
"Jadi, apa gerangan kamu harus datang ke tempat gue hari ini? Nggak biasa biasanya?" ujar Anggara kepada rekan kerjanya itu sambil menatap ke arah rekannya.
"Nggak ada apa apa. Hanya mau bertanya tentang beberapa hal saja" jawab rekan kerja Anggara sambil melirik ke Anggara dengan tatapan biasa saja.
"Apa?"
Anggara bertanya sambil melihat ke arah rekannya serta berusaha membuat dirinya senyaman mungkin dengan kehadiran rekannya itu.
" Apa benar kamu akan bersaing kembali dengan Frans di pengadilan?" Kata rekan kerja Anggara yang penasaran dengan keputusan yang diberikan oleh anggaran untuk bersedia menjadi pengacara Ranti dalam menghadapi Frans.
"Itulah yang masih gue ragukan. Apa gue akan tetap bersaing dengan dia di pengadilan atau memilih untuk mundur" jawab Anggara yang masih meragukan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Kenapa ragu?" tanya rekan Anggara memastikan kembali kepada Anggara keraguannya untuk menjadi pengacara dari Ranti untuk saat ini.
"Ya karena ragu dengan keputusan yang akan diambil. Itu saja. Ranti terlihat menyimpan rahasia besar. Sehingga membuat aku ragu untuk melanjutkan menjadi pengacaranya." Anggara mengatakan hal itu sambil menatap ke arah Rekan kerjanya yang ntah kenapa tiba tiba menanyakan hal itu kepada dirinya.
"Atau kamu mau melanjutkan untuk menjadi pengacaranya?"
Anggara menawarkan kepada rekan kerjanya itu untuk mau melanjutkan atau menggantikan dirinya menjadi pengacara Ranti.
"Haha haha haha. Mana gue mau" jawab rekan kerja Anggara langsung menolak keinginan dari Anggara untuk menggantikan Anggara menjadi pengacara yang akan membela Ranti di persidangan.
"Kok?" ujar Anggara heran dengan penolakan langsung dari rekannya itu.
"Emang loe nggak tau gimana sepak terjang Ranti sehingga dia di gugat cerai?"
Rekan kerja Anggara bertanya sambil menatap ke arah Anggara dengan tatapan mencari tahu apakah Anggara benaran tidak tahu atau pura pura tidak tahu.
"Gue hanya tau dia sudah di usir dari rumahnya sendiri oleh suaminya, karena suaminya selingkuh dengan mantan rekan kerjanya sendiri"
Anggara menceritakan kepada rekan kerjanya itu cerita yang diceritakan oleh Ranti kepada dirinya.
"Haha haha haha haha"
__ADS_1
Rekan Anggara tertawa dengan suara keras menertawakan apa yang dikatakan oleh Anggara kepada dirinya sebentar ini. Sebuah cerita yang rekan Anggara tahu adalah sebuah kebohongan yang sengaja dibuat oleh Ranti. Kebohongan yang pada akhirnya membuat Anggara mau menjadi pengacara Ranti.
"Kenapa loe tertawa ngakak kayak gitu?" ujar Anggara sambil melihat ke arah rekan kerjanya yang sampai menahan sakit perut karena tertawa ngakak.
"Gimana gue nggak akan tertawa Anggara. Cerita yang dikatakan Ranti ke elo semua adalah kebohongan."
Kata rekan Anggara dengan entengnya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Anggara kepada dirinya.
"Maksud loe?"
Anggara semakin penasaran dengan apa yang dikatakan oleh rekannya itu. Dia benar benar tidak tahu maksud rekannya itu.
"Ya ampun Anggara loe nggak riset sebelum menerima untuk menjadi pengacara dia?" ujar rekan Anggara sambil menatap tidak percaya ke arah Anggara yang ntah kenapa baru kali ini Anggara tidak melakukan riset terhadap permasalahan yang ada.
"Sa.. "
Bruk. Pintu ruangan Anggara terbuka dengan cukup keras. Anggara yang hendak marah karena ada seseorang yang dengan berani menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tetapi belum sempat Anggara memarahi orang yang masuk itu, dia langsung menutup kembali mulutnya rapat rapat saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya saat ini.
Ranti sama sekali tidak melihat kalau Anggara sedang bersama seseorang di dalam ruang kerjanya. Ranti mengira kalau Anggara di dalam sana sendirian saja.
Ranti langsung terdiam saat melihat ternyata di dalam ruangan Anggara tidak sendirian melainkan dengan seorang rekan kerjanya yang lain.
"Gue keluar dulu" ujar rekan Anggara yang pamit untuk meninggalkan ruangan Anggara.
"Oke sip. Cerita kita belum selesai" lanjut Anggara mengingatkan kepada rekannya itu kalau cerita mereka berdua sama sekali belum selesai.
"Kapan kapan aja lanjut" jawab rekan Anggara sambil meninggalkan ruangan Anggara dan berjalan menuju keluar dari gedung firma hukum tersebut.
Ranti melihat sekilas ke arah rekan Anggara itu. Dia melihat kalau Anggara sepertinya terlibat obrolan serius dengan rekan kerjanya itu.
"Siapa dia sayang?" ujar Ranti sambil duduk di sofa sebelah Anggara.
__ADS_1
"Rekan kerja aku sayang" jawab Anggara yang mulai merasa kurang nyaman dengan kehadiran Ranti di dalam hidupnya saat ini.
"Oooo. Ngapain dia ke sini?" ujar Ranti kembali bertanya kepada Anggara yang terlihat mulai ogah ogahan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ranti kepada Anggara.
"Ooo, hanya membahas tentang permasalahan beberapa client saja." jawab Anggara sambil melirik sekilas ke arah Ranti.
Anggara merasa sangat bodoh sekarang karena di tipu habis habisan oleh seorang wanita. Anggara tidak menyangka hal itu bisa terjadi kepada dirinya.
"Sayang, kamu kenapa diam aja? Apa kamu tidak suka aku datang ke sini?" ujar Ranti bertanya kepada Anggara.
Anggara memang terlihat berbeda dari pada biasanya. Biasanya Anggara akan memberikan respon yang baik saat Ranti bertanya kepada dirinya. Tetapi sekarang sangat luar biasa sekali. Anggara sama sekali tidak memberikan respon yang baik kepada Ranti. Anggara seperti berada di seberang lautan dan sama sekali tidak bisa dijangkau oleh Ranti.
"Sayang, kamu kenapa?"
Ranti mengulang kembali pertanyaan yang sama kepada Anggara. Ranti sama sekali tidak mau Anggara marah kepada dirinya dan pada akhirnya akan membuat Anggara mundur untuk menjadi pengacara dirinya.
" Nggak ada kenapa-kenapa Sayang. Emang aku terlihat seperti ada apa-apa gitu?" kata Anggara menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ranty kepada dirimu
" Iya kamu terlihat seperti tidak suka kalau aku datang" jawab Ranti sambil melihat ke arah Anggara yang sekarang sudah duduk di sebelah dirinya
" perasaan kamu aja itu sayang. aku dalam keadaan baik-baik saja. malahan aku sangat senang kalau kamu datang ke tempat aku." kata Anggara berusaha meyakinkan nanti kalau dirinya dalam keadaan baik-baik saja.
tidak seperti apa yang dikatakan oleh Ranti kalau Anggara sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
" syukurlah sayang kalau kamu dalam keadaan baik-baik saja, Aku kira tadi kamu sedang marah sama aku, sehingga kamu bersikap dingin saat aku sedang berbicara tadi"
Ranti menerangkan kepada Anggara Kenapa Ranti bisa menyimpulkan kalau Anggara sedang marah kepada dirinya
" haha haha haha"
Anggara tertawa terbahak-bahak saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti sebentar ini kepada dirinya
" tidak sayang aku tidak sedang marah sama kamu."
__ADS_1
sekali lagi anggaran meyakinkan Ranti kalau dirinya memang tidak marah kepada Ranti
" Terus kenapa kamu tadi tidak merespon apa yang aku katakan?" tanya Ranti kepada Anggara sambil menatap tajam mata elang yang ada di depannya saat ini