vina menjawab pertanyaan dari Sari.


Vina, Sari dan Juan berjalan dengan cepat ke kamar Maya yang terletak di lantai dua rumah.


__ADS_2