Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Sakit Vina #2


__ADS_3

Sudah selama lima hari Vina dirawat di rumah sakit. Iwan, Ifan dan Maya selalu bergantian menjaga Vina. Danu ya seperti itulah, dia akan datang saat siang hari, malam hari Danu tidak pernah datang. Vina hanya bisa mengurut dadanya saja. Vina sudah yakin hubungan ini tidak akan berkembang. Vina berusaha sebisa mungkin mematikan perasaannya. Tetapi setiap Vina ingin mematikan perasaan itu, perasaan tersebut tetap juga muncul dan makin berkembang. Akhirnya Vina pasrah saja kepada perasaannya, Vina menyerah, Viba rela dibawa kemana hubungan ini. Vina termenung memikirkan kepahitan cintanya. Maya yang dari tadi melihat kegalauan Vina, hanya bisa berharap semoga sahabat sekaligus bosnya ini tetap kuat, seperti betapa kuatnya Vina menjalank hidupnya yang susah selama ini.


"Vin. Loe jangan bengong begitu. Ayam tetangga kita maren mati karena bengong." Maya berusaha mencairkan suasana hati Vina yang kembali memburuk.


"Garing banget deh May. Tapi gue berikan jempol untuk usaha loe itu. Hahahaha" Vina berusaha tertawa walaupun hatinya sedang galau tak tentu arah.


"May. gue tanyak sama loe, menurut loe Pak Danu suka nggak sama gue? Atau hanya gue aja yang memiliki perasaan seperti ini?"


"Vin, kalau melihat sikap, perhatian Pak Danu sama loe selama ini, gue yakin dia juga memiliki perasaan yang sama dengan yang loe rasakan."


"Tapi May, kenapa dia tidak mengungkapkan rasanya ke gue. Apa harus gue duluan yang mengungkapkannya?" Vina kembali termenung. Vina sangat yakin dengan rasa yang dia miliki terhadap Danu.


"Ntahlah Vin. Gue nggak bisa ngasih loe saran. Kalau loe ungkapin rasa loe, kalau loe diterima alhadulillah. Kalau loe ditolak? Apa loe nggak akan malu Vin?" Maya menatap lekat manik mata Vina.


Vina mencerna apa yang dikatakan oleh Maya. Apa yang dikatakan oleh Maya memang benar. Kalau dia ditolak oleh Danu, apakah dia masih sanggup untuk bekerja di kantor itu lagi?.


Dibalik pintu ruang rawat Vina berdiri seorang laki laki, siapa lagi kalau bukan Danu. Danu mendengar semua yang dikatakan oleh Vina ke Maya, begitu juga sebaliknya. Danu akhirnya lebih memilih untuk pergi dari rumah sakit, tanpa membezuk Vina.


"Maafkan aku Vin. Aku belum bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan padamu. Tapi yakinlah Vin, cintaku kepadamu sangatlah besar" kata Danu, kemudian berlalu dari depan pintu ruangan Vina.


"Tumben ya Vin, Pak Danu belum datang. Biasanya jam segini dia sudah datang" kata Maya yang heran kenapa Danu tidak datang siang ini.


"Sibuk kali May. Maklum manager bagian" jawab Vina. Vina mulai merasakan kantuknya kembali. Sepertinya obat yang diminumnya tadi telah bereaksi.


"Jadi kalau manager itu sibuk ya Vin?"


Tidak ada jawaban apapun dari Vina. Maya yang paranoid dengan kejadian malam itu langsung mihat Vina.


"Eee dasar. Tidur dak ngomong ngomong" kesal Maya kepada Vina.


Maya kemudian merebahkan badannya di sofa yang ada diruang rawat Vina. Maya juga sangat letih, karena dari malam dia sibuk membuat pesanan, baru selesai pukul tiga dini hari. Jam tujuh Maya sudah harus sampaj di rumah sakit menggantikan Ifan yang menjaga Vina tadi malam. Maya pun ikut masuk kealam mimpi. Mereka berdua sampai tidak sadar akan kedatangan Iwan dan Ifan.

__ADS_1


"Wow, mereka nyenyak banget tidurnya" kata Ifan sambil melihat Vina dan Maya yang tidur nyenyak.


"May, may bangun udah sore." kata Iwan menggoyang bahu Maya.


Maya kemudian mengerjapkan matanya. Berusaha mengumpulkan kembali semua nyawanya yang bertaburan dimana mana.


"Jam berapa Bang?" tanya Maya kepada Iwan.


"Udah jam lima May. Kamu udah makan siang?"


"Belum bang. Belum sempat kemana mana, nggak ada yang akan gantian menemani Vina." kata Maya menjelaskan kenapa dia tidak sempat untuk makan siang.


"Loh bukannya Pak Danu katanya mau kesini tadi siang ya bang?"


Iwan menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan Ifan.


"Nggak ada. Pak Danu nggak datang Bang." kata Maya menjelaskan kepada Iwan.


Maya akhirnya pulang kembali ke kontrakan. Malam nanti dia harus kembali ke rumah sakit untuk menemai Vina. Iwan ataupun Ifan tidak ada yang bisa menhinap di rumah sakit. Mereka harus lembur karena ada pekerjaan yang belum selesai. Siap lembur baru mereka akan pergi ke rumah sakit.


"Bang aku yakin tadi Pak Danu pasti kemari. Apa Pak Danu ada mendengar percakapan aneh aneh antara Vina dan Maya ya banh?"


"Gue nggak tau Fan. Bisa jadi. Tapi sama siapa mau ditanyak, ke Vina nggak mungkin, ke Maya apalagi, Maya saja udah ngomong Danu tidak datang." jawab Iwan.


"Tanya Pak Danu aja bang"


"Ogah gue Fan. Tu anak kalau masalah Vina seperti cewek sedang PMS. Mengerikan. Tapi kalau loe mau, loe boleh coba"


"Wah abang aja takut, apalagi gue bang." kata Ifan sambil menghidupkan televisi di depan mereka.


Ifan memindah mindahkan chanel sesuka hatinya. Ifan tidak tau apa yang akan ditontonnya malam ini.

__ADS_1


"Fan dari tadi pindah pindah muluk. Nonton infoteimen ajalah Fan sekali sekali"


"Sesuai perintahmu bang"


Ifan kemudian mencari salah satu infotaimen yang beritanya selalu update. Iwan dan Ifan menyaksikan acara yang baru kali ini mereka tonton setelah tujuh purnama berlalu. Mereka melihat gosip gosip selebritis terhangat. Tiba tiba mereka berdua menjadi lebih fokus setelah mereka mendengar nama salah seorang pebisnis wanita muda yang sedang naik daun menjalin hubungan dengan salah satu pengusaha muda tampan.


Iwan dan Ifan melihat tanpa berkedip ke televisi. Mereka melihat dengan nyata bahwasanya wanita yang diberitakan itu benar adanya kalau wanita adalah istri Danu manager mereka.


"Bang itukan?"


"Bener" kata Iwan mengode Ifan agar tidak memyebutkan siapa wanita itu.


"Pak Danu tau nggak bang?"


"Aku juga ragu Fan. Ntah tau ntah tidak Danunya."


"Apa kita harus kasih tau Pak Danu, bang?"


"Kita lihat dulu, apakah Danu besok hari uring uringan atau tidak. Kalau dia biasa aja, maka akan kita tanyakan masalah berita ini. Tapi kalau dia sudah uring uringan maka kita tinggal menunggu dipanggil aja keruangannya." jawab Iwan sambil mengunuah sepotong kue.


"Kasian banget ya bang, manager kita itu. Sudahlah anak nggak diurus, dia nggak diurus eeee sekarang nggak diakui lagi. Plus lebih parahnya diselingkuhi lagi. Kalau gue ne ya bang jadi Pak Danu, udah gue cerei dari zaman begolak tu perempuan nggak tau diuntung." kata Ifan nyerocos tanpa bisa di rem.


"Itulah Danu. Manusia nggak ada gambaran." jawab Iwan asal.


Mereka berdua kembali asik menonton infoteimen itu. Tanpa mereka sadari hari sudah beranjak maghrib. Vina sidah bangun dari tadi. Mereka bertiga terlibat percakapan seru. Tak lama kemudian Maya datang untuk menjaga Vina. Iwan dan Ifan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang sempat tertunda karena harus menjaga Vina.


"Vin, ada berita infoteimen keren Vin. Neh tengok" Maya melihatkan depada Vina fhoto sepasang kekasih yang sangat serasi.


"Serasi banget ya May. Wanitanya cantik, Prianya tampan"


"Huuh. Kapan ya Vin, kita dapat pria macam tu, atau udah takdirnya juga pria kaya milik wanita kaya. Pria miskin untuk wanita miskin. Kapan mau perbaikan standar kehidupan kalau kyak gitu ya Vin" Maya ngelantur kemana mana.

__ADS_1


"Aduh May tambah pusing kepala gue denger cerocosan loe." Vina melempar Maya dengan guling ditangannya.


__ADS_2